
Sinar mentari pagi begitu cerah menyinari bumi. Menembus celah-celah gorden kamar yang begitu luas. Alarm di nakas membangunkan insan yang bangun dari mimpi indahnya. Mengerjapkan matanya beberapa kali dan melihat sekeliling. Alisnya menyatu dan matanya menyipit melihat setiap sudut ruangan. Berbeda, itu di pikiran Kania pertama kali.
Kemudian ia menoleh ke samping karena merasa tangannya menyentuh kulit tubuh yang hangat.
'Kulit tubuh yang hangat? Tubuh siapa?' batin Kania.
Kania pun menatap tangannya yang berada di atas perut sixpack seorang pria. Kania tengah memeluk erat tubuh seorang pria. Kania pun terkejut. Lalu ia mendongak ke atas melihat wajah Akhtar yang masih terpejam. Kania semakin terkejut dan segera menarik tangannya perlahan dari perut Akhtar. Ia beringsut perlahan dan menjauh dari tubuh Akhtar.
Kania tersadar bahwa tubuhnya tanpa sehelai benang pun, hanya tertutup selimut tebal di tubuhnya. Kania mencoba mngingat kembali peristiwa yang terjadi padanya dan Akhtar semalam. Ingatan pun muncul di kepala Kania dan memutar bagai sebuah kaset. Dari mulai ia datang ke tempat Akhtar dan merasakan aneh di tubuhnya. Sampai kejadian ia yang begitu agresif sebagai seorang wanita.
Kania memukul kepalanya pelan. Ia begitu merutuki kebodohannya. Meski ia belum pernah berc*nta, tapi Kania tahu yang terjadi antara dirinya dengan Akhtar. Kania menoleh lagi ke arah Akhtar yang masih terpejam. Akhtar yang sudah bangun sedari tadi, hanya mengintip tanpa melakukan pergerakan yang besar.
Kania berusaha bangun dari tempatnya dengan perlahan. Namun ketika akan berdiri, ia merasakan sakit di daerah intinya.
"Aw!" Kania meringis menahan sakit dan perih di inti tubuhnya.
Akhtar yang mendengar rintihan Kania ingin bangun. Namun ia urungkan karena melihat pergerakan Kania yang berjalan tanpa sehelai benang di bajunya. Akhtar yang melihatnya, seketika on lagi. Namun tertutupi dengan selimut. Kania tidak menoleh ke belakang. Dengan susah payah, Kania memunguti baju dan pakaian dalamnya. Ia langsung mengenakan dengan cepat. Meski menahan rasa sakit. Tapi Kania harus tetap memakainya.
Kania ingin segera pergi dari ruangan itu. Setelah selesai memakai bajunya, Kania langsung menuju pintu keluar. Akhtar yang sudah melihat Kania pergi, langsung bangun menuju kamar mandi. Ia harus menidurkan lagi juniornya yang bangun karena ulah Kania.
"Huh! Untung aja udah keluar dari tempat itu! Gawat! Setelah ini bagaimana? Kalau tuan Akhtar tahu apa yang terjadi semalam bagaimana?" gumam Kania lega di depan pintu penthouse Akhtar.
Kania masuk ke penthousenya sendiri. Ia melihat bik Yati yang sedang memasak di dapur.
"Loh, non! Non Kania dari mana?" tanya bik Yati seolah terkejut dengan kedatangan Kania.
"Ih, bik Yati ngagetin aja! Itu... dari... dari luar nyari minuman! Udah ya, bik! Aku mau mandi, gerah!" jawab Kania gugup sambil menahan nyeri dan berlalu menuju lantai atas dengan perlahan.
"Iya, non! Hati-hati jalannya, non!" balas bik Yati menahan senyum melihat jalan Kania seperti bebek.
__ADS_1
Kania hanya mengangguk tanpa berhenti. Ia sudah sangat ingin berendam air hangat.
"Berarti berhasil semalam. Aku harus kasih tau tuan Bima, kalau misinya sukses!" gumam bik Yati tersenyum lalu menelepon Bima.
"Halo, bik!" sapa Bima di balik telepon.
"Halo, tuan Bima! Misinya sukses, tuan! Terjadi sesuatu semalam sama mereka! Non Kania baru pulang dari apartemen tuan Akhtar!" jawab bik Yati pelan di dapur.
"Bagus! Bibi siapkan saja menu yang sehat untuk nona! Dan bersikaplah sewajarnya! Jangan pernah dibahas masalah ini dengan siapa pun!" ucap Bima tegas di balik telepon.
"Iya, tuan! Beres itu! Saya seneng kalau tuan Akhtar dan nona bisa punya bayi!" balas bik Yati antusias.
"Ya sudah, saya tutup dulu teleponnya bik!" balas Bima langsung memutus panggilan. Karena ia harus segera memberitahu kedua sahabatnya yang menginap di apartemennya semalam.
Bima tahu, setelah ini pasti mereka bertiga akan dipanggil Akhtar dan mendapat hukuman. Karena tuannya bukanlah orang yang bisa dibodohi. Bima sudah siap dengan hukuman yang akan diberikan tuannya.
Sudah satu jam Bima menunggu telepon dari tuannya. Dan benar saja, Akhtar meneleponnya.
Bima menghela napas kasar. Ia segera menarik Michael dan Jonas yang masih mengantuk. Mereka bertiga memang tidak mabuk. Tapi mereka bertiga begadang sampai malam.
"Bim! Mau kemana sih? Masih ngantuk ini!" seru Michael yang ditarik tangannya.
"Tuan Akhtar sudah menelepon! Kita sudah ditunggu!" jawab Bima tetap menarik Michael dan Jonas.
"Apa? Cepet banget! Kenapa dia gak bangun siang? Harusnya saat ini dia masih mengulang yang semalam sama istrinya! Ini malah udah manggil kita!" gerutu Michael kesal.
"Mungkin Akhtar udah K.O! Tenaganya udah dihabisin semalem!" Jonas menimpali lalu menguap lagi.
Bima hanya diam tanpa membalas candaan keduanya. Mereka pun tiba di tempat Akhtar. Masuk ke penthouse Akhtar tanpa menekan bel lagi. Akhtar sudah duduk di sofa single dengan menatap datar ketiga sahabatnya yang baru muncul. Mereka pun duduk di hadapan Akhtar di sofa yang panjang.
__ADS_1
"Siapa yang mau menjelaskan?" tanya Akhtar menatap ketiganya.
Jonas dan Michael saling sikut. Melihat itu, Bima segera mengambil tindakan.
"Aku yang akan menjelaskan, tuan!" ucap Bima pelan.
"Jelaskan semuanya!" seru Akhtar tegas.
Bima pun menjelaskan semua rencana ketiganya. Awalnya Jonas belum pulang ke Indonesia. Harusnya dua hari lagi, Jonas baru pulang. Tapi karena ia menelepon Michael sebelumnya dan mendapat kabar bahwa Akhtar sudah menikah. Membuat Jonas memajukan kepulangannya. Ia sudah tak sabar ingin mencerca sahabatnya itu.
Setelah pulang ke Indonesia, Jonas langsung ke tempat Michael. Dan diceritakan semuanya tentang pernikahan diam-diam Akhtar. Tak lupa Michael pun menjelaskan bahwa Akhtar dan istrinya melakukan pernikahan kontrak. Dan mereka berdua tidak melakukan sentuhan fisik untuk proses mendapatkan keturunan.
Jonas yang suka punya ide gila pun, merencanakan hal untuk Akhtar. Apalagi ia tahu, bahwa wanita yang menjadi istrinya Akhtar tidak berakibat terhadap alergi Akhtar. Jadi Jonas berencana membuat Akhtar tidur dengan istrinya. Dengan begitu Akhtar bisa mendapatkan keturunan dan merasakan malam pertama. Jadi menurut Jonas, sah-sah saja bagi Akhtar dan istrinya melakukan itu.
Michael pun setuju dengan ide Jonas. Lalu Michael menghubungi Bima tanpa sepengetahuan Akhtar. Michael meminta pendapat Bima. Awalnya Bima menolak dengan ide gila Jonas. Namun ia memikirkan lagi dampaknya untuk tuannya. Akhirnya Bima pun setuju. Lalu mereka merencanakan untuk memberikan obat perangs*ng pada minuman keduanya.
Dan pesta yang diadakan Jonas untuk menyambutnya, sebetulnya untuk merayakan malam pertama Akhtar. Dan yang mengatur Kania mendapat minuman dan obat itu juga terpikir oleh Bima. Jadilah rencana mereka semalam dijalankan.
"Begitu, tuan!" ucap Bima selesai menjelaskan.
Akhtar hanya diam dan menatap tajam ketiganya.
"Sekarang loe udah tau kan rasanya? Gimana? Ketagihan kan loe?" ceketuk Jonas dengan enteng.
"Iya, Akhtar nih! Seharusnya loe itu berterima kasih sama kita! Karena impian loe selama ini udah terpenuhi! Apalagi itu istri loe sendiri. Ya, walaupun istri kontrak menurut loe! Tapi kan tetep sah pernikahan kalian! Dan satu lagi, loe tinggal nunggu kabar baik dari istri loe, kalau dia bakal hamil anak loe! Keturunan loe, Akhtar!" sahut Michael menimpali perkataan Jonas.
Akhtar masih diam di tempatnya dan menatap tajam ketiganya. Bima tak berani menatap tuannya.
"Gue yakin, usaha kita gak bakal sia-sia! Karena menurut gue, gak cuma sekali loe ngebobol dia! Pasti berkali-kali kan? Hayo ngaku loe Akhtar!" seru Michael lagi dengan enteng menatap Akhtar.
__ADS_1
"Iya nih, Akhtar diem aja dari tadi!" timpal Jonas mencairkan suasana.
Karena suasana yang dirasakan mereka sebenarnya terasa dingin. Bukan karena AC, tapi karena tatapan tajam Akhtar yang terus menatap mereka. Akhtar tetap tidak bergeming di sofanya. Ia masih mengamati tingkah ketiga sahabatnya itu.