
"Ngapain loe masih di sini? Bukannya udah gue suruh pergi?" tanya Adri heran saat masuk pantry masih melihat Dini duduk sambil memainkan ponselnya.
"Ngagetin gue aja loe? Gue kan masih nunggu Kania! Gue masih khawatir sama dia!" jawab Dini sambil melihat Adri yang sedang berjalan ke meja pantry. Kemudian Adri duduk di depannya.
"Oh ya! Loe liat Kania kan di sana? Gimana dia? Dia masih hidupkan?" cecar Dini penuh khawatir setelah meletakkan ponselnya di meja dan menatap Adri.
"Dia ada di sana. Tapi kayaknya dia pingsan deh! Soalnya waktu gue masuk, gue liat dia lagi tiduran sambil digosokin kakinya sama bu Reni." jawab Adri sedikit menampakkan raut bersalahnya karena tidak membantu Kania sahabat Dini. Gadis yang ternyata ia sukai.
"Hah! Kania pingsan! Serius loe, Dri?" sahut Dini terkejut sambil memelototkan matanya.
"Mata loe hampir keluar tuh!" ketus Adri tersenyum tipis.
"Apa diminum sama Kania, ya? Tapi kan Adri baru dateng. Masa iya udah pingsan duluan?" gumam Dini dengan liri terdengar samar-samar oleh Adri.
"Diminum? Jangan bilang, loe masukin obat tidur juga ke minuman yang gue buat tadi?" tanya Adri penuh selidik sambil menyipitkan matanya menatap Dini yang terlihat gugup.
"Eh... i... i.. itu... " jawab Dini gugup sambil melihat ke sana kemari dan duduk dengan gelisah.
"Astaga, Dini! Loe! Hah! Kacau udah urusannya! Habislah kita!" ujar Adri dengan kesal sambil berdiri dan membungkuk ke arah Dini yang masih duduk di seberang mejanya, dengan pandangan penuh intimidasi.
Dini semakin gugup dan cemas dengan keadaan Kania. Ia kemudian berdiri dan berjalan hendak keluar.
"Mau kemana loe?" tanya Adri datar melihat Dini yang hendak keluar.
"Mau liat Kania lah! Masa iya gue diem aja, sementara dia pingsan. Apalagi ini kan salah gue!" jawab Dini dengan ketus tanpa berbalik ke arah Adri.
"Loe mau nambah masalah lagi?" tanya Adri lagi.
"Maksudnya?" tanya balik Dini dengan heran sambil mengernyitkan dahinya dan berbalik menatap Adri.
Adri kemudian menghampiri Dini yang masih berdiri di dekat pintu.
"Kalau loe ke sana, yang ada makin nambah masalah. Loe kan tau sendiri, kalau tuan Akhtar gak bisa deket sama cewek. Apalagi loe gak ada kepentingan sama sekali di sana. Belum pernah ada karyawan cewek yang masuk ruangan CEO. Kecuali sahabat loe itu sama bu Reni sih. Tapi kan gak sama loe! Loe mau jawab apa kalau loe ada di sana? Apa loe bakal bilang kalau loe udah masukin obat tidur diminuman itu? Iya? Gak kan?" jelas Adri dengan tenang.
Dini sedang mencerna perkataan Adri. Dan menurutnya ada benarnya juga semua perkataan Adri.
"Tapi gimana nasib sahabat gue, Dri? Kasihan Kania! Dia belum sebulan kerja di sini, tapi udah dapet masalah karena gue! Gue bener-bener gak becus jadi sahabat!" ucap Dini dengan sedih sambil menundukkan kepalanya.
Adri yang melihatnya ingin sekali mendekat dan memeluknya. Memberikan ketenangan bagi wanita yang ia sukai diam-diam. Namun tak ia lakukan. Karena teringat dengan aturan perusahaan.
"Periksa dia!" perintah Akhtar pada dokter wanita yang sedang duduk di ruangan kesehatan. Setelah meletakkan Kania di brankar dan berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Dokter yang melihat itupun terkejut. Seorang Akhtar sang Mr. Perfect, CEO yang alergi wanita, namun kali ini menyentuhnya bahkan menggendongnya. Dokter tersebut masih bengong di tempatnya.
Di perusahaan ini memang disediakan satu ruangan sebagai ruang kesehatan yang dijaga oleh satu dokter dan dua perawat. Mereka disediakan khusus untuk para karyawan perusahaan jika ada yang sakit mendadak seperti saat ini.
"Apa kau mau dipecat!" seru Akhtar dengan datar dan dingin menatap tajam dokter itu.
"Ba... baik tuan!" jawab dokter itu dengan gugup dan langsung menuju Kania yang tengah terbaring, lalu memeriksanya.
Bima yang mengikuti tuannya hanya diam tak jauh dari brankar. Sedangkan bu Reni yang hendak mengikuti mereka tertinggal di belakang setelah keluar dari lift khusus karyawan. Tanpa ikut masuk ke ruangan dan hanya menunggunya di luar dengan cemas.
Kania tiba-tiba pingsan lagi sebelum menjawab pertanyaan tuan Akhtar lagi. Mereka belum tau penyebabnya.
"Pasien habis meminum obat tidur, tuan! Dan cukup banyak juga yang diminumnya. Mungkin malam nanti baru terbangun." jelas dokter itu setelah memeriksa Kania.
"Obat tidur? Bima!" seru Akhtar dengan datar kemudian memanggil asistennya.
Bima sudah tau apa yang harus ia lakukan. Tanpa berlama-lama, Bima langsung keluar ruangan itu.
Akhtar memandangi Kania lagi. Dokter yang di depannya pun memperhatikan hal itu.
"Urus dia!" ujar Akhtar dengan datar kemudian berjalan ke arah pintu.
Tanpa melihat arah dari dalam pintu, Dini menekan handel pintu dan membukanya bersamaan dengan Akhtar yang akan keluar.
Bruk
"Aw!" Dini terjatuh karena tidak siap dengan tabrakan di depannya. Sambil mengusap bokongnya yang sakit karena mencium lantai, Dini mendongak melihat siapa yang ia tabrak sampai ia jatuh.
Dini dan yang lain di ruangan itu yang melihat kejadian itu seketika terkejut.
'Alamak! Matilah gue!' batin Dini sambil menganga dan mengerjapkan matanya.
Akhtar terlihat geram dan menahan amarahnya. Menatap tajam pada gadis yang baru saja menabraknya. Ia heran kenapa akhir-akhir ini, gadis-gadis hobi sekali menabrakkan tubuh mereka ke Akhtar. Apa karena sangat ingin disentuh oleh Akhtar?
Akhtar berlalu begitu saja meninggalkan Dini yang masih terkejut di lantai. Bu Reni yang tau tuannya hendak keluar, segera jaga jarak dua meter dari pintu.
Di dalam ruangan CEO, Akhtar yang sudah kembali, tengah merasakan panas dan gatal di tubuhnya lagi. Kemudian muncul kemerahan di tubuh dan wajahnya. Bahkan sesak di dadanya pun ia rasakan kembali. Ternyata alerginya kambuh lagi.
Akhtar pikir ia sudah sembuh setelah bertabrakan dengan Kania yang lalu. Karena tabrakan yang tidak disengaja dengan Kania itu, membuat alergi Akhtar tidak muncul kembali. Bahkan untuk membuktikannya lagi, saat Kania akan pingsan, Akhtar yang menangkap dan menggendongnya. Dan itu dilakukan lagi tadi saat Kania pingsan lagi.
Namun nyatanya ia salah, alerginya masih kambuh lagi setelah bertabrakan dengan gadis yang berbeda lagi. Bahkan reaksi alerginya sama seperti minggu yang lalu. Akhtar terus mencoba bertahan untuk tidak menggaruknya.
__ADS_1
"Kenapa masih kambuh lagi? Argh! Bima!" ucap Akhtar yang kesal dengan alerginya.
"Tuan Akhtar!" seru Doni saat masuk ke ruangan CEO karena tadi melihat tuannya berjalan dengan tergesa menuju ruangannya dan tidak melihat Bima bersama tuan Akhtar.
Doni, sang sekretaris pun berinsiatif untuk mengecek kondisi tuannya. Dan benar saja, saat ia mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada sahutan dan justru terdengar seruan tuan Akhtar memanggil asistennya. Tanpa menunggu lama lagi, Doni pun masuk ke dalam.
"Panggil Bima!" perintah Akhtar sambil mondar-mandir menahan rasa panas dan gatalnya.
"Baik, tuan!" jawab Doni lalu menghubungi Bima.
Sementara di pantry lantai paling atas. Seorang laki-laki tengah diinterogasi oleh Bima.
"Bisa kamu jelaskan, Adri?" tanya Bima dengan penuh tatapan intimidasi pada Adri yang tengah berdiri dengan gugup di hadapan Bima.
"Kamu pasti tau apa yang kumaksud, bukan?" cecar Bima lagi sambil duduk bersilang di kursi besi.
"Ma.. ma.. maaf, Pak Bima! Bu... bukan sa... saya!" jawab Adri terbata sambil terus menundukkan kepalanya.
"Kalau bukan kamu, terus siapa? Katakan?" tanya Bima lagi dengan datar.
Adri sangat bingung saat ini. Apa yang ia takutkan akhirnya terjadi. Tak menunggu lama, ia sudah diinterogasi seperti ini oleh Bima, asisten tuan Akhtar. Apakah ia harus memberitahukan kebenarannya? Atau menutupinya? Tapi Bima bukanlah orang yang mudah dibohongi. Jadi Adri memutuskan untuk memberitahu saja. Toh, salahnya juga yang sudah ceroboh.
*
*
HAI HAI HAI
GIMANA CERITANYA? SERU KAN?
KASIH KOMENNYA DONG READERS YANG BAIK HATI
JANGAN LUPA LIKENYA JUGA
BIAR AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT UPDATE BABNYA
AUTHOR SELALU MENGUSAHAKAN UNTUK UPDATE DUA BAB DALAM SEHARI KARENA KESIBUKAN AUTHOR NGURUS ANAK YANG MASIH BAYI, JADI PINTER - PINTER BAGI WAKTU AJA.
SEMOGA SUKA DENGAN CERITANYA YA!
SELAMAT MEMBACA READERS
__ADS_1