
"Anggie mari ikut saya" kata dokter yang memeriksa mama tadi untuk menuju ruangan ICU tempat mama di rawat saat ini.
Anggie dan dokter yang tadi menangani kondisi Mama, berjalan beriringan menuju ruang ICU. Mereka akan melihat kondisi Mama di sana.
"Kenapa mama di bawa ke ruangan ICU dokter? Apa kondisi mama sangat jauh menurun?" tanya Anggie yang sudah tidak sabar lagi ingin cepat sampai ke ruang ICU tempat Mama di rawat. Anggie ingin memastikan langsung kondisi mamanya saat ini.
"Maaf Anggie saya juga belum tau apa yang terjadi dengan Mama kamu. Makanya sebaiknya kita cepat sampai di sana dan bisa langsung mengetahui bagaimana kondisi Mama sekarang" kata dokter yang sudah memakai kata ganti Mama kepada Anggie
"Dokter maaf, saya lupa, nama dokter siapa ya? nggak mungkin setiap kita nantinya bertemu saya manggil dok dok dok aja terus" kata Anggie yang lupa dengan nama dokter yang sedang memeriksa mamanya itu
"Nama saya Ryan Anggie. Panggil saja dokter Ryan" kata dokter Ryan menyebutkan namanya kembali kepada Anggie.
"maafkan Anggie dokter, Anggie sampai lupa nama dokter. bukan maksud Anggie untuk lupa dokter, tetapi kondisi Anggie yang seperti sekarang ini membuat Anggie sampai lupa siapa nama dokter" jawab Anggie menjelaskan kepada dokter Ryan kenapa dirinya bisa sampai lupa dengan nama dokter Ryan.
"Tidak masalah Anggie. saya sangat maklum dengan kondisi kamu yang saat ini sedang ditimpa masalah. apalagi kamu dari tadi saya lihat hanya sendirian saja. tidak ada anggota keluarga lain yang menemani" lanjut dokter Ryan yang maklum dengan kondisi mental dan pikiran anggie saat ini.
"Terimakasih dokter. Saya akui saya sedang kacau sekarang" kata Anggie mengakui bagaimana kondisinya saat ini.
Anggie dan dokter Ryan terus berjalan menuju ruang ICU. Mereka sudah tidak terlihat sedang berbicara satu dengan yang lainnya lagi. mereka fokus berjalan. malahan saking fokusnya dokter Ryan tidak menjawab beberapa sapaan dari rekan rekannya sesama dokter dan beberapa perawat.
"Ma semoga Mama tidak apa apa ya Ma. Kasihan Anggie yang sekarang tinggal sendiri Ma" ujar Anggie dengan pelan berharap kalau Mamanya dalam kondisi baik baik saja saat ini.
"Tapi satu yang pasti, Anggie akan berusaha kuat untuk membuat Mama menjadi sembuh seperti semula lagi. Anggie akan lakukan apapun itu Terpenting bagi Anggie adalah Mama sehat dan bisa bersama dengan Anggie lagi" lanjut Anggie berdoa sepanjang jalan dan menyebutkan harapan harapannya akan kebaikan untuk Mama.
Anggie dan dokter akhirnya sampai di depan ruangan ICU. Seorang suster menghampiri dokter yang menangani Ibu Ratna di ruangan UGD.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan pasien?" tanya dokter Riyan kepada suster dengan tatapan yang berusaha dibuat setenang mungkin.
Suster memberikan hasil pemeriksaan medis kepada dokter tersebut. Dokter membaca laporan medis yang diberikan. Dokter menggaruk sedikit kepalanya yang tidak gatal itu, dokter ragu bagaimana caranya menyampaikan berita seperti ini kepada Anggie. dalam pikiran dokter, melihat mamanya seperti sekarang saja Anggie sudah panik, apalagi harus mendengarkan berita yang terbaru ini, sudah bisa dibayangkan bagaimana reaksi Anggie nantinya.
"Nona Anggie, apakah saya bisa berbicara dengan kamu?" kata dokter Ryan meminta persetujuan kepada Anggie sebelum dirinya mulai mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
"Silahkan dokter apapun itu, asalkan kebaikan untuk mama, dokter silahkan bicara saja, tidak perlu meminta izin saya" kata Anggie menjawab perkataan dari dokter Ryan. dokter yang sangat baik dan pengertian denga n Anggie walaupun mereka baru kenal sekarang saat Anggie mendapatkan musibah itu.
"Pasien menderita pembengkakan di otaknya. Saya sarankan untuk periksa lebih lanjut. Tetapi tidak dengan saya lagi. Melainkan dengan dokter ahli. Apakah kamu bersedia pasien di periksa dokter itu?" tanya dokter Ryan yang ternyata memberikan saran yang sangat baik untuk kesembuhan Mama.
"Silahkan dokter, lakukan yang terbaik untuk kesembuhan Mama" kata Anggie yang langsung setuju dengan apa yang disarankan oleh dokter.
"Baiklah Anggie, kami akan berikan yang terbaik untuk pasien" ujar dokter Ryan
"Siap dokter" kata suster.
Dokter masuk ke dalam ruangan ICU, sedangkan Anggie masih belum diperbolehkan untuk masuk ke dalam sana. Dia hanya bisa melihat semua kesibukan para dokter dan suster di dalam ruangan itu, melalui sebuah kaca besar yang di pasang di depan ruangan.
Seorang dokter muda dan juga tampan berjalan masuk ke dalam ruangan ICU. Dokter itu disambut hangat oleh semua orang yang berada di sana. Anggie melihat semua itu.
"Bagaimana keadaan pasien?" tanya dokter tampan itu yang langsung bekerja saat sampai di dalam ruang ICU.
Suster memberikan rekam medis Ibu Ratna kepada dokter muda itu. Dokter muda di dampingi dokter yang tadi memeriksa mama membaca rekam medis tersebut.
"Sepertinya kita harus melakukan tindakan operasi secepatnya" kata dokter muda tersebut setelah memberikan saran kepada semua tenaga medis yang ada di sana.
__ADS_1
"Apa keluarga pasien ada?" tanya dokter muda tersebut.
"Ada dokter di luar" jawab suster.
"Minta dia untuk masuk. Saya mau bertemu dengan dia" ujar dokter yang akan merawat Mama.
Suster membuka pintu ruangan ICU. Anggie yang melihat hal itu, langsung berjalan menuju pintu ICU.
"Nona Anggie" panggil suster yang melihat Anggie sudah menuju pintu masuk ruang ICU.
"Nona Anggi, Nona di panggil dokter. Mari ikut saya Nona, Nona akan saya antar menuju ruangan dokter" ujar suster mengajak Anggie menuju ruang kerja dokter yang akan merawat Mama ke depannya.
Anggie mengikuti suster dengan hati yang sudah tidak karu karuan lagi. Dia benar benar tidak tau harus berbuat apa saat ini. Otak Anggie benar benar buntu sekarang. Anggie hanya bisa mengikuti suster itu saja tanpa berbuat apa apa. Hanya doa yang bisa dipanjatkan oleh Anggie saat ini untuk kesembuhan Mama.
"Silahkan masuk Nona Anggie" kata suster yang membuyarkan lamunan Anggie.
Anggie tidak sadar kalau mereka sudah sampai di depan pintu ruang kerja dokter yang merek tuju. Dalam bayangan Anggie mereka masih akan berjalan yang cukup jauh lagi
"Terimakasih Sus" jawab Anggie.
Anggie berjalan sambil sedikit menundukkan kepalanya. Dia berjalan dengan langkah gontai menuju meja tempat dokter sedang duduk.
"Silahkan duduk Nona" ujar dokter muda itu dengan sangat ramah.
Anggie kemudian duduk di kursi yang ada di depan dokter. Dia berusaha mengangkat kepalanya sedikit. Anggie sebenarnya tidak mau mengangkat kepalanya itu. Tetapi apa mau dikata, Anggie harus menghormati dokter yang ada di depannya saat ini.
__ADS_1