Tempat Untuk Kembali

Tempat Untuk Kembali
Tempat Untuk Kembali *42


__ADS_3

"Pak. Nanti bapak dimarahi sama mereka. Nggak usah ngebut Pak. Tidak apa apa" ujar Anggie dengan cemas.


Anggie tidak ingin karena dirinya yang harus cepat sampai ke rumah sakit, membuat Bapak sopir taksi online di marahi oleh pengendara mobil yang lainnya. Anggie tidak mau hal seperti itu terjadi. Makanya Anggie melarang sopir untuk terlalu ngebut.


"Biarkan saja Nona. Tidak masalah. Sekarang yang terpenting Nona cepat bertemu dengan ibu Nona. Kita tidak tau bagaimana kondisi ibu Nona saat ini" jawab sopir taksi online yang tidak mau menuruti apa yang dikatakan oleh Anggie kepada dirinya. Sopir taksi tetap dengan kecepatan mobilnya yang tadi. Sopir taksi tetap memotong beberapa mobil yang berada di depannya saat ini.


Akhirnya setelah melalui drama kebut kebutan dan beberapa kali sopir taksi online di teriaki dan di maki maki oleh pengendara yang lain, taksi online yang ditumpangi oleh Anggie sudah masuk ke dalam area rumah sakit.


"UGD saja Pak" ujar Anggie menyebutkan dimana dia untuk diturunkan oleh sopir.


"Oke Nona" jawab sopir taksi online.


Mobil berhenti tepat di depan pintu ruang UGD. Anggie mengambil tasnya yang di taruh di kursi sebelah.


"Ini Pak uangnya" ujar Anggie sambil memberikan uang seratus ribu satu lembar.


"Bapak ambil aja kembaliannya. Terimakasih karena sudah mengantar saya secepat yang bapak bisa" lanjut Anggie sambil tersenyum.


"Terimakasih Non. Semoga ibu Nona dalam keadaan baik baik saja" kata sopir taksi mendoakan Anggie dengan sangat tulus.


Anggie kemudian turun dari dalam taksi online. Dia berjalan secepat yang dia bisa menuju kamar tempat mama di rawat. Anggie sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan mamanya itu.


"Suster saya anak ibu Ratna. Ibu Ratna di rawat dimana ya?" kata Anggie kepada suster yang ada di resepsionist UGD.


"Mari ikut saya nona." kata suster meminta Anggie untuk mengikuti dirinya menuju tempat ibu Ratna di rawat.


Anggie dengan suasana hati dan pikiran yang sudah tidak karu karuan berjalan mengikuti suster yang sekarang berjalan di depan dirinya. Pikiran Anggie sudah kemana mana, dia sudah berpikiran jelek tentang orangtuanya saat ini.


Suster kemudian membuka sebuah pintu ruangan. Terlihat di dalam ruangan itu ada dua orang dokter dan tiga orang perawat yang sedang memberikan tindakan kepada seorang pasien yang sedang berbaring di atas ranjang rumah sakit.


Anggie berjalan perlahan menuju ranjang rumah sakit. Dia berharap orang yang terbaring di atas ranjang rumah sakit itu bukanlah mamanya.


'Ya Tuhan itu jangan Mama Tuhan. Tolong Anggie Tuhan. Jangan mama' ujar Anggie memanjatkan doa kepada Tuhan berharap kalau yang terbaring di ranjang rumah sakit bukanlah mama kandungnya melainkan orang lain saja.


Anggie menutup mulutnya tidak percaya. Ternyata orang yang terbaring lemah dan di bantu alat medis di ruangan itu adalah Mamanya. Air mata Anggie langsung turun dengan sangat derasnya. Dia tidak menyangka kalau hal seperti ini akan terjadi dalam hidupnya.


"Dokter, kenapa dengan Mama saya dokter" ujar Anggie yang sekarang sedang menguat nguatkan dirinya untuk bisa berbicara dengan dokter yang memeriksa kondisi mama.


"Maaf, apa Anda, anak dari Ibu Ratna?" tanya dokter kepada Anggie.

__ADS_1


"Iya dokter saya Anggie, anak dari ibu Ratna. Apa yang terjadi dengan Mama saya dokter?" tanya Anggie yang sekarang sangat cemas melihat kondisi Mamanya itu.


Mama terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, dengan dibantu oleh beberapa alat alat penunjang kehidupan. Kondisi Mama benar benar memprihatinkan sekarang ini.


"Mari ikut saya" kata dokter mengajak Anggie menuju sebuah ruangan yang ada di dalam ruangan besar itu.


"Silahkan duduk" lanjut dokter saat mereka sudah berada di dalam ruangan kecil itu.


Anggie kemudian duduk di bangku yang ada di dalam ruangan kerja tersebut. Ruangan serba putih dan berbau khas rumah sakit.


"Ibu Anda tadi kecelakaan saat dalam perjalanan dari pasar" ujar dokter memberitahukan kepada Anggie apa penyebab Mama bisa sampai seperti ini kondisinya sekarang.


"Mama kecelakaan? Pulang pasar?" Ujar Anggie mengulang ulang apa yang dikatakan oleh dokter kepada dirinya.


Dokter melihat ke arah Anggie yang sekarang sedang syok menerima kenyataan yang sedang menimpa mamanya itu. Dokter menjadi ragu untuk mengatakan kondisi orang tuanya kepada Anggie.


"Nona anggie, silahkan minum dulu" ujar seorang suster sambil memberikan segelas air minum kepada Anggie.


Anggie mengambil gelas tersebut. Dia meminum air tersebut hanya tiga deguk saja. Setelah itu Anggie melihat ke arah dokter.


"Saya sudah siap dokter untuk mendengarkan keadaan mama saya Tolong jelaskan dokter." kata Anggie meminta dokter menjelaskan apa yang terjadi kepada mamanya itu


Dokter melihat reaksi yang diberikan oleh Anggie sebelum dokter melanjutkan informasi yang akan diberikan oleh dirinya seputar tentang keadaan ibu Anggie.


"Serta ada alat vital ibu yang sudah tidak bisa lagi bekerja dengan baik" lanjut dokter .


"Dokter silahkan cek organ vital milik saya kalau itu sesuai maka silahkan dokter berikan kepada Mama. Saya ikhlas dokter sangat ikhlas. Bagi saya yang paling penting adalah Mama dalam keadaan sehat. Saya hanya memiliki Mama saja di atas dunia ini dokter" potong Anggie saat dokter belum selesai mengatakan semua yang akan dikatakan oleh dirinya.


"Nona, tolong jangan potong apa yang saya katakan, saya belum sampai ke ujung perkataan saya" kata dokter memberitahukan kepada Anggie kalau dia belum sampai di ujung perkataannya.


"Baiklah dokter. Maafkan saya. Saya sangat takut dengan kondisi Mama saya" kata Anggie yang sudah salah karena memotong percakapan dokter.


Dokter mengangguk. Dokter tau betapa cemas nya seorang anak akan kesehatan ibunya yang sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Apalagi saat itu Anggie melihat banyak peralatan medis yang terpasang di tubuh ibunya.


"Alat vital yang saya maksudkan masih bisa kita pertahankan. Jadi ibu masih belum perlu menerima cangkok organ dalam." kata dokter meneruskan ucapannya yang sempat terpotong tadi.


"Syukurlah dokter kalau begitu. Terus bagaimana dengan kondisi ibu saya dokter?" lanjut Anggie bertanya selanjutnya.


Dokter terdiam, dia harus mengumpulkan niatnya terlebih dahulu sebelum mengatakan bagaimana kondisi Ibu Ratna sekarang ini. Dokter tidak mau saat dirinya mengatakan kondisi ibu Ratna kepada Anggie, Anggie akan jatuh pingsan dan tidak bisa menerima kondisi ibunya.

__ADS_1


"Kondisi ibu Ratna hari ini seperti yang kita lihat dalam keadaan koma" kata dokter yang pada akhirnya mengatakan juga keadaan ibu Ratna kepada Anggie.


Anggie menutup mulutnya. Dia tidak menyangka kalau ibunya akan mengalami nasib yang seperti sekarang ini. Seharusnya tadi Anggie tidak mengizinkan ibu Ratna untuk pergi berbelanja ke pasar.


"Kenapa bisa dokter, kenapa bisa mama koma, padahal tadi dokter mengatakan alat vital mama masih bisa diselamatkan. Tapi kenapa mama jadi koma dokter" kata Anggie yang tidak bisa menerima keadaan mamanya itu. Anggie kaget dan syok mendengar keadaan mama.


Dokter mengeluarkan hasil ronsen terhadap ibu Ratna. Anggie melihat ke arah hasil ronsen itu. Dokter menjelaskan kepada Anggie kenapa ibu Ratna bisa koma sekarang ini. Anggie menyimak semua yang dikatakan oleh dokter. Anggie sama sekali tidak ada memotong satupun perkataan dari dokter. Dia menyimak dengan sungguh sungguh apa yang dikatakan oleh dokter kepada dirinya.


"Seperti itulah Anggie, kenapa Ibu Ratna bisa sampai koma" kata dokter menjelaskan kepada Anggie kenapa bisa ibu Ratna menjadi koma.


"Dokter apa ada kemungkinan Mama untuk sadar, mengingat usia Mama yang sudah berumur?" tanya Anggie.


Anggie bukan bermaksud apa apa. Dia harus menyiapkan dirinya untuk hal terburuk yang akan menimpa Mama dan juga kehidupannya ke depan.


"Harapan untuk hidup akan ada selalu Anggie. Tidak ada yang tidak mungkin dalam kehidupan. Kita semua akan berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada Ibu Ratna" kata dokter memberikan suntikan semangat kepada Anggie supaya Anggie tidak menyerah begitu saja.


"Baiklah dokter. Terimakasih atas semua yang telah dokter lakukan terhadap Mama. Apa saya bisa nengok Mama sekarang?" tanya Anggie yang sudah sangat rindu dengan Mama.


"Bisa, ayo saya antar" kata dokter.


Dokter dan Anggie keluar kembali dari dalam ruangan yang ada di dalam ruangan besar itu. Dokter melihat tidak ada lagi Ibu Ratna yang terbaring di ranjang rumah sakit yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Suster kemana Ibu Ratna?" tanya dokter kepada suster yang sedang merapikan tempat tidur bekas tempat ibu Ratna berbaring tadi.


"Pasien tadi sempat drop saat dokter berbicara dengan keluarga pasien. Sekarang pasien sudah dipindahkan ke ruang ICU dokter" kata suster memberitahukan dimana keberadaan Ibu Ratna saat ini kepada dokter dan Anggie.


"Terimakasih sus" ujar dokter.


Ternyata Mama sudah dipindah ke ruang ICU karena tadi saat Anggie berbicara dengan dokter yang satunya lagi, kondisi Mama sempat drop, sehingga dokter memutuskan Mama untuk dirawat di ruangan ICU.


"dokter bagaimana dengan kondisi Mama?" tanya Anggie sambil melihat dokter dengan tatapan cemas.


"Maaf Anggie, Saya juga belum tau. Kita akan sama sama tau saat sudah di ruang ICU" jawab dokter.


"mari ikut saya" kata dokter selanjutnya.


Anggie dan dokter yang tadi menangani kondisi Mama, berjalan beriringan menuju ruang ICU. Mereka akan melihat kondisi Mama di sana.


"Ma semoga Mama tidak apa apa ya Ma. Kasihan Anggie yang sekarang tinggal sendiri Ma" ujar Anggie dengan pelab berharap kalau Mamanya dalam kondisi baik baik saja saat ini.

__ADS_1


__ADS_2