
Tuan Sanjaya tolong jawab pertanyaan dari saya, jangan hanya diam saja" ujar Mama yang sudah sangat emosi saat melihat Papi hanya diam saja. Papi sama sekali tidak membuka mulutnya, kecuali saat dia mengatakan mari kita duduk dulu.
"Kalau Anda laki laki maka hendaknya saat anda berani berbuat, maka saya harapkan anda juga berani untuk bertanggung jawab. Bukan seperti ini, Anda hanya bisa diam saja saat saya meminta anda menjelaskan kepada saya apa yang terjadi sebenarnya" kata Mama sambil menatap ke arah Papi dengan tatapan sangat tajam.
"Apa anda mau kalau Anggie yang menceritakan semuanya?" tanya Mama lagi.
Mama kembali menatap ke arah Papi. Mama bener bener kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh Papi kepada mereka berdua. Sebenarnya Mama sudah tahu apa maksud dari fhoto yang sekarang dipegang oleh dirinya itu. Tetapi Mama ingin mendengar langsung dari orang yang telah memberinya luka tersebut.
"Jangan lari dari tanggung jawab. Saya hanya ingin bertanya saja, tidak ada yang lain. Apapun yang Anda jelaskan saya akan mendengarnya" lanjut Mama sambil melihat terus ke arah mata Papi.
Mama tidak melepaskan tatapan tajamnya dari mata Papi. Mama masih terus menatap pria yang berada di depannya itu. Mama tidak ingin Papi menganggapnya hanya menggertak saja.
"Ma, sudahlah Ma. Dia tidak akan berani mengakuinya. Kita pergi saja dari sini Mama" ujar Anggie yang sudah tidak tahan lagi melihat situasi seperti ini.
Saat Anggie mengatakan kalau mereka berdua akan meninggalkan mansion besar itu, kedua wanita yang dibawa oleh Papi ke dalam mansion tersenyum bahagia. Anggie melihat semua itu. Hanya Anggie saja yang melihatnya. Papi sama sekali tidak melihat.
'Aku akan keluar tetapi aku akan merebut semuanya kembali' ujar Anggie dalam hatinya saat dirinya melihat semua senyuman yang dilukiskan oleh kedua orang itu dibibir mereka.
'Aku akan pastikan untuk membalasnya kepada kalian berdua. Walaupun sesakit apanya pembalasan itu, aku akan tetap membalasnya' lanjut Anggie yang sudah menanamkan dendam di dalam hatinya.
Papi kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Anggie kepada dirinya. Papi benar benar tidak menyangka kalau Anggie akan mengatakan hal itu saat dirinya lebih memilih untuk membungkam suaranya.
"Anggie, Mama jangan tinggalkan saya dan keluarga kita" ujar Papi meminta Mama dan Anggie untuk bertahan tinggal di mansion mereka yang besar itu.
"Saya mohon kepada kalian berdua untuk tidak meninggalkan saya" lanjut Papi yang tidak menyangka kalau pilihan itu yang akan diambil oleh Anggie.
"Maaf Tuan besar, saat Anda memilih untuk menikah kembali, maka anda berarti sudah siap untuk kehilangan saya dan anak saya" ujar Mama yang akhirnya mengeluarkan kalimat itu kepada Papi.
__ADS_1
Papi menatap tidak percaya ke arah Mama. Papi benar benar tidak menyangka kalau rumah tangga dan keluarga yang telah dibina dan dibangunnya puluhan tahun itu akan hancur pada hari ini, hanya karena keegoisan dua wanita yang menuntut untuk tinggal di mansion besarnya itu.
Mama maju ke arah Papi. Mama kemudian memeluk suami yang sangat dicintainya itu. Suami yang telah menemani kehidupannya selama ini, walaupun ada kebohongan yang sangat lama disimpan oleh suaminya, tetapi Mama telah memaafkan semua itu.
"Saya sudah memaafkan semuanya. Kamu salah, saya juga pasti salah. Karena tidak ada suami yang akan mencari wanita lain kalau istrinya sempurna" ujar Mama di telinga Papi.
"Jadi tolong maafkan atas ketidak sempurnaan saya" lanjut Mama meminta maaf kepada Papi atas semua kesalahan yang telah diperbuat oleh Mama selama ini
"Kamu tidak ada salahnya sayang. Saya yang salah. Maafkan saya" ujar Papi yang telah menyesal karena telah mengambil jalan pintas itu.
"Semoga bahagia. Saya dan Anggie pergi dari hidup kamu" ujar Mama.
Mama melepaskan pelukan hangatnya dari Papi. Mama benar benar tidak menyangka di usia tuanya seperti ini dia akan berpisah dengan laki laki yang begitu dicintainya. Laki laki yang menjadi prioritasnya selama ini.
"Ayo sayang kita berangkat" ujar Mama mengajak Anggie untuk pergi dari mansion besar keluarga Sanjaya.
"Apa?" ujar Mama.
"Jangan pernah tanggalkan nama Sanjaya dari nama kamu dan Anggie" ujar Papi menyampaikan permintaannya kepada Mama.
Mama tersenyum, "Saya dan Anggie tidak bisa berjanji akan hal itu" jawab Mama.
"Anggie ambil semua barang yang Mama belikan dengan uang Mama. Jangan bawa barang yang bukan hak kamu. Jelas sayang?" ujar Mama.
Semua yang diucapkan oleh Mama membuat Papi benar benar tidak menyangka. Ternyata luka yang dibuatnya dan digoreskan nya di hati istrinya itu benar benar telah membuat istri dan anaknya terluka, luka yang sangat dalam.
Mama berlalu dari hadapan tiga orang yang ada di ruang tamu. Semua kejadian itu disaksikan oleh para pelayan yang ada di mansion besar tersebut. Mereka tidak menyangka kalau Nyonya besar dan Nona muda mereka akan keluar dari mansion besar itu dan berganti dengan Nyonya besar dan Nona muda yang baru.
__ADS_1
Papi melihat Mama masuk ke dalam kamar utama. Mama memasukkan barang barang yang memang dibeli dari uangnya sendiri ke dalam sebuah koper yang berukuran sedang. Mama hanya membawa sesuatu yang pantas untuk dibawanya.
Akhirnya Mama menanggalkan cincin pernikahan dan pertunangannya dari jari tangannya. Mama mencium sesaat cincin tersebut. Setelah itu Mama menaruh cincin itu di dekat fhoto keluarga mereka. Fhoto yang menampilkan mama, Papi dan Anggie yang tersenyum bahagia. Semua yang dilakukan oleh Mama dilihat langsung oleh Papi. Papi benar benar terluka melihat luka yang ditanggung oleh istrinya akubat dari keegoisan Papi.
"Maafkan saya sayang" ujar Papi dengan suara pelan.
Anggie yang sudah selesai merapikan barang barangnya yang juga hanya satu setengah koper, satu koper buku buku kuliahnya dan satu koper kecil lagi pakaian yang memang dibeli dari uang Mama dan juga uangnya saat dirinya menerima gaji asisten dosen.
Anggie menunggu Mama di ruang tamu.
"Is bentar lagi jadi gembel" ujar Kayla sambil menatap jijik ke arah Anggie.
"Tidak masalah. Tapi malulah saat kamu menjadi anak seorang pelakor" ujar Anggie dengan telak membalas hinaan yang diberikan oleh Kayla kepada dirinya.
"Oh tidak masalah yang penting jadi orang kaya, bukan gembel seperti kamu" ujar Kayla.
"Oh oke" jawab Anggie yang malas berdebat dengan Kayla
Nyonya Rina yang melihat berdekatan antara anaknya dengan Anggie sama sekali tidak melarang.
"Sayang, masak kamu mau ngomong dengan gembel" ujar Nyonya Rina.
"Oh Nyonya pelakor, saya juga enggan berbicara dengan anak kamu ini" jawab Anggie.
"kamu" ujar Nyonya Rina sambil mengangkat tangannya hendak menampar Anggie.
Anggie menahan tangan Nyonya Rina.
__ADS_1
"jangan anda kira anda bisa menyentuh saya Nyonya. Oh tidak, itu hanya ada di dalam mimpi Anda" ujar Anggie.