Tempat Untuk Kembali

Tempat Untuk Kembali
Tempat Untuk Kembali *35


__ADS_3

Anggi dan Vina kemudian melanjutkan perjalanan mereka menuju kampus. Mereka masih ada waktu satu jam lagi sebelum acara wisuda di mulai. Mereka masih bisa menyapa rekan rekan wisuda mereka yang lain.


"Kayaknya kita masih sempat foto foto dulu Vin, dari pada nanti saat wajah kita sudah tidak karu karuan baru fhoto, kan nggak asik" kata Anggie saat melihat jam tangan, yang masih menunjukkan angka delapan.


"Yup masih ada satu jam lagi. Kita masih sempat ambil beberapa foto" kata Vina mengomentari apa yang dikatakan oleh Anggie kepada dirinya.


Vina mengemudikan mobil dalam kecepatan sedang, dia ingin cepat sampai di kampus, dan langsung melakukan apa yang diidekan oleh Anggie barusan. Vina memarkir mobil di parkiran dosen. Tukang parkir tidak akan bertanya kenapa Vina memarkir mobilnya di sana. Tukang parkir sudah tau kalau Anggie selalu dengan Vina.


"Yuk jalan" ajak Vina yang sedikit terlihat susah harus memakai sepatu yang memiliki tumit sekitar lima centi.


"Loe jangan mentang mentang make sepatu ceperan dari gue makanya jalan loe ligat Anggie" Vina memberikan respon atas kelakuan Anggie yang meminta dirinya untuk bergerak lebih cepat dari pada yang dilakukannya sekarang.


"Makanya nggak usah pake sepatu yang tinggi tinggi amat. Loe jad susah sendiri kan ya." komen Anggie saat mendengar protes dari Vina.


"Gue salah pesan, harusnya yang tiga centi kayak loe" jawab Vina lagi.


Anggie walaupun selalu menjawab pertanyaan dan komplen dari Vina, tetapi dia akan tetap menunggu Vina supaya tetap beriringan menuju aula tempat acara wisuda akan dilaksanakan.


"Anggie, Vina" teriak seorang wanita yang sedang berdiri di dekat satu papan bunga ucapan selamat wisuda.


"Ini papan bunga dari siapa untuk Anggie?" ujar kawan wanita mereka itu menunjukkan ada satu papan bunga yang diberikan untuk Anggie tetapi tidak ada nama si pengirim.


Anggie dan Vina sama sama melihat papan bunga yang ditunjukkan oleh rekan mereka itu. Anggie dan Vina sama sama menggeleng, mereka sama sama tidak tau siapa yang sudah memberikan papan bunga untuk Anggie.


"Udahlah Vin nggak usah dipikir siapa yang ngasih. Paling penting sekarang kita foto foto dulu sebelum di suruh masuk ke dalam" kata Anggie yang tidak memperdulikan tentang papan bunga misterius pemberian dari seseorang itu.


"Gue sangat yakin itu dari pengagum rahasia loe" kata Vina kepada Anggie sambil berbisik.

__ADS_1


"Ya gue sangat yakin sekali" jawab Anggie lagi sambil menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Vina barusan.


"Haha haha haha" Anggie dan Vina tertawa saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Anggie.


Anggie dan Vina kemudian beberapa kali terlihat berfoto seorang diri, berfoto berdua terkadang berfoto dengan wisudawan lain yang meminta foto bareng dengan mereka. Senyuman tidak pernah lepas dari bibir Anggie dan Vina. Mereka berdua selalu tersenyum bahagia hari itu. Terlepas dari hadir tidaknya orang tua Vina, bagi Vina hal itu sudah sangat biasa sekali. Palingan nanti mereka akan pergi ke studio fhoto untuk mengambil foto wisuda Vina, seperti yang terjadi waktu Vina wisuda sarjana nya.


"Perhatian, kepada seluruh wisudawan dan wisudawati, untuk dapat masuk ke dalam ruang acara. Acara sidang terbuka kelulusan magister akan segera di lakukan" Terdengar suara protokol acara sudah memanggil semua wisudawan yang masih berada di luar aula kegiatan.


Anggie, Vina dan semua wisudawan serta anggota keluarga yang masih berada di luar berjalan masuk ke dalam aula untuk mengikuti seluruh rangkaian acara wisuda. Anggi dan Vina sudah duduk di kursi mereka masing masing, begitu juga dengan wisudawan yang lainnya.


Mama yang baru saja datang diantarkan taksi online yang dipesankan oleh Anggie, langsung masuk ke dalam aula di menit menit terakhir pintu aula di tutup panitia pelaksana.


"Maaf Ibu, ibu orang tua dari siapa?" tanya seorang mahasiswa yang menjad panitia kegiatan.


"Anggi Sukma. S" jawab Mama menyebutkan nama lengkap Anggie.


"Oh mari sini Ibuk, saya antarkan ke kursinya" kata mahasiswa tersebut dengan sangat ramah.


Tibalah saatnya acara wisuda dimulai. Semua orang orang penting sudah duduk di sana. Termasuk seorang pria yang paling tidak diinginkan dilihat oleh Anggie dan mama duduk di sana.


"Kenapa dia bisa ada di situ Anggie?" tanya Vina yang dari nada bertanya nya sudah bisa dikatakan Vina juga tidak suka pria tua itu juga hadir dalam sidang wisuda mereka.


"Mana gue tau. Mungkin dia sekarang jadi penyumbang dana pendidikan. Siapa yang tau" jawab Anggie dengan santai sambil sedikit melirik ke arah depan.


"Mama gimana?" tanya Vina yang ingat mama juga hadir dalam acara wisuda Anggie.


Anggie juga baru ingat dengan mamanya itu mengeluarkan ponsel miliknya. Dia terlihat sibuk mengetik pesan chat. Tidak beberapa lama, pesan chat balasan dikirim oleh Mama kepada Anggie. Anggie melihatkan pesan itu kepada Vina.

__ADS_1


"Syukurlah kalau mama baik baik saja. Aku lumayan cemas"


"Mama oke. Sekarang kita berdua juga harus oke" kata Anggie selanjutnya.


Mereka berdua kemudian menutup obrolan itu saat terdengar suara protokol acara sudah mengeluarkan suara indahnya. Acara pembukaan wisuda itu akan di mulai. Satu per satu orang orang penting di Universitas itu sudah memberikan kata sambutannya. Sampailah acara kepada pelantikan setiap wisudawan yang akan langsung dilakukan oleh rektor universitas terkenal itu.


"Bapak dan Ibu sampailah kita ke acara pelantikan para wisudawan magister tahun 2023." kata protokol memberitahukan acara yang paling paling di tunggu oleh seluruh wisudawan dan orang tua.


"Wisudawan pertama, sekaligus wisudawan yang merupakan lulusan terbaik tahun ini. Kami panggil, Anggie Sukma S. Tempat tanggal lahir, Jakarta dua puluh sembilan Juni seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan. Dengan indeks prestasi komulatif empat koma nol nol" kata protokol memanggil nama Anggie sebagai wisudawan terbaik tahun ini.


Mama yang mendengar nama Anggie di panggil menjadi wisudawan terbaik, meneteskan air matanya. Dalam kekurangan dari segi finansial, Anggie masih mampu memberikan yang terbaik untuk perkuliahannya saat ini.


"Mama bangga padamu nak" kata Mama saat melihat Anggie berjalan dengan anggunnya menuju podium kehormatan, dimana di sana sudah berdiri orang-orang penting dari Universitas termasuk mantan suaminya sendiri yang ntah sejak kapan menjadi donatur untuk Universitas itu.


Anggie sampai di depan para anggota senat. Jambul topinya sudah di pindahkan, Anggie melakukan semua prosesi itu sambil tersenyum bahagia. Anggie kemudian sampai di bagian ujung, ada Tuan Wijaya dan juga Tuan Sanjaya.


"Selamat Nak" kata Tuan Wijaya sambil tersenyum bangga dengan apa yang diraih Anggie.


"Terimakasih Tuan" jawab Anggie sambil tersenyum kepada Tuan Wijaya yang memberikan selamat kepada dirinya.


Sampailah Anggie di bagian orang yang paling tidak ingin di temui nya. Ada rasa tidak ingin bersalaman dengan orang tersebut. Tetapi apa mau dikata, Anggie harus bersikap sopan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Mama kepada dirinya selama ini.


Anggie menjabat tangan laki laki yang sudah menghancurkan hidupnya dan juga hidup mamanya itu. Anggie menatap tajam ke arah pria itu.


"Selamat Anggi" kata pria tersebut.


"Terimakasih" jawab Anggie tanpa tersenyum kepada Tuan Sanjaya itu.

__ADS_1


Malahan saat Anggie bersalaman dengan Tuan Sanjaya itu, Anggie tidak membawa punggung tangan Tuan Sanjaya ke keningnya. Dia hanya bersalaman seperti orang yang baru kenal saja


Anggie kemudian berjalan, dia hendak turun saat protokol memanahannya dan meminta dirinya memberikan kata sambutan mewakili semua rekan rekannya yang lain.


__ADS_2