Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 23 Pernikahan


__ADS_3

Setelah drama tadi pagi yang Kania perbuat karena ulahnya yang tertidur di kamar mandi. Kini Kania sudah dirias dan terlihat sangat cantik. Riasan flawless di wajahnya begitu membuat Kania makin cantik berkali-kali lipat. Ditambah kebaya yang ia kenakan sangat pas di badannya. Kebaya warna baby pink sangat cocok dengan riasan di wajahnya.


Dini dan bu Meli pun sampai terpana dibuatnya. MUA yang mendandani Kania pun tak henti-hentinya memuji kecantikan Kania. Sedangkan Kania hanya tersenyum sambil menatap dirinya di depan cermin lemari yang ada di ruang TV. Kania tak menyangka ia akan secantik ini.


'Ini beneran aku? Cantik juga!' batin Kania kagum pada dirinya sendiri.


Tak lama terdengar suara mobil berhenti. Satu pria mengenakan pakaian serba hitam turun dari mobil dan memberitahukan bahwa ia menjemput Kania dan keluarganya atas perintah Akhtar. Kania dan yang lainnya pun ikut pria tersebut. Sedangkan tukang rias tadi yang disewa pun ikut pergi dengan mobil lain. Karena tugasnya sudah selesai.


Di dalam mobil, Kania duduk dengan cemas. Begitu pun dengan bu Meli yang duduk di samping putrinya. Sementara Dini duduk di depan di samping pria tersebut. Jalanan yang ditempuh hanya memakan waktu 15 menit dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Sampaikan mereka di depan gedung mewah bertingkat entah berapa.


Mereka pun turun dan dibawa ke lantai 25. Gedung yang mereka datangi adalah gedung apartemen. Pastinya salah satu milik Wijaya Group dan tempat tinggal Akhtar. Namun di lantai berbeda. Lantai 25 ini ada ruangan yang dikhususkan untuk pertemuan Akhtar dengan rekan bisnisnya yang ingin bertemu di sini.


Kania berjalan dengan gugup dan cemas. Dini dan bu Meli mengapitnya kiri dan kanan. Sambil memegang lengan Kania agar tidak cemas. Ya walaupun mereka juga sebenarnya gugup. Tiba di lantai 25 dan keluar lift, mereka disambut dua orang pria yang mengenakan baju yang sama dengan orang yang menjemput mereka tadi.


Dua pria tersebut menggantikan tugas satu pria tadi dan menuntun Kania, ibu Meli, dan Dini ke ruangan yang dituju. Sampai di ruangan itu, mereka memandang takjub dengan ruangan itu. Ruangan yang sudah dihias dengan indah. Bunga-bunga segar tertata indah di tempatnya. Dekorasi yang simpel namun terlihat elegan. Dengan nuansa putih dan baby pink, sesuai dengan kebaya Kania. Tentunya Bima yang membuatnya. Siapa lagi, kan? Masa Akhtar! Jawabannya gak mungkin banget. Tapi yang dipuji pasti Akhtar. Kasian Bima yang capek, yang dipuji malah tuannya.


Di ruangan itu juga sudah ada tiga orang paruh baya dengan pakaian berbeda. Masing-masing sudah duduk di tempatnya. Namun keberadaan Akhtar dan Bima belum terlihat di ruangan itu. Kania dibimbing menuju kursinya di meja akad. Sedangkan bu Meli dan Dini duduk di kursi tamu yang hanya terdapat empat kursi berjajar.


Kania duduk dengan gelisah di kursinya. Kepalanya terus menunduk sejak ia dibimbing menuju tempatnya duduk. Di seberang mejanya sudah ada satu orang dengan peci hitamnya. Dan dua kursi samping meja kanan dan kiri, juga sudah duduk dua pria paruh baya yang rapi dengan setelan jasnya.

__ADS_1


'Rasanya pengen lari dari sini! Hh! Nasib, nasib!' batin Kania.


'Tuan Akhtar bener-bener hebat!' batin Dini menatap kagum dengan dekorasinya.


'Semoga kamu bahagia, Nak! Ibu tau, kamu terpaksa! Tapi semoga tuan Akhtar memperlakukan kamu dengan baik! Itu harapan ibu!' batin bu Meli menatap sendu putrinya yang tak jauh darinya duduk.


Tak lama pintu pun terbuka. Menampakkan sosok Akhtar yang berjalan dengan tegap dan gagah. Setelan tuksedonya berwarna hitam, sangat pas di badannya yang tinggi. Akhtar yang biasa tampan, hari ini terlihat semakin tampan. Mungkin kebawa aura calon pengantin kali ya!


Semua yang ada di ruangan itu bangun dan membungkuk hormat pada Akhtar yang berjalan menuju meja akad. Namun tidak bagi Kania yang masih menunduk. Kania enggan untuk melihat Akhtar lagi. Akhtar pun hanya menatap sekilas pada Kania lalu duduk di kursinya.


"Kita mulai sekarang!" perintah Akhtar dengan datar.


"Baik, tuan!" jawab hakim sekaligus penghulu itu dengan patuh.


Hakim sekaligus penghulu itu pun langsung memulai ijab kabulnya dengan Akhtar yang sudah siap. Hakim mengucapkan kalimatnya dengan tegas dan dijawab tegas pula oleh Akhtar yang menjabat tangan hakim tersebut. Kedua saksi pun berkata sah. Diikuti tiga orang lainnya di dekat mereka, Bu Meli, Dini, dan Bima.


Bu Meli dan Dini sempat terkejut mendengar mahar yang diberikan Akhtar pada Kania. Jumlahnya sangat fantastis bagi mereka. Namun tidak bagi Kania. Ia sudah tidak peduli lagi dengan mahar itu. Baginya hidupnya tak lebih seperti mesin pencetak anak.


Namun tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar seruan dari seseorang yang berjalan membawa tongkatnya.

__ADS_1


"Tidak sah!" seru kakek Wijaya dengan lantang diikuti istrinya dan dua orang lainnya di belakang, orang tua Akhtar.


Semua orang berpaling dan menatap kakek Wijaya yang berjalan tegap menuju meja akad. Kecuali Akhtar yang tidak berpaling sama sekali. Kania, bu Meli, dan Dini kaget dan menatap penasaran. Namun saat mendengar kata keluarga, langsung paham.


"Kau mau menikah tanpa meminta restu keluargamu? Hah?" protes kakek Wijaya dengan tegas.


"Ulangi ijab kabulnya! Karena yang tadi tidak sah! Dan kalian, bisa-bisanya mengucapkan sah dengan tenang! Kalian sudah bosan hidup?" seru kakek Wijaya pada penghulu dan dua saksi itu. Mereka ketakutan karena tau siapa yang berbicara dengan mereka. Kania menunduk kembali.


Keluarga Akhtar duduk di sofa yang memang masih berada di ruangan itu. Seolah Bima tau akan kedatangan keluarga tuannya. Jadi ia tidak menyuruh orang untuk memindahkan sofa yang ada di ruangan itu.


Ijab kabul pun diulangi lagi. Sama seperti ijab kabul yang sebelumnya, kali ini pun diucapkan dengan lancar dan tegas oleh Akhtar. Semua orang pun mengatakan sah. Kakek Wijaya pun mengatakan dengan lantang kata sah itu. Ini adalah kebahagiaan baginya di usia yang sudah hampir 70 tahun ini.


Kakek Wijaya pun memberikan selamat pada keduanya setelah penandatanganan berkas-berkas nikah dan yang lainnya memberikan selamat lebih dulu. Kania langsung dihampiri ibunya dan Dini. Mereka saling berpelukan bergantian dan menangis haru. Namun justru Kania menangis sedih.


Kakek Wijaya dan lainnya pun menghampiri Kania dan keluarganya yang sedang berpelukan setelah menemui Akhtar.


*


*

__ADS_1


Besok lagi ya readers


semoga makin semangat bacanya!


__ADS_2