Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 8 Tak Terduga


__ADS_3

Hari ini tepat tiga hari, Bima melakukan seleksi untuk pemilihan calon wanita yang akan mengandung anak Akhtar. Beberapa wanita yang sudah terpilih dan pastinya sesuai syarat dan kriteria yang diinginkan Akhtar.


Sebanyak 10 wanita yang lolos seleksi di tahap akhir dan bertemu dengan Akhtar. Seperti biasa, Akhtar hanya memandang satu per satu wanita yang maju dan memutar tubuhnya sekilas. Hingga pada peserta yang terakhir mendapat giliran maju ke depan.


Wanita cantik, tinggi semampai yang berprofesi sebagai model, dan cukup terkenal. Akhtar menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan oleh siapa pun.


"Bubarkan semua!" perintah Akhtar dengan datar dan berdiri dari kursinya lalu berjalan ke arah pintu keluar ruangan.


Semua di ruangan itu hanya melongo dan terkejut. Bima menghela napas berat. Awalnya dia optimis, tuannya akan memilih kandidat wanita yang terakhir. Namun, Bima salah duga. Ternyata masih sama, ditolak. Tidak ada satupun wanita yang dipilih oleh Akhtar.


Dan hari ini adalah batas waktunya. Lalu bagaimana dengan tuan Akhtar yang belum juga memilih wanitanya?


"Wanita seperti apa yang diinginkan tuan Akhtar? Hh! Semangat Bima!" gumam Bima menyemangati diri sendiri setelah membubarkan para wanita yang ada di ruangan itu. Meski kecewa dan kesal, namun mereka tidak bisa membantah keputusan Akhtar. Setelah semua wanita pergi keluar dari pintu yang berbeda yang dilewati Akhtar, tak lama Bima menyusul tuannya.


"Tuan, tung....!" panggil Bima setengah berlari namun terhenti karena melihat sesuatu di depannya.


Bruk


"Aw!" ucap seorang gadis mengaduh dengan mata tertutup. Lalu membuka matanya karena merasakan sesuatu di bawahnya.


Seketika ia terkejut dengan mata yang melotot dan mulut yang menganga. Sementara tangannya berada di atas dada pria tersebut. Pandangan mereka saling bertemu dan terkunci.


"Cantik" gumam Akhtar lirih menatap binar mata hitam pekat milik gadis yang ada di atas tubuhnya.


'Tampan sekali!' batin gadis itu sambil tersenyum manis.


Sedangkan gadis yang menindih tubuh Akhtar, menatap kagum pada bola mata berwarna hazel yang menggetarkan hatinya. Entah perasaan apa itu. Jantung keduanya seketika berpacu cepat. Dan saling terdengar oleh keduanya.


Sementara, dua orang lain ikut terkejut. Berdiri berseberangan tak jauh dari mereka, hanya memperhatikan dua orang yang saling bertindihan di lantai tersebut.


"Alamak! Tamat udah sahabat gue!" gumam Dini lirih dengan kedua telapak tangannya menutup mulutnya.


Kania dan Dini yang baru keluar dari lift dan saling becanda. Kania bahkan dikejar Dini karena meledeknya. Kania yang berlari dan menoleh ke arah Dini yang masih mengejarnya, seketika harus menabrak Akhtar yang sedang berjalan ke arah mereka. Dini belum sempat menghentikan Kania. Alhasil kejadian tersebutlah yang terjadi.


"Astaga! Bakal kambuh parah lagi nih alergi tuan." gumam Bima sambil menepuk dahinya pelan. Lalu berjalan menghampiri keduanya.


"Tuan!" ucap Bima cemas yang sudah berdiri di dekat mereka.

__ADS_1


Seketika Akhtar dan Kania tersadar. Dan membuat Kania langsung berdiri dengan gugup dan gemetar.


"Ma.... ma... ma... maaf, tu... tu... tuan!" ucap Kania dengan terbata. Ia sadar bahwa pria yang sempat ia kagumi dan ia tindih adalah tuan Akhtar. Pria sempurna anti wanita.


'Matilah, aku! Bodoh, bodoh, Kania bodoh! Tamat udah kerjaanku. Mana belum ada sebulan. Bodoh kamu, Nia!' batin Kania merutuki kebodohannya sambil memukul kepalanya pelan. Lalu menunduk cemas.


Hal tersebut tidak luput dari pandangan Akhtar yang juga sudah berdiri. Ia tersenyum tipis melihat tingkah gadis di depannya yang terlihat lucu dan menggemaskan. Akhtar bahkan melupakan alerginya yang bisa kambuh lebih parah setelah ini.


"Tuan tidak apa-apa? Saya akan memecat gadis itu segera, tuan!" ucap Bima khawatir melihat tuannya.


Bima yang hendak melepaskan jas yang masih dikenakan Akhtar, seketika tangannya ditahan oleh Akhtar.


"Tidak perlu. Kita ke ruanganku sekarang!" jawab Akhtar datar berjalan menuju lift dan melewati gadis yang sudah menindihnya tadi. Terlihat sekali kegugupan di tubuhnya. Melihat itu, Akhtar tersenyum tipis. Bahkan debaran jantungnya masih belum normal kembali.


"Bima!" panggil Akhtar yang sudah sampai di depan pintu lift namun tidak mendapati sang asisten.


"Hah! I... i... iya, tuan!" balas Bima terkejut dengan kejadian barusan. Bima heran dengan sikap tuannya. Tidak seperti tuan Akhtar biasanya. Yang bersikap dingin kepada wanita.


'Ada apa dengan tuan Akhtar? Sangat aneh! Tapi gadis itu sangat cantik dan polos!' batin Bima sambil berjalan yang sempat melihat gadis yang menabrak tuannya.


Dini yang melihat kejadian itu pun, ikut terkejut melihat sikap tuan Akhtar. Ia sudah sangat khawatir dengan nasib sahabatnya. Namun yang ia khawatirkan tidak terjadi. Atau justru belum terjadi. Entahlah Dini tidak ingin menduga-duga. Ia lebih baik menghampiri sahabatnya yang masih terus menunduk sambil meremas ujung bajunya.


"Din! Aku... aku.. takut, Din! Gimana ini, Din? Gimana dengan kerjaanku? Gimana nasibku dan ibu, Din? Mau cari kerja dimana lagi, Din?" runtun Kania bertanya sambil menatap Dini dengan cemas memikirkan nasibnya ke depan. Matanya berkaca-kaca menahan tangis.


"Hei, Nia! Dengerin gue! Loe gak sadar apa tadi sama sikap tuan Akhtar? Dia bahkan gak marah sama loe, kan? Itu artinya, loe gak bakal dipecat. Kerjaan loe bakal tetep aman. Percaya sama gue! Loe tenang, ya!" jelas Dini dengan tenang. Ia pun sebenarnya tidak begitu yakin dengan jawabannya sendiri. Tapi untuk sekarang, hanya ini yang bisa Dini lakukan untuk menenangkan sang sahabat.


"Tapi, Din! Kamu liat sendiri kan tadi? Aku bahkan lebih parah dari gadis waktu itu. Aku buat tuan Akhtar jatuh bahkan menindihnya. Gimana aku bisa tenang, Din? Mungkin aku bukan lagi dipecat sama dia, Din! Mungkin aku bakalan mati setelah ini, Din!" balas Kania gemetar dengan pikiran negatifnya.


"Hei, hei, hei, Nia! Sahabatku yang paling cantik dan baik. Dengerin gue sekali lagi! Loe, gak bakal kenapa-napa! Loe gak bakal dipecat atau mati! Tuan Akhtar gak mungkinlah bunuh loe! Untungnya apa coba buat dia bunuh loe? Ya, walaupun dia orang yang dingin, tapi dia juga bukan pembunuh berdarah dingin juga, kan? Masa iya, tuan Akhtar yang terkenal Mr. Perfect karena ketampanan dan kekayaannya, jadi pembunuh? Udah kayak mafia-mafia dalam novel aja!" jelas Dini sambil terkekeh dengan kata-katanya sendiri.


"Kamu masih bisa becanda aja, Din! Aku tuh beneran takut lho, Din! Gimana nasib aku selanjutnya? Tuhan, tolong selamatkan aku!" balas Kania sambil menengadahkan kedua telapak tangannya ke atas berdoa.


"Loe lebay banget deh, Nia! Gak bakal ada hal buruk yang terjadi sama loe! Ya, meskipun gue juga gak yakin-yakin amat sih! Tapi menurut firasat gue, loe tetep kerja di sini dan gak bakal dipecat. Buang-buang jauh deh pikiran jelek loe! Apalagi pikiran dibunuh segala! Kebanyakan baca novel mafia sih, loe!" balas Dini dengan santai.


"Tuh, kamu aja gak yakin sama kata-katamu! Gimana aku mau yakin sama kamu?" protes Kania dengan cemberut.


"Udah gak usah cemberut gitu! Loe tambah jelek kalau kayak gitu! Seenggaknya gue masih yakin kalau loe gak bakal dipecat, Nia!" balas Dini enteng.

__ADS_1


"Dari mana kamu tau? Kamu kan bukan tuan Akhtar atau asistennya itu, Din?" tanya Kania penasaran.


"Buktinya sekarang loe masih di sini sama gue! Iya, kan? Udah ah, gak usah dipikirin lagi. Kerjaan kita udah nunggu! Ayo!" jelas Dini dengan santai dan berjalan lebih dulu.


Sedangkan Kania masih diam merenung di tempatnya berdiri.


"Ayo, Nia!" ajak Dini yang berbalik lalu menarik sahabatnya.


"Pelan-pelan jalannya dong, Din!" protes Kania yang sudah dari lamunan karena ditarik Dini.


"Loe lelet sih! Kebanyakan melamun!" ketus Dini yang masih menarik Kania dengan pelan.


Mereka pun menuju ruangan tempat mereka diberi tugas tambahan.


"Halo, Michael! Ke.... " ucap Bima terpotong karena ponselnya diambil Akhtar dan dimatikan.


"Gak perlu telpon dia!" jawab Akhtar menatap Bima. Lalu menyerahkan kembali ponselnya Bima ke tangan Bima.


"Tapi, alergi tuan?" sanggah Bima cemas.


Akhtar hanya mengabaikan Bima yang terlihat heran sekaligus cemas.


*


*


HAI HAI HAI


APA YANG TERJADI DENGAN AKHTAR YA? ADA YANG BISA MENEBAKNYA?


MAKIN SERU KAN CERITA "TAWANAN MR. PERFECT"!


NANTIKAN TERUS KISAHNYA YA GUYS!


JANGAN LUPA BERI LIKE DAN KOMENNYA DONG!


MOHON DUKUNGANNYA YA!

__ADS_1


AUTHOR UCAPKAN TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA


__ADS_2