
Ribuan wanita di negeri ini, berlomba-lomba untuk mengikuti pencarian calon ibu untuk mengandung anak seorang Akhtar Farzan Wijaya. Tentu saja penyeleksian yang dilakukan begitu ketat. Bibit bebet bobot begitu diperhitungkan. Sang asisten lah yang sibuk melakukannya.
Penyeleksian dilakukan di perusahaan utama Wijaya Group yang saat ini dipimpin oleh Akhtar sendiri. Akhtar hanya melihatnya dari video yang ditampilkan di layar besar di ruang pribadinya. Ia tidak mau menemui para wanita itu dulu. Ia akan menemui jika kandidat yang terpilih sudah lolos tahap penilaian sebanyak tiga kali.
Berbagai usia wanita mulai dari 18 tahun hingga 30 tahun, sempurna dari segi fisik, dan tentu saja harus berstatus single. Hadiah yang diberikan juga sangat besar. Karena akan dikontrak selama 9 bulan untuk melahirkan seorang putra Akhtar Farzan Wijaya.
Sebanyak 20 wanita telah lolos untuk bisa menemui seorang Akhtar, sang Mr. Perfect. Memasuki ruangan yang didampingi asistennya, Bima. Akhtar berjalan dengan gagah dan begitu tampan. Ditambah kacamata hitamnya yang bertengger di hidung mancungnya, sungguh penampilan yang sempurna bagi para wanita yang melihatnya.
Para wanita itu seperti tersihir dengan kesempurnaan seorang Akhtar Farzan Wijaya. Rumor yang mereka dengar di luar, benar adanya.
"Silakan semua duduk kembali!" perintah Bima yang berdiri di samping Akhtar yang sudah duduk di kursi kebesarannya tanpa melepaskan kacamatanya.
"Kalian tentu tau, yang duduk di depan kalian saat ini adalah Tuan Akhtar Farzan Wijaya. Tuan Akhtar sendirilah yang akan memilih wanita yang akan mengandung penerusnya." jelas Bima tegas.
"Baik, nama yang disebutkan harap maju langkah ke depan yang telah disediakan. Anton, lakukan!" lanjut Bima pada para wanita di depannya dan menyuruh Anton untuk memanggil satu per satu wanita itu."
Satu per satu nama wanita disebutkan dan maju ke depan untuk menunjukkan diri. Bukan menampilkan bakat, melainkan hanya memutar tubuhnya sekilas. Dan Akhtar yang akan menilainya sendiri.
Entah apa yang dinilai oleh Akhtar dari para wanita itu. Nyatanya 20 wanita yang lolos tahap pertama tidak ada yang membuat Akhtar tertarik. Ia begitu malas melihat para wanita yang ada di depannya.
"Maaf, tuan Akhtar tidak memilih kalian. Terima kasih atas waktu kalian!" ucap Bima tegas setelah Akhtar meninggalkan ruangan itu.
Terlihat raut wajah yang begitu kecewa dari para wanita itu. Impian mereka untuk mengandung calon anak seorang Akhtar, gugur sudah. Bagi pria lain, penampilan para wanita itu tidak ada yang kurang. Tapi tidak bagi Akhtar. Ia begitu sulit untuk ditaklukkan.
"Dimana kemampuan kamu mengenali wanita, Bima? Kenapa gak ada yang menarik sama sekali? Tipemu tentang wanita sangat buruk, Bima! Cari yang lain! Aku mau ini selesai dalam tiga hari. Aku gak mau nunggu terlalu lama." ucap Akhtar kesal pada Bima di ruangannya.
'Bukan tipeku yang buruk, tuan. Tapi kamulah yang gak tau tentang wanita! Mereka begitu menarik, tapi gak ada yang kamu pilih. Hh! Kerja keras lagi dah besok! ' batin Bima menggerutu dengan sikap Akhtar.
"Mau aku potong gajimu, Bim? Beraninya mengumpatku! Katakan aja di depanku, gak perlu kamu umpat dalam hati. Karena aku tetep tau. Udah sana buatkan aku kopi!" lanjut Akhtar dengan kesal karena melihat sang asisten malah diam tanpa menjawab.
"Baik, tuan!" balas Bima gugup karena ketahuan mengumpat tuannya.
"Harus kamu yang buat, Bim! Bukan yang lain!" pekik Akhtar ketika Bima sudah sampai pintu ingin keluar.
"Iya, tuan!" jawab Bima datar dan keluar ruangan.
"Kenapa loe, Don? Ngeliatin gue? Ngajak berantem loe? Kerja yang bener kalau gak mau gaji dipotong!" ketus Bima meluapkan kekesalannya pada Doni, sekretaris Akhtar yang sedang duduk di meja kerjanya.
__ADS_1
"Galak amat, tuan! Dimarah tuan bos, kenapa aku yang kena lampiasannya?" protes Doni yang terkejut melihat Bima yang kesal.
Bima berlalu mengabaikan perkataan Doni, lalu menuju ruang pantry membuat kopi untuk Akhtar. Beginilah kalau Akhtar sedang kesal di kantor, maka akan meminta Bima untuk membuatkan kopi khusus yang dibuat Bima sendiri.
"Bener-bener keren ya, tuan Akhtar! Mau nyari calon istri aja pake acara pemilihan kayak gini!" ujar Dini yang sedang duduk istirahat di ruang pantry bersama Kania dan Seli petugas cleaning service lainnya.
"Bukan calon istri, Din! Tapi perempuan yang mau hamil anaknya!" jawab Seli membenarkan.
"Nah, itu maksudku, mbak!" timpal Dini santai sambil menyeruput kopinya.
"Maksudnya gimana mbak Seli?" tanya Kania yang penasaran.
"Ya itu, perempuan yang mau hamil anaknya tanpa menikah. Jadi semacam sewa rahim gitu! Tau sendirilah, kan tuan Akhtar gak bisa deket sama cewek. Jadi ya, mana mungkin dinikahin. Kalau pun mbak masih single nih, mbak juga mau hamil anaknya!" jelas Seli dengan terkekeh.
"Hah?" Kania terkejut mendengar penjelasan Seli.
"Orang kaya emang beda, Nia! Jadi loe gak usah heran!" timpal Dini mengibaskan tangannya di depan muka heran Kania.
"Iya, Nia! Beda sama kita. Segala masalah yang mereka hadapi, cukup uang sama kekuasaan yang nyelesaiin. Gak kaya kita!" timpal Seli dengan enteng.
"Emang loe gak dikasih tau sama Dini, Nia?" tanya Seli balik.
"Ye, Kania kan gak pernah tanya gue, mbak! Jadi ya, gue gak kasih tau dialah!" jawab Dini santai.
"Buat apa juga aku tanya tentang tuan Akhtar? Bukan urusanku juga!" timpal Kania sewot.
"Buktinya sekarang loe penasaran, kan?" balas Dini di sebelahnya.
"Bukan penasaran, Din! Tapi heran aja, kenapa tuan Akhtar bisa gitu?" timpal Kania.
"Sama aja Nia, loe penasaran!" timpal Dini dengan ketus.
"Udah-udah! Kok malah pada berantem sih!" sela Seli menengahi keduanya.
"Hehehehehe" keduanya serempak terkekeh menampilkan senyum lebarnya.
"Mbak aja yang kasih tau kamu! Ini udah jadi rahasia umum sih di kantor. Bahkan mungkin di seluruh negeri ini. Siapa kan yang gak tau tuan Akhtar Farzan Wijaya? Pengusaha sukses sekaligus pewaris kerajaan bisnis Wijaya Group? Iya, kan?" ucap Seli sambil bertanya pada dua orang di hadapannya.
__ADS_1
"Aku gak tau, mbak!" timpal Kania dengan polos.
"Astaga! Ini beneran temen loe, Din?" tanya Seli heran melihat mimik polos Kania.
"Nia emang gitu, mbak! Dia itu mana peduli sama yang namanya cowok! Dia gak pernah pacaran, mbak! Gue juga heran, apa dia masih suka cowok apa gak?" jawab Dini meledek Kania.
"Enak aja kalau ngomong! Aku masih suka cowok tau, Din! Tapi aku males aja buat pacaran! Gak penting buat hidupku." balas Kania dengan cemberut.
"Udah-udah, malah pada berantem lagi! Nih, mbak kasih tau ya Nia! Menurut rumor yang mbak denger, Tuan Akhtar itu dulu sebenernya pernah pacaran sama seorang model. Cuma model itu ninggalin tuan Akhtar buat ngejar karirnya di luar negeri. Jadi mungkin tuan Akhtar sakit hati sama model itu. Karena katanya model itu cinta pertamanya tuan Akhtar. Gila kan, kok ada cewek yang ninggalin cowok kayak tuan Akhtar! Sempurna gitu, lho! Malah ditinggalin." jelas Seli pada Kania yang fokus mendengarkan.
"Terus apa hubungannya sama tuan Akhtar yang gak bisa deket sama cewek sekarang, mbak? Bukannya dulu pernah pacaran, kan? Kok aku jadi bingung, ya!" tanya Kania yang masih penasaran dengan mimik muka seperti berpikir.
"Udah, ngapain loe mikirin itu! Bukan urusan kita juga!" ketus Dini pada Kania.
"Ya, mungkin karna telanjur sakit hati sama cewek kali! Secara kan, itu cinta pertamanya. Ibarat kata, ditinggalin pas masih sayang-sayangnya!" timpal Seli.
"Wah, cocok itu! Ah, Kania mah mana ngerti, mbak? Dia kan gak pernah jatuh cinta!" timpal Dini sambil meledek sahabatnya.
"Dini!" rajuk Kania.
Sebenarnya Kania pernah menyukai seseorang di masa kecilnya. Seseorang yang pernah menolongnya. Namun tidak pernah bertemu lagi.
"Seli, dipanggil Bu Reni!" panggil seseorang di balik pintu pantry yang terbuka.
*
*
HAI HAI HAI
MAKIN PENASARAN KAN DENGAN KELANJUTANNYA! NANTIKAN TERUS YA KISAH "TAWANAN MR. PERFECT"
MOHON DUKUNGANNYA DAN LIKE SERTA KOMENNYA.
TERIMA KASIH GUYS
SELAMAT MEMBACA
__ADS_1