
"Nia! Ya ampun gue kangen banget sama loe! Satu minggu gak ketemu loe, rasanya kayak setahun tau gak?" seru Dini setelah masuk dan memeluk Kania dengan erat.
"Iya kangen sih kangen! Tapi jangan kayak gini kali! Aku sesak napas!" jawab Kania sambil menepuk punggung Dini sedikit keras.
"Hehehehe! Sorry, Nia cantik!" Dini melepaskan pelukannya sambil senyum meringis.
"Hampir aja aku koit!" celetuk Kania bercanda.
"Iih, Nia! Jangan ngomong itu lagi ah! Pamali tau!" balas Dini menepuk baju Kania pelan.
Dini pun memperhatikan leher Kania. Tanda merah di tubuhnya memang masih terlihat samar dan sedikit merah. Kania yang menyadari tatapan Dini langsung mengajak Dini makan.
"Oh iya, Din! Kita makan yuk! Kamu pasti laper kan? Bik Yati udah masak banyak dan enak lho khusus buat kamu! Kan sayang kalau gak cepetan dimakan?" ucap Kania mengalihkan pembicaraan.
"Hah, makanan banyak? Wah jadi tambah laper nih perut!" sahut Dini sambil memegang perutnya.
Kania mengajak Dini ke meja makan. Di meja sudah banyak terhidang aneka makanan yang tampak lezat dan menggoda lidah. Dini langsung duduk di kursi. Tanpa basa-basi, Dini mengambil makanan yang sudah tersaji. Kania hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya.
Kania ikut duduk dan juga mengambil makanan. Karna sejak siang, Kania memang belum makan. Bik Yati membawa minuman dari dapur.
"Wah! Non Dini kayaknya laper banget ya?" Bik Yati menggoda Dini.
"Iya ini, Bik! Apalagi makanan bik Yati! Udah dijamin enak! Kangen juga udah lama gak makan masakan bik Yati!" celetuk Dini memuji bik Yati.
"Non Dini bisa aja!" balas bik Yati tersipu malu.
"Sini bik, Ikut kita makan sekalian!" seru Kania menoleh ke bik Yati.
"Ah, gak non! Bibik udah makan tadi di dapur! Non Kania sama non Dini aja yang makan! Kan ini spesial untuk non Dini!" jawab bik Yati sungkan.
"Beneran bibik udah makan?" tanya Kania penasaran.
"Iya non, bener kok! Ya udah, bibik ke dapur dulu ya! Mau cuci piring!" jawab bik Yati.
"Iya bik! Makasih banyak ya, bik! Udah masakin segini banyak!" balas Kania tersenyum.
"Kan udah tugas bibik, non! Kalau non Kania sehat, maka tuan Akhtar akan senang!" cetus bik Yati semangat.
Dini menahan ketawanya sambil mengunyah mendengar celetukan bik Yati. Sedangkan Kania hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan bik Yati. Kania tiba-tiba teringat kejadian tadi pagi.
__ADS_1
Bik Yati pun meninggalkan meja makan menuju dapur. Kania dan Dini melanjutkan makan sorenya.
"Tuan mau makan apa malam ini?" tanya Bima di meja makan di apartemen Akhtar.
"Terserah kamu aja! Yang penting bisa aku makan!" jawab Akhtar seadanya.
"Baiklah!" balas Bima.
Bima beranjak menuju lemari es dan membukanya. Melihat sayuran dan bahan makanan yang masih ada. Bima pun mengambil daging ayam, sayuran, dan pelengkapnya. Dengan cekatan, Bima mulai meracik dan memasak makanan untuk makan malam.
Akhtar masih fokus dengan ponselnya sembari mengecek email yang masuk dari klien luar negeri.
Di tempat lain, Kania dan Dini sudah selesai makan sorenya. Sekarang mereka sedang santai di balkon dekat meja makan sambil menikmati sunset.
"Oh ya! Loe belum cerita sama gue soal semalem! Loe kemana sih emangnya?" tanya Dini penuh selidik menatap Kania.
Dini pun memperhatikan lagi leher Kania yang masih terdapat tanda merah yang samar-samar.
"Aku diajak ke rumah kakek kemarin malem! Dan aku lupa bawa charger HP. Jadinya sampai lowbat itu HP ku!" jawab Kania menghindari tatapan Dini.
"Jangan bilang kalau loe nginep di sana dan sekamar sama tuan Akhtar!" cetus Dini menduga.
Kania hanya menunduk dan mengangguk pelan.
Kania hanya mengangguk lagi. Dini berjalan mendekati Kania. Lalu mengangkat dagu Kania, sehingga Kania mendongak ke atas.
"Terjadi sesuatu kan sama kalian di sana?" tuding Dini.
"Apaan sih, Din! Gak ada yang terjadi kok!" elak Kania menghindari tatapan Dini.
"Bokis loe! Ini buktinya! Meski gue belum pernah gituan! Tapi gue tau, Nia! Gue bukan anak kecil yang bisa dibohongin!" balas Dini sambil menunjuk leher Kania.
"Iihh, Dini! Jangan pegang-pegang dong! Geli tau!" Kania menepiskan tangan Dini yang menyentuh lehernya.
"Tuh, kan! Baru gue sentuh gini aja, loe udah kegelian! Apalagi udah disentuh lainnya! Berarti fix nih! Loe udah gak virgin berarti!" sindir Dini duduk di hadapan Kania.
"Iihh, Dini! Ngomongnya itu lho!" Kania merasa malu.
"Kenapa? Mau ngelak loe? Gak usah ngelak! Gue udah tau! Lagian sah-sah aja sih, kalau loe ngelakuin itu sama tuan Akhtar! Secara kan kalian suami istri yang sah! Jadi wajar aja! Ya gak boleh itu kan, kalau belum merit tapi udah nyicil duluan! Itu baru gue bakal marah sama loe! Apalagi sampai hamil duluan! Tapi inikan, tuan Akhtar suami loe! Jadi kalau loe hamil juga ada suaminya!" jelas Dini menatap ke arah sunset.
__ADS_1
"Tapi nanti kalau hamil beneran, berarti loe udah gak virgin lagi dong waktu kontrak nikahnya udah habis?" lanjut Dini menatap Kania.
Mendengar ucapan Dini barusan, membuat wajah Kania berubah sendu.
"Ya gimana lagi, Din? Ini juga salah aku! Aku yang udah tergoda sama sentuhan dia! Aku juga gak tau, kenapa tiba-tiba kami melakukan itu! Bahkan bukan cuma sekali, Din! Tapi udah dua kalinya! Dan tadi pagi, itu secara sadar!" jawab Kania lesu memandang sunset yang mulai tenggelam.
"Jadi udah dua kali? Berarti yang pertama, loe sama sekali gak sadar ngelakuinnya? Apa tuan Akhtar yang ngejebak loe, Nia?" cecar Dini menatap Kania.
"Aku gak tau, Din! Tuan Akhtar ngejebak aku atau gak! Yang jelas saat itu, aku ngelihat tuan Akhtar juga sama kayak aku! Waktu itu pak Bima yang manggil aku minta bantuan kalau terjadi sesuatu sama tuan Akhtar. Tanpa pikir panjang juga aku ke apartemennya. Terus pak Bima ngajak aku ke kamar tuan Akhtar. Tapi pak Bima ninggalin aku katanya mau nyari bantuan lagi! Dan aku denger di dalam kamar, tuan Akhtar manggilin Bima kayak kepanasan gitu! Aku penasaran, jadi masuklah ke kamar tuan Akhtar! Dan aku gak tau kenapa, badan aku rasanya panas banget." jelas Kania menatap Dini.
Dini hanya menyimak penjelasan Kania.
"Dan kamu tau apa yang aku rasain waktu itu, Din? Di sini itu rasanya sakit kayak pengen disentuh gitu. Dan waktu aku masuk kamar tuan Akhtar, gak sengaja tabrakan sama dia. Dan tuan Akhtar udah gak pakai baju. Jadi kulit kami saling bersentuhan. Kamu tau rasanya, Din? Waktu kulit aku nyentuh dia? Itu rasanya kayak ada yang kesetrum di badanku. Dan terjadilah peristiwa itu! Bangun-bangun, badanku rasanya remuk dan sakit di sini!" jelas Kania lagi sambil menunjuk inti tubuhnya.
"Loe tau gak apa yang terjadi sama loe itu?" tanya Dini melihat Kania.
Kania menggelengkan kepalanya dengan mimik polosnya.
"Loe itu kena obat perangs*ng! Makanya badan loe rasanya panas dan loe pengen buka baju sama disentuh kan?" tebak Dini.
Kania menggangguk dengan cepat.
"Fix! Loe emang kena itu obat! Apa sebelumnya loe minum atau makan sesuatu gitu?" selidik Dini.
"Aku cuma minum jus yang dikasih pak Bima aja sih, Din!" jawab Kania.
"Nah itu dia! Berarti jus yang dikasih pak Bima emang ada obat itu! Dan loe emang sengaja dijebak!" duga Dini.
"Ya ampun! Kok pak Bima gitu ya, Din! Apa tujuannya coba?" balas Kania sedih.
"Mungkin aja pak Bima disuruh tuan Akhtar! Kan tuan Akhtar pengen banget punya anak! Jadi dia pakai cara itu!" jawab Dini dengan praduganya.
"Terus sekarang aku harus gimana, Din? Yang tadi pagi kan, aku sadar banget! Aku malu banget kalau ketemu tuan Akhtar lagi!" Kania menatap Dini dengan raut memelasnya.
"Ya biasa ajalah! Emang harus gimana? Lagian kamu juga nikmatin kan?" sindir Dini.
"Iih, Dini! Malu tau bahas itu!" Kania sangat malu dengan sahabatnya.
"Ya udah, bersikap biasa aja!" jawab Dini enteng.
__ADS_1
Keduanya pun berlanjut dengan obrolan lainnya sampai suasana berubah menjadi malam.
JANGAN LUPA KASIH LIKE DAN KOMENNYA YA!