Tempat Untuk Kembali

Tempat Untuk Kembali
tempat untuk kembali *9


__ADS_3

"Anggie, bangun nak, shubuh dulu" ujar Mama membangunkan Anggie yang masih tidur sambil memeluk gulingnya dengan begitu erat.


Anggie menggeliat mendengar suara mamanya yang tepat di telinga Anggie. Anggie perlahan lahan membuka matanya, dia masih sedikit kaget saat melihat suasana kamar yang terpampang nyata di depan matanya saat ini. Anggie berusaha mengenali ruangan tersebut.


"Ternyata ini bukan mimpi" ujar Anggie dengan pelan. Anggie tidak ingin mama mendengar apa yang dikatakan oleh dirinya. Anggie tidak ingin mama bersedih atas apa yang terjadi dalam hidup mereka saat ini.


"Sayang, shubuh dulu setelah itu kamu boleh tidur lagi" ujar mama mengulang kembali perintagnya kepada Anggie.


"Sip Mam" jawab Anggie sambil tersenyum ke arah Mama.


Anggie berjalan ke luar dari kamar. Sedangkan Mama langsung merapikan tempat tidur mereka.


"Loh mbak sudah masak?" tanya Anggie saat melihat mantan pelayannya sudah bekerja di dapur sepagi ini untuk menyiapkan sarapan.


"Iya Non. Nona kok sudah bangun?" ujar bibik menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Anggie kepada dirinya.


"Jangan panggil Nona lagi mbak. Anggie sudah tidak layak dipanggil itu lagi" ujar Anggie menolak panggilan Nona yang dikatakan oleh mantan pelayan rumah.


"Nona, bagaimanapun keadaan Nona dan Nyonya besar, kami masih menganggap Nona dan nyonya besar masih sama seperti biasanya. Tidak ada bedanya Nona" jawab Bibik menjelaskan kepada Anggie.


"Jangan Mbak, kami jadi sungkan" ujar Anggie.


"Bener apa yang dikatakan oleh Anggie, jangan panggil kami Nyonya dan Nona lagi ya. Panggil saja saya dengan Ibuk, sedangkan Anggie dengan Anggie saja" ujar Mama yang mendengar apa yang pembicaraan antara Anggie dengan mantan pelayan mereka sewaktu di mansion.


"Tapi Nyonya" ujar pelayan yang masih tidak bisa memanggil dengan kata sapaan seperti itu.


"Sudahlah Bik, kami mohon biasakan saja ya" kata Mama memohon kepada mereka.


"Baiklah Buk, kami akan berusaha supaya bisa memanggil Ibuk dan Anggie" ujar pelayan yang pada akhirnya mengalah dengan keinginan Mama dan Anggie.

__ADS_1


"Kamu belum jadi juga shubuh Anggie?" ujar Mama saat melihat Anggie yang masih belum mengerjakan apa yang diminta oleh Mama kepada dirinya.


"Ini baru mau Ma. Anggie lupa dimana kamar mandinya" ujar Anggie mengatakan kepada Mama kenapa dirinya belum juga melaksanakan apa yang dikatakan oleh Mama dari tadi.


"Jadi No, eh maksud saya, Anggie meu ke kamar mandi?" ujar pelayan.


"Kalau iya kamar mandinya di sana" ujar Bibik menunjukkan dimana letak kamar mandi kepada Anggie.


Anggie kemudian berjalan ke arah yang disampaikan oleh mantan pelayan mansion. Dia tidak ingin Mama mengulang perintah yang sama untuk kesekian kali kepada dirinya. Sehingga mau tidak mau Anggie harus melakukannya sekarang juga.


***********************************"""""


"Anggie, kamu tidak kuliah?" ujar Mama bertanya saat melihat Anggie masih duduk di kasur selepas sarapan.


"Nggak Ma, sepertinya masih ada banyak yang harus kita diskusikan untuk kehidupan kita selanjutnya" ujar Anggie dengan nada serius.


Mama yang sudah paham dengan apa yang dikatakan oleh Anggie, kemudian memilih duduk di sebelah Anggie.


"Yup bener Mama. Kita mau tinggal dimana lagi. Itu yang Anggie pikirkan"


Mama meraih tangan Anggie. Mama kemudian menatap ke arah Anggie.


"Sayang, tadi bibi mengatakan kepada Mama kalau mereka akan menjual rumah ini. Mereka hanya mau menjualnya kalau kita yang beli" ujar Mama memberitahukan kepada Anggie apa yang dikatakan oleh mantan pelayan mereka saat Mama membantu membersihkan meja makan saat selesai sarapan tadi.


"Dengan apa kita beli Ma? Rumah ini pasti mahal karena masih di ibu kota" ujar Anggie yang sudah bisa membayangkan berapa harga rumah yang berada di pusat kota.


Mama tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Anggie. Anggie menatap heran ke arah Mama.


"Kok Mama senyum?" ujar Anggie dengan nada heran.

__ADS_1


"Sayang, kata bibi, kita tidak perlu membayar lunas untuk rumah ini, kita cukup membayar setengahnya dahulu setelah itu kita boleh mencicil nya" ujar Mama.


"Berapa satu bulan Ma? Apa untuk pembayaran awalnya kita punya uangnya?" kata Anggie yang sebenarnya takut kalau uang yang mereka miliki tidak cukup untuk membayar harga rumah tersebut.


"Kamu tenang saja sayang. Dengan uang yang Mama akan berikan kepada bibi, maka angsuran satu bulan kita satu juta sayang" ujar Mama.


"Sekarang yang Mama pikirkan uang satu juta perbulannya ini. Dari mana kita bisa mendapatkan uang sebanyak itu" ujar Mama.


"Kalau untuk bayar di muka uang Mama ada."


"Mama juga berpikir kalau kita ngontrak maka kita harus bayar terus rumah tidak akan menjadi milik kita. Sedangkan kalau kita beli ini dengan nyicil, maka rumah ini akan menjadi milik kita" lanjut Mama menjelaskan kepada Anggie


"Oke Ma kalau begitu kita beli saja, Anggie akan mencari kerja untuk membayar tagihan bulanannya. Memang bener yang Mama katakan, kalau kita cicil dengan membeli maka rumah ini akan menjadi milik kita. Kalau kontrak rumah ini masih akan tetap milik si pemilik" ujar Anggie yang sangat mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Mama.


"Tapi kamu kan kuliah sayang, juga sudah jadi asisten dosen. Masak kamu mau menambah cari kerja lagi" ujar Mama yang kaget mendengar Anggie masih ingin cari kerja lagi untuk membayar cicilan rumah yang mereka beli.


"Ma, gaji asisten dosen cukup untuk makan kita dan keperluan kita yang lain, sedangkan untuk cicilan rumah Anggie memang harus bekerja tambahan lagi Mama" kata Anggie menjelaskan rincian pengeluaran dari gaji dosen.


"Apa kamu tidak akan kecapekan sayang?" tanya Mama lagi.


"Mama takut kamu kecapekan terus kamu sakit nak. Mama tidak mau itu terjadi" lanjut Mama mengutarakan apa yang sebenarnya menjadi kecemasan bagi Mama.


"Mama tenang saja. Anggie akan jaga kesehatan Anggie, Ma" jawab Anggie yang tidak ingin Mamanya berpikiran buruk dan mencemaskan dirinya.


"Baiklah kalau kamu berjanji akan menjaga kesehatan kamu, maka Mama mengizinkan walaupun berat hati" jawab Mama.


"Ma, Mama tidak boleh mengizinkan tapi berat hati. Anggie butuh kepercayaan Mama seutuhnya tidak setengah setengah Mama" lanjut Anggie menolak kata mengizinkan tetapi setengah.


"Anggie tidak akan bisa bekerja dengan nyaman kalau Mama tidak mengizinkan Anggie seutuhnya. Pikiran Anggie pasti akan bercabang Mama" lanjut Anggie

__ADS_1


Mama terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Anggie. Apa yang dikatakan oleh Anggie semua adalah benar. Ridho orang tua sengat diperlukan oleh anak saat mereka bekerja di luar rumah.


"Baiklah Nak, Mama percaya dengan kamu seutuhnya." jawab Mama dengan sangat yakin. Mama juga tidak ingin memberatkan Anggie dengan izin yang setengah itu.


__ADS_2