
"Nggak ada tapi tapi sekarang berangkat" ujar rekan dosen kepada Anggie.
"mana bisa seperti itu" tolak Anggie dengan halus.
"Anggie lebih penting kesehatan Mama dari pada hal ini Anggie." kata rekan dosen itu yang tidak menerima alasan dari Anggie untuk saat ini.
"Izin dengan orang jurusan dulu ya. Nggak mungkin kamu yang izinkan aku" kata Anggie yang tidak mau di cap tidak sopan oleh pihak jurusan karena tidak izin kepada mereka secara langsung untuk meninggalkan kelas.
"Anggie, sekarang yang lebih penting adalah kesehatan dan kondisi Mama kamu. Pihak jurusan pasti akan mengerti kondisi seperti ini" kata rekan dosen yang tidak ingin Anggie meninggalkan mamanya dalam kondisi terbaring seperti sekarang ini.
Tiba tiba ketua jurusan yang sedang mereka bicarakan masuk ke dalam ruangan pada dosen. Dia terlihat baru pulang dari mengisi proses pembelajaran. Rekan dosen Anggie tersenyum saat melihat Ketua jurusan yang tiba tiba saja sudah berada di antara mereka berdua.
"Nah kebetulan. Pak Indra, apa saya boleh mengatakan sesuatu?" ujar rekan dosen Anggie yang main langsung memanggil ketua jurusan. Rekan dosen Anggie tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memanggil Ketua jurusan.
"Silahkan bu, ada apa?" tanya Pak Indra ketua jurusan yang terkenal akan kebaikan dan juga rasa empatinya yang tinggi kepada dosen dan semua mahasiswa jurusan ekonomi bisnis itu.
"Ini Pak. Orang tua perempuan dari Bu Anggie kecelakaan dan sedang dalam keadaan koma di rumah sakit. Tapi buk Anggie sama sekali tidak mau saya suruh kembali ke rumah sakit untuk menjaga orang tuanya" kata rekan dosen itu menceritakan kepada ketua jurusan.
Ketua jurusan menatap lama ke arah Anggie. Dia meminta konfirmasi langsung dari Anggie. Anggie paham dengan maksud dari tatapan Ketua jurusan itu. Tatapan yang meminta konfirmasi kepada Anggie.
"Benar Pak, Mama saya kecelakaan kemaren siang saat pulang dari pasar. Sekarang sedang koma di rumah sakit" jawab Anggie tanpa ragu mengatakan apa yang terjadi sebenarnya kepada Ketua jurusan.
Ketua jurusan terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Anggie kepada dirinya. Dia tidak menyangka kalau Anggie akan tetap datang juga ke kampus saat kejadian buruk sudah menimpa orang tua perempuannya itu. Apalagi Ketua jurusan juga tau kalau Anggie hanya memiliki mamanya saja sekarang tidak ada keluarga yang lain. Ketua jurusan bisa membayangkan bagaimana pentingnya sosok Mama bagi Anggie sekarang ini.
"Kenapa kamu masih kerja?" tanya Ketua jurusan yang penasaran dengan latar belakang pendorong Anggie untuk masuk kerja hari ini padahal orang tuanya dalam kondisi terbaring koma di ranjang rumah sakit.
"Saya tidak mau dikatakan orang yang tidak bertanggung jawab Pak. Makanya saya datang hari ini. Apalagi saya ada kelas, dan rencananya nanti sore sehabis kelas saya akan minta izin kepada Bapak untuk tidak masuk besok karena akan menjaga Mama" jawab Anggie dengan jujur dan melihat ke mata tajam Ketua jurusan.
"Baiklah, sekarang saya sudah tau jawabannya kenapa kamu masih tetap datang ke kampus padahal kondisi kamu sudah tidak memungkinkan lagi" kata Ketua jurusan.
"Sekarang, silahkan kamu pulang dan jaga orang tua kamu di rumah sakit. Untuk perkuliahan kamu bisa melakukannya secara daring sampai orang tua kamu sembuh" kata Ketua jurusan mengeluarkan keputusannya yang sangat bijak.
Ketua jurusan sangat paham dengan kondisi Anggie dan juga posisi Anggie sekarang ini. Ketua jurusan juga tidak meragukan bagaimana bertanggungjawabnya Anggie akan pekerjaan yang diberikan kepada dirinya.
Anggie yang mendengar apa keputusan yang dibuat oleh Ketua jurusan menatap Ketua jurusan dengan tatapan tidak percaya. Anggie benar benar tidak menyangka kalau Ketua jurusan akan membuat keputusan seperti itu.
"Anda serius Pak?" tanya Anggie yang masih belum yakin dengan apa yang dikatakan oleh Ketua jurusan kepada dirinya.
"Ya saya sangat serius. Kamu silahkan pulang dan jaga orang tua kamu di rumah sakit" kata Ketua jurusan mengulang kembali keputusan yang sudah dibuatnya agar Anggie percaya.
__ADS_1
"Sekali lagi terimakasih Pak. Terimakasih banyak. Anggie nggak tau lagi mau ngomong apa" ujar Anggie sambil menundukkan kepalanya mengucapkan terimakasih kepada Ketua jurusan dengan berkali kali.
"Sudah santai saja. Sampaikan salam kami kepada orang tua kamu ya" kata Ketua jurusan.
"Baik Pak" jawab Anggie lagi.
Ketua jurusan kemudian berjalan menuju ruangannya. Anggie melihat ke arah rekan kerjanya tadi yang dengan beraninya memanggil Ketua jurusan dan mengatakan apa yang seharusnya Anggie katakan.
"Makasih banyak ya" ujar Anggie dengan penuh rasa hormat.
"Santai saja. Kelas kamu nanti saya yang akan masuk, saat jam saya kosong. Kalau saya ngajar, terpaksa kamu yang ngajar secara daring ya" lanjut rekan dosen Anggie.
"Oke. Sekali lagi makasi banyak. Aku nggak tau lagi harus ngomong apa. Aku bener bener bahagia sekarang" ujar Anggie.
Anggie serasa lepas dari satu masalah saat mendapatkan kabar bahagia kalau dia boleh menjaga Mamanya di rumah sakit. Proses pembelajaran boleh dilakukan secara daring, serta ada rekan kerja Anggie yang mau membantu Anggie untuk melaksanakan proses pembelajaran.
"Sudah sekarang pergi sana. Kasihan Mama sendirian. Sampaikan juga salam kami ya" ujar rekan dosen itu.
"Siap. Aku jalan dulu" kata Anggie.
Anggie mengambil kembali tas kerjanya dan juga tas besar yang di dalamnya sudah ada pakaian serta barang barang yang diperlukan oleh Anggie selama di rumah sakit.
Anggie memesan taksi online kembali untuk menuju rumah sakit. Dia tidak mungkin naik angkot ke rumah sakit, karena bagaimanapun dia butuh cepat sampai ke rumah sakit. Walaupun ada angga di sana, tetapi Anggie tidak boleh memanfaatkan kebaikan Angga sehingga Anggie dengan santainya meninggalkan Mama di rumah sakit.
RUMAH SAKIT HARAPAN KITA
"Loh kamu kok udah pulang aja Nggie? Tapi delapan jam kuliah?" tanya angga yang heran melihat Anggie yang sudah berada di rumah sakit lagi, padahal hari baru pukul setengah sebelas. Kalau kuliah delapan jam tentu Anggie akan pulang sore, bukan siang seperti sekarang ini.
"Nggak jadi kuliah. Ketua jurusan ngasih izin aku untuk menjaga Mama, makanya aku balik pulang lagi" Anggie menjelaskan kepada Angga kenapa dirinya sudah berada di rumah sakit lagi sekarang.
"Oh begitu. Baik ya Ketua jurusan kamu" kata Angga memuji kebaikan Ketua jurusan Anggie yang memberikan Anggie izin untuk menjaga Mama sampai sembuh.
"Aku juga kaget. Tapi kenyataannya begitu ya udah Terima aja" jawab Anggie lagi.
"Oh ya, bagaimana Mama?" tanya Anggie yang penasaran dengan perkembangan Mama selama dirinya tidak ada di sana tadi.
"Masih sama, belum ada tanda tanda vital yang berarti" jawab Angga memberitahukan kepada Anggie apa yang Anggie perlu tau.
"Apa dokter Kevin sudah memeriksa Mama?" tanya Anggie selanjutnya.
__ADS_1
Anggie banyak bertanya karena dia sangat haus akan informasi kesehatan Mamanya itu. Anggie tidak ingin ketinggalan informasi tentang Mamanya itu. Anggie sangat ingin tau sekali perkembangan Mama.
"Sudah dokter Kevin tadi pagi memeriksa Mama." jawab Angga sambil melihat ke dalam ruangan kaca yang ada di depannya saat ini.
"Apa kata dokter?" tanya Anggie penasaran.
"Dokter hanya ngomong kalau Mama masih dalam kondisi kritisnya. Jadi masih perlu penanganan intensif" ujar Angga menjawab pertanyaan dari Anggie.
Mendengar jawaban dari Angga, air mata Anggie lolos dari pertahanan matanya. Anggie menangis dengan suara tertahan.
"Sabar ya" kata Angga sambil menepuk punda Anggie.
"Makasi" jawab Anggie dengan lemah.
Anggie dan Angga kemudian duduk di kursi yang berada di depan ruang tunggu ICU. Sekarang hanya Mama satu satunya pasien di dalam ruangan itu. Sehingga Angga dan Anggie tidak perlu berebutan tempat menunggu dengan orang lain di sana.
Saat itulah Vina yang baru selesai meeting dengan seorang pengusaha kaya, datang ke rumah sakit dengan membawa bekal makan siang untuk Angga kekasihnya dan Anggie sahabatnya. Vina sama sekali tidak merasa cemburu dengan kedekatan antara Angga dan Anggie. Vina sangat tau Anggie mencintai siapa, sehingga Vina tidak perlu cemas dengan kedekatan dua orang itu.
"Gimana kondisi Mama, Anggie?" ujar Vina saat dirinya sudah berada di depan dua orang yang sangat penting dalam hidupnya itu.
"Kata dokter Kevin masih dalam kondisi kritis." jawab Anggie sambil menunduk dan menselonjorkan kakinya.
Vina duduk di sebelah Angga. Dia menaruh makan siang yang tadi sempat dibelinya sebelum datang ke rumah sakit.
"Sayang, Anggie makan siang dulu yuk. Aku lapar banget" kata Vina yang perutnya sudah protes minta di isi.
Tadi sebenarnya dia ada agenda makan siang dengan client yang ditemuinya tadi. Tapi karena mengingat Angga dan Anggie belum makan siang, pada akhirnya Vina memilih untuk tidak ikut acara makan siang melainkan membungkus menu makan siang untuk di makan di rumah sakit.
"Sayang, kamu nggak telpon Kevin untuk makan siang dengan kita?" ujar Vina kepada Angga.
"Aku rasa dia sudah makan sayang" jawab Angga.
"Tapi cobalah aku hubungi dulu" lanjut Angga lagi.
Angga menghubungi saudara kembarnya itu. Ternyata Kevin memang sudah makan siang di kantin rumah sakit saat selesai tindakan operasi tadi.
"Dia sudah makan sayang. Kevin akan selalu lapar setelah melakukan operasi" ujar Angga kepada Vina.
"Oh oke. Mari kita makan" kata Vina yang sudah tidak sabaran lagi
__ADS_1
Mereka bertiga kemudian makan dengan lahap semua menu yang ada di depan mereka saat ini. Anggie masih seperti biasa, makannya sangat lambat sekali. Anggie seperti tidak ingin makan lagi. Tetapi karena dia tau, dia butuh tenaga dan fokus untuk menjaga Mama, membuat Anggie tetap harus makan, bagaimanapun caranya.