Tempat Untuk Kembali

Tempat Untuk Kembali
Tempat Untuk Kembali *37


__ADS_3

Anggie mengantarkan Mama ke kursi tempat Mama duduk tadi. Setelah itu dia kembali ke tempat duduknya tadi. Anggie dan Mama akan ikut kelanjutan rangkaian acara wisuda yang masih lumayan panjang.


"Makasi" ujar Vina sambil tersenyum ke arah Anggie.


"Sama sama Vin. Makasi juga sudah membantu gue selama ini. Gue sangat bahagia punya sahabat seperti loe" Rona kebahagiaan sangat terlihat jelas di wajah Anggie saat mengucapkan terimakasih kepada sahabatnya itu. Sahabat terbaik yang dimilikinya saat ini.


"Anggie, perasaan dari tadi Tuan Sanjaya melihat loe terus" ujar Vina yang dengan terang terangan menatap ke arah Tuan Sanjaya.


Vina sama sekali tidak takut dengan Tuan itu. Kedudukan keluarga besarnya lebih tinggi dari pada Tuan Sanjaya. Apalagi dengan keadaan seperti sekarang ini. Keluarga Sanjaya tidak ada apa apanya dibandingkan keluarga Soepomo.


"Biarkan saja. Lagian ngapain loe nengokin dia dari tadi?" Anggie memberikan kode kepada Vina


"Sengaja. Gue ingin lihat apa dia menyesal atau bagaimana saat tau kamu menjadi wisudawan terbaik, di tambah lagi saat kamu memberikan sambutan yang gue sangat yakin, dia merasa sekali di bagian bagian akhir kata kata yang loe katakan tadi" ujar Vina mengomentari apa yang dilihatnya saat dia menatap ke arah Tuan Sanjaya.


"Haha haha haha. Gue memang sengaja melakukan itu. Gue ingin lihat dia berani dengan gue sampai mana. Apalagi sekarang dia tau kalau gue jadi dosen muda di sini. Gue harap dia sedikit mengusik kenyamanan gue" jawab Anggie sambil melirik dengan tatapan tidak peduli kepada pria yang di depan sana, yang suda menghancurkan hidupnya dan juga hidup mamanya.


"Tugas loe sekarang tunjukkan kalau loe mampu" kata Vina lagi.


"Gue akan selalu mendampingi loe. Loe jangan cemas akan hal itu" Vina meyakinkan Anggie kalau Anggie pasti mampu sukses tanpa dukungan dari keluarga Sanjaya.


"Loe harus bantu gue" kata Anggie lagi


"Akan selalu gue bantu" jawab Vina dengan penuh keyakinan.


Akhirnya tidak terasa acara wisuda itu telah selesai. Anggi, Vina dan Mama keluar dari dalam ruangan setelah semua anggota senat dan tamu undangan meninggalkan aula tersebut. Beberapa rekan rekan Anggie yang belum sempat memberikan selamat kepada dirinya, langsung menyerbu Anggie dan mengucapkan selamat atas keberhasilan Anggie menjadi wisudawan terbaik sekaligus memberikan selamat karena berhasil menjadi dosen termuda di Universitas itu.


"Mama, kita foto dulu Ma. Kapan lagi kita foto foto berdua pakai baju wisuda." ujar Anggie mengajak Mama untuk berfoto dengan dirinya.


"Bener juga ma kapan lagi. Doktor belum tentu juga Anggie mau lanjut" Vina mendukung Anggie untuk berfoto dengan Mama.


"Op jangan salah. Mama udah dandan habis habisan ya memang harus berfoto. kalau tidak ngapain juga Mama harus dandan cantik cantik gini. mubazir aja" jawab Mama dengan gaya khasnya itu.


Anggi dan Mama mengambil beberapa foto berdua. Bahkan ada mereka foto bertiga dengan Vina. Terkadang Mama hanya berfoto berdua dengan Vina saja.


Senyuman kasih sayang dan kebahagiaan serta kebanggaan tidak pernah lepas dari Mama dan Anggie. Mereka benar benar menikmati hari penuh kebahagiaan dan juga penuh rasa syukur itu.

__ADS_1


"Sayang, makasih udah ngasih Mama kado paling indah" kata Mama sambil memeluk Anggie.


"Makasih juga udah nemani Anggie berjuang Ma" jawab Anggie yang bahagia dengan semua yang dimilikinya sekarang. Walaupun dalam keterbatasan tetapi Anggie masih memiliki Mama yang selalu menguatkan dirinya untuk kembali bangkit menjadi Anggie yang kuat.


Seorang pria menatap ke arah Anggie dan Mama. Pria itu tidak terasa meneteskan air matanya. Sebuah senyuman getir terpahat di bibir pria itu. Sebua senyuman penyesalan juga tergambar di sana. Pria itu tidak bisa lagi menutupi apa yang dirasakan oleh dirinya sekarang ini. Iba hati sudah tentu, sedih apalagi. Tapi apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur, maka pria itu hanya perlu memberi garam sedikit atau membuatnya menjadi lontong.


"Kenapa?" tanya Tuan Wijaya saat melihat Tuan Sanjaya yang menatap ke arah anak kandung dan juga mantan istrinya itu.


Tatapan Tuan Sanjaya sangatlah nanar, seperti seseorang yang tidak memiliki gairah untuk hidup lagi. Tuan Sanjaya yang kaget di sapa oleh Tuan Wijaya berusaha untuk menormalkan pikirannya kembali. Dia melihat ke arah Tuan Wijaya.


"Mereka sangat bahagia" ujar Tuan Sanjaya mengatakan apa yang sekarang sedang dilihat dan dirasakannya.


"Ya mereka memang sudah selayaknya bahagia" jawab Tuan Wijaya yang menemani Tuan Sanjaya melihat mantan keluarganya itu tertawa bahagia merayakan hari kebahagiaan Anggie.


"mereka bahagia walaupun tanpa aku di sana" lanjut Tuan Sanjaya dengan getir.


Tuan Wijaya hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Tuan saja ya. Dia sama sekali tidak berkomentar. Tuan Wijaya sekarang berperan sebagai tong sampah dari Tuan Sanjaya. Tuan Sanjaya sedang butuh tempat untuk bercerita, mengingat apa yang terjadi sekarang di depan matanya sendiri.


Kedua Tuan besar yang super kaya itu duduk di sebuah kursi taman. Mereka sama sama melihat ke arah Anggie, Mama dan Vina yang saling tertawa dan juga menebar senyuman mereka ke siapapun yang menyapa mereka bertiga. Vina yang walaupun tidak hadir Papi dan Maminya tetapi tetap bahagia juga karena Mama dan Anggie sudah dianggap sebagai keluarga sendiri.


Tuan Sanjaya menggeleng lemah.


"Tidak. Saya tau berapa sakitnya mereka saat ini. Saya tidak mau merusak kebahagiaan mereka berdua" jawab Tuan Sanjaya dengan lirih dan nampak sangat terpukul.


"Apa kamu yakin mereka akan marah saat kamu sapa? Kamu kan belum mencobanya. Apa salahnya kamu coba, mana tau mereka sudah melupakan semua yang terjadi pada masa lalu" lanjut Tuan Wijaya memberikan semangat kepada Tuan Sanjaya agar mau mencoba menyapa keluarganya itu.


"Aku sudah sangat yakin. Kamu dengar sendirikan apa yang dikatakan oleh Anggie tadi saat memberikan kata sambutan" kata Tuan Sanjaya yang sudah pesimis kalau keluarganya pasti tidak akan mau di sapanya lagi.


"Ya aku mendengarnya"


"Aku tau bagaimana kecewanya Anggie sehingga dia bisa mengatakan hal itu di depan semua orang" kata Tuan Wijaya yang tidak bisa memungkiri kalau Anggie pasti marah kepada Tuan Sanjaya atas apa yang dilakukan oleh dirinya.


"Padahal kita sama sama tau kalau Anggie adalah anak yang baik. Anak yang nggak neko neko dan menggunakan kekayaan yang kamu miliki untuk menyombongkan dirinya" kata Tuan Wijaya memuji sifat seorang Anggie dengan sangat penuh kebanggaan di depan Tuan Sanjaya.


"makanya layak dia kecewa dengan semua yang terjadi dalam hidupnya" lanjut Tuan Wijaya lagi.

__ADS_1


Ucapan Tuan Wijaya membuat Tuan Sanjaya semakin bersedih dan menyesal.


"Ya sudah sangat pasti. Aku merasakan betul bagaimana kecewanya dia. Bagaimana capeknya dia" Tuan Sanjaya mengakui semuanya bagaimana Anggie harus berjuang.


"Apalagi saat mendengar cerita dari pembimbingnya, dia harus kerja paruh waktu jadi pelayan, belum lagi jadi dosen. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana beratnya kehidupan yang harus dilaluinya di luar sana. Anak perempuan itu harus kerja keras" lanjut Tuan Sanjaya yang menceritakan apa yang diceritakan oleh pembimbing dan juga oenasehat akademik kepada dirinya tadi saat Tuan Sanjaya bertanya tentang Anggie.


"Malahan saking marahnya dia dengan saya, dia sampai menyingkat nama saya di belakang namanya menjadi Anggie Sukma S." lanjut Tuan Sanjaya bercerita.


"Bahkan saat orang kampus menanyakan siapa nama ayahnya. Anggie menjawab dari kecil dia tidak mengenal Ayahnya, sehingga hanya nama mamanya saja yang ditulisnya di kampus"


"Sebegitu bencinya Anggie sama saya. Makanya saya tidak mampu untuk menyapanya sekarang" kata Tuan Sanjaya menjelaskan panjang lebar kepada Tuan Wijaya atas informasi yang di dapatnya di kampus tadi.


Tuan Wijaya terdiam mendengarkan cerita dari Tuan Sanjaya. Sebenarnya masih banyak yang ingin ditanyakan oleh Tuan Wijaya kepada sahabat sekaligus rekan bisnisnya. Tetapi, Tuan Wijaya takut kalau pertanyaan dari dirinya akan membuka luka lama Tuan Sanjaya lagi.


"Sebelumnya saya minta maaf. Apa kamu pernah merasa menyesal setelah melakukan hal seperti ini kepada mereka?" tanya Tuan Wijaya dengan sangat hati hati. Tuan Wijaya tidak ingin sahabatnya itu tersinggung karena pertanyaan dari dirinya sangatlah pertanyaan pribadi.


"Sebelum saya melihat dan mendengar sendiri bagaimana perjuangan Anggie darah daging saya di luar sana, saya tidak pernah menyesal karena mereka sendiri yang memilih untuk keluar dari mansion" kata Tuan Sanjaya dengan sejujurnya.


Apa yang dikatakan oleh Tuan Sanjaya membuat Tuan Wijaya sedikit marah dan murka. 'Orang tua apa yang sama sekali tidak rusuh dan takut anak gadisnya keluar dari rumah. Benar benar orang tua yang egois' ujar Tuan Wijaya dalam hatinya.


"Tapi semenjak tau kehidupan Anggie di luar sana sangat keras. Aku sangat menyesal." lanjut Tuan Sanjaya sambil mengusap air matanya yang sedikit jatuh membasahi pipinya yang sudah tirus itu.


"Aku tidak menyangka Anggie yang selama ini tau ada semuanya harus menguras tenaga yang dimilikinya untuk biaya hidup dia dan mamanya, terus biaya kuliah yang tidak sedikit. Aku benar benar menyesal. Sangat sangat menyesal sekali" kata Tuan Sanjaya sambil menjambak rambutnya.


Hatinya benar benar hancur sekarang. Akibat ulah dan keegoisannya selama ini, dia membuat putri kandungnya menjadi susah dan harus berjuang keras untuk biaya hidup dan juga biaya mencapai cita citanya.


"Aku ayah yang tidak berguna" kata Tuan Sanjaya sambil menjambak jambak rambutnya.


Tuan Sanjaya sudah tidak bisa lagi mengendalikan amarahnya dan juga rasa penyesalannya.


"Aku sudah membuat putri kecilku menderita. Aku Ayah yang kurang ajar. Ayah yang tidak memiliki perasaan" lanjut Tuan Sanjaya memaki maki dirinya sendiri.


"Apa aku layah dipanggil ayah? Ayah seperti apa yang membiarkan anaknya, putrinya berjuang di luar sana sendirian, sedangkan dia bergelimang harta" lanjut tuan Sanjaya masih dengan menyesali keputusan yang telah dibuat oleh dirinya.


Kelakuan Tuan Sanjaya yang seperti ini menjadi pusat perhatian dari orang orang yang lewat. Tetapi Tuan Sanjaya dan Tuan Wijaya sama sekali tidak peduli. Mereka menganggap orang orang itu tidak ada sama sekali.

__ADS_1


Anggi dan Mama yang mendengar bisikan orang orang melihat ke arah Tuan sanjaya yang terlihat sedang dalam kondisi memprihatinkan. Anggie dan Mama saling memandang satu dengan yang lainnya. Jiwa seorang anak dan mantan istri terpanggil untuk melakukan sesuatu.


__ADS_2