Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 45 Pagi Bergairah


__ADS_3

Akhtar dan Kania masih saling menatap. Bahkan hembusan nafas masing-masing bisa mereka rasakan. Cuaca juga sekarang bukan hanya gerimis, tapi juga hujan yang cukup lebat. Sepertinya alam sedang mendukung mereka.


Akhtar mulai melepaskan genggamannya perlahan. Dan kini tangannya refleks bergerak ke arah wajah Kania. Kania semakin gugup. Debaran jantung keduanya saling bertalu. Akhtar menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sedikit wajah Kania. Menyampirkan perlahan ke belakang telinga Kania dan membelai telinga Kania dengan lembut. Kania hanya mampu memejamkan matanya. Sungguh Akhtar membuatnya terbius.


Perhatian Akhtar kemudian beralih ke bibir Kania. Sementara Kania masih terpejam karena merasakan belaian lembut tangan Akhtar di wajahnya. Perlahan namun pasti, gerakan tangan Akhtar menuju ke bibir Kania yang pink alami.


Tangan Kania satunya meremas baju depan Akhtar di balik selimut. Nafas keduanya memburu. Akhtar semakin berani. Terbawa suasana, Akhtar mulai mendekati Kania dan menc*um bibir pink itu lagi.


Cup


Akhtar memejamkan matanya sambil mengec*p bibir itu perlahan. Kania seperti pasrah dan terbius atas yang terjadi. Bahkan Kania mulai membuka mulutnya merasakan sentuhan bibir Akhtar di bibirnya.


Mendapat sambutan dari Kania, Akhtar mulai mel*mat bibir Kania dengan lembut. Kania semakin terhanyut dan mengikuti arus yang dibawa Akhtar. Dan tanpa sadar, Kania melenguh karena c*uman itu.


Akhtar semakin bersemangat untuk menc*mbu Kania. Bahkan tangan Akhtar sudah tidak tinggal diam. Tangannya mulai menyusuri wajah hingga leher Kania. Akhtar kini mengubah posisi. Ia sudah berada di atas Kania. Dengan satu tangannya menopang di kasur untuk menahan tubuhnya agar tak menindih Kania.


Hah hah hah


Akhtar melepaskan tautan c*uman itu. Ia melihat ke arah bibir Kania yang sedikit bengkak karena ulahnya. Kania perlahan membuka matanya. Menatap wajah Akhtar yang sangat dekat dengannya. Bahkan perhatian Kania juga pada bibir Akhtar yang terlihat merah menggoda.


Tanpa menunggu lagi, Akhtar kembali menc*um bibir Kania lagi. Bahkan sekarang lebih semangat dari sebelumnya. Apalagi Kania juga ikut membalasnya meski masih kaku.


Dan tidak diduga, keduanya larut dalam gairah pagi yang menggebu. Bahkan dingin karena hujan dan AC, tak membuat mereka kedinginan. Justru semakin panas dan bermandikan keringat. Akhtar dan Kania seperti lepas kendali. Kini keduanya melakukan dengan kesadaran penuh. Dan itu justru semakin menambah gelora di tubuh masing-masing.


"Apa Akhtar dan Kania belum bangun?" tanya kakek Wijaya di meja makan.


"Mungkin masih tidur, pa!" jawab mama Sonya.


"Biar pelayan memanggil mereka!" ucap Pak Farzan menimpali.


"Tidak perlu! Biarkan mereka tidur! Mungkin kelelahan karena semalam! Bukankah kita ingin cepat dapat cucu?" sergah kakek Wijaya sambil menyantap teh hangatnya.


Pak Farzan hanya mengangguk dan melanjutkan sarapannya. Nenek Aishe dan mama Sonya hanya tersenyum. Karena kini sudah jam 8 pagi.


Akhtar dan Kania bahkan sudah satu jam lebih menghabiskan pagi yang bergairah itu. Akhtar seperti mendapatkan oase di gurun pasir. Selalu merasa haus tak pernah puas hanya dengan tegukan sekali.


Setelah sudah satu jam setengah lebih, Akhtar menyudahi pertempuran keduanya. Ia sudah melihat Kania yang sudah kelelahan. Bahkan kini Kania terlelap lagi karena kelelahan.

__ADS_1


Akhtar segera beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi. Ia berjalan ke kamar mandi tanpa mengenakan apapun. Akhtar berdiri di bawah air shower dengan air hangat. Untung saja ponsel Akhtar dalam mode diam, jadi ia tidak terganggu dengan panggilan dari asistennya.


Akhtar terus tersenyum mengingat kejadian barusan. Baginya ini lebih bergairah dari malam itu.


"****! Hanya mengingatnya saja, langsung on lagi! Sepertinya aku sudah benar-benar kecanduan dengan tubuhnya! Dia seperti magnet! Bahkan tidak cukup sekali! Hah! Ayo tidur lagi junior! Dia sudah sangat lelah!" gumam Akhtar melihat bawah tubuhnya.


Tak butuh waktu lama, juniornya bisa diajak kompromi. Tanpa harus solo, juniornya bisa tidur lagi. Akhtar terus mengalihkan pikirannya dengan hal lain. Alhasil berhasil juga yang ia lakukan.


"Bima! Banyak sekali dia telepon! Pantas sudah jam 9 lebih!" gumam Akhtar di dekat nakas sambil memegang ponselnya.


"Halo, Bim!" ucap Akhtar di balkon sambil memandang hujan yang mulai reda.


"Ya ampun, tuan! Tuan Akhtar kemana aja? Dua puluh kali ditelepon tapi tidak ada jawaban! Saya khawatir tuan!" jawab Bima di balik telepon.


"Aku sedang menginap di rumah kakek! Kamu udah di kantor?" balas Akhtar enteng.


"Sudah tuan! Di sini masih hujan deras, tuan! Apa perlu saya jemput tuan?" jawab Bima.


"Gak perlu! Aku ke kantor nanti siang! Atur aja pertemuan hari ini dulu!" balas Akhtar sambil menoleh ke arah Kania yang masih lelap dalam tidurnya di balik selimut.


"Apa tuan menginap dengan nona Kania?" tanya Bima hati-hati.


"Ah tidak tuan! Tadi saya sempat telepon bik Yati, kalau nona Kania belum pulang! Karena tadi saya cemas, saya pikir tuan ada di apartemen nona Kania!" jelas Bima.


"Ya! Aku menginap dengannya! Kakek menyuruh kami tidur di sini semalam! Ya sudah! Kamu kerja yang bener! Tunggu aku nanti siang di kantor!" balas Akhtar dengan datar.


"Baik, tuan!" jawab Bima.


Akhtar pun mematikan panggilannya dengan Bima. Lalu berjalan masuk kamar lagi. Udara memang masih dingin. Akhtar lalu mengatur suhu ruangan menjadi lebih hangat. Akhtar menatap wajah Kania yang tidur tengkurap. Hanya kepalanya saja yang tidak ditutupi selimut.


Kemudian Akhtar berjalan menuju ruangan ganti. Di ruangan tersebut ternyata ada sofa panjang. Akhtar kemudian berpakaian casual dulu. Karena perutnya sudah mulai merasa lapar.


"Pagi, nek!" sapa Akhtar di meja makan sambil mengecup pipi nenek Aishe singkat.


Di meja makan hanya ada nenek Aishe. Karena nenek Aishe sedang menyiapkan makanan ringan untuk kakek Wijaya yang berada di teras belakang.


"Pagi, nak! Cucu nenek sudah bangun! Lho, istrimu mana?" balas nenek Aishe lembut.

__ADS_1


"Masih tidur, nek!" jawab Akhtar.


"Kok masih tidur?" tanya nenek Aishe heran.


"Kecapekan, nek!" ceplos Akhtar santai.


"Oh!" balas nenek Aishe sambil senyum-senyum.


Akhtar cuek saja dengan sikap neneknya. Ia tetap melanjutkan sarapannya dengan roti bakar dan secangkir teh chamomile.


"Nenek ke teras belakang dulu, ya! Jangan lupa, bawakan sarapan untuk istrimu! Dia pasti akan suka!" ucap nenek Aishe menggoda Akhtar.


"Iya, nek!" jawab Akhtar singkat.


Nenek Aishe pun meninggalkan Akhtar sendirian di meja makan. Sedangkan pelayan wanita, tidak berani mendekat ke arah meja makan dulu. Mereka memilih mengerjakan yang lain dulu.


"Pak Muh!" seru Akhtar kepada kepala pelayan.


"Iya, tuan!" jawab pak Muh menghadap Akhtar.


"Tolong siapkan sarapan untuk istriku! Biar nanti aku yang bawa ke kamar!" ucap Akhtar datar.


"Baik, tuan!" jawab pak Muh patuh.


'Tuan Akhtar berbeda sejak menikah! Syukurlah kalau begitu! Semoga saja alergi tuan juga sembuh karena gadis itu!' batin pak Muh tersenyum tipis.


Akhtar menghabiskan sarapannya. Tak lama, pak Muh datang dengan nampan yang berisi sarapan untuk Kania. Oatmeal dengan potongan buah dan segelas susu hangat. Akhtar lalu membawa sarapan itu ke lantai atas.


Pelayan yang sempat melihatnya pun merasa heran dengan tindakan Akhtar.


"Beruntung banget ya yang jadi istri tuan muda Akhtar! Baru kali ini lihat tuan Akhtar perhatian sama perempuan!" bisik salah satu pelayan yang masih membersihkan guci.


"Perempuannya juga gak bikin alergi tuan kambuh! Hebat kan! Udah kayak nyonya besar sama nyonya Sonya. Cantik juga lagi!" bisik satu pelayannya lagi yang tak berjauhan.


Ekhm


"Kalian digaji untuk kerja! Bukan gosip!" seru pak Muh memperingati kedua pelayan wanita itu.

__ADS_1


Kedua pelayan itu langsung diam dan fokus pada kerjaannya lagi. Mereka tidak mau dipecat karena ketahuan bergosip tentang majikan mereka. Apalagi gaji mereka sebagai pelayan di rumah kakek Wijaya, juga besar tidak seperti umumnya.


__ADS_2