
"Huft bikin kesel gue aja" Anggie menghempaskan tubuhnya ke atas kursi kantin kampus serta membanting disertasi yang dibawanya ke atas meja kantin.
Vina yang sedang duduk di depannya menatap kaget saat melihat sahabatnya itu menghempaskan tubuhnya dan juga membanting dengan cukup kelas disertasi yang berada di tangannya itu ke atas meja.
"Loe kenapa?"
"Main emosi aja. Kaget tau" protes Vina.
"Kesel gue" jawab Anggie dengan muka yang sudah memerah karena menahan kesal dengan kejadian yang baru saja di alaminya sebentar ini.
"Kesal kenapa?"
"Nggak biasanya loe kesal"
"Ada apa?" tanya Vina berrentetan seperti tempakan senapan otomatis milik tentara yang sedang berjuang mempertahankan keutuhan NKRI di Papua.
"Bayangin aja sama loe. Pagi pagi gue dibuntutin dan dikata katain oleh dua makhluk yang sebenarnya mereka yang lebih layak dikata katain dari pada gue" ujar Anggie mengatakan tentang kejadian yang terjadi tadi pagi.
"Gue nggak paham" jawab Vina sambil menatap tidak mengerti kepada Anggie. Vina memang sangat tidak mengerti sekali dengan apa yang dikatakan oleh Anggie kepada dirinya. Dia tidak tau arah tujuan perkataan Anggie sebentar ini.
Anggie terdiam cukup lama, setelah itu dia menyesap teh hangat yang sudah di pesannya tadi. Dia menenangkan otaknya terlebih dahulu sebelum dia mulai menceritakan apa yang terjadi kepada Vina sahabatnya itu.
"Jadi, cerita yang bikin gue kesel itu begini" kata Anggie akan memulai ceritanya kepada Vina.
Anggie menceritakan semuanya kepada Vina. Dia sama sekali tidak meninggalkan satu cerita pun kepada Vina sahabatnya itu.
"Kok bisa bisanya mereka berbuat seperti itu? Elo sama Mama kan tidak pernah mengganggu mereka lagi" ujar Vina memberikan komentarnya atas apa yang dilakukan oleh Kayla dan Maminya itu.
"Itulah gue juga nggak tau, kok bisa mereka seperti itu. Tapi ya gue hanya bisa diam saja lagi. Gue males meladeni mereka" jawab Anggie yang nampak sedang berusaha menahan dirinya untuk tidak terlibat dalam emosi yang tidak ada ujungnya itu.
"Udah ah jangan marah marah terus. Kita makan siap itu berikan disertasi kamu ke pembimbing setelah itu kita daftar untuk sidang akhir"
__ADS_1
"Bener Vin, gue juga nggak mau terlalu larut dalam emosi gue. Gue harus bisa memperlihatkan kepada mereka semua, kalau gue bisa tetap bertahan tanpa warisan dari Sanjaya Grub" ujar Anggie berusaha menguatkan hati dan pikirannya untuk tetap berpikiran normal dan rasional.
Kedua sahabat itu menikmati sarapan yang sudah datang. Mereka makan nasi goreng dan juga menyeruput teh hangat. Sesekali mereka terlihat saling berbincang. Ntah permasalahan apa yang sedang mereka bahas.
"Yuk berangkat"
Anggie dan Vina berjalan menuju ruang dosen pascasarjana yang letaknya lumayan jauh dari tempat mereka menikmati sarapan.
"Menurut loe, gue dapat nggak ya acc untuk sidang terbuka hari ini?" tanya Anggie yang sedikit ragu dengan hasil yang akan dia peroleh nanti saat keluar dari ruangan dosen pembimbing.
"Semangat, gue yakin loe akan bisa mendapatkan tanda tangan itu hari ini. Gue sangat yakin" Vina memberikan semangatnya kepada Anggie.
"Loe jangan meragukan diri loe sendiri" lanjut Vina lagi memberikan semangatnya kepada Anggie.
"Gue masuk, loe tunggu di sini ya" ujar Anggie meminta Vina untuk menunggu di kursi tunggu yang ada di ruang dosen tersebut.
"Gue juga mau ketemu pembimbing gue" jawab Vina.
"Gue semangat gara gara loe. Makanya, gue juga ngebut untuk menyelesaikan disertasi gue" ujar Vina sambil tersenyum.
Dalam diri Vina, Vina memiliki pandangan yang sangat sangat membuat dirinya menjadi termotivasi. Salah satunya yaitu Anggie. Anggie yang hidupnya sedang dalam keadaan susah dan bisa dikatakan amburadul untuk saat ini, bisa menyelesaikan disertasinua tepat waktu. Apalagi dia yang sedang dalam keadaan biasa biasa saja, kenapa dia tidak bisa menyelesaikan disertasinya.
"Haha haha haha. Oke oke. Sekarang mari lanjutkan perjuangan berikutnya" ujar Anggie.
Mereka berdua kemudian menemui dosen pembimbing masing masing. Mereka harus bisa meyakinkan dosen pembimbing mereka kalau disertasi yang mereka buat adalah sebuah disertasi yang sudah bisa dipertanggungjawabkan.
"Anggie, selamat, kamu sudah bisa daftar untuk sidang terbuka" ujar pembimbing Anggie sambil dia membubuhkan tanda tangannya tanda dia sudah menyetujui Anggie untuk sidang terbuka dalam minggu ini.
Anggie tersenyum bahagia. Ini adalah kata kata yang paling ditunggunya hari ini.
"Terimakasih banyak pak. Saya sangat bahagia mendengarnya pak" ujar Anggie dengan nada bahagia yang sangat jelas. Anggie tidak menutup nutupi apa yang ada di dalam hatinya sekarang ini.
__ADS_1
"Langsung daftar saja. Mana tau bisa dalam minggu ini sidangnya" ujar dosen pembimbing Anggie.
"Siap pak. Sekarang saya akan langsung daftar" ujar Anggie dengan semangat.
Dia sangat bahagia sekali. Kerja kerasnya hari ini terbayar dengan sangat lunas. Anggie berjalan keluar dari dalam ruangan dosen pembimbingnya. Dia melihat ke ruang dosen pembimbing Vina.
"Sepertinya Vina masih di dalam" ujar Anggie saat melihat pintu ruangan itu masih tertutup rapat
Anggie memilih untuk duduk di kursi tunggu. Dia melihat lihat kembali dua tanda tangan dari dosen pembimbingnya yang sudah ada di cover disertasinya itu. Anggie iseng memfoto cover tersebut.
"Posting atau nggak ya?" ujar Anggie sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Dia ragu apakah akan posting atau tidak cover disertasinya yang sudah ditandatangani oleh kedua dosen pembimbing itu. Akhirnya Anggie memutuskan untuk tidak memposting cover disertasinya. Dia tidak ingin semua orang tau kalau dia berhasil menyelesaikan perkuliahan magisternya walaupun tanpa dorongan dari keluarga Sanjaya.
"Gue foto dengan mama sajalah pas wisuda" ujar Anggie dengan keputusannya sendiri.
Setelah tiga puluh menit menunggu Vina di luar. Akhirnya sahabat terbaiknya itu keluar dari ruangan dosen pembimbing sambil tersenyum bahagia. Senyuman Vina sampai ke mata jernihnya itu. Senyuman terbaik diberikan oleh Vina kepada Anggie yang terlihat sedang menunggunya.
"Op jangan katakan. Gue tau loe pasti juga mendapatkan tandatangan." tebak Anggie saat melihat Vina mau mengatakan apa yang membuat dirinya menjadi tersenyum bahagia seperti sekarang ini.
"Hahaha hahaha. Mari kita daftar" ujar Vina dengan penuh semangat.
"Akhirnya kita bisa sidang bersama sama. Bisa menyelesaikan berbarengan disertasi kita" ujar Anggie.
"Selamat ya Nggie" ujar Vina sambil memeluk Anggie.
"Selamat juga Vin" balas Anggie sambil tersenyum bahagia.
Kedua sahabat itu kemudian berjalan meninggalkan ruangan dosen. Mereka berdua menuju gedung administrasi untuk melakukan pendaftaran ujian disertasi mereka. Mereka berdua mendapatkan jadwal di hari yang sama. Tetapi bedanya Vina sidang terlebih dahulu, sedangkan Anggie setelah Vina.
"Semoga lulus" ujar Vina.
__ADS_1
"Semangat untuk lulus" jawab Anggie