Tempat Untuk Kembali

Tempat Untuk Kembali
Tempat Untuk Kembali *44


__ADS_3

Anggie berjalan sambil sedikit menundukkan kepalanya. Dia berjalan dengan langkah gontai menuju meja tempat dokter sedang duduk. Dokter memperhatikan bagaimana anggie berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya itu.


"Silahkan duduk Nona" ujar dokter muda itu dengan sangat ramah. Dokter muda itu berusaha membuat Anggie sedikit merasa rileks kembali dan tidak terlalu tegang seperti sekarang ini.


Anggie kemudian duduk di kursi yang ada di depan dokter. Dia berusaha mengangkat kepalanya sedikit. Anggie sebenarnya tidak mampu lagi untuk mengangkat kepalanya itu. Tetapi apa mau dikata, Anggie harus menghormati dokter yang ada di depannya saat ini.


"Perkenalkan saya dokter Kevin. Dokter yang akan menangani dan merawat Ibu Anda ke depannya" Dokter kevin memperkenalkan dirinya kepada Anggie.


Dokter Kevin mengulurkan tangannya ke arah Anggie. Anggie menerima uluran tangan dari Kevin.


"Saya Anggie dokter, putri dari Ibu Ratna" jawab Anggie yang membalas perkenalan dari dokter Kevin.


Dokter tersenyum ke arah Anggie saat Anggie menyebutkan namanya. Anggie membalas senyuman dari dokter Kevin.


"Maaf sebelumnya Anggie, kalau saya boleh tau, kemana anggota keluarga pasien yang lainnya?" tanya dokter Kevin yang tidak melihat ada keluarga lainnya berjalan dengan Anggie, atau yang menunggui ibu Ratna.


Anggie terdiam, dia tidak tau harus menjawab seperti apa pertanyaan dari dokter Kevin. Cukuplah urusan rumah tangga keluarganya hanya untuk konsumsi mereka bertiga saja, tidak untuk orang di luar anggota keluarga Sanjaya.


"Hanya saya sendiri dokter, tidak ada yang lainnya" jawab Anggie dengan nada pasti.


Dokter melihat sebuah kilatan kebencian dan kemarahan dari mata cantik nan ambisius milik wanita yang ada di depannya sekarang ini.


'Sepertinya ada permasalahan yang tidak harus kita ketahui' ujar dokter Kevin dalam hati dan pikirannya. Dokter Kevin memutuskan untuk tidak melanjutkan pertanyaannya kembali. Dokter Kevin tidak ingin membuat Anggie menjadi lebih tertekan lagi untuk saat ini. Biarlah Anggie fokus dengan kesehatan Ibu kandungnya itu.


"Jadi bagaimana kondisi Mama saya dokter?" tanya Anggie yang membutuhkan keterangan bagaimana kondisi orang tuanya itu.


Dokter kemudian menjelaskan bagaimana kondisi Mama saat ini. Anggie mendengarkan semuanya sambil berusaha menahan air matanya yang sudah protes mau turun. Anggie tidak bisa menerima keadaan mamanya yang seperti sekarang ini.


"Apa mama masih bisa di sembuhkan dokter?" tanya Anggie seperti seorang wanita remaja yang takut kehilangan orang tuanya.


"Kita akan usahakan semaksimal kemampuan kita semua Anggie. Saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan dari keluarga pasien kepada saya" ujar dokter Kevin meyakinkan Anggie, dia pasti akan mengusahakan kebaikan untuk Ibu Ratna.


"Terimakasih dokter atas semua usaha yang dokter berikan kepada Mama" jawab Anggie.

__ADS_1


"Sekarang apa yang akan dilakukan selanjutnya dokter? Tolong berikan yang terbaik untuk mama dokter. Saya tidak mau kehilangan mama" lanjut Anggie bertanya kepada dokter Kevin.


"Kita akan melakukan operasi kepala Ibu Ratna dalam waktu dua hari ke depan. Saya akan pastikan dan akan terus melakukan observasi terhadap kesehatan Ibu Ratna." kata dokter Kevin.


"Tetapi saya butuh juga bantuan dari Anggie" lanjut Kevin sambil tersenyum menenangkan kepada Anggie.


"Saya siap selalu untuk menolong dokter. Saya akan ada selalu." jawab Anggie.


"Baik Anggie, saya membutuhkan hal itu. Saya membutuhkan komitmen dari keluarga pasien untuk bisa membantu saya dalam memberikan pelayanan kepada Pasien" jawab dokter Kevin.


Dokter Kevin dan Anggie kemudian berbincang bincang tentang penyakit Mama. Anggie banyak mencari tau penyakit Mama. Sehingga Anggie paham apa yang harus dilakukan oleh dirinya saat mendampingi Mama nantinya.


"Baiklah Anggie, kita sama sama berjuang untuk kesembuhan Ibu Ratna" kata dokter Kevin.


"Terimakasih dokter. Apa saya sudah boleh kembali ke ibu saya dokter?" ujar anggie yang merasa kalau dirinya sudah terlalu lama meninggalkan Ibu yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit


"Silahkan anggie. Tidak apa apa. Kamu sudah bisa kembali ke Ibu kamu. Tapi maaf hanya bisa melihat dari balik kaca saja" ujar dokter Kevin dengan nada menyesal.


Anggie di antar keluar oleh dokter Kevin. Suster yang sudah sangat lama bekerja dengan dokter Kevin menjadi heran saat melihat dokter Kevin mengantar Anggie keluar dari dalam ruangannya.


'Tumben tu dokter kayak gini. Biasanya nggak. Ada apa coba?' ujar suster bertanya tanya dalam hatinya saat melihat dokter Kevin mengantarkan anggie menuju ruang tempat ibunya di rawat.


Dokter yang paham akan makna dari tatapan suster hanya bisa mencuekin mereka saja. Dokter Kevin menganggap dia tidak melihat reaksi dan juga ekspresi dari suster tersebut.


"Terimakasih dokter sudah repot repot mengantarka saya ke sini" kata Anggie yang menjadi sungkan kepada dokter Kevin.


"Tidak masalah Anggie, ini merupakan bagian dari pelayanan saya kepada keluarga pasien" kata dokter Kevin sambil berdiri di sebelah Anggie.


Anggie melihat mama dari kaca jendela, Anggie mengangkat sebelah tangannya ke atas kaca tersebut. Anggie memegang kaca itu dengan sangat lemah, selemah hatinya yang mengingat mamanya sekarang ini.


"Ma, kalau boleh memilih, Anggie lebih memilih untuk berada di posisi mama sekarang. Anggie nggak bisa melihat Mama seperti ini Ma" kata Anggie dengan suara sangat lemah sekali.


Dokter Kevin mendengar apa yang dikatakan oleh Anggie kepada Mama. Dokter Kevin tersenyum 'kamu anak yang sangat berbakti Anggie. Kamu begitu menyayangi orang tua kamu' kata dokter Kevin dalam hati dan pikirannya saat ini.

__ADS_1


Anggie berkali kali mengusap kaca jendela itu. Dia seperti mengusap mamanya sendiri. Dokter Kevin yang melihat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Anggie saat ini.


"Apa kamu ingin bertemu Mama?" tanya dokter Kevin dengan ramah kepada Anggie.


Anggie menatap ke arah dokter Kevin. "Apa itu boleh?" tanya Anggie balik yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter Kevin kepada dirinya.


"Ya itu sangat boleh apa bila masuk dengan di dampingi dokter yang memeriksa pasien" jawab dokter Kevin memberikan alasan kepada Anggie.


Anggie menatap tidak percaya ke arah dokter Kevin. Dia mencari di mata dokter Kevin sebuah kebohongan, tetapi Anggie tidak menemukan kebohongan itu sama sekali. Anggie hanya menemukan kesungguhan dalam mata dokter Kevin.


"Ada apa? Apa yang kamu cari?" tanya dokter Kevin kepada Anggie.


"Apakah benar saya boleh masuk ke dalam sana?" tanya Anggie sambil menunjuk ke arah Mama.


"Kalau memang boleh, saya amat sangat bersyukur sekali. Saya tidak akan ragu ragu untuk masuk ke sana" kata Anggie selanjutnya.


Dokter Kevin tersenyum. "Ya kita berdua bisa masuk ke sana" jawab dokter Kevin dengan sangat yakin mengatakan hal itu kepada Anggie.


Dokter Kevin masuk ke dalam bagian terluar dari ruangan steril tersebut. Dokter Kevin terlihat mengambil sesuatu di sebuah rak rak yang ada di sana.


"Pakai ini dulu ya. Setelah itu baru kita bisa masuk ke dalam sana" ujar dokter Kevin sambil memberikan jas steril dan penutup kepala kepada Anggie.


Anggie tersenyum melihat ke dua benda yang bisa dipakainya untuk masuk ke dalam ruangan itu guna melihat Mama uang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.


Anggie dengan sigap dan tanpa membuang buang waktu memakai semua yang diberikan oleh dokter Kevin kepada dirinya. Dia tidak ingin semakin lama dia memakai pakaiannya itu, maka semakin sebentar waktunya untuk bertemu dengan Mama.


"Selesai" ujar Anggie saat dirinya sudah selesai memakai atribut steril tersebut.


"Wow cepat sekali" kata dokter Kevin.


"Sudah nggak sabar mau ketemu Mama." jawab Anggie sambil tersenyum. Senyuman Anggie senyuman yang paling cantik yang dimiliki oleh dirinya diberikan kepada dokter Kevin.


"Cantik" ujar dokter Kevin dengan pelan.

__ADS_1


__ADS_2