
Anggie sontak berdiri saat tau siapa yang sedang berlari dengan kencang ke arah dirinya itu. Anggie melihat sahabatnya berlari dengan sangat kencang menuju dirinya.
"Vina" ujar Anggie saat melihat Vina yang sedang berlari ke arah dirinya.
Vina langsung saja memeluk Anggie dengan sangat kuat. Dia meneteskan air matanya, tetapi suara tangis Vina tidak bisa keluar, dia hanya bisa sesegukan saja. Anggie yang melihat sahabat baiknya memeluk dirinya dengan begitu kuat, akhirnya Anggie membalas pelukan dari Vina. Anggie menangis dalam pelukan Vina. Kedua sahabat itu menangis sesegukan berdua. Mereka sama sama mencurahkan rasa yang ada di dalam dirinya. Rasa marah yang tadi melanda mereka sudah langsung berguguran.
"Maafkan aku nggie. Nggak seharusnya aku marah sama kamu. Seharusnya aku mendukung kamu, bukan marah ke kamu kayak tadi" ujar Vina sambil menangis dalam pelukan Anggie.
Anggie mengusap punggung Vina. Anggie berusaha menenangkan tangis sahabatnya itu. Anggie juga berusaha menenangkan dirinya. Salah satu dari mereka berdua harus tetap ada yang tenang. Anggie tidak ingin dirinya juga menangis, dia tidak bisa seperti itu, walaupun ingin juga menangis.
"Maafkan gue Nggie" ujar Vina sekali lagi memohon maafnya kepada Anggie.
" gue nggak marah sama love Vin. Beneran. Gue nggak ada marah sama loe" jawab Anggie sambil terus berusaha menenangkan sahabatnya itu.
"Kalau loe nggak marah kenapa dari tadi diam saja" ujar Vina lagi.
Vina masih memeluk Anggie dengan sangat erat. Beberapa suster yang lewat menatap heran ke arah mereka berdua. Anggie yang sadar akan hal itu berusaha untuk memberikan kode kepada Vina supaya melepaskan pelukannya. Tetapi sayangnya Vina sama sekali tidak mengerti dengan kode yang diberikan oleh Anggie kepada dirinya.
"Vin, kita dilihatin orang orang itu. Mereka mengira kita les biola nanti" ujar Anggie memberitahukan kepada Vina bagaimana mereka menjadi trend yang sedang dilihat beberapa perawat dan juga orang orang yang kebetulan lewat di depan ruangan ICU.
Vina yang sadar saat melihat beberapa orang melihat ke arah mereka langsung saja melepaskan pelukannya dari Anggie.
"Bagaimana keadaan mama? Maaf aku telat datang" ujar Vina memutar arah pembicaraan.
Anggie tau kemana arah Vina berbicara. Vina berperan sebagai seorang anak yang telat datang padahal orang tuanya sedang di rawat intensif di ruangan ICU.
"Tidak apa apa. Mama sudah melewati masa kritisnya" ujar Anggie menjawab pertanyaan dari Vina. Anggie terpaksa harus mengikuti permainan dari Vina. Mereka tidak ingin pandangan negatif dari orang orang yang ada di sana menjadi bola panas dan berakibat buruk untuk Anggie dan Vina.
Angga yang melihat kedua sahabat itu menjadi tontonan dan juga omongan orang orang yang di sana. Langsung ambil peran dalam hal itu. Angga tidak ingin orang orang di sana memiliki pemikiran buruk kepada Anggie dan Vina.
__ADS_1
"Sayang, kamu kapan datang. Aku kira kamu nggak akan melihat Mama" kata Angga sambil memeluk Vina kekasihnya itu.
Orang orang yang ada di sana langsung pergi saat melihat bagaimana lembutnya Angga memeluk Vina kekasihnya itu. Mereka langsung membubarkan diri.
"Huft untung saja kamu datang sayang. Kalau tidak, mereka pasti sudah berpikiran aneh aneh ke aku dan Anggie" kata Vina sambil melihat ke arah Anggie.
"Makanya kalau mau peluk pelukan lihat luhat kondisi. Jelas tempat umum, layaklah mereka berpikiran negatif" ujar Angga memberikan nasehat kepada Anggie dan Vina.
"Hehe hehe maafkan kami" ujar Vina sambil tersenyum ke arah Angga, kekasih yang sangat sayang dan perhatian kepada dirinya itu.
"Jadi sekarang udah baikan?" tanya Angga sambil melihat ke arah Vina dan bergantian ke arah Anggie.
"Sudah" jawab Anggie mendahului Vina.
"Nah gitu. Sebagai sahabat saling menolong tidak masalah." Ujar Angga lagi.
"Anggie, kamu boleh memiliki trauma akan uang. Tetapi tidak semua orang sama dengan orang itu. Contohnya Vina. Dia sudah menganggap kamu dan Mama sebagai keluarganya. Jadi tidak boleh kamu beranggapan negatif ke dirinya. Bagaimanapun juga Vina adalah sahabat kamu" kata Angga kepada Anggie.
"Anggie, itu gunanya kita memiliki keluarga, walaupun tidak. Keluarga inti" kata Vina menjawab kegalauan dari Anggie.
"Makasi Vin. Aku nggak tau lagi harus mengatakan apa sama kamu dan Angga. Kalian berdua sangat baik sama aku dan Mama" ujar Anggie.
Mereka bertiga kemudian mengobrol ringan. Membahas tentang bagaimana operasi mama besok, pekerjaan Vina dan juga pekerjaan Anggie.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Vano melihat jam tangan mewahnya. Sekarang sudah saatnya dia berangkat menuju butik Kayla. Tetapi sebelum ke butik Kayla, Vano akan singgah di restoran tempat mereka berdua biasa makan siang. Ntah kenapa Vano hari ini ingin makan di butik Kayla saja, tidak makan di luar berdua dengan Kayla.
"Selamat siang Tuan Vano" ujar karyawan Kayla menyapa Vano yang baru datang.
__ADS_1
"Siang" jawab Vano dengan dingin menjawab sapaan dari karyawan Kayla.
"Apa Nona Kayla ada di ruangannya?" tanya Vano kemudian.
"Ada Tuan. Nona Kayla sudah menunggu Tuan Vano" jawab karyawan itu.
"Oh terimakasih" ujar Vano yang tidak ingin dikatakan tidak ramah dengan orang lain.
Vano berjalan dengan santai dan meninggalkan aura dingin menuju ruang kerja Kayla. Vano sebenarnya adalah seorang pria dewasa yang sangat ramah. Tetapi saat dia tidak begitu kenal dan merasa orang itu tidak begitu penting untuk dirinya, membuat Vano tidak akan pernah menyapa orang tersebut. Vano pasti akan selalu bersikap dingin kepada mereka semua.
Vano membuka pintu ruang kerja Kayla tanpa mengetuk nya terlebih dahulu. Kayla yang sedang serius membuat sebuah desain gaun pesanan salah satu pelanggan tetapnya langsung saja mengangkat kepanyanya dan hendak memaki orang yang telah dengan lancang masuk ke dalam kamar kerjanya tanpa mengetuk dan meminta izin dari dirinya terlebih dahulu.
Tetapi saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu dengan gagahnya itu, membuat Kayla menjadi tidak bisa marah lagi. Malahan Kayla tersenyum dengan cantik ke arah pria tampan itu.
"Sayang, kok nggak ngomong kalau udah mau datang. Kan aku bisa tunggu di depan" Ujar Kayla dengan nada manja kepada Vano.
"Kejutan aja sayang. Aku pengen lihat kamu ngapain aja di butik" jawab Vano sambil berjalan masuk ke dalam ruang kerja Kayla.
Vano melihat ke kiri dan kanan ruang kerja Kayla yang sangat nyaman itu. Ini bukanlah kali pertama Vano masuk ke dalam ruang kerja Kayla, tetapi sudah berkali kali Vano ke sini. Tetapi rasa nyaman terus dirasakan oleh Vano saat berada di dalam ruangan itu.
"Kamu sudah makan siang sayang?" tanya Vano sambil menaruh paper bag yang berisi menu makan siang yang akan mereka nikmati berdua siang ini.
"Belum sayang. Kamu bawa bekal apa?" tanya Kayla penasaran.
"Seperti biasa sayang" jawab Vano memperlihatkan merk restoran yang ada di paper bag itu.
"Wow enak lah itu. Bentar aku ambil piring dulu" ujar Kayla.
Kayla kemudian meminta salah seorang karyawan untuk mengambil beberapa piring ke pentri. Sedangkan dirinya mengambil dua botol air mineral ke dalam lemari pendingin.
__ADS_1
Sambil menunggu karyawan datang, Kayla dan Vano mengobrol. Mereka membahas tentang bisnis yang akan mereka buat berdua. Bisnis cafe gaul yang sedang menjamur seperti jamur yang tumbuh di musim hujan.