Tempat Untuk Kembali

Tempat Untuk Kembali
Tempat Untuk Kembali *48


__ADS_3

Vina melihat Anggie yang sama sekali tidak berselera untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Anggie hanya memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya dan mengunyah nya dengan sangat lama sekali. Setelah itu Anggie pasti akan termenung dalam waktu yang cukup lama, sambil mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya. Vina memperhatikan semua itu. Vina sangat sedih melihat keadaan sahabatnya sekarang ini. Anggie yang ceria sekarang berubah menjadi Anggie yang sama sekali tidak memiliki gairah hidup lagi.


"Hay, nggak boleh makan sambil bermenung gitu, bisa ilang makanan loe di maling tuyul" ucap Vina kepada sahabatnya yang sudah termenung sambil makan. Anggie terlihat benar benar hancur sekarang ini.


Anggie tergagap saat di panggil oleh Vina. Anggie benar benar terkejut dipanggil sahabatnya itu.


"Maaf" ujar Anggie sambil mengusap air matanya yang menganak sungai di ujung mata Anggie.


"Tidak apa apa" ujar Vina lagi sambil tersenyum.


Vina maklum kenapa Anggie makan sangat lambat sekali. Tetapi hal itu tidak bisa dibiarkan. Bisa bisa nanti Anggie yang ikut masuk dan di rawat di rumah sakit karena kelelahan dan kurang asupan gizi.


Anggie masih berusaha untuk menikmati menu makan malam yang dibeli oleh Vina yang sangat banyak ragamnya itu. Anggie mencoba mengambil kentang goreng. Tetapi rasa kentang itu terasa berbeda oleh Anggie dengan kentang goreng yang biasa di makannya.


"Apa rasanya berbeda?" tanya Vina.


Anggie mengangguk, mengiyakan perkataan dari Vina kalau kentang goreng itu berbeda rasanya dengan yang biasa mereka makan selama ini.


"Sebenarnya rasa kentang goreng itu tidaklah berbeda, masih saja sama dengan kentang goreng yang biasa kita makan selama ini. Tapi yang membuat berbeda adalah kondisi kita saat menikmati tentang goreng itu" ujar Vina menjelaskan kepada Anggie kenapa rasa kentang goreng yang mereka nikmati sekarang ini jatuhnya berbeda dengan kentang goreng yang biasa mereka makan.


"Huft bisa jadi" jawab Anggie.


Anggie kemudian mengaduk aduk nasi goreng miliknya. Kevin yang melihat apa yang dilakukan oleh Anggie dari tadi akhirnya kehabisan kesabaran. Dia beranjak dari posisi duduknya yang sedang bersama Angga.


"Loe mau kemana?" seru Angga saat melihat Kevin yang sudah berjalan meninggalkan dirinya seorang diri di kursi itu.


Kevin sama sekali tidak merespon pertanyaan dari Angga. Dia tetap berjalan dengan acuhnya menuju kursi yang menjadi tujuannya.


Kevin berdiri dengan menjulang tinggi di hadapan Anggie dan Vina. Kevin berdiri sambil bertolak pinggang seperti seseorang yang sudah menahan emosinya dari tadi.


"Anggie, kamu mau saya bawa ke ruangan saya untuk di infus atau kamu akan makan nasi goreng milik kamu itu?" ujar Kevin dengan nada tinggi dan emosi.

__ADS_1


Angga yang melihat perubahan sikap dari Kevin menjadi bertanya tanya apa yang terjadi dengan saudara kembarnya itu. Setau Angga selama ini, Kevin tidak pernah se perhatian ini kepada keluarga pasien. Akan tetapi kali ini sungguh terbalik sekali, Kevin sangat perhatian sekali dengan Vina. Ntah apa yang sedang terjadi sekarang ini.


Anggie dan Vina yang mendengar perkataan dari Kevin langsung kaget luar biasa. Mereka berdua dengan serempak mengangkat kepala melihat ke arah sumber suara.


"Saya ulang sekali lagi. Kamu mau menghabiskan nasi goreng itu, atau mau saya infus" ulang dokter Kevin sekali lagi kepada Anggie.


"Akan habiskan ini" jawab Anggie memilih suatu hal yang paling tepat menurut dirinya.


"Bagus. Habiskan. Kalau tidak siap siap saja, saya akan infus kamu" ujar dokter Kevin lagi.


Dokter Kevin berlalu dari hadapan Anggie dan Vina. Dirinya kembali duduk ke posisi semula. Angga pun ikut ikutan kembali menuju tempat duduk mereka pertama tadi.


Angga menatap saudara kembarnya itu dengan tatapan bertanya tanya. Kevin memalingkan wajahnya kepada Angga.


"Ngapain loe nengok nengok? Apa ada yang aneh dengan wajah gue?" kata dokter kevin bertanya kepada Angga.


"Wajah aman. Cuma sikap berubah" ujar Angga main langsung saja mengatakan kepada Kevin.


Perkataan dari dokter Kevin, tidak sampai menyentuh matanya. Sehingga Angga tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kevin kepada dirinya.


"Oke. Gue harap gue akan percaya dengan apa yang loe katakan" kata Angga sambil tersenyum mengejek Kevin.


"Maksud loe?" tanya Kevin lagi.


"Nggak ada maksud apa apa" jawab Angga masih dengan keusilannya.


"Awas loe kalau sampai rumah bikin gosip. gue habisin loe" ujar Kevin mengancam Angga.


"Tenang tenang, nggak akan. Gue akan jaga rahasia" jawab Angga lagi dengan santainya.


"Awas loe ya. Awas aja kalau ingkar janji" kata Kevin sambil mengacungkan tinjunya ke depan Kevin.

__ADS_1


"Haha haha haha. Mana pernah. Nggak akan" jawab Angga lagi.


Mereka berdua kemudian melanjutkan obrolan dengan santai dan ringan. Mereka terlihat mengobrol dengan sangat hangat dan santai. Dua pria tampan yang kembar tetapi tidak mirip sama sekali.


"Mereka kembar kan Vin? Tetapi kenapa tidak mirip ya?" kata Anggie sambil melihat ke arah Angga dan Kevin.


"Gue juga baru tau kalau Angga itu kembar" jawab Vina lagi.


"Hah? Serius loe? Loe udah berapa tahun pacaran sama dia? Gue aja yang sahabat loe nggak tau" kata Anggie bertanya dengan terlalu banyak pertanyaan kepada Vina.


"Haha haha haha. Banyak lagi pertanyaan loe. Gue baru tiga bulan jadian. Nah kenapa belum cerita karena kita udah lama banget nggak ketemu yang bisa cerita lama lama" jawab Vina lagi sambil tersenyum.


"Oh jadi baru tiga bulan. Gue kira udah tahunan" jawab Anggie lagi


"Gila, kalau tahunan loe pasti udah lama taunya. Aneh" ujar Vina sambil tersenyum simpul.


"Mana tau pas masalah seperti ini loe nggak mau cerita ke gue kan ya, takut gue minta traktir" kata Anggie menggoda sahabatnya itu.


"Ye ye ye ye" ujar Vina.


Anggie kemudian mendadak berdiri dari posisi duduknya. Dia berbalik dan langsung berdiri di depan kaca untuk melihat keadaan Mama yang sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.


Vina yang melihat apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu, ikut ikutan berdiri dan melihat ke arah dalam. Vina melihat juga apa yang dilihat oleh Anggie.


"Percayakan saja kepada dokter Kevin, Nggi. Dokter Kevin pasti akan memberikan yang terbaik untuk Mama" ujar Vina memberikan saran kepada Anggie.


Anggie mengangguk. Walaupun dia mempercayakan Mama kepada dokter Kevin, tapi di satu sisi, Anggie pasti akan tetap mencemaskan Mama. Bagaimanapun Mama adalah orang tuanya satu satunya yang ada sekarang ini.


Tiba tiba seseorang memegang pundak Anggie dari belakang.


"Percayakan saja kepada Kevin" kali ini Angga yang berbicara.

__ADS_1


Anggie mengangguk, dia sangat senang banyak orang yang mendukungnya sekarang. Anggie bahagia sekali sahabat sekaligus kekasih sahabatnya mendukung dirinya dengan sepenuh hati.


__ADS_2