Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 38 Insiden Tengah Malam


__ADS_3

Kania yang sedang bersantai di depan TV, mendengar suara bel pintu berbunyi. Kania bangun dan melangkah menuju pintu. Mengintip di lubang kecil yang ada di pintu. Lalu membuka setelah tahu orang yang mengetuknya.


Pintu pun terbuka menampakkan Bima yang tersenyum tipis.


"Malam, nona!" sapa Bima menunduk.


"Malam juga!" balas Kania singkat.


"Ini jus yang biasa nona minum! Bukannya sudah habiskan, nona?" ucap Bima sambil menyerahkan botol jus ke arah Kania.


Kania mengernyit heran. Lalu mengambil botol jus itu.


"Makasih ya, pak Bima! Tau aja kalau udah habis!" jawab Kania tersenyum.


"Bik Yati yang bilang tadi ke saya, nona! Kalau begitu, saya permisi!" sahut Bima datar.


"Hm!" jawab Kania berdehem. Lalu menatap Bima yang berbalik dan menuju penthouse Akhtar lagi.


Kemudian Kania masuk lagi ke penthousenya. Kania langsung menuju dapur untuk meminum jusnya. Kania memang harus minum jus sehat untuk program hamilnya. Dan kebetulan malam ini, bik Yati ditugaskan Bima untuk mengawasi Kania tanpa sepengetahuan Akhtar.


Tak lama, Michael dan Jonas pamit pulang. Karena mereka tidak ingin rencananya gagal. Sedangkan Bima masih memastikan keadaan tuannya dulu. Dan ia juga harus memastikan Kania juga sudah minum jusnya. Bima mendapat panggilan dari Bik Yati. Dan mendapat jawaban yang ia tunggu.


'Maafkan saya, tuan! Tapi setelah ini, pasti tuan akan berterima kasih pada saya! Keinginan tuan akan segera terpenuhi! Dan saya berharap setelah ini juga, alergi tuan bisa sembuh dan hilang selamanya!' batin Bima melihat Akhtar yang mulai resah.


"Bima! Kenapa tubuhku rasanya panas?" seru Akhtar mulai merasakan panas.


Akhtar memang belum pernah merasakan mengkonsumsi obat perangs*ng. Karena Akhtar selalu menghindari pesta dan keramaian. Jadi tidak ada satu pun yang bisa menjebaknya. Justru baru kali ini, ketiga sahabatnyalah yang menjebak Akhtar. Itupun mereka lakukan demi Akhtar. Apalagi wanitanya adalah istri Akhtar sendiri.


"Sebentar tuan, saya ambilkan obatnya dulu!" jawab Bima meninggalkan Akhtar di sofa yang sedang kegerahan.

__ADS_1


"Cepat Bima! Rasanya ada yang aneh di tubuhku!" seru Akhtar melepas kancing bajunya.


Bima mengabaikan Akhtar dan berjalan keluar pintu. Bima masuk ke penthouse yang ditempati Kania. Pintu memang sudah dibuka oleh Bik Yati. Kania yang sudah menghabiskan jusnya, menatap heran Bima yang kembali lagi.


"Nona! Tolong bantu saya! Sesuatu terjadi pada tuan Akhtar!" seru Bima pura-pura panik di hadapan Kania.


"Emangnya tuan Akhtar kenapa?" tanya Kania penasaran.


"Sebaiknya Nona ikut saya saja!" sahut Bima.


Kania pun mengangguk dan mengikuti Bima dari belakang. Keduanya pun masuk ke penthouse milik Akhtar. Ternyata Akhtar sudah ada di kamarnya di lantai atas. Bima mengajak Kania ke kamar atas. Kania yang tidak curiga pun mengikuti Bima saja.


"Nona tunggu sini sebentar! Saya panggil bantuan yang lain dulu!" ucap Bima yang langsung turun dan meninggalkan Kania sendiri di dekat pintu kamar Akhtar.


'Maafkan saya, nona Kania! Kamu juga sah sebagai istri tuan Akhtar! Semoga dengan ini, kamu bisa menyembuhkan tuan Akhtar!' batin Bima merasa bersalah kepada Kania. Tapi Bima harus tetap melakukan ini demi tuannya.


Kania yang hendak mengatakan sesuatu pada Bima, jadi tertahan karena melihat Bima yang buru-buru. Akhirnya Kania menunggu di tempatnya berdiri. Tak lama, Kania merasakan aneh di dalam tubuhnya. Apalagi ada sesuatu yang dirasakan inti tubuhnya.


Kania mendengar teriakan di dalam kamar Akhtar. Akhtar yang tidak sabar menunggu Bima dan hendak keluar kamar, bertabrakan dengan Kania yang penasaran dan ingin membuka pintu kamar itu.


Akhtar sudah tidak mengenakan kemeja atasnya. Ia hanya mengenakan celana dasarnya. Sedangkan Kania hanya mengenakan baju santainya.


Akhtar yang tidak seimbang karena tabrakan dadakan, terjatuh telentang di kamarnya. Sedangkan Kania berada di atas tubuh Akhtar. Kedua tangan Kania yang menyentuh kulit dada Akhtar, semakin menimbulkan gelenyar aneh di tubuhnya. Perasaan yang semakin menggebu.


Kania pun merasakan hal yang sama. Pandangan mereka berkabut. Apalagi keduanya pernah berc*uman sebelumnya. Entah siapa yang memulai duluan, keduanya kini lepas kendali. Pengaruh obat perangs*ng yang diberikan ketiga sahabat Akhtar, telah sukses menguasai kesadaran mereka.


Dipikiran keduanya, hanya bagaimana cara menuntaskan hasrat yang sudah menggebu dan ingin dilepaskan. Akhtar membawa Kania ke tempat tidur. Bahkan suhu AC di kamar itu, tidak mengalahkan suhu tubuh keduanya yang semakin panas.


Pakaian keduanya kini telah berserakan di lantai. Keduanya sudah tanpa sehelai benang pun. Ditambah pencahayaan lampu di kamar Akhtar memang temaram. Menambah kesan romantis dan panas bagi keduanya. Mata mereka saling mengunci dan menatap dalam. Akhtar yang sudah tidak sabar, langsung menc*mbu Kania lagi.

__ADS_1


Akhtar terus menjelajahi struktur tubuh Kania yang ia kagumi. Di tengah pengaruh obat itu, Akhtar masih bisa melihat jelas bentuk tubuh wanita yang ada di bawah kungkungannya. Tubuh wanita yang pertama kali ia lihat. Sungguh sempurna dipikiran Akhtar.


Kania yang sudah dipengaruhi obat itu, tidak sabar melihat Akhtar yang masih diam menatapnya. Lalu Kania meraih wajah Akhtar dan kali ini menc*umnya terlebih dahulu. Tentu saja Akhtar semakin semangat. Tanpa menunggu lama lagi, Akhtar pun melakukan penyatuan di antara mereka. Teriakan, erangan, dan des*han terdengar di kamar itu. Mereka melakukan dengan penuh gelora. Karena bagi keduanya adalah pertama kalinya.


Entah sudah berapa kali, Akhtar dan Kania melakukan penyatuan. Hingga Kania sudah tidak sanggup lagi dan tertidur. Sedangkan Akhtar yang sudah tuntas hasrat dan geloranya, langsung berjalan ke kamar mandi.


Efek obat perangs*ng itu sudah hilang di tubuhnya sejak penyatuan yang ia lakukan kedua kalinya dengan Kania. Dan Akhtar sudah sadar sepenuhnya, ketika ia melakukan penyatuan ketiga kalinya dan seterusnya. Entah mengapa Akhtar terus merasa ingin melakukan itu dengan Kania. Akhtar berhenti ketika ia melihat Kania yang sudah kelelahan.


Akhtar mengguyur tubuhnya di bawah shower. Ia masih ingat jelas, saat Kania mendes*hkan namanya. Bayangan Kania yang berada di bawahnya, masih berputar di otaknya. Dan membuat juniornya bangkit lagi. Akhtar mendengus kasar. Ia harus berusaha menidurkan juniornya lagi.


Sementara Kania tengah bergelung di bawah selimut tebal. Rasa lelah dan lega, membuatnya tidur nyenyak. Kania belum tahu apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Akhtar malam ini.


Hampir satu jam, Akhtar di kamar mandi. Ia pun keluar dari kamar mandi mengenakan handuk kimono putih. Berjalan perlahan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Lalu ia duduk di sofa yang tak jauh dari ranjangnya. Menatap wajah Kania yang tertidur pulas.


"Kau selalu membuatku candu, Kania! Dan aku tidak akan pernah melepaskanmu! Kau benar-benar obat alergiku!" gumam Akhtar tersenyum tipis.


"Bima, Michael, dan Jonas! Lihat saja hukuman yang akan kuberikan besok untuk kalian! Beraninya kalian memberiku dan Kania obat itu! Hh!" gumam Akhtar lagi mengingat ketiga sahabatnya yang sudah menjebaknya.


Akhtar sudah mencari tahu yang terjadi pada dirinya dan Kania tadi sebelum ia ke kamar mandi. Akhtar merasa kesal dengan perbuatan para sahabatnya. Apalagi mereka juga memberikannya ke Kania. Akhtar akan mencari tahu besok dan menginterogasi sahabatnya. Terutama Bima. Karena Bima lah yang terakhir kali berada di tempatnya.


Kemudian Akhtar bangun dan mengenakan celana boxernya saja. Lalu ia berjalan menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Kania, istrinya. Ya, Akhtar sudah mengakui Kania sebagai istrinya yang sesungguhnya.


"Sepertinya aku sudah menyukaimu! Dan selamat tidur istriku!" ucap Akhtar lembut menatap wajah Kania, lalu menc*umnya singkat.


Kania tidak merasa terganggu dengan kecupan Akhtar. Kemudian Akhtar tidur menghadap Kania dan memeluknya erat.


*


*

__ADS_1


Author usahakan up banyak.


Jangan lupa kasih like yang banyak dan komennya ya!


__ADS_2