Tempat Untuk Kembali

Tempat Untuk Kembali
Tempat Untuk Kembali *49


__ADS_3

Huam, Angga menggeliat di kursi yang menjadi tempat tidurnya malam ini di depan ruangan ICU. Anggie yang dari tadi sudah bangun menatap Angga sambil tertawa sedikit.


"Ye dia tertawa, ada yang lucu?" tanya Angga sambil mengucek matanya.


"nggak ada yang lucu. Kamu mau minum apa?" tanya Anggie menawarkan kepada Angga untuk membuatkan air minum.


"Kopi aja, tapi gulanya sedikit saja" kata Angga menjelaskan kepada Anggie aturan dalam membuat kopi untuk dirinya.


"Sip"


Anggie berjalan menuju tempat membuat minuman yang ada di luar pintu ruangan ICU. Anggie memilih untuk membawa air panas dalam cangkir, serta bungkuaan kopi dan teh. Anggie tidak mau menakae sendiri kopi dan teh untuk Angga. Anggie memilih jalan yang paling aman dan paling terbaik.


"Yah dia bawa sampe bungkusannya" kata Angga saat melihat apa yang dibawa oleh Anggie ke depan dirinya.


"Dari pada salah" jawab Anggie memberikan alasan kepada Angga.


Anggie dan Angga kemudian berbincang bincang sesaat. Mereka terlihat sudah sangat akrab sekali, padahal baru kenal nama semalam.


"Kamu nggak ke kampus Nggie?" kata Angga yang malam ini menemani Anggie di rumah sakit untuk menjaga Mama.


"Mama gimana?" tanya Anggie yang tidak ingin jauh dari Mama.


"Aku yang akan jaga. Kamu tenang saja" jawab Angga.


"Cafe kamu?" tanya Anggie yang nggak mau Angga mengorbankan cafenya hanya karena harus menemani Mama yang sedang di rawat.


"Tenang saja, cafe itu sudah ada pengelolanya. Lagian saya di sana hanya mampir karena biasanya saat jam makan siang Vina akan ke sana" Angga menjelaskan kepada Anggie kalau dirinya tidak wajib untuk pergi ke cafe setiap harinya.


Anggie menimbang nimbang alternatif yang diberikan oleh Angga kepada dirinya. Hari ini Anggie ada enam jam proses pembelajaran. Belum lagi dia kemaren tidak sempat izin ke ketua jurusan. Anggie tidak ingin nanti dia dikatakan tidak profesional karena meninggalkan kerja tanpa konfirmasi terlebih dahulu.


"Gimana Anggie?" tanya Angga kembali.


"Sepertinya memang harus ke kampus. Sekalian untuk izin beberapa hari ke depan. Kemaren aku belum sempat izin ke pihak jurusan" jawab Anggie yang akhirnya memutuskan untuk berangkat ke kampus juga hari ini.


"Jangan pikirkan hal yang tidak penting. Fokus saja mengajar. Mama percayakan saja kepada aku dan Kevin" pesan angga sambil tersenyum ke arah sahabat kekasihnya yang masalahnya luar b8asa banyak.

__ADS_1


"Sip. Makasih sebelumnya Ngga" kata Anggie sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya kepada Angga.


"Nggak usah sungkan. Kamu sahabat Vina, berarti juga sahabat aku, jadi antara sahabat tidak ada kata terimakasih terimakasih" jawab Angga menjelaskan kepada Anggie.


"Hem baiklah kalau begitu. Aku jalan dulu ya. Titip Mama" kata Anggie.


Anggie membereskan semua barang barang yang berserakan. Setelah itu dia melihat Mama sekali lagi dari balik kaca besar tersebut.


"Ma, Anggie kerja dulu ya. Mama, Anggie tinggal dengan pria baik hati yang mau menjaga Mama. Namanya Angga, kekasih Vina" kata Anggie menjelaskan kepada Mama yang sedang tertidur dengan siapa Mama akan ditinggalkan oleh Anggie selama Anggie beraktifitas di luar rumah sakit.


Angga tersenyum saat dirinya diperkenalkan oleh Anggie kepada Mama. Walaupun Mama masih koma, tetapi menurut apa yang dikatakan Kevin kepada Angga, Mama masih bisa mendengar apa yang dikatakan oleh orang orang yang berada di dekat dirinya.


"Oke Angga, aku jalan dulu ya" kata Anggie berpamitan kepada Angga.


Anggie berjalan dengan langkah gontai meninggalkan ruangan ICU tempat Mama di rawat dari kemaren siang.


Anggie melihat di Koridor rumah sakit, ada satu keluarga yang menangis karena kehilangan orang yang mereka sayang.


'Ya Tuhan jangan ambil Mama secepat ini Tuhan. Anggie masih butuh Mama' ujar Anggie memanjatkan doanya saat melihat ada keluarga yang menangis histeris seperti itu.


"Ma, Anggie ke kampus dulu ya" kata Anggie kembali melihat ke arah rumah sakit saat dirinya mau masuk ke dalam taksi online yang sudah di pesannya itu.


"Sesuai aplikasi Nona?" tanya sopir taksi online kepada Anggie yang duduk di kursi penumpang.


"Iya Pak, sesuai aplikasi" jawab Anggie.


Anggie akan menuju rumah terlebih dahulu untuk mengambil beberapa pakaian ganti dan juga peralatan makeupnya yang sederhana. Selepas mengambil semua keperluan dari rumah, barulah Anggie akan berangkat ke kampus. Itu rencana yang dibuat oleh Anggie untuk hari ini.


'Loe dimana?' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Vina.


'Mau ke kampus' balas Anggie.


'Mama sama siapa?' tanya Vina selanjutnya.


'Angga tadi menawarkan diri untuk menemani Mama. Makanya aku bisa ke kampus' balas Anggie menjawab pertanyaan dari Vina.

__ADS_1


'Sip. Nanti aku ke sana, loe jam berapa balik rumah sakit?'


'Mungkin sekitar jam dua siang. Aku mau ngurus surat izin dulu ke pihak kampus' balas Anggie.


'Oke sip. Hati hati' balas terakhir Vina.


Anggie kemudian memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam tas. Dia akan sedikit menikmati perjalanannya hari ini menuju rumah dan kampus.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


"Sayang, apa hari ini kamu bisa menemani aku ke rumah sakit?" tanya Kayla saat dirinya menghubungi Vano lewat panggilan telpon.


"Kamu sakit sayang?" tanya Vano dengan nada kaget saat mendengar Kayla minta di antar ke rumah sakit.


"Nggak sayang, cuma mau chek up aja." jawab Kayla sedikit berbohong.


Sebenarnya Kayla sudah lima hari merasakan sakit kepala yang luar biasa. Tetapi dia tidak mau berbagi cerita dengan siapapun. Kayla memilih untuk menahan rasa sakit di kepalanya itu.


"Baiklah sayang. Kamu jam berapa temu janji dengan dokternya?" tanya Vano.


"Jam tiga sayang. Tapi rencananya kita ke sana jam dua saja. Apa kamu bisa di jam dua sayang?" tanya balik Kayla.


"Bisa. Aku akan ke butik jam satu. Kamu tunggu di butik saja" balas Vano.


"Makasi sayang. I love you" pesan berikutnya dari Kayla.


"I love you too" Vano membalas ungkapan cinta dari Kayla kepada dirinya.


"Kenapa aku tidak yakin ya kalau Kayla dalam kondisi yang baik baik saja. Kenapa aku merasa kalau kondisi Kayla sedang payah saat ini" kata Vano bergumam sendirian.


"Tapi kalau desak dia untuk ngaku itu akan semakin parah. Aku hanya bisa menunggu saja" Vano akhirnya memutuskan untuk menunggu hasilnya saja.


Vano melanjutkan pekerjaannya kembali. Dia tetap akan ke butik Kayla jam satu siang saja. Sekarang pun Vano akan ke butik Kayla, maka yang akan terjadi tetap sama, Kayla tetap akan memaksa berangkat jam dua saja dari butiknya itu.


Anggie yang juga sudah selesai berkemas kemas dan membersihkan diri, berjalan keluar menuju mulut gang rumahnya. Dia akan menunggu taksi online yang sudah dipesannya di sana nanti untuk menuju kampus.

__ADS_1


__ADS_2