Tawanan Mr. Perfect

Tawanan Mr. Perfect
Bab 57 Malam Pesta Pernikahan


__ADS_3

Para tamu dibuat kagum dengan pengantin pria dan wanitanya. Mereka begitu terkesima. Di mata mereka, Akhtar dan Kania bagaikan pangeran dan putri kerjaan. Benar-benar serasi sebagai pasangan. Namun banyak juga wanita yang iri melihat Kania. Mereka begitu mendambakan sosok Akhtar, nyatanya hanya bisa melihat dari jauh.


Begitu juga dengan para tamu pria yang masih single. Mereka juga kagum dan terpesona dengan kecantikan Kania. Sementara yang menjadi pusat perhatian sedang disorot oleh kamera dan disiarkan secara langsung.


"Tegakkan kepalamu!" bisik Akhtar di dekat telinga kanan Kania sambil terus melihat ke depan.


"Saya sangat gugup tuan! Saya malu!" balas Kania dengan suara lirih.


"Kau istriku! Jadi jangan malu! Angkat wajahmu, istriku!" lirih Akhtar menoleh ke Kania dan tersenyum tipis.


Kania yang mendengar kata istriku sampai terkesiap dan menoleh juga ke arah Akhtar. Kini keduanya saling tatap. Momen itu tertangkap kamera dan tamu undangan. Sungguh pasangan yang romantis.


"Kau memang istriku, bukan?" lirih Akhtar lagi sambil tetap memperhatikan wajah Kania yang merona dan terlihat malu-malu.


"Kau sangat cantik!" bisik Akhtar mendekati telinga Kania.


Kania bertambah malu dan gugup mendengar pujian dari Akhtar. Ia berusaha menahan senyumannya dan menatap ke depan. Sambil menggenggam erat lengan Akhtar, Kania berusaha menetralisir debaran jantungnya.


'Ya Tuhan! Godaan apa ini? Tuan Akhtar memujiku! Oh my god! Santai Kania! Jangan geer! Kendalikan dirimu!' batin Kania mencoba tersenyum meski tipis.


Sedang Akhtar tersenyum tipis melihat pipi merona Kania yang terlihat tersipu malu. Akhtar semakin terpesona dengan wajah cantik alami itu.


Sesi demi sesi acara terlewati. Kini tiba saatnya acara dansa antara Akhtar dan Kania. Seruan MC pada keduanya menggema seisi ruangan. Para tamu undangan memfokuskan tatapan mereka ke arah keduanya. Akhtar dan Kania berjalan menuju lantai dansa yang dihiasi gemerlap lampu dan bunga-bunga indah.


Kania yang sudah santai, kini gugup kembali karena akan berdansa dengan Akhtar. Sebelumnya Kania memang sudah berlatih dansa dengan pelatih yang sudah dipesan oleh mama Sonya. Namun tetap saja, Kania merasa gugup karena berdansa langsung dengan Akhtar.


"Apa kau gugup?" bisik Akhtar dengan muka coolnya.

__ADS_1


Kania hanya mampu mengangguk sambil meremas lengan Akhtar tanpa sadar.


"Sepertinya bukan hanya gugup! Tapi juga takut!" goda Akhtar menoleh ke Kania dan menatap Kania dengan lembut dan senyum tipisnya.


Mendengar celetukan Akhtar, sontak membuat Kania langsung menoleh ke arah Akhtar dan keduanya saling menatap. Tanpa menunggu aba-aba, para fotografer mengabadikan momen tersebut.


"Ya ampun, tatapannya tuan Akhtar, benar-benar melelehkan!" seru tamu undangan wanita yang begitu kagum dengan Akhtar.


"Gue kalau ditatap kayak gitu, udah pingsan di tempat! Gue benar-benar terpesona!" seru tamu undangan wanita lainnya.


Kania memutus pandangannya dari Akhtar. Saat ini jantungnya semakin berdetak tak karuan. Sedangkan Akhtar bersikap seolah biasa saja. Padahal Akhtar juga dag dig dug, tapi wajahnya sok cool.


Alunan musik romantis mulai mengalun indah di seluruh ruangan pesta itu. Tangan kiri Akhtar menggenggam tangan kanan Kania yang mengangkat ke atas. Keduanya saling berhadapan, namun masih ada jarak. Tangan kiri Kania berada di pundak kanan Akhtar. Sedangkan tangan kanan Akhtar berada di pinggang Kania.


Posisi ini cukup membuat jantung keduanya berdetak kencang. Jika suara musik tidak berbunyi, sudah dipastikan detak jantung keduanya terdengar nyaring.


Akhtar menatap wajah Kania yang sedikit menundukkan kepalanya. Kania tidak ada keberanian untuk menatap Akhtar. Berada sedekat ini saja membuatnya gugup. Apalagi menatap wajah tampan Akhtar. Akhtar memang tampan. Bahkan sangat tampan pikir Kania.


Kania mendongakkan kepalanya dan menatap Akhtar. Pandangan keduanya bertemu dan saling mengunci. Akhtar menelusuri setiap sisi wajah Kania. Alis yang lebat alami, bulu matanya yang lentik dan mengedipkan dengan indah, hidung yang mancung dan mungil, pipi merahnya, hingga pandangan itu jatuh pada bibir merah yang sedikit terbuka.


'Sial!' Akhtar mengumpat melihat bibir seksi itu.


Rasanya Akhtar ingin terus merasakan kelembutan dan rasa manis bibir itu. Bibir yang membuatnya candu.


Sementara Kania juga memperhatikan pahatan wajah yang terlihat sempurna. Mata tajamnya yang memberikan saya pesona tersendiri bagi yang melihatnya. Alis tebalnya yang hampir menyatu. Hidung mancung tegak bak perosotan anak TK. Jangan lupakan bibirnya yang juga merah alami dan tebal, membuat Kania panas dingin dan teringat c*uman mereka.


Sungguh Kania dibuat terpesona dengan hasil karya Tuhan yang satu ini. Hanya ada satu kata yang bisa menggambarkan sosok Akhtar bagi Kania. Perfect, itulah kata yang tepat untuk sang pangeran satu malam saat ini. Tidak salah jika orang-orang menjulukinya Mr. Perfect. Karena memang kenyataannya sempurna sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

__ADS_1


Keduanya terhanyut dalam alunan musik yang mengalun lembut di telinga. Begitu romantis. Para tamu menatap kagum dan iri pada pasangan itu. Begitu serasi dan terlihat saling mencintai. Benarkah saling mencintai? Entahlah, hanya waktu yang akan menjawabnya.


Para wartawan selalu mengabadikan momen romantis keduanya. Sungguh bagai raja dan ratu semalam. Tampan dan cantik. Benar-benar serasi dan berjodoh. Itulah anggapan orang yang melihatnya.


Senyum keluarga Wijaya pun tak surut melihat perlakuan Akhtar pada Kania. Kebahagiaan terlihat terpancar dari wajah Akhtar dan Kania. Mereka hanya berharap, pernikahan penerus kerajaan bisnis Wijaya, Akhtar Farzan Wijaya bersama Kania, akan selalu bahagia.


Itu harapan tulus dari mereka. Karena sedari awal melihat Kania, keluarga Wijaya sudah menerima gadis itu meski bukan dari kalangan konglomerat. Bagi mereka, pernikahan dan kebahagiaan Akhtar adalah bukti bahwa Akhtar adalah pria sejati. Dan mereka sudah membuktikan kepada masyarakat bahwa penerus Wijaya Group adalah pria normal.


Satu lagi hampir habis. Dan keduanya masih dengan posisi yang terlihat mesra yang sedang berdansa. Memang hanya keduanya yang berdansa. Karena itu dikhususkan untuk keduanya. Sementara tamu, hanya menonton sambil menikmati jamuan yang sudah tersedia.


Pandangan Kania mulai mengabur. Kepalanya terasa pusing. Namun ia tetap berusaha untuk sadar. Pegangan yang semula digenggam Akhtar, tiba-tiba mulai mengendur. Akhtar menatap heran melihat ekspresi Kania.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Akhtar penasaran yang masih perlahan bergerak ke kanan dan ke kiri.


"Tu... " ucap Kania yang terpotong karena sudah tak sanggup berdiri dan pingsan dipelukan Akhtar.


Seketika Akhtar memeluk Kania yang sudah pingsan. Para tamu terkejut mendapati pemandangan tersebut. Begitupun dengan keluarga Akhtar dan bu Meli. Mereka langsung menghampiri tempat Akhtar dan Kania berada.


Kania sudah berada dipelukan erat Akhtar dengan posisi masih berdiri.


"Kania! Hei, bangun! Sadarlah!" seru Akhtar sambil menepuk pelan pipi Kania yang mulai pucat.


Bima yang melihatnya langsung menghubungi pihak medis. Dini pun menghampiri Kania yang masih pingsan dipelukan Akhtar. Semua terlihat khawatir karena sang pengantin wanita yang tiba-tiba pingsan.


"Kenapa dengan cucu menantuku, Akhtar?" tanya kakek Wijaya dengan khawatir.


"Kania! Nak! Kamu kenapa? Ini ibu, nak!" tangis bu Meli yang melihat putrinya pingsan di tengah acara.

__ADS_1


Begitu pun dengan Dini, ia pun memanggil Kania sang sahabat agar segera sadar.


Tanpa pikir panjang, Akhtar langsung menggendong Kania dan membawanya ke luar ruangan. Para awak media yang semula mereka momen itu pun, terpaksa dihentikan oleh anak buah keluarga Wijaya. Karena berita ini tidak boleh sampai dilihat masyarakat. Namun, kejadian sudah terjadi dan acara juga disiarkan secara langsung di TV. Sehingga masyarakat yang menonton lewat TV pun, ikut terkejut dan bertanya-tanya. Ada apa dengan Kania?


__ADS_2