
Sepanjang jalan menuju ruang pantry nya, Kania tertunduk lesu. Beberapa karyawan yang melihatnya terlihat berbisik-bisik membicarakannya. Kania menghela napas panjang lagi saat sudah sampai depan pintu pantry yang terbuka.
Di ruang itu tidak ada siapa pun. Seli sedang membantu petugas kebersihan yang lain di lantai satu. Sedangkan dini sedang mengantar minuman untuk para karyawan di divisi pemasaran.
Masuk ke dalam pantry, Kania langsung menuju tempat minum air putih (galon). Mengambil gelas di rak sampingnya dan meletakkannya di dispenser, lalu menekan tombol biru. Sambil menunggu penuh, Kania melamun. Sampai ia tidak tau, air di galon terus mengalir hingga meluber dan membasahi lantai sampai sepatunya ikut basah, tapi tidak disadari Kania.
Dini yang sudah masuk pantry, langsung berlari ke arah Kania berdiri. Lalu menekan tombol biru lagi untuk menghentikan air keluar lagi.
"Loe udah gila ya, Nia?" sentak Dini mengagetkan Kania yang melamun.
"Dini! Lho kok basah?" balas Kania terkejut merasakan sepatunya basah. Lalu melihat ke lantai yang juga basah.
"Ya iyalah basah! Noh, lihat minum loe sampai luber gitu?" balas Dini dengan ketus sambil menunjuk gelas yang ada di dispenser.
Kania menyengir memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang berbaris rapi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lagian loe ngelamunin apa sih, Nia?" lanjut Dini dengan heran sambil mengambil alat pel untuk mengelap air di lantai.
"Udah sini biar aku aja! Kan tugas aku!" sahut Kania yang ingin merebut alat pel di tangan Dini.
"Udah, gue aja! Mending loe ganti tuh sepatu! Bawa sepatu lain gak loe?" balas Dini tetap mempertahankan alat pel di tangannya, lalu mengelap lantai lagi.
"Aku gak bawa, Din! Mana aku tau kalau sepatuku mau basah." jawab Kania dengan lesu sambil melihat sepatunya lagi yang masih dipakai kakinya.
"Ya udah, pakai sendal aja dulu. Sana cepet ganti!" balas Dini yang sudah selesai mengepel lantai yang basah dan masih memegang alat pel di tangannya.
Kania mengangguk lalu menuju loker samping pantry untuk mengambil sendalnya. Lalu mengganti sepatunya dengan sandal yang sudah ia pegang.
Kania lalu kembali ke meja pantry dan duduk di dekat Dini yang sudah duduk juga. Dini menyodorkan segelas air putih ke Kania. Diterimanya gelas itu lalu langsung meneguknya hingga habis.
"Haus banget loe!" ledek Dini yang memperhatikan Kania.
"Iya, banget!" jawab Kania dengan lega karena rasa hausnya sudah terpenuhi.
"Gimana tadi? Apa hasilnya?" tanya Dini tenang masih menatap Kania yang kini tampak menghela napas.
"Buruk, Din!" jawab Kania lesu sambil menunduk.
"Loe dipecat, Nia?" tanya Dini penasaran melihat ke arah Kania.
"Bukan! Lebih buruk dari itu, Din!" jawab Kania pelan sambil menoleh ke Dini yang masih penasaran.
"Terus apa dong?" tanya Dini lagi bertambah penasaran.
Kania kemudian menceritakan kepada Dini tentang pertemuannya dengan tuan Akhtar di ruang CEO. Dengan kesal, Kania kembali bercerita ketika mengingat pembicaraannya tadi dengan tuan Akhtar. Dini yang mendengarkan, memasang ekspresi terkejutnya dengan mata yang melotot dan mulut yang terbuka.
"Sumpah loe, Nia! Demi apa? Gila! Gue gak habis pikir!" sahut Dini setelah Kania selesai bercerita sambil berdiri dan berkacak pinggang sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kesel kan kamu yang denger dari aku? Apalagi aku yang langsung ditodong tawaran kayak gitu! Ya jelas aku keselah dan aku tolak langsung!" balas Kania dengan kesal sambil bersidekap dan cemberut di kursinya.
"Astaga, Nia! Kenapa loe tolak? Harusnya loe terima aja, Nia! Loe bakal ngandung calon anaknya tuan Akhtar! Mr. Perfect yang super kaya raya dan tampan banget. Semua cewek aja pengen sama dia. Kenapa loe malah nolak? Kalau gue yang dipilih, udah langsung gue terima. Apalagi tadi loe bilang hadiahnya gede kan? Kan bisa buat lunasin hutang ibu loe dan nyenengin ibu loe. Iya, kan?" balas Dini dengan enteng sambil mondar-mandir tanpa sesekali menoleh ke Kania.
Dini tidak memperhatikan wajah Kania yang bertambah kesal karena ocehannya. Matanya memicing menatap tajam pada Dini yang masih terus berbicara. Ibaratnya banteng yang siap nyeruduk mangsanya.
Tak ada jawaban, saat Dini berhenti bicara, lalu Dini menoleh ke arah Kania. Dini yang tau ekspresi Kania, seketika menelan ludahnya dengan susah payah.
"Nia, loe jelek tau gak kalau marah kayak gitu? Gue, gue cuma becanda aja." rayu Dini mendekati Kania yang masih memicing tajam dan merengut.
"Loe bener, kalau nolak dia, kok! Dasar tuh ya tuan Akhtar! Mentang-mentang kaya. Seenaknya aja sama temen gue! Biar gue kasih pelajaran tuh, si tuan anti cewek." sungut Dini lagi karena Kania masih tetap diam dan marah sambil melirik Kania yang sudah mulai tenang.
Namun tiba-tiba saja, Kania menangis.
"Huwaaaa... Dini!" seru Kania yang menangis seperti anak kecil tidak dikasih permen.
Dini yang melihat Kania menangis mencoba menenangkan Kania dengan memeluknya dan mengelus bahunya dengan pelan. Tak lama Kania pun berhenti menangisnya sambil mengelap ingusnya di baju Dini.
"Iiihh, Nia! Sedih, sih sedih! Tapi gak gini juga! Loe jorok banget sih! Kan ada tisu tuh, buat ngelap ingus loe! Iiiihhh!" gerutu Dini sambil melirik baju yang terkena ingus Kania.
"Hahahahaha! Biarin! Itu balesan buat kamu! Yang dukung tuh Mr. Pemaksa!" sungut Kania sambil tertawa lepas karena mengerjai Dini. Lalu ia mengambil tisu di meja untuk mengelap air mata dan ingusnya yang masih tersisa.
"Tapi aku sedih deh, Din! Kalau aku nolak, gimana nasib kamu? Masa iya, kamu harus dipenjara karena aku nolak tawarannya." lanjut Kania tertunduk lesu sambil menatap Dini yang masih sibuk mengelap bajunya dengan tisu.
"Jadi ini alasannya gue gak dipecat sama pak Bima kemarin? Gue dijadiin alat buat ngancem loe! Sorry ya, Nia! Gara-gara gue loe tambah kena masalah." balas Dini dengan ekspresi bersalahnya dan menggenggam tangan Kania yang ada di atas paha Kania.
"Bukan salah kamu juga kok, Din! Mungkin emang ini udah takdir aku. Kita juga gak bisa melawan mereka, kan? Mereka punya kekuasaan dan uang. Sedang kita? Kita cuma orang rendahan yang gak ada nilainya di mata mereka. Jadi ya, mau gak mau, aku harus nerima tawarannya." jelas Kania dengan pelan dan menatap Dini.
Dini hanya diam mendengarkan ucapan Kania. Dini juga bingung harus berbuat apa. Dia juga sama seperti Kania. Meski lebih baik hidupnya dibanding Kania. Namun tetap saja, kalau Dini dipenjara karena kesalahannya kemarin. Bagaimana keluarganya? Dini menghela napas kasar membayangkan semua itu.
"Kenapa nasib aku gini ya, Din? Gimana aku ngomong sama ibu? Ibu pasti gak akan nerima! Aku harus gimana, Din?" lanjut Kania lagi yang bertambah sedih jika mengingat ibunya.
Dini langsung memeluk sang sahabat. Mereka menangis bersama dalam pelukan. Saling memberikan dukungan satu sama lain.
Kania sangat dilema. Satu sisi harga diri dan ibunya, satu sisi lagi sahabatnya sedari kecil yang setia dan sangat baik padanya dan ibunya.
"Usahakan besok Kania udah tanda tangan berkas itu, Bim! Karena minggu depan, kakek memintaku ke rumah besar dan membawa wanita yang akan mengandung anakku." ucap Akhtar setelah kepergian Kania yang tanpa pamit.
"Baik, tuan!" jawab Bima dengan hormat.
"Ya sudah, kembali ke ruanganmu!" perintah Akhtar yang mulai membuka laptopnya lagi.
Bima pun permisi dan meninggalkan ruangan tuan Akhtar menuju ruangannya sendiri.
Tak lama, terdengar suara telpon berdering di ponsel Akhtar di atas meja dekat laptopnya.
Mommy is calling
__ADS_1
"Iya, Mam!" sahut Akhtar sambil memegang ponselnya di telinga kirinya.
"Mami dengar dari Michael, alergi kamu kambuh lagi kemarin, sayang? Kenapa kamu gak kasih tau mami, son? Kamu udah gak sayang ya, sama mami? Bima juga! Kenapa dia gak kasih tau mami? Awas saja itu Bima!" cecar nyonya Sonya dengan kesal di seberang sana.
Akhtar sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Mulai lagi, drama mami Dasar Michael, udah dikasih tau jangan bilang ke mami!' batin Akhtar sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal mendengar omelan ibunya di telepon.
"Mom! Jangan salahkan, Bima! Akhtar yang melarang Bima menghubungi mami. Akhtar gak mau buat mami khawatir lagi. Akhtar juga udah diobatin Michael di apartemen. Jadi mami gak usah cemas lagi, ya! Akhtar udah baik-baik aja!" jawab Akhtar dengan lembut.
"Kamu istirahat dulu ya, Nak! Jangan kerja dulu! Biar Bima atau Doni yang urus perusahaan dulu! Kamu harus sembuh dulu! Coba aja, kamu tinggal di rumah sama kami. Pasti kamu akan terurus, sayang! Jadi alergi kamu gak akan kambuh lagi! Mami juga kesepian gak ada kamu!" sahut nyonya Sonya sedih di balik telepon.
'Ini nih! Ujung-ujungnya! Hasil drama mami!' batin Akhtar sambil memijit pangkal hidungnya yang mancung bagai perosotan anak TK.
"Akhtar istirahat kok, mam! Lagian ada Bima yang urus keperluan Akhtar, mam! Bima juga selalu masakin makanan sehat untuk Akhtar! Udah ya, mam! Mami jangan khawatir lagi! Ok!" balas Akhtar dengan lembut memberi pengertian ibunya tanpa memberi tahu ibunya kalau dia di kantor.
"Baiklah, sayang! Anak mami yang paling tampan! Mami hanya bisa pasrah dengan kemauan kamu!" sahut nyonya Sonya dengan lesu.
"Akhtar sayang mami, papi. Udah dulu ya, mam! Akhtar mau istirahat dulu!" balas Akhtar lembut.
"Ya sudah! Mami juga mau temenin papi ke rumah kakek!" sahut nyonya Sonya lembut, lalu mematikan ponselnya.
Hhhh
Akhtar menghela napas kasar. Permintaan kakeknya tentang keturunan, membuat Akhtar susah tidur dan pusing. Belum lagi alerginya yang belum juga sembuh. Pikirannya menerawang jauh mengingat awal mula alerginya muncul.
'Kamu yang buat aku seperti ini! Aku membencimu. Sangat membencimu! Semua wanita sama saja! Munafik dan tidak ada yang tulus!' batin Akhtar kesal mengingat wanita yang menyakitinya dulu.
Sejak disakiti oleh seorang wanita di masa lalunya, Akhtar mulai membenci kaum wanita. Ditambah lagi saat pertama kali Akhtar mengalami alergi terhadap sentuhan wanita, bertambah pula kebenciannya pada wanita. Kecuali ibu dan neneknya. Aneh, tapi itulah yang terjadi.
*
*
HAI HAI HAI
UP BAB BARU LAGI NIH!
MAKIN SERU KAN CERITANYA?
IKUTIN TERUS KISAH KANIA DAN AKHTAR YA READERS!
JANGAN LUPA SELALU DUKUNG KARYA AUTHOR!
LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN SEBAGAI FAVORIT NOVEL KALIAN YA!
TERIMA KASIH
__ADS_1
DAN SELAMAT MEMBACA