
"Kamar loe bagus banget, Nia! Liat ranjangnya! Ya ampun, empuk banget, Nia! Kalau gue tinggal di tempat kayak gini, gue betah seharian di rumah. Apalagi fasilitasnya udah lengkap. Hm. Nyamannya!" ucap Dini tanpa melihat sahabatnya yang sedang berdiri di depan pintu.
Dini langsung masuk kamar begitu saja setelah Kania membuka pintu kamar itu.
"Ya udah, kamu tinggal sama aku aja di sini! Gampang kan?" balas Kania sambil mendekati Dini ke ranjang.
Kania pun tak hentinya memandang takjub desain kamar yang akan ia tempati.
'Kayak di negeri dongeng!' batin Kania sambil tersenyum dan duduk di sebelah Dini yang sedang rebahan.
"Gak ah! Gue gak bisa! Loe kan tahu sendiri gimana keluarga gue! Gue gak bakalan diizinin tinggal di luar rumah kalau gak nikah. Apalagi ini kan, milik suami loe! Gue ngeri! Lebih aman tinggal di rumah gue sendiri." jelas Dini setelah duduk di sebelah Kania.
"Gayamu, Din, Din! Sok ngeri! Kalau di depan orangnya gak berani. Tapi kalau di belakang, suka ngatain. Hh. Dasar kamu!" ketus Kania menoyor kepala Dini pelan.
"Iihh, Kania! Loe mah! Kebiasaan lagi deh! Noyor kepala gue! Kan atit!" rajuk Dini berdecak sebal dan pura-pura kesakitan sambil mengusap kepalanya pelan.
"Idih, lebay banget! Udah ah, aku ngantuk! Mau lanjut tidur!" sahut Kania menoyor kepala Dini Lagi, setelah itu langsung rebahan dan memejamkan matanya. Menikmati kenyamanan tidur di kasur baru.
"Kania!" pekik Dini kesal sambil mengerucutkan bibirnya ke depan. Lalu ia menyusul Kania rebahan di sebelahnya dan ikut memejamkan matanya juga.
Kania dan Dini, ternyata memang benar-benar tertidur. Bu Meli baru selesai memasak setelah kepergian Akhtar. Di tempat itu, memang segala kebutuhan Kania sudah disediakan sebelum Kania tiba. Dari mulai bahan makanan, cemilan, segala peralatan mandi, dan kebutuhan lainnya. Jadi Kania cukup tinggal dengan nyaman saja di penthouse itu.
Akhtar juga menyampaikan bahwa akan ada asisten rumah tangga satu orang yang akan melayani Kania dan mengerjakan semua pekerjaan rumah. Jadi Kania tidak perlu capek-capek membersihkan rumah atau memasak. Akhtar benar-benar memperlakukan Kania dengan baik. Bagai ratu di rumahnya sendiri. Tentu saja, hal itu ia lakukan bukan demi Kania, tapi demi calon anaknya. Akhtar tentu tidak ingin terjadi apa-apa pada calon anaknya kelak.
Di lain tempat, di kamar bak pangeran, Akhtar sedang duduk santai di balkon kamarnya sambil menikmati pemandangan kota di bawahnya.
Deringan ponsel yang ia taruh di meja, segera ia angkat.
"Halo, kek!" sapa Akhtar.
"Akhtar, kamu tidak lupa kan malam ini? Ajak istrimu makan malam ke rumah kakek!" jawab kakek Wijaya di seberang telepon.
'Sial! Hampir aja aku lupa!' batin Akhtar mengumpati diri sendiri.
"Akhtar! Dengar kakek tidak?" seru kakek Wijaya karena tidak mendengar jawaban cucunya.
"Iya, kek! Akhtar dengar! Iya, nanti malam aku akan ke sana membawanya!" sahut Akhtar dengan datar.
"Ya, kakek tunggu! Ingat, jam 7 malam sudah sampai di sini!" balas kakek Wijaya tegas.
"Iya, kek! Bahkan sebelum jam 7, aku sudah sampai di sana!" sahut Akhtar dengan datar.
__ADS_1
"Bukan kamu saja! Tapi juga istrimu, Akhtar!" sergah kakek Wijaya.
"Iya, kakekku sayang! Kami akan ke sana!" jawab Akhtar dengan penuh penekanan.
"Bagus! Ya sudah, kakek tutup dulu! Mau lanjut main catur lagi! Salam untuk istrimu!" sahut kakek Wijaya tersenyum di sana.
"Iya, kek! Salam juga untuk nenek!" balas Akhtar. Lalu menutup teleponnya setelah panggilannya terputus.
Akhtar kemudian menekan nomor telepon di penthouse yang ditempati Kania. Akhtar menempelkan ponselnya di telinga kirinya sambil menyesap kopinya.
Nada dering telepon kabel berbunyi di ruang tengah. Bu Meli yang kebetulan sedang bersantai di ruang keluarga, langsung mengangkat telepon itu.
"Halo!" sapa bu Meli lembut.
"Halo, bu! Ini Akhtar! Apa Kania ada di situ?" jawab Akhtar dengan sopan.
"Sebentar, nak Akhtar! Biar ibu panggilkan Kania. Tadi dia ada di kamar!" balas bu Meli lembut.
"Baik, bu!" jawab Akhtar sambil menunggu.
Bu Meli pun meletakkan telepon itu tanpa menutupnya. Lalu melangkah menuju kamar yang ada di atas. Kamar yang ditempati Kania. Ternyata pintu kamar tidak tertutup, sehingga bu Meli langsung masuk dan melihat putrinya sedang tidur berhadapan dengan Dini. Bu Meli pun membangunkan Kania.
"Kania! Bangun, nak! Tuan Akhtar meneleponmu! Ayo, bangun!" panggil bu Meli sedikit lebih keras sambil menggoyangkan lengan Kania.
"Ada apa, bu?" tanya Kania masih lesu.
"Tuan Akhtar telepon! Ayo cepat! Dia sudah menunggu dari tadi." jawab bu Meli sambil menarik lengan Kania agar berdiri.
Mendengar kata Tuan Akhtar, Kania langsung bangun dan berjalan menuju ruang keluarga. Padahal bisa saja, sambungan teleponnya dipindah ke telepon yang ada di kamarnya. Namun Kania dan bu Meli tidak mengetahui hal tersebut. Jadilah Kania berjalan tergesa-gesa menuruni tangga. Bu Meli memperingati putrinya untuk berhati-hati jalan dan mengikutinya.
"Halo, tuan!" sapa Kania dengan sopan setelah mengangkat gagang telepon itu ke telinga kanannya.
"Kenapa lama sekali? Kamu tidur?" pekik Akhtar kesal di balik telepon. Kania sampai harus menjauhkan sedikit gagang telepon itu dari telinganya.
'Nih orang kayaknya makan petasan! Tiap waktu marah melulu! Gak capek apa?' batin Kania sebal.
"Kania! Kamu tidur, ya?" seru Akhtar lagi lebih keras.
"Gak tuan, saya masih di sini! Tadi kan dari kamar atas, jadi butuh waktu ke sininya! Ada apa, tuan?" sergah Kania mencari alasan.
"Alasan! Seharusnya gak perlu turun! Sambungkan aja ke telepon yang ada di kamar! Begitu aja gak tahu!" gerutu Akhtar di balik telepon.
__ADS_1
Kania hanya memainkan bibirnya mengikuti omelan Akhtar tanpa suara.
"Iya, tuan! Maaf, saya gak tahu! Ada apa ya tuan menelepon saya?" balas Kania mencoba meredam kekesalannya.
"Sore nanti bersiap! Setengah tujuh kita berangkat ke rumah kakek. Kita makan malam di sana!" jawab Akhtar dengan datar.
"Pakai baju apa ya, tuan? Maaf, saya gak punya baju yang pas untuk makan malam! Maklum gak pernah dinner, tuan!" balas Kania dengan enteng.
"Kamu itu ngapain aja di sana? Apa kamu gak lihat di lemari kamarmu? Semua jenis baju ada di situ! Tinggal kamu pilih aja! Begitu aja harus diberi tahu!" gerutu Akhtar.
Kania memutar bola mata malas mendengar ocehan Akhtar yang seperti petasan acara hajatan.
"Maaf, tuan! Saya memang gak tahu!" jawab Kania masih menahan kesabarannya.
"Dari tadi cuma maaf terus! Ya, sudah itu aja!" balas Akhtar kesal langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Kania.
"Dasar es batu! Eh, ralat. Bukan es batu, tapi kaleng rombeng! Cowok tapi kalau ngomong gak ada rem. Blong terus!" gerutu Kania sambil melihat gagang telepon di tangannya. Lalu pergi ke meja makan. Karena cacing perutnya minta diisi.
Bu Meli yang sudah sampai di lantai bawah, menatap heran putrinya. Lalu mengikuti Kania duduk di seberangnya.
"Anak ibu kenapa kok ngomel-ngomel sendiri?" tanya bu Meli penasaran menatap Kania yang sedang mengambil makanan di piringnya.
"Tuan Akhtar lah, bu! Siapa lagi? Bisanya cuma marah sama maksa seenaknya. Kan jadi laper akunya!" jelas Kania masih sedikit kesal.
Bu Meli hanya melongo mendengar apa ucapan absurd putrinya. Akhtar yang marah, tapi malah membuat Kania lapar. Bu Meli pun ikut mengambil makanan yang sudah ia masak tadi.
"Oh ya! Bangunin Dini dulu, nak! Kasihan dia kalau makan sendirian! Dia juga pasti udah laper!" ucap bu Meli yang hendak menyantap makanannya.
"Biarin aja, bu! Dini itu kalau tidur kayak kebo! Jadi susah banguninnya! Entar kalau laper, dia bangun sendiri." jawab Kania dengan enteng disela makannya.
"Tapi, nak!" sergah bu Meli.
"Dini udah bangun kok, bu! Kalau urusan makan, itu gak diboleh dilewatin. Apalagi masakan ibu! Beuh, paling enak pokoknya! Masakan emak aja masih kalah!" sahut Dini yang sudah tiba di lantai bawah dan mendekati meja makan.
Dini memang sudah bangun, sejak Kania yang dibangunkan ibunya tadi. Karena perutnya juga sudah lapar, jadi mau tidak mau Dini pun langsung ikut bangun setelah Kania dan Bu Meli keluar kamar. Namun ia tak langsung ikut keluar. Dini pergi ke kamar mandi dulu.
"Ya sudah! Sini kita makan sama-sama! Ibu masak enak dan banyak tadi." sahut bu Meli menyuruh Dini duduk di kursi.
Dini pun langsung mengambil makanannya sendiri. Sedangkan Kania masih lahap menyantap makanannya.
"Susah juga jadi orang kaya! Piring sama sendoknya aja kayak gini! Berat!" ucap Dini sambil mengangkat sendoknya.
__ADS_1
Kania hanya cuek. Kania kalau urusan makan, gak boleh ditunda-tunda apalagi dibarengi obrolan. Pantang sebenarnya. Jadi ia mengabaikan ucapan Dini yang menurutnya tidak penting sama sekali.