
"Bisa lebih cepat?" seru Akhtar yang sudah tak tahan dengan panas dan gatal di tubuhnya.
"Tahan sebentar, tuan!" sahut Bima menoleh ke belakang.
"Brengsek! Wanita sialan! Beraninya menabrakku! Apa dia itu tidak punya mata? Badan sebesar ini masih saja ditabrak! Ini juga alergi sialan! Masih aja kambuh!" umpat Akhtar memaki wanita yang menabraknya.
'Salah tuan sendiri! Kenapa pergi ke tempat ramai seperti itu? Sudah tau tidak bisa dekat dengan wanita. Tapi malah masuk kandangnya! Tuan-tuan! Nona Kania hanya berlibur dengan ibunya saja, anda buntuti! Entah apa yang tuan Akhtar pikirkan sampai nekad mengikuti nona Kania?' batin Bima melirik Akhtar dari kaca spion mobil.
Sedangkan sang sopir yang tadi mengantar Akhtar, membawa mobil yang tadi dikendarainya. Akhtar terus mengumpat wanita itu dan alerginya. Ia bahkan melupakan perkataan bu Meli yang sempat menggangu pikirannya.
"Ibu capek?" tanya Kania menatap ibunya.
"Capek juga ternyata, nak!" jawab bu Meli yang terlihat kelelahan.
"Kalau begitu, kita pulang ya!" ajak Kania.
"Iya, nak!" jawab bu Meli mengangguk.
Keduanya baru selesai menjelajahi wahana lainnya hingga kelelahan. Kania mengantar ibunya ke rumah, karena sang ibu menolak untuk menginap di tempat tinggalnya.
"Kania di sini dulu ya, bu! Pulang nanti sore aja!" ucap Kania merebahkan diri di karpet depan TV.
"Nanti kalau tuan Akhtar nyari kamu gimana, nak?" tanya bu Meli yang duduk bersandar di sofa.
"Gak mungkin nyariin, bu! Kania kan cuma istri kontrak!" jawab Kania sambil memejamkan matanya.
"Ya siapa tau aja, seperti waktu itu kan?" balas bu Meli santai. Namun tak ada balasan lagi dari Kania.
Bu Meli menatap Kania yang ternyata sudah tidur. Bu Meli tersenyum kecil dan membiarkan putrinya tidur dulu.
"Mana obatnya, Bim?" seru Akhtar yang sudah tidak tahan dengan reaksi alerginya.
"Sebentar tuan!" jawab Bima dengan berteriak dari dalam kamar Akhtar.
"Alergi sialan! Kenapa panas dan gatel banget gini sih?" umpat Akhtar yang ingin sekali menggaruk kulitnya yang gatal.
"Tuan! Itu, obatnya habis!" ucap Bima gugup di depan Akhtar.
"Apa? Habis? Kok bisa?" sentak Akhtar yang kesal.
"Hubungi Michael!" perintah Akhtar.
"Sudah, tuan! Mungkin masih di jalan!" jawab Bima tertunduk takut.
"Aaarrggghhhh! Brengsek, brengsek!" pekik Akhtar sambil menarik rambutnya kasar.
Akhtar ke kamarnya dan melepas seluruh pakaiannya. Lalu masuk kamar mandi dan mengguyur badannya dengan air dingin. Sedikit berkurang rasa panas dan gatal di tubuhnya.
Tok tok tok
"Tuan! Ini Michael sudah datang! Tuan!" panggil Bima sambil mengetuk pintu kamar mandi.
ceklek
__ADS_1
Akhtar membuka pintu dan menatap Bima dengan tajam. Lalu beralih menatap Michael dengan tajam juga.
"Berikan suntikan dosis tinggi!" seru Akhtar sambil berjalan keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya ke bawah. Seluruh badan Akhtar tampak merah dan muncul ruam.
"Apa? Ya gak bisa dong! Itu terlalu bahaya buat tubuh loe!" sergah Michael yang sudah memegang suntikan dengan obatnya.
"Gue gak mau tau! Gue mau cepet sembuh! Udah gak tahan banget sama gatelnya!" Akhtar tetap mengotot.
"Iya, iya! Tapi kalau ada apa-apa, gue gak tanggung jawab sama loe!" jawab Michael menyanggupi.
Michael duduk di samping Akhtar yang juga duduk di sofa. Kemudian menyuntikkan jarum ke tubuh Akhtar melalui lengan kirinya. Akhtar masih menahan rasa panas dan gatal di tubuhnya.
"Ini obatnya! Minum dulu!" Michael memberikan beberapa pil ke tangan Akhtar setelah selesai menyuntiknya.
Akhtar pun menerima obat itu dan meminumnya sekaligus. Lalu minum air putih yang diberikan oleh Bima.
"Gimana ceritanya sih, sampai loe ditabrak lagi sama cewek? Lagian loe itu aneh banget deh! Udah tau tempat ramai, masih aja loe datengin! Sejak kapan loe kepo sama cewek?" cecar Michael sambil membereskan peralatan medisnya.
"Bukan urusan loe! Urusan loe itu cuma ngobatin gue! Gak perlu tau yang lainnya!" jawab Akhtar dengan datar sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
"Pakai dulu bajunya, tuan!" sela Bima sembari memberikan pakaian untuk Akhtar.
"Nanti aja! Taruh di situ dulu!" perintah Akhtar dengan sinis.
Akhtar masih kesal dengan asistennya. Bima pun hanya pasrah dengan perintah tuannya.
"Maklumi, Bim! Lagi PMS!" ledek Michael yang menyindir Akhtar.
"Sialan, loe!" ketus Akhtar sambil melempar bantal kursi ke arah Michael. Tapi langsung ditangkap oleh Michael.
"Memang siapa yang pengen deketin cewek lain lagi? Gue itu cowok paling setia! Gak kayak loe!" balas Akhtar dengan ketus.
"Ya gue tau, loe emang cowok paling setia! Secara loe dulu malah yang diselingkuhin sama mak lampir! Sampai loe jadi punya alergi kayak gini sama cewek!" sindir Michael dengan ketus juga.
Akhtar menatap Michael dengan tajam. Dengan kesal, Akhtar beranjak dan mengambil baju yang diletakkan Bima di sofa. Akhtar berjalan menuju ruang ganti.
"Kenapa dia? Marah sama gue? Apa tersinggung?" tanya Michael pada Bima.
Bima hanya mengedikkan bahunya. Saat akan berucap lagi, tiba-tiba Michael mendapat panggilan telepon dan menjawabnya.
"Gue ke rumah sakit dulu! Ada korban kecelakaan beruntun. Nanti bilang ke Akhtar, obatnya dihabiskan!" ucap Michael pada Bima.
Bima hanya mengangguk dan menatap Michael yang berjalan terburu-buru.
Akhtar keluar dari ruang ganti dengan baju santainya. Panas dan gatal di tubuhnya perlahan mereda.
"Michael kembali ke rumah sakit, tuan! Ada korban kecelakaan beruntun katanya!" ucap Bima setelah Akhtar berbaring di kasurnya.
"Hm! Aku ingin istirahat! Kamu bisa pulang!" balas Akhtar sambil memejamkan matanya.
"Oh ya, tuan! Tadi Michael bilang, obatnya harus dihabiskan!" lanjut Bima lagi.
"Hm!" balas Akhtar yang sudah sangat lelah.
__ADS_1
Bima pun pamit dan pergi dari apartemen Akhtar. Ia berencana melanjutkan istirahatnya lagi.
Sore harinya, Kania pulang dengan taksi online. Sebenarnya Kania sangat malas harus pulang ke apartemen. Ia masih rindu dengan ibunya. Namun perkataan ibunya membuat Kania mengurungkan niatnya.
"Males banget pulang ke sini! Kapan cepet berakhir kontraknya? Udah pengen pergi yang jauh sama ibu! Huh! Nunggu aku hamil dulu sama melahirkan, baru bisa selesai! Lama juga ya? Semoga setelah ini aku cepet hamil. Biar gak makin lama sama tuan Akhtar! Bisa gawat kalau terus-terusan sama dia! Siapa yang gak tergoda coba sama cowok setampan dia? Aku aja tergoda sampai terjadi kayak gini! Hh!" gumam Kania di dalam lift.
Kania pun sudah tiba di lantai apartemen tempat tinggalnya. Kania berjalan ke apartemennya dengan gontai. Saat akan menekan bel, pintu terbuka dan menampakkan bik Yati yang terlihat tegang. Kania menatap heran dan bingung.
"Bik Yati kenapa? Mau BAB ya?" tanya Kania dengan polosnya.
"Astaga, nona! Bukan! Itu... di dalem ada... " jawab bik Yati yang belum selesai karena dipotong Kania.
"Ada hantu? Mana hantunya bik?" potong Kania cepat sambil berjalan masuk dan mencari hantu.
Di sofa single, Akhtar duduk dengan pongah dan tatapan tajam ke arah Kania.
"Eh, tuan Akhtar!" sapa Kania tersenyum kaku.
'Kenapa mukanya merah gitu? Apa alerginya kambuh lagi? Tapi bukannya kalau bersentuhan sama aku, dia gak alergi ya? Terus dia sentuhan sama siapa? Apa sama bik Yati? Masa iya? Ah, bodo amatlah! Liat mukanya aja, udah kayak singa yang kelaperan!' batin Kania sambil melirik Akhtar yang masih menatapnya tajam.
"Apa aku terlalu tampan? Ilermu sampai menetes!" ledek Akhtar dengan nada datarnya.
Kania mengelap tepi bibirnya yang tentu saja tidak basah. Karena Akhtar memang hanya meledeknya.
'Dasar tuan kulkas! Untung saja tampan!' batin Kania menatap sinis ke arah Akhtar.
"Kenapa? Mau marah? Justru aku yang marah!" seru Akhtar berdiri dan menghampiri Kania.
Kania mengernyitkan dahinya dan menatap heran.
"Kau tau kenapa aku marah?" tanya Akhtar yang sudah berdiri dekat Kania.
Kania hanya menggelengkan kepalanya cepat sambil mengedipkan matanya beberapa kali. Wajahnya terlihat sangat menggemaskan di mata Akhtar.
"****!" umpat Akhtar pelan.
"Apa tuan?" tanya Kania yang mendengar samar-samar.
"Bukan apa-apa! Dan kenapa kamu pergi tidak izin padaku? Aku membebaskanmu pergi, bukan berarti bisa seenaknya pergi tanpa izin padaku! Selama pernikahan kontrak kita masih berjalan, selama itu pula kamu harus mengikuti aturanku!" jelas Akhtar dengan tegas dan menatap Kania.
Kania juga menatap Akhtar tapi dengan pandangan yang berkaca-kaca. Kania memutus pandangannya terlebih dulu karena merasa air matanya akan jatuh. Kania jadi teringat dengan posisinya lagi sebagai istri kontrak.
"Maaf, tuan!" jawab Kania dengan lirih sambil menunduk. Air matanya terjatuh di pipinya.
Akhtar tertegun melihat Kania yang menangis.
'Apa aku terlalu kasar dengannya? Mungkin aku sudah keterlaluan dengannya! Aku sudah membeli dirinya, membeli rahimnya, bahkan aku juga sudah merenggut kesuciannya. Dan sekarang aku justru mengekangnya. Ada apa dengan diriku? Apa karena aku mulai menyukainya? Itu sebabnya aku mengkhawatirkannya. Bahkan tadi pagi, aku sangat konyol membuntutinya! Aku rasa, ada sesuatu terjadi padaku!' batin Akhtar sambil mendesah kasar.
"Sudahlah! Lain kali, kalau ingin pergi, izin padaku! Kamu akan mengandung anakku! Jadi aku tidak mau terjadi sesuatu sebelum kamu melahirkan putra untukku!" ucap Akhtar lagi tanpa menoleh ke Kania.
Mendengar perkataan Akhtar, membuat dada Kania merasakan perih. Kania merasa sedih dengan nasib dirinya sendiri. Kania terlalu percaya diri kalau Akhtar mulai menyukainya. Kania pikir, setelah hubungan mereka yang semakin dekat, akan menimbulkan benih-benih cinta di antara keduanya. Nyatanya itu semua hanya demi keturunan lagi.
Kania semakin terisak dan menahan tangisannya. Setelah mengucapkan itu, Akhtar pergi berlalu meninggalkan Kania kembali ke apartemennya sendiri. Kania berlari menuju kamarnya. Kania menangis sekencang-kencangnya di atas kasur.
__ADS_1
"