
Kelakuan Tuan Sanjaya yang seperti ini menjadi pusat perhatian dari orang orang yang lewat. Tetapi Tuan Sanjaya dan Tuan Wijaya sama sekali tidak peduli. Mereka menganggap orang orang itu tidak ada sama sekali.
Anggi dan Mama yang mendengar bisikan orang orang melihat ke arah Tuan sanjaya yang terlihat sedang dalam kondisi memprihatinkan. Anggie dan Mama saling memandang satu dengan yang lainnya. Jiwa seorang anak dan mantan istri terpanggil untuk melakukan sesuatu.
"Mama, apa kita perlu ke sana?" tanya Anggie saat melihat Mama yang masih menatap dengan sangat fokus ke arah Tuan sanjaya dan juga Tuan wijaya.
Mama tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Anggie. Kakinya membawa dirinya menuju suatu tempat. Mama berjalan lurus tanpa memperdulikan panggilan dari Anggie.
"Mama. Tunggu Anggie Ma" Panggil Anggie dengan nada yang sedikit lebih tinggi.
Mama masih tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Anggie. Mama masih terus berjalan menuju suatu tempat yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Mama berhenti tepat di depan seseorang yang sudah menyakiti hatinya. Seseorang yang sudah menaruh luka yang sangat dalam di hati Mama. Luka yang tidak akan ada yang bisa mengobati. Luka yang memang sudah sembuh tapi berbekas cukup nyata.
"Maaf Tuan sanjaya, sebaiknya anda langsung pulang dan beristirahat di rumah" kata Mama saat sudah berdiri tepat di depan seseorang yang sangat dicintainya dulu.
Tuan Sanjaya kaget mendengar mantan istrinya berbicara dengan dirinya. Mantan istri yang sudah disakiti hatinya, dengan sebuah pengkhiatan yang membuat rumah tangga mereka menjadi hancur lebur seperti sekarang.
"Maafkan aku" ujar Tuan Sanjaya yang sekarang sudah dalam posisi berdiri.
Tuan Sanjaya langsung berdiri saat mantan istrinya itu berbicara kepada dirinya. Dia menatap ke wajah wanita yang sangat dicintainya itu.
"Simpan saja kata maaf itu Tuan. Saya tidak membutuhkannya" kata Mama lagi.
Anggie sudah berada di sebelah Mama begitu juga dengan Vina. Mereka berdua menjaga Mama di sebelah kiri dan kanan.
Tuan Sanjaya menatap ke arah putri tercintanya itu. Putri yang sudah membuat bangga dirinya. Rasa bangga itu berbalut duka yang sangat dalam atas apa yang telah dilakukannya.
"Anggie maafkan Daddy, nak" ujar Tuan Sanjaya kepada Anggie
Anggie sama sekali tidak merespon permintaan maaf dari Tuan Sanjaya. Dia hanya menatap saja ke arah Tuan Sanjaya.
"Tuan sekali lagi saya katakan. Tuan sebaiknya pulang dan beristirahat tidak perlu duduk di sini lama lama. Kami tidak perlu Tuan temui lagi" kata Mama.
"Satu lagi Tuan. Hubungan kita sudah habis. Jadi, tolong jangan anggap Tuan masih kenal dengan kami. Kasta kita sangat berbeda. Sangat berbeda jauh." lanjut Mama mengatakan apa yang dirasakan oleh dirinya sekarang ini.
__ADS_1
"Satu lagi. Tolong katakan kepada istri dan putri anda, jangan pernah ganggu lagi putri saya. Sudah cukup semua penderitaan yang kalian buat untuk kami berdua. Kami hanya ingin hidup tenang berdua saja. Tolong jangan ganggu kami" lanjut Mama dengan nada memohon kepada Tuan Sanjaya.
Tuan Wijaya tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Mama. Dia teringat akan sebuah video yang didapatkannya.
"Maaf Nyonya, apakah yang Anda katakan tadi ada hubungannya dengan video yang saya dapatkan?" tanya Tuan Wijaya yang penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Mama kepada Tuan Sanjaya.
Tuan Wijaya memperlihatkan video yang didapatkan oleh dirinya melalui orang kepercayaannya yang selalu mengikuti kegiatan Anggie selama ini.
Mama melihat video itu. Begitu juga dengan Anggie. Anggie langsung menutup mulutnya tidak percaya bahwasanya saat kejadian memalikan itu ada orang yang merekamnya.
"Ya salah satunya ini. Saya dan anak saya tidak pernah mengganggu kehidupan istri dan anak anda. Malahan kehidupan kami, kami serahkan sepenuhnya ke tangan mereka berdua. Apa bagi mereka masih belum cukup dengan menjadi keluarga Sanjaya saja, sehingga harus mengganggu kehidupan kami berdua" lanjut Mama lagi.
Mama benar benar emosi sekarang. Dia mengatakan semua yang ada di dalam pikirannya saat ini. Mama benar benar muak dengan semuanya. Mama muak dengan sikap Nyonya dan Nona Sanjaya yang selalu menganggu Anggie saat mereka tidak sengaja bertemu.
"Maaf tuan, dari mana tuan mendapatkan video itu?" tanya Anggie yang mulai cemas kalau kehidupannya sedang di awasi oleh orang lain selama ini
"Saya dapatkan dari orang yang mengirim Anggie. Semua orang sudah mendapatkan video ini. Malahan Vano juga sudah mendapatkannya" jawab Tuan Wijaya memberitahukan kenyataan tentang masalah video itu.
"Huf kenapa bisa ada yang rekam" ujar Anggie yang sedikit mulai panik.
"Vin, gimana gue nggak akan panik. Kalau video itu sampai ke kampus, maka otomatis gue akan diberhentikan untuk jadi dosen di sini Vin" kata Anggie yang pikirannya sudah kemana mana dalam menyikapi video yang tersebar itu.
"Itu tidak akan terjadi Anggie" jawab Tuan Sanjaya dengan sangat pasti
Anggie menatap ke arah Tuan Sanjaya
"Saya tidak mau mempunyai hutang budi Tuan" jawab Anggie lagi.
Anggie tidak ingin dirinya dan Mama semakin diinjak injak oleh orang kaya kalau mereka semua tau Anggie di tolong oleh Tuan Wijaya untuk tetap bertahan mengajar di Universitas itu setelah kasus video yang tersebar.
"Anggie itu namanya bukan hutang budi. Lagian di dalam video itu nampak jelas sekali kamu yang mereka kasari. Bukan kamu yang mengasari mereka. Jadi, tidak layak kampus menghukum kamu" kata Tuan wijaya menjelaskan kepada Anggie.
"Memang benar Tuan. Tapi, kalau bagi orang yang berduit dan memiliki kekuasaan, tidak ada yang tidak mungkin. Semua akan menjadi mungkin" jawab Anggie sambil melihat ke arah Tuan Sanjaya.
Anggie kemudian menatap ke arah Tuan Sanjaya. Dia menatap tajam ayah kandungnya itu.
__ADS_1
"Satu hal Tuan. Kalau sampai saya keluar dari kampus ini, maka saya akan pastikan kepada Anda Tuan, dengan tangan saya sendiri, saya akan membuat putri dan juga istri anda menderita." kata Anggie mengancam Tuan Sanjaya.
"Manusia punya batas kesabaran, begitu juga dengan saya. Mereka bermain api dengan saya, maka siap siap mereka terbakar. Bagi saya tidak ada yang tidak mungkin. Semuanya mungkin." lanjut Anggie lagi.
"Tolong camkan itu di otak cerdas Anda Tuan"
"Ayo ma kita pulang. Sudah cukup rasanya kita di sini" kata Anggie mengajak Mama untuk meninggalkan tempat itu. Dada Anggie sudah sangat sesak sekarang, dia ingin menghirup udara bebas di luar sana.
Tuan Sanjaya dan Tuan Wijaya melihat kepergian Anggi, Mama dan juga Vina. Mereka menatap nanar ke arah ketiga orang itu.
"Mereka, bener bener membenci saya. Tidak satupun kata kata yang dikeluarkan oleh Anggie dan mamanya yang baik. Semuanya mengandung kebencian" ujar Tuan Sanjaya
"Tapi saya Terima semua itu" lanjut Tuan Sanjaya lagi menerima semua perkataan yang dikatakan oleh Mama dan Anggie.
...****************...
"Vina, mampir dulu yuk. Mama sudah masak menu spesial untuk kalian berdua. Menu yang nggak pernah mama masak sebelumnya" kata mama mengajak Vina untuk ikut masuk ke dalam rumah.
"Sip Ma. Vina parkir mobil dulu" jawab Vina yang kemudian memarkir mobilnya di tempat biasa dia parkir saat ke rumah Anggie.
Mama, Anggie dan Vina kemudian masuk ke dalam rumah.
"Mama masak tumpeng?" tanya Anggie yang kaget saat melihat sebuah tumpeng sudah berada di meja ruang tamu. Tumpeng yang lengkap dengan ayam kecap, semur tahu dan tempe, orek tempe, telur balado dan urap.
"Iya sayang. Makanya mama tadi agak telat sampe karena harus menyelesaikan masak tumpengnya dulu. Maafkan Mama ya" jawab Mama sambil tersenyum bahagia. Mama sudah berhasil membuat bahagia Anggie.
"terimakasih Ma. Anggie sayang sama mama" ujar Anggie memeluk mama.
"Mama juga sayang kamu Nak. Kamu adalah harta Mama satu satunya" lanjut Mama sambil membalas memeluk Anggie dengan sangat erat.
Vina yang melihat semua itu tersenyum bahagia. Air mata kebahagiaan menetes di pipinya yang tirus. Vina sangat bahagia saat melihat sahabat dan mamanya itu sama sama bahagia.
"Sudah pelukannya. Mari kita makan. Aku udah lapar" ujar Vina lagi yang sudah tidak tahan melihat nasi tumpeng yang tidak besar itu.
Mama kemudian mengambilkan nasi tumpeng untuk kedua putrinya itu. Setelah itu mereka bertiga menikmati nasi tumpeng yang dibuat oleh Mama. Mereka bertiga larut dalam obrolan hangat seputar bagaimana mereka bisa menyelesaikan kuliah dalam waktu yang sangat cepat. Mama mendengarkan semua cerita kedua putrinya itu. Mama merasa bahagia sekali dengan pencapaian kedua putrinya
__ADS_1