Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 22 Menjelang Sah


__ADS_3

Pagi ini sinar matahari begitu cerah. Namun tidak pada hati seorang gadis yang tidak bisa tidur semalaman. Lingkar hitam di bawah matanya menjadi bukti bahwa Kania tidak bisa tidur. Bagaimana mau tidur? Kalau hidupnya saja sudah dibeli orang.


Perkataan ibunya setelah urusan hutang dengan pak Bondan selesai, membuat Kania semakin miris dengan nasib hidupnya. Pernikahan indah yang diimpikan setiap wanita dengan pria yang dicintainya, nyatanya tidak berlaku bagi Kania.


Pernikahannya dilakukan karena harus mengandung calon keturunan Akhtar, sang Mr. Perfect yang bagi Kania tidak perfect sama sekali. Itupun sampai ia melahirkan anak laki-laki. Tapi jika yang dikandung perempuan, maka harus mengandung anak lagi sampai yang dikandungnya anak laki-laki. Miris memang. Kania dijadikan sebagai mesin pencetak anak bagi Akhtar.


'Perfect apanya? Cuma menang ganteng sama kaya doang. Lainnya nol. Apalagi kata-katanya yang seperti emak-emak julid. Nyelekit banget kayak cabe rawit. Hh! Tuhan, tolong aku!' batin Kania sedih dan kesal di dalam kamarnya.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Kania dengan malas bangun dari kasurnya menuju pintu dan membukanya. Tampaklah bu Meli yang sudah rapi dengan pakaian kebayanya sambil membawa kotak ukuran sedang. Kania mengernyit heran menatap ibunya. Lalu Kania mengajak ibunya masuk kamar dan duduk di ranjang.


"Kamu belum juga mandi, Nak?" tanya bu Meli lembut sambil meletakkan kotak itu di kasur.


"Kania males banget, bu! Apa hari ini gak bisa dibatalin aja, bu?" jawab Kania lesu dan beberapa kali menguap dan mencoba menahannya.


"Kamu gak tidur semalam?" tanya bu Meli penasaran tanpa menjawab pertanyaan putrinya.


"Ah, ibu! Selalu aja ngalihin pembicaraan!" gerutu Kania cemberut dan menahan kantuknya yang mulai datang.


"Kamu kan udah tau kalau hari ini kamu menikah! Dan kamu sendiri yang udah tanda tangan menyetujui." sahut bu Meli.


"Tapi, bu! Kania kan terpaksa, bu! Apalagi ini demi rumah peninggalan ayah! Kania gak rela kalau sampai rumah ini jatuh di tangan orang lain. Jadi, Kania rela kok, bu! Karena Kania tidak bisa membuat ibu bahagia. Tapi setidaknya dengan ini, Kania bisa menyenangkan ibu ya!" balas Kania lembut dan sendu.


"Maafkan ibu ya, Nak! Ibu udah memaksamu menerima semua ini! Karena ibu juga gak kuasa buat nolak kemauan tuan Akhtar. Ibu gak mau kamu dipenjara. Apalagi kamu gak salah! Karena hanya tuan Akhtar yang bisa nolong kita. Maafkan ibu dan ayah, karena tidak pernah membuatmu bahagia dari lahir sampai sekarang." balas bu Meli dengan sendu sambil memegang tangan putrinya.


"Ibu jangan pernah bilang seperti itu lagi! Kania tidak apa kok, Bu! Kania akan baik-baik aja! Kania kan putri ibu dan ayah! Jadi Kania pasti bisa!" balas Kania lembut.


"Ya udah, sana mandi dan bersiap! Dan pakai kebayamu!" sahut bu Meli sambil menghapus air matanya yang hampir keluar.


"Oh ya! Ngomong soal kebaya, Ibu pakai kebaya siapa? Kok bagus banget, bu? Kapan ibu beli?" cecar Kania penasaran sambil melihat kebaya ibunya.


"Tadi malam ada yang nganter kebaya ini sama kebayamu! Ibu gak tau siapa. Tapi katanya dari tuan Akhtar. Dan kita harus pakai kebaya ini.


" Begitu ya, bu?" balas Kania dengan lesu.


"Udah sana mandi dulu! Sebentar lagi mungkin tukang riasnya datang. Dan kamu harus udah mandi kan? Sana!" sahut bu Meli sambil menyuruh putrinya mandi.


"Tukang rias? Dirias juga, bu?" tanya Kania heran sambil berdiri.


"Iya! Dari tuan Akhtar juga! Udah sana cepetan!" balas bu Meli sambil mendorong Kania keluar kamar.

__ADS_1


Kania hanya pasrah dan menghela napas kasar. Mulutnya yang beberapa kali menguap karena rasa kantuknya yang datang, tak bisa ia tahan. Kania pun mandi dengan malas hingga ia sempat tertidur di kamar mandi.


"Nia! Loe mandi apa tidur sih?" seru Dini sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Nia! Ini udah hampir satu jam loe di kamar mandi? Nia, loe gak bunuh diri kan? Nia!" pekik Dini lagi sambil menggedor pintu kamar mandi lebih keras.


"Dini! Ada apa? Kok teriak-teriak?" tanya bu Meli yang sudah selesai dirias datang tergopoh-gopoh sambil mengangkat sedikit rok kebayanya.


"Wiiihhh, ibu cantik banget deh! Pangling Dini, bu!" puji Dini pada bu Meli dan terpesona.


"Husst! Kania mana? Apa masih di kamar mandi?" sahut bu Meli sambil mengibaskan tangannya dan bertanya penasaran.


"Astaga! Iya, bu! Ini udah hampir satu jam, Kania di kamar mandi. Dini panggil tapi gak ada jawaban juga. Dini takut Kania berbuat nekad, bu!" balas Dini sambil menepuk jidatnya dan merasa cemas.


"Jangan sembarangan kalau ngomong! Kania gak mungkin ngelakuin itu!" sergah bu Meli yang juga ikut cemas dan ikut mengetuk pintu kamar mandi.


"Kania! Nak! Ini ibu, Nak! Kania, buka pintunya sayang! Kania, jangan buat ibu cemas! Kania!" panggil bu Meli cemas sambil mengetuk pintu beberapa kali.


"Nia! Buka pintunya, Nia! Loe gak pa-pa kan, Nia!" pekik Dini sambil terus menggedor pintu dengan keras.


"Dini, gimana ini? Ibu takut, Dini!" tanya bu Meli panik.


"Tenang ya, bu! Dini bakal dobrak nih pintu! Ibu minggir dulu, ya!" balas Dini dengan penuh percaya diri.


"Hiiiiyaaaaaahh..." seru Dini saat hendak melayangkan kaki kanannya ke pintu.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka dari dalam menampakkan Kania dengan wajah kusutnya seperti orang bangun tidur. Masih mengenakan baju yang sama seperti tadi.


"Apaan sih! Berisik banget deh! Ganggu orang tidur aja!" gerutu Kania yang belum sadar dari tidurnya sambil mengelap ilernya.


"Iiyuuhhh! Jorok banget sih loe, Nia!" seru Dini yang sudah menurunkan kakinya ketika terdengar suara pintu terbuka.


"Dini! Kamu yang ganggu tidur aku ya? Masih ngantuk tahu!" balas Kania yang masih memejamkan matanya karena masih mengantuk dan menguap lagi.


"Eehhh! Mau kemana loe?" cegah Dini sambil menarik tangan Kania yang hendak berbalik masuk kamar mandi.


"Mau lanjut tidur!" balas Kania pelan yang berusaha melek namun sangat sulit ia lakukan.

__ADS_1


"Kania! Nak! Kamu gak pa-pa, sayang?" sahut bu Meli dengan cemas menghampiri anaknya.


"Ibu? Mau kemana? Kayak mau kondangan aja?" tanya Kania setengah sadar sambil melihat ibunya.


"Astaga, Nia! Loe tuh minta disiram emang!" protes Dini yang mendorong Kania ke dalam kamar mandi dan ikut masuk.


Lalu Dini mengambil segayung air dan disiramkannya ke kepala Kania. Seketika Kania terkejut dan gelagapan karena tidak siap dengan siraman air tersebut. Bu Meli pun terkejut dari luar kamar mandi. Namun bu Meli tak ikut masuk karena ukuran kamar mandinya yang tak besar.


"Dini! Kok aku disiram sih! Dingin tau!" protes Kania dengan kesal sambil mengusap wajahnya yang basah.


"Coba liat penampilan loe! Masih belum sadar juga?" perintah Dini dengan ketus.


Kania pun melihat penampilannya. Dan menurutnya tidak ada yang aneh. Namun saat melihat lantai dan sekeliling ruangan, bahwa ini adalah kamar mandi. Dan Kania pun teringat bahwa dirinya hendak mandi. Namun karena rasa kantuknya yang begitu berat, maka ia duduk sandaran di dinding kamar mandi dekat bak mandi. Dan tertidurlah Kania di dalam kamar mandi.


Apalagi kamar mandi di rumah ini hanya ada satu. Dan kamar mandinya juga jadi satu dengan WC. Dini yang datang sejak 15 menit yang lalu dan sudah rapi menunggu di kamar Kania. Namun ia merasa heran karena tak kunjung melihat Kania. Dini pun menghampiri bu Meli yang sedang dirias di ruang TV. Dini diberi tahu bahwa Kania tengah mandi setengah jam yang lalu.


Dini yang penasaran pun pergi ke kamar mandi untuk mengecek keadaan sahabatnya. Dan inilah yang terjadi. Dini dan bu Meli yang khawatir, justru mendapati Kania tidur di kamar mandi.


"Loe kan mau nikah hari ini! Masih sempet aja loe molor! Liat nih udah jam berapa? Satu jam lagi lho kita udah harus sampai ke tempat acara. Udah buruan mandi! Kalau loe masih molor juga, gue yang bakal mandiin loe!" sungut Dini dengan kesal.


"Iya, iya bawel! Udah sana keluar! Aku mau mandi!" ketus Kania yang masih kesal dengan Dini karena mengguyurnya.


"Gak pakai lama, Nia! 10 menit!" seru Dini saat akan menuju pintu kamar mandi.


"Iya, Dini!" balas Kania sambil tersenyum masam.


Dini pun keluar kamar mandi. Bu Meli pun lega karena putrinya baik-baik saja. Begitu terdengar suara guyuran air, Dini dan bu Meli pun kembali ke ruang TV menemani MUA yang disewa Akhtar, lebih tepatnya Bima sih. Karena yang mengurus semuanya itu Bima. Akhtar mana mau pusing mikirin hal-hal makeup segala. Yang terpenting semua beres di tangan asistennya.


*


*


Hai Hai Hai


Maaf ya author telat updatenya.


Ibu rumah tangga tapi susah santainya.


Hari ini author kasih dua bab untuk menebus hari kemarin ya readers!

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya.


Terima kasih dan selamat membaca.


__ADS_2