Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 25 Intrauterine Insemination


__ADS_3

Sebelum mereka ke rumah sakit, tadi mereka sempatkan berganti pakaian di butik langganan Akhtar. Tentu saja Akhtar tidak ingin penampilannya terlalu mencolok di depan orang dengan tuksedo dan kebaya yang dikenakan Kania. Akhtar tidak ingin pernikahannya terlalu banyak orang yang tahu.


Saat ini Kania sudah berada di depan ruang pemeriksaan khusus kandungan. Karena dokter kandungan yang diminta Akhtar laki-laki, jadi Kania tidak mau untuk menjalani pemeriksaan.


"Saya gak mau kalau dokternya tetep laki-laki!" kekeh Kania di depan ruangan itu.


"Bukannya kamu tahu sendiri, aku alergi kepada wanita? Jadi terima saja yang ada! Jangan banyak protes!" jelas Akhtar dengan datar.


"Yang diperiksa kan saya, bukan tuan! Jadi saya gak rela dong kalau badan saya dipegang-pegang sama laki-laki yang bukan suami saya!" ucap Kania tanpa sadar.


"Jadi kalau aku yang pegang kamu, itu artinya boleh?" balas Akhtar menyeringai.


Kania pun seketika menyadari bahwa perkataannya tadi malah membuat Akhtar salah paham. Bima yang mendengarkan mereka berdebat, hanya tersenyum tipis.


'Pengantin baru bukannya bulan madu, malah debat! Pasangan yang aneh emang!' batin Bima.


"Bukan itu maksudku! Suami dalam arti sebenarnya. Kita kan hanya menikah kontrak. Jadi bukan suami istri beneran. Dan tuan juga kan gak bisa bersentuhan sama wanita! Jadi jangan mencoba menyentuhku! Bukannya tian sendiri yang bilang gak akan menyentuhku kan?" jelas Kania gugup dan berusaha tenang.


Akhtar hanya tersenyum tipis.


"Aku juga tidak berminat menyentuhmu! Meski itu bisa kulakukan! Aku adalah pria yang selalu menepati janji. Jadi aku tidak akan pernah menyentuhmu! Sudahlah, pembahasannya malah kemana-mana! Bima! Cari dokter kandungan wanita di rumah sakit ini sekarang!" ucap Akhtar dengan datar dan langsung menoleh ke Bima yang masih senyum-senyum sendiri.


Kania hanya diam tanpa mau membalas lagi. Ia lelah berdebat dengan Akhtar. Hidupnya saja sudah berat.


Bima pun melakukan perintah tuannya tanpa bantahan. Ia langsung pergi dari ruangan itu mencari dokter kandungan wanita. Tak lama datanglah Bima bersama seorang wanita paruh baya berseragam putih seperti dokter.


"Ini dokter Sukma, tuan. Salah satu dokter kandungan di rumah sakit ini." jelas Bima pada Akhtar.


Dokter Sukma jelas mengenal Akhtar, sang pewaris Wijaya Group, termasuk rumah sakit tempatnya bekerja. Jadi ia sudah tahu dengan alergi yang diderita Akhtar. Ia pun sudah menjaga jarak 3 meter sejak ia tahu bahwa ia dipanggil oleh pemilik rumah sakit ini.


"Halo, tuan Akhtar! Saya dokter Sukma. Saya yang akan menangani istri anda!" ucap dokter Sukma yang sudah diberi tahu Bima.


"Hm! Periksa dia!" jawab Akhtar dengan datar. Kedua tangannya ia masukkan di dalam saku celananya.


Dokter Sukma pun mengangguk dan membimbing Kania ke dalam. Akhtar sendiri sudah menjalani pemeriksaan sejak diputuskannya Kania yang akan menjadi wanita yang mengandung calon anaknya. Jadi saat ini ia hanya menemani Kania untuk pemeriksaan. Akhtar tidak ingin menunda terlalu lama lagi. Ia ingin segera memberikan cucu laki-laki kepada keluarganya, terutama kakeknya.

__ADS_1


Akhtar dan Bima menunggu di luar. Sedangkan Kania diperiksa di dalam oleh dokter Sukma. Metode kehamilan tanpa hubungan suami istri yang dipilih Akhtar adalah inseminasi buatan. Ia sudah mencari tahu proses yang tepat pada kasusnya.


"Maaf, dok! Saya mau tanya dulu sebelum kita melakukan pemeriksaan." ucap Kania gugup di kursinya.


"Silakan, nona!" balas dokter Sukma dengan ramah.


"Metode apa yang dipilih untuk saya hamil, dok?" tanya Kania penasaran.


"Inseminasi buatan, nona!" jawab dokter Sukma tersenyum ramah.


"Anda sudah tahu apa itu inseminasi buatan?" tanya dokter Sukma lagi.


Kania hanya menggeleng. Saat sekolah menengah atas ia tidak mengambil jurusan pengetahuan alam. Ia lebih memilih jurusan pengetahuan sosial. Jadilah, Kania tidak tahu dengan metode tersebut.


"Baik, saya jelaskan sedikit ya nona! Inseminasi atau intrauterine insemination (IUI) ini merupakan teknik untuk membantu proses reproduksi dengan cara memasukkan ****** yang telah disiapkan ke dalam rahim menggunakan alat berupa kateter. Inseminasi buatan seringkali disebut pembuahan semi alami, karena berfungsi memperpendek jalan ******, sehingga dapat melewati halangan yang mungkin terjadi. ****** yang sudah dibersihkan dan dipilih akan langsung dimasukkan ke dalam leher rahim, tuba fallopi, ataupun rahim. Begitu nona! Apa anda sudah paham?" jelas dokter Sukma.


"Apa wanita perawan bisa melakukan itu, dok?" tanya Kania lagi yang sedikit malu.


"Tentu saja bisa, nona! Sebenarnya proses ini dilakukan apabila ada kekurangan dari pasangan suami istri. Namun dalam kasus nona dan tuan Akhtar, tentu nona sudah tahu bukan penyebabnya? Jadi proses ini adalah pilihan yang tepat. Tidak akan sakit kok, nona! Dan sekarang hanya akan melakukan cek rahim anda dan jumlah sel telur anda terlebih dahulu." jelas dokter Sukma dengan ramah.


"Oh ya, dok! Satu pertanyaan lagi. Apa bedanya dengan proses bayi tabung, dok? Saya pernah dengar tentang proses bayi tabung." tanya Kania tersenyum.


"Oh, begitu! Syukurlah! Baiklah dok, silakan diperiksa!" balas Kania yang sedikit lega.


Kania pun dituntun menuju brankar untuk berbaring. Dokter Sukma pun melakukan pemeriksaan pada rahim Kania dengan Histerosalpingografi (HSG), yaitu pemeriksaan dengan menggunakan sinar Rontgen (sinar-X) untuk melihat kondisi rahim dan daerah di sekitarnya. Pemeriksaan ini umumnya dilakukan pada wanita yang memiliki masalah infertilitas atau pada wanita yang sering keguguran.


Namun karena Kania adalah pasien yang pertama kali untuknya melakukan metode ini, maka perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi rahimnya baik-baik saja atau ada masalah.


Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh atas perintah tuan Akhtar, maka hasilnya Kania baik-baik saja. Rahim dan sekitarnya, semua aman dan baik. Jumlah sel telurnya juga banyak. Dan sel telur Kania sudah siap untuk dibuahi. Mengingat ia masih masa subur. Begitu pun dengan Akhtar. Spermanya yang sudah diambil dan sudah melakukan proses penyaringan dan pemilihan ****** yang beekuakitas. Dan sekarang siap untuk membuahi sel telur milik Kania. Proses itupun dilakukan dengan cepat. Kini Akhtar dan Kania tinggal menunggu hasil proses inseminasi buatan itu.


"Bima, antar aku ke perusahaan dulu! Setelahnya antar dia ke apartemen yang sudah disiapkan!" ucap Akhtar di dalam mobil setelah Kania duduk di sampingnya.


"Baik, tuan!" jawab Bima mengangguk.


"Tunggu, dulu! Maksudnya saya tinggal di apartemen gitu? Gak di rumah saya lagi sama ibu saya?" tanya Kania penasaran menoleh ke Akhtar. Mau gak mau Kania harus melihat Akhtar.

__ADS_1


"Ah, iya! Bagus, kamu mengingatkan! Bim, berikan sekarang padanya!" perintah Akhtar hanya melirik Kania yang kebingungan.


Bima pun mengambil berkas dalam map yang masih rapi. Lalu memberikannya ke Kania dengan penanya. Kania pun menerimanya dengan bingung.


"Apalagi ini?" gumam Kania sambil membuka map tersebut.


Lalu Kania membaca berkas tersebut. Ia pun kaget dengan isi kertas itu. Akhtar hanya menatap ponselnya sambil mengecek email yang masuk.


"Apa-apaan ini? Ini maksudnya apa, tuan?" protes Kania pada Akhtar yang terlihat datar.


"Kamu selalu bertanya padahal sudah jelas jawabannya ada di situ! Kamu ini sekolahnya lulus kan?" jawab Akhtar menyindir Kania.


"Saya tanya kenapa dijawab dengan pertanyaan lagi? Udah jelas saya lulus, tuan! Bahkan saya siswa terpandai di sekolah saya." balas Kania dengan sinis.


"Kalau begitu, kenapa masih bertanya? Kan sudah jelas semuanya tertulis di situ! Lalu apalagi?" protes Akhtar dengan datar sambil menoleh ke arah Kania.


Kania sangat kesal dengan Akhtar. Ia selalu bersikap seenaknya padanya. Kania tahu bahwa hidupnya sudah dibeli oleh Akhtar. Dan Kania juga tahu bahwa pernikahan yang ia jalani adalah pernikahan kontrak. Tapi kenapa harus ada surat perjanjian nikah kontrak lagi. Tanpa surat itu pun, Kania sudah sadar diri. Ia tidak akan pernah menuntut pada Akhtar.


Apalagi ada poin tentang tempat tinggal Kania selama menjadi istrinya dan mengandung anaknya. Meski diberikan tempat tinggal yang berbeda dengan Akhtar, namun tetap saja Kania tidak bisa jika harus berpisah dengan ibunya. Kalau pisah dengan Akhtar sih, itu Kania gak perlu ditanya lagi. Pasti mau banget tanpa dipaksa.


Kania hanya menghela napas kasar. Mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus tetap menandatangani surat itu. Bertambah lagilah penderitaan dan beban hidup Kania. Hidup enak yang terjamin, namun bagai dipenjara oleh Akhtar.


*


*


Hai Hai Hai


Maaf ya, up nya telat lagi.


Si bocil masih rewel karena demam.


Jangan bosen nunggu lanjutannya ya!


Jangan lupa kasih like dan komennya dong readers!

__ADS_1


sangat berarti buat author.


Terima kasih dan selamat membaca


__ADS_2