Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 43 Obrolan Pesta


__ADS_3

Sore harinya, Akhtar sudah tiba di apartemennya. Ia sedang bersiap untuk pergi ke rumah kakeknya. Sedangkan Kania sudah siap dengan penampilannya. Kania melihat dirinya di cermin. Saat ini, penampilannya benar-benar mempesona.


"Untung aja udah ilang bekasnya! Kalau gak, bingung juga aku nutupinnya! Dan kenapa bajunya begini sih? Bahuku sampai keliatan begini! Tapi ya udahlah, daripada baju yang tadi, lebih mengerikan!" Kania bergumam.


Tok Tok Tok


"Non! Tuan Akhtar sudah datang!" bik Yati memanggil.


"Iya, bik! Sebentar!" seru Kania.


Kania melihat penampilannya lagi di cermin, lalu mengambil tas dan keluar kamar.


"Ya ampun! Non Kania cantik sekali! Bibik sampai pangling lho, non!" bik Yati terkesima melihat penampilan Kania.


"Ah, bibik! Jadi malu nih!" Kania tersipu malu. Pipinya bertambah merona.


"Tuan Akhtar pasti terpesona juga kayak bibik!" ceplos bik Yati.


"Kalau gitu aku ganti baju aja deh, bik!" Kania hendak berbalik ke kamar.


"Eh jangan non! Udah ditungguin tuan, nanti tambah lama lho! Non kan tau sendiri kalau tuan Akhtar gak bisa nunggu!" sergah bik Yati.


Kania dan bik Yati turun ke bawah. Akhtar sedang melakukan panggilan dengan asistennya. Mendengar suara sepatu beradu di lantai, Akhtar mengakhiri panggilannya.


"Kenapa lama se.... kali?" Akhtar berucap sambil memutar tubuhnya menghadap Kania. Namun dia tertegun melihat penampilan Kania.


"Maaf, tuan!" Kania berucap lirih dengan menundukkan kepalanya.


Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah kejadian malam itu. Ada rasa canggung di antara mereka.


Akhtar menatap Kania. Melihat dari bawah sampai atas. Pundak mulus Kania membuat Akhtar menjadi panas dingin. Ia terbayang lagi saat menc*mbu Kania malam itu.


Ekhem


"Apa tidak ada baju lain?" Akhtar berucap dengan berpaling.


"Hah?" Kania tersentak dan melihat Akhtar. Namun dia menunduk lagi.


"Sudahlah! Ayo pergi! Kakek sudah menunggu!" Akhtar berbalik dan melangkah menuju pintu.


Kania mengikuti dari belakang. Kania duduk di sebelah Akhtar. Tiba-tiba Akhtar memberikan jasnya pada Kania.


"Apa ini tuan?" Kania menatap heran pada Akhtar yang mengulurkan jasnya.


"Jaslah! Apalagi?" Akhtar menjawab dengan ketus tanpa melihat Kania.


"Iya tau tuan! Tapi maksudnya apa? Kok dikasih ke saya?" Kania masih heran dan hanya melihat jas di tangan Akhtar.


"Kelamaan!" ketus Akhtar langsung meletakkan jasnya di pundak Kania.


"Apa yang kau lakukan tuan?" Kania mencoba menghindar dari tangan Akhtar yang hendak memakaikan jasnya ke bahu Kania.

__ADS_1


"Tutupi bahumu yang jelek ini! Merusak pemandangan aja!" ketus Akhtar.


"Benarkah?" Kania melihat ke bahunya.


Justru itu membuat Akhtar jadi ikut memperhatikannya.


Glek


Akhtar menelan ludahnya dengan susah payah.


"Saya juga kurang nyaman sih tuan pakai dress ini! Tapi mau gimana lagi, tuan sendiri yang memilihkan dress ini!" Kania menjawab dengan gamblang.


"Ya sudah! Pakai jas itu sampai kita pulang lagi ke sini!" balas Akhtar.


Sedangkan sopir yang mengantar mereka hanya mendengarkan dan melirik dari kaca spion.


"Jalan pak!" perintah Akhtar pada sang sopir.


Mobil pun berjalan meninggalkan apartemen dan menuju jalan besar.


Selama perjalanan tidak ada obrolan pada keduanya. Akhtar dan Kania larut dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga mobil sampai di rumah besar milik kakek Wijaya.


Keduanya disambut kepala pelayan rumah itu. Akhtar berjalan dahulu dan diikuti Kania serta pelayan itu. Para pelayan wanita, segera masuk ke dapur setelah tau Akhtar masuk ke rumah.


"Halo cucu menantuku?" sapa kakek Wijaya semringah.


"Selamat malam kakek! Apa kabar?" sapa Kania tersenyum dan mencium tangan kakek Wijaya.


"Baik, nak! Kamu sendiri bagaimana? Akhtar tidak membuat susah bukan?" balas Kakek Wijaya.


"Syukurlah!" balas kakek Wijaya.


"Malam, nek!" sapa Kania pada nenek Aishe.


"Malam, sayang!" balas nenek Aishe tersenyum dan berpelukan.


"Malam pa! Ma!" sapa Kania mencium tangan mertuanya bergantian.


"Malam, nak!" balas mama Sonya lembut.


Pak Farzan hanya berdehem membalas sapaan Kania. Akhtar hanya berdiri di tempatnya sambil memperhatikan satu per satu keluarganya.


Kakek Wijaya kemudian mengajak mereka ke meja makan. Di sana sudah dihidangkan aneka makanan. Mereka duduk di kursi masing-masing.


"Kenapa jasnya tidak dibuka saja? Apa kamu tidak gerah?" mama Sonya menatap Kania.


Kania menatap ibu mertuanya lalu melirik ke Akhtar yang duduk di sebelahnya.


"Tidak apa, ma! Kebetulan malam ini, saya agak kedinginan! Jadinya pakai jas ini!" Kania membalas ucapan ibu mertuanya.


Keluarga Akhtar hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Kania. Mereka tahu bahwa itu pasti ulah Akhtar. Apalagi bisa dilihat jika baju yang dikenakan Kania adalah potongan tanpa bahu.

__ADS_1


"Ayo kita makan! Kakek sudah lapar!" seru kakek Wijaya menyudahi kecanggungan di sana.


Mereka pun makan dengan dilayani oleh para pelayan. Kania pun hanya mengikuti saja. Mereka makan dengan nikmat dan tanpa obrolan.


Setelah kurang lebih 30 menit menghabiskan makan malam ala restoran bintang lima, mereka mengobrol di ruang keluarga. Kakek Wijaya ingin menyampaikan sesuatu ada Akhtar dan Kania.


"Kakek dan semua di sini, sudah memutuskan akan mengadakan pesta pernikahan kalian secara besar dan mewah! Bahkan kakek akan membuat pesta pernikahan kalian disiarkan langsung di televisi!" ucap Kakek Wijaya memulai pembicaraan.


Akhtar dan Kania terkejut mendengar hal itu. Kania tidak menginginkan pesta pernikahan itu. Kania hendak berbicara pada kakek Wijaya, namun didahului Akhtar.


"Kami ikut saja kemauan kakek! Kami juga tidak bisa menolaknya bukan?" ucap Akhtar melirik Kania.


Kania terkejut mendengar ucapan Akhtar. Bukan jawaban ini yang ia inginkan. Tapi Akhtar bertindak seolah tidak tahu penolakan dari Kania.


"Bagus! Memang kami tidak perlu meminta izin kalian! Karena kami hanya berniat untuk menyampaikannya pada kalian tentang ini! Agar saat pesta nanti, kalian tidak terkejut seperti ini!" balas Kakek Wijaya.


Kania hanya bisa pasrah dan tersenyum kecut.


'Memangnya siapa aku? Tuan Akhtarlah yang berkuasa! Hh! Ikuti saja Kania! Toh cuma satu hari kan pestanya!" batin Kania.


"Pesta nanti akan kakek adakan selama 2 hari 2 malam! Dan itu satu minggu lagi! Kalian tidak perlu memusingkan hal--hal mengenai pesta pernikahan nanti. Karena sudah ada yang mengurusnya! Kalian tinggal siapkan diri saja!" ujar kakek Wijaya memandang Akhtar dan Kania.


Kania yang menunduk langsung mendongak menatap kakek Wijaya yang tersenyum tipis.


'Dua hari dua malam? Yang bener aja?' batin Kania sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Apa 2 hari 2 malam? Apa kakek gak salah? Kenapa selama itu? Cukup 1 hari aja kek!" Akhtar memprotes ucapan kakeknya.


"Tidak ada bantahan! Tidak ada penolakan! Itu sudah menjadi keputusan bersama! Titik!" tegas kakek Wijaya.


"Terserah kakek saja! Yang penting aku tidak mau menerima tamu wanita!" balas Akhtar pasrah.


"Tenang saja! Itu sudah kakek pikirkan!" balas kakek Wijaya.


Obrolan pun berlanjut ke hal lainnya. Kania yang sudah mengantuk, beberapa kali menguap. Namun ia berusaha menahannya.


"Kalian menginaplah malam ini di sini!" seru kakek Wijaya setelah tidak ada obrolan lagi.


"Apa?" Kania tersentak kaget mendengar ucapan kakek Wijaya.


"Iya! Kalian belum pernah tidur di sini! Apalagi sudah hampir satu bulan kalian menikah! Seharusnya dulu sehabis menikah, kalian langsung tidur di sini seperti papa dan mamamu dulu!" ujar kakek Wijaya.


"Tapi besok aku harus ke kantor kek!" sergah Akhtar memberi alasan.


"Kan bisa dari sini! Tidak usah banyak alasan! Papa mamamu juga mau menginap di sini malam ini!" balas kakek Wijaya.


Pak Farzan dan mama Sonya saling memandang satu sama lain.


"Apa jangan-jangan kalian tidak sekamar ya?" duga kakek Wijaya.


Kania menatap Akhtar. Tapi Akhtar tak melihatnya.

__ADS_1


"Baiklah! Tapi cuma malam ini saja!" jawab Akhtar pasrah.


Kania melotot mendengar ucapan Akhtar. Tapi Akhtar mengabaikannya. Akhtar tidak mau, keluarganya curiga tentang pernikahan kontrak yang dilakukannya dengan Kania.


__ADS_2