
"Kita langsung ke ruang kerja Papi saja bagaimana?" kata Papi mengajak Vano untuk langsung ke ruang kerja mereka
"Oke Pi" jawab Vano yang setuju mereka masuk ke ruang kerja Papi sekarang dari pada nanti siap mereka bersih bersih
Ayah dan Anak itu berputar arah. Mereka menuju ruang kerja Tuan Wijaya yang letaknya di lantai satu mansion besar tersebut. Mereka akan membicarakan suatu hal yang menurut mereka sangat penting untuk dibahas saat ini.
"Duduk Van" kata Ayah meminta Vano untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruang kerja itu.
Vano duduk di samping ayah. Dia melepaskan jasnya dan merenggangkan dasi yang dipakainya dari pagi tadi sampai sekarang. Leher Vano sudah serasa seperti di cekik saking lamanya Vano memakai dasi.
"Bisa Ayah lihat video tadi?" tanya Ayah.
Vano memberikan video yang ingin ditonton oleh Ayah. Ayah memutar video tersebut. Dia melihat bagaimana Anggie yang hanya diam saja dan sama sekali tidak menggubris apa yang dikatakan oleh orang yang ada di dalam mobil itu.
"Vano, Ayah mau tanya sama kamu, ayah minta kamu jawab dengan jujur" kata Ayah sambil melihat ke wajah Vano.
"Mau tanya apa ayah?" tanya Vano yang penasaran dengan apa yang mau ditanyakan oleh Ayahnya, sampai sampai ayah mengajak untuk berbicara empat mata di ruang kerja pribadi.
"Apa kamu mencintai Anggie?" tanya Ayah langsung saja ke inti pertanyaan dan tidak memberikan pengantar terlebih dahulu.
"Sama sekali tidak Ayah. Aku hanya mencintai Kayla. Anggie hanya sebatas sahabat. Anggie juga tau akan hal itu" kata Vano menjelaskan kepada Ayah kalau dia tidak memiliki rasa apapun kepada Anggie.
"Kenapa Ayah menanyakan hal ini ayah?" tanya Vano dengan nada heran dengan sikap Ayah kali ini.
"Ayah sangat jarang bertanya hal pribadi seperti ini, makanya aku menjadi heran" lanjut Vano bertanya kepada Ayah.
"Maaf ya Vano. Ayah lebih suka dengan sifat dan sikap Anggie. Ntah kenapa Ayah merasa sikap yang ditampilkan oleh Kayla bukanlah sifat dan sikap dia sebenarnya" kata Ayah menjelaskan kepada Vano.
__ADS_1
"Maaf Ayah, kali ini Vano tidak setuju dengan Ayah. Vano yang menjalani hubungan dengan Kayla. Selama ini Kayla tidak pernah berbuat yang aneh aneh. Kayla berbuat sesuai dengan aturan aturan dan norma norma yang ada Ayah" kata Vano dengan nada yang sudah lumayan tinggi
"Maaf Ayah, Vano lelah. Vano mau istirahat dulu" ujar Vano yang lebih memilih menghindari percakapan dengan Ayah.
Vano berjalan meninggalkan Ayah sendirian di ruang kerjanya. Sedangkan Ayah menatap kepergian anak laki lakinya satu satunya itu yang akan menjadi penerus kerajaan bisnis Wijaya.
"Vano Vano. Kamu sudah dibutakan oleh cinta dan kebaikan semu dari seorang Kayla nak" kata Ayah yang menatap sedih punggung pria tampan tersebut.
"Maafkan Ayah karena tidak bisa berbuat apa apa untuk kamu ke depannya. Ayah sudah memberitahukan apa yang Ayah ketahui tentang Kayla, tetapi kamu sama sekali tidak percaya dengan Ayah" lanjut Ayah dengan nada sedih.
Sebenarnya Ayah mengeluarkan ponsel miliknya. Dia menonton ulang kembali CCTV yang lengkap dari kejadian yang menimpa Anggi. Ayah mendengar cacian, hinaan dan makian dari Nyonya Sanjaya dan Kayla kepada Anggie. Malahan di video yang diterima Ayah, sangat nampak sekali wajah Kayla dan Nyonya Sanjaya sedang melakukan tindakan yang tidak terpuji kepada Anggie. Tetapi karena Vano marah kepada Ayah, membuat Ayah membatalkan niatnya untuk memperlihatkan video itu kepada Vano. Ayah lebih memilih menyimpan sendiri bukti itu beserta dengan bukti bukti yang lainnya.
"Vano, Mami, kalian berdua pasti akan menyesal telah salah percaya kepada orang" kata Papi dengan nada menyesal karena tidak bisa mengubah pemikiran istri dan anaknya.
Vano berdiri di balkon kamarnya. Pemandangan yang indah tersaji di depan Vano. Lampu lampu bangunan di perkotaan nampak sangat jelas dari kamar Vano.
"Kenapa Papi mengatakan aku akan menyesal ya?" kata Vano yang masih mengingat dengan jelas apa yang dikatakan oleh Papi saat di ruang kerja tadi.
"Aku lebih mengenal Kayla. Tidak mungkin Kayla dan kedua orang tuanya berbohong kepada aku tentang Anggie" lanjut Vano lagi.
Vano terdiam cukup lama sekali. Vano bergelut dengan pemikirannya sendiri. Dia tidak tau harus memegang perkataan siapa untuk sekarang.
"Sikap dan perilaku Anggie ke aku tidak berubah. Tetapi kenapa dia marah kepada Kayla dan Maminya serta Papi kandungnya sendiri" lanjut Vano lagi.
"Padahal menurut Kayla, Papi Sanjaya sudah berkali kali menawarka bantuannya untuk menolong uang kuliah dan juga kehidupan Anggie dan Maminya. Tetapi Anggie menolak dengan perkataan kasar" lanjut Vano lagi.
Vano mengeluarkan sebatang ro**k untuk dihisap nya. Vano selalu seperti itu. Saat dirinya sedang banyak pikiran, maka Vano akan mero**k untuk menormalkan pikirannya kembali.
__ADS_1
"Aku lebih percaya kepada Kayla. Aku sudah sangat lama tidak berjumpa Anggie. Bisa jadi Anggie menipu aku dengan sikap palsunya. Sedangkan Kayla, semenjak aku mengenal dia sampai sekarang aku menjadi kekasihnya dan juga akan menjadi tunangannya, Kayla tidak pernah bersikap pura pura. Dia selalu bersikap seperti itu"
Vano sudah memutuskan akan mempercayai siapa sekarang. Dia sudah tidak akan lagi terpengaruh oleh tipu muslihat gaya dan sikap Anggie. Dia akan selalu membela Kayla calon istrinya itu.
Vano mengeluarkan ponselnya. Dia melihat ada sebuah pesan chat masuk ke dalam ponsel pintarnya itu
"Kenapa kamu nggak di sini? Kamu kecewa aku sakit ya?" Vano membaca dengan nyaring pesan chat yang dikirimkan oleh Kayla kepada dirinya.
'Sama sekali tidak sayang. Aku hanya beristirahat saja di rumah. Rumah sakit tidak mengizinkan yang menunggui pasien terlalu rame' Vano membalas pesan chat dari Kayla sambil tersenyum bahagia. Calon istrinya sudah kembali sehat seperti semula.
'Besok kamu ke sini kan?' Kayla mengirimkan pesan chat balasan kepada Vano.
'Ya, besok aku akan datang setelah meeting' balas Vano.
Kayla tidak langsung membalas pesan chat dari Vano. Vano terus melihat layar ponsnya. Tidak ada tanda tanda Kayla sedang mengetik pesan di sana.
'Kamu mah sayang?' Vano mengirim pesan chat berikutnya kepada Kayla.
"Tidak sayang. Tadi aku ke kamar mandi' balas Kayla.
'Kamu ke sini nya siap kerja aja ya. Aku ada mami yang nemenin. Kamu harus kerja, kamu nggak boleh kecewakan Papi dan keluarga kamu' bunyi pesan chat berikutnya dari Kayla.
Vano tersenyum bahagia membaca pesan chat yang dikirimkan oleh Kayla.
" Walaupun kamu sedang sakit, tetapi kamu tetap memikirkan keluarga aku sayang. Makasi banget" ujar Vano sambil tersenyum melihat ponselnya.
'Tidur gih. Aku juga mau istirahat. Sudah malam' pesan chat berikutnya dikirim oleh Kayla sebagai tanda memberikan perhatian kepada Vano.
__ADS_1
'Oke. Cepat sembuh sayang' balas Vano.
Vano memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Dia sudah tepat memilih siapa dalam hidupnya. Dia tidak salah memilih dan tidak boleh ragu lagi. Dia sudah menetapkan hatinya untuk Kayla