Tempat Untuk Kembali

Tempat Untuk Kembali
Tempat Untuk Kembali *39


__ADS_3

"Papi, kenapa papi harus datang ke acara wisuda itu? Emangnya ada keluarga Papi yang wisuda di sana sekarang?" kata Mami Sanjaya dengan penuh emosi dan tidak Terima kalau suaminya menghadiri wisuda Anggie.


Papi yang baru sampai langsung kaget saat mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Dia tidak hanya lelah fisik tetapi juga lelah bathin saat mengetahui betapa bencinya anak kandungnya sendiri terhadap dirinya. Padahal sampai waktu sebelum Anggie mengatakan apa yang ada di dalam hatinya, Tuan Sanjaya masih berharap Anggie masih menyayangi dirinya seperti dulu. Tuan Sanjaya tidak berharap banyak, cukup sedikit saja. tetapi ternyata hal itu sama sekali tidak terjadi. Anggie benar benar kecewa dengan dirinya.


"Maksud Mami apa? Papi tidak paham" jawab Papi sambil memilih duduk di sofa yang ada di dalam kamar rumah sakit itu.


"Papi jangan pura pura begok Papi. Jangan pura pura tidak tau. Mami tau semuanya Papi. Papi kemana seharian ini sampai sampai papi lupa kalau hari ini adalah hari dimana keluarnya hasil pemeriksaan Kayla anak kita" ujar Mami yang kesal dengan tingkah Papi yang lebih mementingkan menghadiri wisuda Anggie anak dari orang yang sangat dibencinya dari pada menemui dokter dan mendengar sakit apa yang diderita oleh Kayla


"Maaf, jadi Kayla sakit apa?" tanya Papi yang memang tidak ingat kalau hari ini hasil labor Kayla yang kedua keluar.


"Nggak usah jawab Mami, sakit aku nggak penting. Papi sudah mulai melupakan aku" ujar Kayla mulai kembali dramanya yang sangat sangat dramatis itu.


Papi bangun dari kursi yang didudukinya, dia berjalan menuju ranjang rumah sakit untuk menemui Kayla yang terbaring lemah di sana.


"Sayang jangan ngomong kayak gitu ya. Maafkan Papi. Bukan maksud Papi seperti yang kamu pikirkan. Papi menghadiri acara wisuda itu karena Papi dari dulunya donatur tetap dan tidak pernah menghadiri wisuda selama ini." Papi mencoba menjelaskan kepada Kayla dengan sebaik baiknya.


Tuan Sanjaya tidak mau anaknya yang satu itu menjadi emosi dan marah serta membenci dirinya, seperti Anggie yang sudah menyatakan dengan sangat terang terangan kalau dia membenci Tuan Sanjaya.


"Apalagi yang mengajak Papi datang adalah Tuan Wijaya. Apa mungkin Papi menolak ajakan dari calon mertua kamu sayang?" tanya Papi yang berlindung di balik nama Tuan Wijaya. Papi sangat yakin kalau dirinya membawa nama Tuan Wijaya, maka Kayla tidak akan jadi memarahi dirinya.


"Baiklah Papi, kali ini Kayla maafkan. Tapi lain kali Kayla berharap Papi tidak melupakan Kayla lagi, sepenting apapun kegiatan Papi. Papi janji? " jawab Kayla yang merasakan dirinya terlalu lelah untuk ribut dengan Papi hanya karena Papi tidak datang waktu dokter memberitahukan penyakitnya itu.


"Papi janji sayang. Papi akan mementingkan kepentingan kamu dari pada yang lain." Jawab Papi berjanji dengan sungguh sungguh kepada Kayla.


"Nah sekarang giliran kamu menjawab pertanyaan dari Mami. Kamu sakit apa Nak?" tanya Papi dengan lembut sambil duduk di kursi yang sudah di taruh di dekat Kayla.


"Kata dokter hanya tipus saja Papi, mungkin karena kelelahan" jawab Kayla sambil memegang tangan Papinya itu. Kayla sangat bersyukur bisa memiliki Tuan Sanjaya seutuhnya sekarang. Selama ini dirinya harus berbagi dua dengan Anggie. tetapi semenjak kejadian itu, dirinya sudah memiliki Tuan Sanjaya sepenuhnya


"Hem oke" komentar Papi sambil tersenyum.


Tuan Sanjaya sangat bersyukur dalam hatinya karena anak perempuannya tidak menderita penyakit yang parah. Apalagi saat melihat bagaimana kondisi Kayla saat dia di bawa ke rumah sakit.

__ADS_1


"Kok oke Papi? Papi nggak seneng dengar hasil pemeriksaan Kayla?" tanya Mami yang sangat sensitif sekali saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Papi kepada Kayla.


"Apa Papi membayangkan kalau Kayla seharusnya sakitnya lebih parah. Gitu?" lanjut Mami masih dengan emosinya yang meledak ledak.


Mami masih tidak Terima dengan alasan Papi yang mengatakan kalau Papi pergi ke acara wisuda karena di ajak oleh Tuan Wijaya dan kebetulan juga mereka sama sama donatur di Universitas itu.


"Mami, apa apaan ini Mami. Jangan cari ribut lagi Mami. Saya capek" ujar Papi dengan nada tegas.


"Mami kira saya di luar sana main main? Saya di luar sana kerja. Walaupun saya menghadiri wisuda, tapi itu bagian dari pekerjaan saya untuk membuat perusahaan semakin terkenal." lanjut Papi dengan penuh emosi.


"Jangan pernah memiliki pemikiran kalau saya di luar sana hanya main main saja. Tidak saya tidak main main. Saya kerja"


Papi benar benar muak mendengar semua yang dikatakan oleh Mami kepada dirinya. Alasan alasan yang tidak masuk akal dan juga hanya membuat Papi tersinggung saja.


"Atau Mami sengaja mengatakan hal itu supaya saya dimusuhi oleh Kayla?" tanya Papi lagi sambil melihat ke arah Mami.


Mami menundukkan kepalanya dalam dalam dia baru kali ini melihat suaminya itu semarah ini. Selama ini setiap kali Mami marah, papi hanya akan diam saja.


Mami terdiam. "Maafkan aku" ujar Mami dengan suara pelan. Mami tidak menyangka kalau Papi pada akhirnya marah besar karena kesalahan dari Mami sendiri.


Papi tidak menghiraukan permintaan maaf dari Mami. Papi lebih memilih untuk mengobrol dengan Kayla saja. Papi menganggap Mami tidak ada di antara mereka berdua. Papi dan Kayla saling berbagi cerita dengan semangat, rona wajah Kayla sudah kembali sedikit pulih dari pada kondisi yang kemaren.


......................


"Mama, ada yang mau anggie tanyakan. Apa boleh?" tanya Anggie saat mereka sedang mengobrol santai di taman depan rumah.


Berhubung hari ini hari libur, sehingga membuat Anggie memiliki waktu yang banyak untuk berbincang bincang dengan Mama sambil membersihkan taman depan yang sudah lumayan banyak rumput liarnya.


"Boleh sayang. Apa yang mau kamu tanyakan?" jawab Mama sambil tetap menjabut rumput yang ada di dalam pot bunga.


"Saat Mama bertemu dengan Tuan Sanjaya, apa yang Mama rasakan?" tanya Anggie dengan sangat berhati hati, takut kalau Mamanya akan tersinggung dengan pertanyaan Anggie itu.

__ADS_1


"Hampir sama dengan kamu sayang. Rasa menyesal yang paling banyak memenuhi hati Mama saat itu" jawab Mama sambil tersenyum.


"Ini maaf ya Ma. Apa Mama masih mencintai Tuan Sanjaya?" tanya Anggie yang menyebut nama ayahnya secara langsung.


"Rasa yang ada bukan lagi rasa cinta atau apalah namanya." jawab Mama


"Terus yang ada apa?" tanya Anggie semakin semangat mencari tau rasa yang ada di dalam hati Mamanya untuk orang yang sudah membuat Mamanya kecewa itu.


"Rasa yang ada hanyalah rasa terimakasih" jawab Mama.


"Why? Anggie sama sekali nggak paham. Rasa terimakasih karena apa?" tanya Anggie yang tidak mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh Mamanya itu.


"Rasa terimakasih karena sudah menghadirkan kamu dalam hidup Mama" jawab Mama lagi


"Kalau nggak ada dia, tentu nggak akan ada anak yang membuat bangga Mama ini" lanjut Mama lagi.


"Ye pinter kali bikin aku tersanjung" ujar Anggie


"Beneran sayang. Kalau nggak ada kamu dan masalah ini terjadi juga, maka Mama akan memilih untuk pulang kampung saja. Tidak akan mau berada di kota yang sama, menarik udara yang sama dengan orang yang sudah sangat menyakiti hati Mama" Mama menjelaskan kepada Anggie bagaimana rasa sayangnya yang sangat luar biasa sekali kepada anaknya itu serta bagaimana pentingnya Anggie hadir dalam kehidupan Mama.


"Jadi artinya Anggie sangat penting dalam hidup Mama?" tanya Anggie sambil melihat ke arah mamanya dan memberikan Mama senyuman yang sangat cantik.


"Jangan tanya Mama. Kamu tau sendiri jawabannya" jawab Mama lagi.


Mereka berdua kemudian melanjutkan perkerjaan bersih bersih taman depan. Serta Mama dan Anggie berbagi cerita. Paling dominan bercerita adalah Anggie. Anggie menceritakan bagaimana mahasiswanya di kampus yang sangat beraneka ragam. Bahkan ada yang sampai nekat harus duduk di depan terus saat kuliah dengan Anggie. Mama menyimak semua cerita anak gadisnya itu. Sekali sekali Mama menggoda Anggie, saat Anggie mulai bercerita tentang tingkah aneh mahasiswanya.


"Ma mau beli bakso?" tanya Anggie saat melihat penjual bakso lewat di depan rumah mereka.


"Boleh. Mama juga lengan bakso sekarang" jawab Mama dengan antusias.


Anggie memanggil tukang bakso dan memberi dua porsi bakso untuk dirinya dan Mama. Mereka akan makan sore dengan bakso keliling. Sebenarnya tadi Anggie sudah masak ikan pesmol kesukaan dirinya dan Mama, tetapi bakso yang lewat dengan wangi yang menyeruak membuat selera Anggie menjadi ingin menikmati bakso tersebut.

__ADS_1


__ADS_2