
Kevin pergi mengambilkan dokumen dokumen yang harus ditandatangani oleh Anggie. Sedangkan Anggie dan Vina terlihat sedang tidak dalam kondisi yang baik baik saja. Mereka duduk terpisah jauh. Anggie berdiri di depan kaca jendela melihat kondisi Mama. sedangkan Vina duduk di dekat Angga sambil terlihat mengobrol ringan satu dengan lainnya.
Anggie sebenarnya ingin menyapa Vina dan meminta maaf kepada Vina. tetapi saat melihat bagaimana raut wajah sahabatnya itu, membuat Anggie mengurungkan niatnya. dia akan menunggu Vina tidak marah lagi kepada dirinya. Barulah saat itu Anggie akan meminta maaf kepada Vina dengan sungguh sungguh. Dia tidak mau terlibat pertengkaran dengan Vina terlalu lama.
Angga yang melihat bagaimana keadaan dua sahabat itu, lebih memilih untuk tidak ikut campur. Angga memilih untuk diam. Angga menyerahkan pernyelesaian kesalahpahaman kedua sahabat itu kepada mereka berdua saja. Angga tidak akan ikut campur di dalam masalah itu.
Kevin sudah kembali dengan dokumen yang harus di tanda tangani oleh Anggie sebagai keluarga satu satunya dari Ibu Ratna, pasien yang akan menjalani operasi kepala besok pagi.
"Anggie, silahkan tanda tangani dokumen ini" ujar Kevin memberikan dokumen dokumen yang harus di tandatangani oleh Anggie.
"Boleh baca dulu?" tanya Anggie yang tidak ingin asal tandatangan saja dokumen yang berkaitan dengan kehidupan Mama
"Silahkan" kata Kevin memperbolehkan Anggie untuk membaca dokumen operasi Mama.
Anggie membaca semua dokumen dokumen yang diberikan kepada dirinya. Dia sama sekali tidak melewatkan satu huruf pun. Anggie membaca dengan sangat teliti sekali dokumen itu. Anggie tidak mau ada sedikit kesalahan yang nantinya berakibat fatal kepada Mama.
"Bagaimana Anggie? Apa kamu sudah siap untuk menandatangani dokumen itu?" tanya Kevin yang sedikit kesal dengan Anggie.
Anggie mengangguk. "Dimana harus tanda tangan?" tanya Anggie kepada Kevin.
"Sini satu, di sini satu, dan di sini" kata Kevin menunjukkan dimana Anggie harus menandatangani dokumen dokumen untuk tindakan operasi yang akan dilakukan kepada Mama.
Anggie menandatangani semua dokumen yang diberikan oleh Kevin kepada dirinya. Sambil menandatangani dokumen itu, Anggie terus memanjatkan doa kepada Tuhan semoga pilihan mengoperasi Mama adalah pilihan yang paling tepat yang telah dilakukan oleh Anggie. Anggie tidak mau salah jalan dalam mengambil pilihannya kali ini. Anggie benar benar ingin lurus dan betul dalam mengambil keputusan.
__ADS_1
"Baiklah Anggie, operasi akan kita lakukan besok pagi dimulai pukul delapan pagi. Lama durasi operasi adalah delapan sampai sepuluh jam" kata Kevin memberitahukan jam berapa Mama akan dioperasi dan berapa lama waktu operasi akan dilakukan.
Anggie menyimak apa yang dikatakan oleh dokter Kevin. Anggie tidak melewatkan satu informasi pun.
"Pembayarannya kapan Kevin?" tanya Vina yang sekarang posisi duduknya menjauh dari Anggie. Vina masih marah sama sahabatnya itu.
"Boleh sekarang. Boleh juga besok pagi" jawab Kevin memberitahukan kapan bisa dilakukan pembayaran biaya operasi Mama.
"Ke bagian administrasi bawah?" tanya Vina lagi
Vina sama sekali tidak pernah melakukan pembayaran ke bagian administrasi rumah sakit. Selama ini Vina tidak pernah memiliki keluarga yang di rawat di rumah sakit. Mereka kalau sakit akan di rawat di rumah saja, sehingga Vina tidak pernah melakukan prosedur pembayaran di rumah sakit.
"Iya benar. Loe tanya aja di sana, bagian pembayaran untuk tindakan dimana" ujar Kevin.
"Sayang, aku ke bawah dulu ya" kata Vina berpamitan dengan Angga. Sedangkan ke Anggie, Vina tidak mengatakan hal apapun juga.
"Aku temanin sayang" kata Angga.
Vina mengangguk dan tersenyum ke arah kekasihnya itu. Angga pasti ingin mengatakan sesuatu kepada Vina. Makanya dia meminta ikut bersama dengan Vina menuju bagian administrasi.
"Kamu masih marah dengan Anggie?" tanya Angga saat mereka berjalan sambil bergandengan tangan menuju bagian administrasi.
"Aku marah bukan karena dia menolak pertolongan dari aku sayang. Aku marah karena ego dia masih terlalu tinggi. Padahal dia tau kalau finansial dia tidak akan sanggup untuk mengoperasi Mama" kata Vina menjelaskan kepada Angga apa yang membuat dia menjadi marah kepada Anggie.
__ADS_1
"Sayang, maaf ya bukan aku membela Anggie. Siapapun orangnya pasti akan melakukan hal itu sayang. Karena dia takut suatu saat pertolongan itu akan menjadi bumerang sendiri kepada dirinya" kata Angga menjelaskan kepada Vina dari sisi Angga melihat apa yang dilakukan oleh Anggie tadi
"Sayang, aku bukan tipe orang yang seperti itu. Aku sudah menganggap Mama dan Anggie adalah keluarga aku selain Papi dan Mami" kata Vina memberikan jawaban atas apa yang dikatakan oleh Angga kepada dirinya.
"Sayang itu menurut kamu. Sedangkan menurut Anggie berbeda. Anggie beranggapan bahwasanya gara gara uang persaudaraan dan keluarga saja bisa hancur, apalagi persahabatan. Anggie belajar dari pengalaman keluarganya sayang" lanjut Angga memberikan pengertian kepada Vina.
Vina mencerna apa yang dikatakan oleh Angga kepada dirinya. Semua yang dikatakan oleh Angga adalah sebuah kebenaran. Angga memang benar, Anggie memang sangat trauma waktu keluarga Sanjaya hancur karena orang ketiga.
"Kenapa diam sayang?" ujar Angga saat melihat Vina terdiam dan sama sekali tidak bergerak dari posisinya.
"Aku tau bagaimana trauma nya Anggie. Aku harus bicara dengan Anggie. Kamu pergi urus administrasi nya sendiri sayang" kata Vina yang pada akhirnya menyadari kesalahannya setelah berbicara dengan Angga.
Vina mengeluarkan black card nya dari dalam dompet. "PIN nya kamu tau itu" kata Vina kemudian.
Vina berlari balik menuju ruangan ICU, sedangkan Angga hanya bisa melihat bagaimana kekasihnya itu berlari menuju sahabat terbaiknya yang sedang menunggunya di sana.
Angga kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju ruangan administrasi setelah tidak melihat punggung Vina lagi. Dia akan melakukan proses pembayaran untuk operasi Mama.
Anggie yang sedang duduk sendirian di lantai ruangan ICU dengan menekuk kedua kakinya dan menaruh kepalanya di sana. Langsung mengangkat kepalanya saat mendengar seseorang berlari dengan kencangnya dari arah luar.
Anggie sontak berdiri saat tau siapa yang sedang berlari dengan kencang ke arah dirinya itu.
"Vina" ujar Anggie saat melihat Vina yang sedang berlari ke arah dirinya.
__ADS_1
Vina langsung saja memeluk Anggie dengan sangat kuat. Dia meneteskan air matanya, tetapi suara tangis Vina tidak bisa keluar, dia hanya bisa sesegukan saja. Anggie yang melihat sahabat baiknya memeluk dirinya dengan begitu kuat, akhirnya Anggie membalas pelukan dari Vina. Anggie menangis dalam pelukan Vina. Kedua sahabat itu menangis sesegukan berdua. Mereka sama sama mencurahkan rasa yang ada di dalam dirinya. Rasa marah yang tadi melanda mereka sudah langsung berguguran.