
Tolong bawa mobil saya pulang Pak" ujar Vano kepada sopir Papinya.
Vano benar benar lelah sekarang. Dia merasa kalau dirinya tidak akan sanggup membawa mobil menuju mansion keluarga Wijaya. Mansion besar yang letaknya lumayan jauh dari rumah sakit tempat Kayla di rawat saat ini.
"Siap Tuan Muda" ujar sopir pribadi Tuan Wijaya.
Asisten Tuan Wijaya yang biasanya duduk di kursi sebelah sopir, sekarang bertindak menjadi sopir pribadi Tuan Wijaya dan keluarganya.
"Ada apa Vano?" tanya Mami saat mereka semua sudah berada di dalam mobil menuju mansion
"Tidak biasanya kamu seperti ini nak. Ada apa? Cerita sama kami nak"
"Tidak ada apa apa Mami. Aku hanya capek saja" jawab Vano. Vano melemparkan pandangannya ke arah luar. Vano menikmati pemandangan ibu kota di malam hari. Lampu lampu yang menghiasi gedung gedung pencakar langit itu. Vano memang sering keluar malam, tetapi dirinya tidak pernah bisa menikmati pemandangan seindah ini.
"Jangan bohong sama Mami Vano. Mami ini adalah ibu kamu. Mami yang mengandung, melahirkan, membesarkan dan menjaga kamu." lanjut Mami yang tidak terima Vano telah mendustai nya.
"Beneran Mami" Vano masih mengatakan hal yang sama kepada Mami.
"Vano" panggil Mami lagi.
"Kamu tidak akan bisa membohongi Mami, Vano" lanjut Mami sambil menatap lurus ke mata Vano.
Vano menundukkan kepalanya dalam dalam. Feeling seorang ibu memanglah sangat kuat sekali.
Perasaan seorang ibu memang tidak bisa ditipu. Saat anaknya memiliki beban pikiran, maka seorang ibu akan mengetahuinya. Serapi apapun seorang anak menyembunyikan beban pikirannya, maka sebagai seorang ibu, mereka akan tau kalau anak mereka sedang memiliki masalah yang sedang mereka hadapi.
"Vano bersalah kepada Kayla Mami" kata Vano sambil menundukkan kepalanya sedikit.
Sebuah rasa penyesalan terlihat sangat jelas di mata Vano. Sebuah penyesalan yang datang dari hati seorang pria yang mencintai seorang wanita yang hatinya sempat dilukai dan parahnya lagi membuat wanita itu pingsan serta berujung masuk rumah sakit.
"Bersalah maksud kamu bagaimana Vano?" tanya Mami yang tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Mami kepada dirinya.
__ADS_1
"Ya bersalah Mami. Vano sudah membuat Kayla jatuh sakit Mami" kata Vano lagi.
"Bukan kamu yang membuat Kayla sakit Vano. Kondisi Kayla memang sudah turun juga" kata Mami berusaha menenangkan Vano kembali.
Mami tidak ingin Vano merasa bersalah dan membuat dirinya menjadi panik dan stress sendiri.
"Mami, Mami dan Papi nggak tau kejadian yang terjadi sebelum Kayla masuk rumah sakit" kata Vano sambil melihat ke arah Papi dan Mami nya.
Papi dan Mami saling memandang. Mereka tau dan sangat tau sekali betapa cintanya Vano kepada Kayla, serta tidak akan mungkin Vano akan berbuat sesuatu yang akan membahayakan Kayla nantinya.
"Bagaimana ceritanya Vano?" kali ini yang bertanya adalah Papi.
Papi dan mami penasaran dengan apa yang terjadi dan membuat Vano menjadi seperti ini sekarang. Vano menceritakan apa yang terjadi kepada Papi dan Mami. Papi dan Mami menyimak semua cerita Vano.
"Kamu yang salah Vano" kata Mami setelah selesai mendengar cerita dari Vano.
Papi yang lebih bijaksana dalam mengambil sebuah kesimpulan, lebih memilih untuk memikirkan dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Maksud Mami, kenapa kamu harus membahas masalah wanita itu di depan Kayla. Jelas saja Kayla marah dan kesal" ujar Mami menjawab pertanyaan dari Vano.
Mami juga sangat marah, sampai sampai Mami tidak mau memanggil nama Anggie dengan panggilan, melainkan dengan kata ganti wanita itu.
"Untung saja kamu tidak jadi menikah dengan wanita itu" ujar Mami dengan kesal.
"Wanita tidak tau diri dan tidak tau di untung itu" lanjut Mami memaki maki Anggie yang tida ada di sana dan yang paling penting tidak pernah bersalah kepada Mami.
"Mami" tegur Papi yang tidak suka istrinya memaki maki orang lain. Apalagi orang itu tidak pernah bersalah kepada mereka.
"Apa?" tanya Mami dengan tidak kalah tinggi nada suaranya.
"Papi sudah katakan berkali kali kan Mami. Jangan pernah menghakimi orang lain. Toh kita nggak tau apa yang terjadi sebenarnya" ujar Papi kembali menasehati Mami.
__ADS_1
"Papi, kita kan udah dengar sendiri dari Nyonya Sanjaya apa yang terjadi sebenarnya" kaya Mami membela dirinya dihadapan Papi dan Vano.
"Itukan baru versi mereka Mami, kita belum dengar versi Anggi dan Nyonya Sanjaya" kata Papi masih dengan penuh kesabaran.
"Oh Mami tidak mau mendengar alasan apapun Papi. Bagi Mami, Mami lebih percaya kepada Kayla dan Nyonya Sanjaya yang sekarang. Mereka berdua orang orang baik" kata Mami yang sangat sangat keras kepala.
'Mami Mami, Mami memang sangat murah dipengaruhi oleh orang lain dan tidak akan peduli lagi dengan apapun itu.' kata Papi dalam hatinya.
Mami masih saja keras kepala dengan pemikirannya sendiri. Dia benar benar kesal sekarang.
"Pokoknya Vano, Mami tidak akan menerima Anggie menjadi sahabat atau teman yang lebih parahnya lagi, Mami tidak akan menerima dia menjadi menantu Mami" ujar Mami dengan emosi.
"Mami, Vano kan tidak mengatakan akan menjadikan dia istri Vano" ujar Vano dengan nada agak tinggi.
"Jangan suruh Vano jadi anak durhaka Mami." lanjut Vano.
"Sudah jangan ribut lagi" kata Papi menengahi keributan yang pastinya akan terjadi antara Vano dan Mami kalau tidak di lerai cepat. Papi tidak ingin Vano menjadi anak durhaka dan juga tidak ingin Mami marah marah dan berakibat membuat Mami sakit kepala nantinya.
Mami dan Vano kemudian memilih untuk diam. Mereka berdua tidak ingin memancing kemarahan dari Papi.
'Vano bisa ke ruang kerja Papi, nanti?' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Papi ke Vano
'Oke Pi' balas Vano.
Seorang pengawal yang menjaga mansion utama keluarga Witama membukakan pintu mobil. Ketiga orang anggota keluarga Witama keluar dari dalam mobil. Mereka berjalan masuk ke dalam mansion besar itu. Mami masih dengan sikap kecewanya terhadap apa yang telah terjadi antara dirinya dan Vano tadi.
"Biarkan saja. Jangan diambil hati" ujar Papi kepada Vano saat melihat Mami yang meninggalkan Papi dan Vano
"Kita langsung ke ruang kerja Papi saja bagaimana?" kata Papi mengajak Vano untuk langsung ke ruang kerja mereka
"Oke Pi" jawab Vano yang setuju mereka masuk ke ruang kerja Papi sekarang dari pada nanti siap mereka bersih bersih
__ADS_1
Aya dan Anak itu berputar arah. Mereka menujur ruang kerja Tuan Wijaya yang letaknya di lantai satu mansion besar tersebut. Mereka akan membicarakan suatu hal yang menurut mereka sangat penting untuk dibahas saat ini.