Tempat Untuk Kembali

Tempat Untuk Kembali
tempat untuk kembali *12


__ADS_3

"Hay Nggie, gue lihat loe tadi turun dari mobil keren. Mobil siapa?" tanya Vian salah satu sahabat Anggie yang memang sudah berteman lama. Hanya Vian satu satunya sahabat Anggie yang tidak memilih untuk pergi saat mengetahui Anggie sudah tidak sekaya yang lalu.


"Gebetan baru ya. Kok nggak ngasih tau gue loe" lanjut Vian dengan menggebu gebu membombardir Anggie dengan pertanyaan pertanyaannya itu.


Anggie menatap Vian dengan tatapan terpana. Dia bener bener tidak menyangka kalau Vian akan membombardir nya dengan begitu banyak pertanyaan yang lumayan susah untuk dijawab oleh Anggie, sebenarnya pertanyaannya tidak susah, cuma vian tidak memberikan kesempatan kepada Anggie untuk menjawab pertanyaan nya itu.


"Gila loe nanyak nggak pakai titik koma. Main lanjut terus aja. Ngeri loe daripada ompol nanyak" ujar Anggie saat Vian sudah berhenti mengeluarkan pertanyaan menginterogasi Anggie.


"Hehe hehe biar sekalian loe jawab semua pertanyaan gue" ujar Vian dengan santainya.


"Emang ujian, satu soal dengn beribu jawaban" balas Anggie.


"Elo itu mah yang ngasih soal cuma satu jawabannya dua double folio timbal balik" jawab Vian.


Anggie garuk garuk kepalanya yang tidak gatal. Memang Anggie selalu memberikan soal kepada mahasiswanya hanya satu soal saja, tetapi untuk jawabannya. Wow mahasiswa akan langsung merasakan rambutnya berdiri semua saking banyaknya yang harus mereka tulis di lembar jawaban yang disediakan oleh Anggie.


"Itu kiat supaya mahasiswa nggak nyontek jawaban kawannya" jawab Anggie yang nggak mau disalahkan oleh Vian.


"Hay kenapa jadinya bahas soal ujian elo. Balik ke soal tadi, siapa pemilik mobil mewah itu" ujar Vian yang akhirnya sadar kalau Anggie sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Elo tau kan ya betapa ganasnya pemilik butik KS. Nah pria yang numpangin gue tadi pagi itu kekasih pemilik butik itu" ujar Anggie memberitahukan kepada Vian siapa orang yang telah menumpangi nya ke kampus tadi pagi.


"Hah? Vano maksud loe?" ujar Vian kaget saat mendengar siapa yang telah mengantarkan Vian ke kampus.


Anggie mengangguk meyakinkan Vian bahwasanya memang Vano yang telah mengantarkan dirinya ke kampus pagi tadi dengan mobil mewah itu.


"Loe setres gila atau gimana sih Nggie." ujar Vian yang tidak menyangka Anggie masih mau diantarkan oleh Vano ke kampus.


"Gue udah nolak Vian. Sumpah udah gue tolak. Tetapi dia maksa" jawab Anggie.

__ADS_1


Vian terdiam mendegar apa yang dikatakan oleh Anggie kepada dirinya.


"Tapi Nggie, loe kan tau apa yang terjadi saat loe diantarkan Vano ke kampus. Mama dimaki maki oleh nenek lampir itu Anggie" ujar Vian mengingatkan Anggie.


"Apa loe udah lupa?" tanya Vian.


Anggie menggeleng, Anggie masih ingat semuanya. Penghinaan yang diberikan oleh Kayla kepada Mama.


"Gue nggak akan pernah lupa dan tidak akan lupa. Tapi tadi gue udah nolak, dia tetap memaksa" jawab Anggie sekali lagi kepada Vian.


"Oh baiklah semoga besok tidak ada lagi makian yang diterima Mama. Kalau sempat ada, maka Vano akan menerima akibatnya" ujar Vian yang sebenarnya waktu kejadian pertama itu mau menurut Vano ke perusahaan untuk menceritakan apa yang telah dilakukan oleh Kayla kepada Mama Anggie. Tetapi Anggie melarang keras Vian untuk tidak melakukan hal itu. Anggie tidak ingin masalah ini menjadi besar, sehingga dia harus melarang Vian untuk melakukan hal bodoh itu.


"Loe juga ntah kenapa mash juga terobsesi kepada tu makhluk astral. Loe kan tau sendiri kalau dia sudah punya calon istri. Kenapa loe masih mencintai dia Anggie" teriak Vian dengan nada kecil karena begitu ramai orang di sekitar mereka saat ini.


"Nanti gue jawab Vian. Gue sekarang ada kelas. Gue masuk dulu. Jam segelas kita bertemu di kantin" ujar Anggie yang tidak ingin membahas masalah ini sekarang.


Anggie bisa membayangkan kalau permasalahan ini akan sangat panjang dan lebar, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk membicarakannya. Makanya Anggie memundurkan waktu untuk membahas masalah itu.


"Kalau ngomong masalah sama elo nggak ada yang sebentar Ibuk Vian, makanya gue undur ke jam makan siang aja" kata Anggie menjelaskan alasannya kepada Vian kenapa dia memilih untuk memundurkan rencana pembicaraan mereka berdua.


"Oh oke, kita ketemuan jam makan siang saja" jawab Vian yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Anggie untuk menunda waktu mereka mengobrol membahas tentang permasalahan yang sedang mereka bahas itu.


Anggie dan Vian kemudian berpisah, Anggie akan mengajar di gedung E sedangkan Vian akan mengajar di gedung A.


******************************************


"Huft itu makhluk memang nggak pernah tepat waktu. Katanya jam makan siang. Ini udah lewat lima menit dari janji temu seharusnya" ujar Vian saat melihat jam tangannya yang memang sudah lewat lima menit dari janji temu mereka berdua.


Anggie sebenarnya sadar dan tahu kalau sekarang waktunya untuk bertemu dengan Vian. Tetapi karena dia harus melakukan bimbingan dengan dosen pembimbing tesisnya, sehingga membuat Anggie harus mundur bertemu dengan Vian.

__ADS_1


Setelah selesai melakukan bimbingan dengan dosen pembimbing tesisnya. Anggie berjalan cepat menuju kantin kampus untuk bertemu dengan Vian.


"Sorry gue telat" ujar Anggie saat bertemu dengan Vian.


Anggie masih ngos ngosan, karena separo berlari untuk bertemu dengan Vian. Anggie sangat hafal bagaimana sikap dan apa yang akan dilakukan oleh Vian, saat dirinya terlambat datang menemui Vian.


"Dari mana loe? Jalan terban lagi?" tanya Vian sambil menyindir Anggie.


"Bukan jalan yang terban tetapi gue harus cari dosen pembimbing dulu" jawab Anggie sambil duduk di depan Vian.


"Loe mau lanjut tesis?" tanya Vian.


"Yup, gue mau lanjut tesis. Gue harus cepat tamat" jawab Anggie.


"Keren. Gue akan bantu elo supaya elo bisa cepat wisuda" kata Vian yang berjanji akan membantu Anggie untuk bisa menyelesaikan tesisnya dalam waktu cepat.


"Makasi. Loe emang sahabat gue yang terbaik dan selalu membantu gue" kata Anggie sambil memberikan dua jempolnya untuk Vian.


"Ada maunya gue di bilang sahabat terbaik. Pas nggak ada maunya gue disuruh nunggu lama lama" ujar Vian mengomentari kelakuan Anggie yang tadi membiarkan Vian menunggu dirinya.


"Kan gue udah minta maaf ke elo tadi" lanjut Anggie


"Loe jangan gitu dong. Gue kan udah minta maaf" lanjut Anggie sambil melihat ke arah Vian.


Anggie menatap ke arah Vian. Vian tersenyum ke arah Anggie.


"Gue udah maafin elo. Gue nggak marah sama elo. Tapi yang gue heranin kok bisa bisanya ya loe telatnya pake lama" lanjut Vian yang nggak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Anggie.


"Lah yang namanya bimbingan tesis ya lama lah" lanjut Anggie.

__ADS_1


"hem ini nggak akan kelar kalau masih diributkan. Mari kita lanjutkan membahas yang tadi " kata Vian


__ADS_2