Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 52 Membatasi Diri


__ADS_3

"Akhtar! Besok siang ajak Kania untuk fitting gaun pengantin ya! Mama tunggu di tempat om Aryo!" ucap mama Sonya di telepon.


"Apa harus besok, ma?" tanya Akhtar di telepon.


"Iya, sayang! Mama sudah buat janji dengan om Aryo! Kamu tenang saja! Mama sudah bilang sama om Aryo, kalau besok karyawannya yang perempuan jangan melayani kalian dulu!" jawab mama Sonya yang paham dengan maksud Akhtar.


"Itu berarti yang melayani kita, karyawan laki-laki, ma?" tanya Akhtar lagi penasaran.


"Ya iya dong, sayang! Kan kamu alergi sama perempuan! Jadi ya laki-laki saja nanti yang melayani kita di sana!" jawab mama Sonya.


'Kalau yang melayani Kania, karyawan laki-laki, itu berarti mereka bakal lihat tubuh Kania yang pakai gaun pengantin dong! Gak, gak! Ini gak boleh! Gak boleh ada yang lihat tubuh dia selain aku!' batin Akhtar tanpa sadar bersikap posesif pada Kania.


"Halo, nak! Akhtar! Halo! Kamu masih dengar mama, kan?" seru mama Sonya yang tak langsung mendengar jawaban Akhtar.


"Iya, ma! Akhtar masih dengar, ma! Oh ya, ma! Besok tidak perlu dilayani karyawan laki-laki! Karyawan perempuan juga tidak apa-apa! Yang penting mereka diberitahu untuk jaga jarak denganku!" jawab Akhtar.


"Tapi kalau nanti ada yang gak sengaja sentuh kamu, bagaimana nak? Mama kan khawatir! Apalagi kemarin alergi kamu juga kambuh lagi gara-gara ditabrak perempuan kan?" balas mama Sonya dengan nada cemas.


'Siapa lagi yang kasih tau mama?' batin Akhtar bertanya.


"Michael! Dia yang kasih tau mama! Kemarin mama ketemu di rumah sakit! Karena ada teman mama yang kecelakaan. Terus Michael kasih tau mama." ucap mama Sonya menebak.


"Tapi Akhtar sudah tidak apa-apa, ma! Besok Akhtar dan Kania akan ke butik om Aryo! Mama tunggu saja! Tapi seperti yang Akhtar bilang, biar karyawan perempuan yang melayani Kania. Kalau Akhtar, karyawan laki-laki! Begitu saja, ma!" jawab Akhtar menjelaskan ke mamanya.


"Baiklah, kalau begitu! Mama tunggu besok ya!" balas mama Sonya.


"Iya, ma!" jawab Akhtar di telepon.


Tak lama, obrolan keduanya berakhir. Akhtar yang ingin menghubungi Kania, membatalkan niatnya. Akhtar teringat dengan Kania yang menangis kemarin karena ucapannya.


"Besok sajalah! Biarkan dia sendiri dulu! Ya, itu lebih baik sepertinya!" gumam Akhtar kemudian merebahkan dirinya di atas ranjangnya.


Di kamar lain, Kania masih duduk di balkon sambil menatap bulan purnama yang tampak indah malam ini. Sembari merenungi kisah hidupnya saat ini.


Esok paginya, Kania diberitahu bik Yati bahwa siang nanti, ia akan pergi dengan tuan Akhtar ke butik.


"Non! Tadi tuan Akhtar pesan sama bibik. Kalau nanti siang, non Kania mau diajak tuan ke butik." ucap bik Yati menyampaikan pesan dari Akhtar.


"Ke butik? Mau ngapain ya?" gumam Kania sambil berpikir.


"Bibik gak tau, non! Mungkin mau diajak shoping non!" jawab bik Yati yang mendengar gumaman Kania.


"Oh, iya kali bik! Bik Yati udah sarapan?" tanya Kania yang akan menyantap nasi goreng.

__ADS_1


"Udah, non! Tadi sebelum non Kania turun, bibik sarapan dulu. Habisnya udah laper banget!" jawab bik Yati sambil senyum.


"Kalau gitu, Kania sarapan dulu ya bik!" balas Kania menatap bik Yati.


"Iya, non! Silakan! Bibik ke dapur dulu!" balas bik Yati berpamitan.


Kania hanya menganggukkan kepalanya karena sedang mengunyah nasi goreng di mulutnya. Bi Yati pergi ke dapur melanjutkan pekerjaannya. Kania menikmati sarapannya sambil memikirkan apa yang akan dilakukan Akhtar mengajaknya ke butik.


Kania yang ingin menghindari dan menjaga batasan dari Akhtar, justru diajak bertemu lagi. Bahkan diajak ke butik.


'Masa iya mau diajak shoping? Emang aku siapa dia? Kemarin kan udah jelas, kalau aku cuma istri kontrak aja! Hah! Entahlah! Yang penting aku harus jaga jarak dan jangan baper!' batin Kania sambil menikmati sarapannya.


Akhtar sudah disibukkan lagi dengan rutinitas kantor. Perannya sebagai direktur utama di perusahaan besar, sangatlah penting. Akhtar bertanggung jawab penuh pada perusahaan yang ia pegang saat ini. Meski terlahir sebagai pewaris satu-satunya perusahaan Wijaya Group. Tak membuat Akhtar berpangku tangan. Akhtar adalah tipe pria yang pekerja keras.


"Sudah kamu kosongkan jadwalku nanti siang?" tanya Akhtar tanpa melihat Bima yang berdiri di depannya.


Akhtar masih fokus membaca grafik saham di tabletnya.


"Sudah tuan! Tapi nanti jam 3, ada rapat penting di perusahaan tuan!" jawab Bima menyampaikan dengan jelas.


"Iya, aku mengerti!" balas Akhtar yang masih fokus pada tabletnya.


"Oh ya, tuan! Lusa ada undangan makan malam dari PT Sentosa." ucap Bima teringat dengan undangan untuk tuannya.


"Saya paham, tuan! Tapi ini permintaan langsung dari pemilik PT Sentosa itu sendiri! Saya tidak berani menolaknya, tuan!" jawab Bima sambil menunduk.


"Kalau begitu kamu yang datang!" cetus Akhtar dengan enteng.


"Tidak bisa, tuan! Karena undangan makan malam itu untuk tuan Akhtar, bukan untuk saya, tuan!" sergah Bima menolak.


"Kan kamu yang menyetujuinya. Jadi kamu yang datang! Aku sibuk!" balas Akhtar dengan santai sambil menatap Bima.


Bima hanya pasrah seraya menganggukkan kepalanya. Akhtar tersenyum tipis melihat ekspresi Bima.


"Salah sendiri main setuju aja! Kamu kan bisa menolak kalau aku sedang sibuk atau apalah! Karena aku tau maksud dari undangan makan malam itu!" jelas Akhtar sambil mematikan tabletnya yang ada di atas meja.


"Maaf tuan, saya sudah salah!" balas Bima tertunduk.


"It's ok! Lain kali, jangan asal menyanggupi apa yang tidak kita mau!" sahut Akhtar menatap Bima dengan muka datarnya.


"Baik, tuan!" jawab Bima mengangguk.


Pembicaraan keduanya selesai dan melanjutkan pekerjaan masing-masing.

__ADS_1


Pukul 11, Kania sedang bersiap-siap. Sebentar lagi ia akan dijemput oleh supir pribadi Akhtar.


"Pakai baju apa ya? Aku kan belum pernah ke butik! Nanti kalau gak sesuai, bisa bikin malu dong! Huh! Pakai ini ajalah! Kayaknya bagus!" gumam Kania sambil memilih baju-baju di lemari ruang ganti.


Sebenarnya banyak baju baru yang ada di lemari. Namun Kania yang tidak pernah memakai baju-baju branded, merasa rendah diri untuk memakainya. Apalagi baju yang ada di lemari, dibelikan Akhtar semua. Kania hanya membawa beberapa baju dari rumahnya dulu. Itupun hanya dipakai Kania saat di rumah seperti ini.


Akhirnya pilihan Kania, jatuh pada dress selutut motif floral dengan lengan tiga perempat. Dress yang sangat pas melekat di badan Kania.


"Kenapa ukurannya bisa pas semua ya? Apa dia tau ukuran badanku? Hm, baju mahal emang nyaman dan bagus banget dipakai. Beda banget sama baju-bajuku. Seratus ribu aja dapet tiga. Orang kaya emang beda. Aku jadi cantik!" gimana Kania sambil mengaca di depan cermin besar dan memutar tubuhnya.


Tak lama jemputan Kania pun tiba. Kania berpamitan dengan bik Yati. Kania juga sudah memberi tahu ibunya bahwa hari ini ia akan pergi bersama tuan Akhtar.


Kania duduk di kursi penumpang dengan tenang sambil memainkan ponselnya. Sampai tak terasa mobil pun berhenti di depan perusahaan Akhtar. Kania yang tidak fokus ke depan, seketika terkejut saat tiba di perusahaan milik Akhtar.


"Pak! Kok turun di sini?" tanya Kania dengan bingung pada supir.


"Iya nona! Tuan Akhtar memang menyuruh mengantar nona ke sini!" jawab sang supir.


"Bukannya ke butik ya pak?" tanya Kania lagi sambil menoleh kanan kiri.


Kania sangat malu jika harus masuk ke perusahaan lagi.


"Maaf nona! Kalau itu saya kurang tau!" jawab sang supir menoleh ke belakang.


"Jadi saya harus turun di sini pak?" tanya Kania menatap supir.


"Iya, nona! Tuan Akhtar pasti sudah menunggu!" jawab sang supir.


'Gimana ini? Masa aku ke kantor ini lagi? Mana karyawan taunya kan aku udah keluar dari kantor! Terus nanti kalau ada yang kenal aku gimana? Ow iya, Dini! Aku hubungi Dini dulu deh!' batin Kania melihat kantor dari dalam mobil.


"Sebentar ya pak! Saya mau telepon temen saya dulu!" ucap Kania sambil mencari nomor Dini di ponselnya.


"Iya nona!" jawab sang supir.


Kania pun menghubungi Dini untuk mendatanginya di depan kantor. Kebetulan Dini sedang istirahat. Jadi Dini menghampiri Kania yang masih berada di mobil. Saat Kania melihat Dini yang keluar dari kantor, dia pun segera turun dari mobil.


"Waahh! Gila! Ini sahabat gue? Cantik banget lho, Nia!" seru Dini menggoda Kania.


Kania melolotkan matanya sambil menggerutu tanpa suara ke arah Dini. Sedangkan Dini hanya tertawa kecil melihat ekspresi Kania.


"Aku malu banget kalau ke sini!" ucap Kania lirih sambil menundukkan kepalanya tak berani melihat ke karyawan yang sedang menatap keduanya.


"Ngapain harus malu? Ini kan kantor suami loe! Jadi PD aja!" balas Dini dengan santai.

__ADS_1


Kania hanya mencebikkan bibirnya dan terus menunduk. Keduanya naik lift karyawan biasa. Mana berani Kania naik lift khusus petinggi. Meski Kania sudah menjadi istri sang direktur. Karena tidak ada yang tahu kalau Kania adalah istri Akhtar.


__ADS_2