Tempat Untuk Kembali

Tempat Untuk Kembali
tempat untuk kembali *6


__ADS_3

"Mama, apa bisa pria ini Anggie hormati lagi?" ujar Anggie bertanya kepada Mamanya.


"Mama pasti tahu bukan bagaimana hormatnya Anggie ke pria ini selama ini?" ujar Anggie dengan marah. Anggie benar benar tidak menyangka kalau Mamanya masih belum mengerti dengan keadaan yang terjadi saat ini. Keadaan yang benar benar rumit dan luar biasa tidak bisa diterima oleh akal


"Mama pasti tahu juga kan bagaimana Anggie mengagumi pria ini?" lanjut Anggie masih mengeluarkan semua unek uneknya yang ada di dalam hatinya


"Sampai sampai Mama, Anggie memiliki cita cita kalau punya suami harus seperti pria ini" ujar Anggie menumpahkan semua yang dirasakannya kepada Mama


"Mama, sekian banyak Anggie mengatakan kepada Mama, kenapa Mama masih belum juga mengerti dengan keadaan yang ada Mama" ujar Anggie yang tidak yakin kalau Mamanya itu tidak paham dan tidak mengerti dengan yang terjadi saat ini.


"Sayang" panggil Mama sambil mengangguk dengan lemah.


Anggie kemudian terdiam. Sangat banyak yang ingin dikatakannya kepada Mama tentang pria yang berada di depannya saat ini. Cuma Anggie berpikir kalau dia mengatakan semuanya maka dia akan semakin membenci pria itu.


Mama yang melihat anaknya terdiam, hanya bisa menatap ke arah Anggie. Mama tidak menyangka kalau Anggie akan mengatakan hal itu kepada Papinya sendiri.


'Pasti ini masalah sangat berat. Kalau tidak berat, tidak akan mungkin Anggie dengan berani berkata seperti tadi' ujar Mama yang sangat paham dengan sifat Anggie yang sangat memuja papinya itu.


"Tetapi semenjak Anggie tahu apa yang dilakukannya di belakang kita berdua, maaf mama, Anggie sama sekali tidak menghormati dirinya lagi. Bagi Anggie dia sudah tidak ada lagi semenjak Anggie mengetahui semuanya" ujar Anggie dengan murka. Anggie bener bener kesal sekarang. Pria itu berada di depannya saat ini dengan wajah yang tanpa dosa dan sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun.


"Anggie sayang apa yang terjadi Nak?" ujar Mama yang semakin yakin kalau Anggie pasti mengetahui sesuatu. Sesuatu yang berkaitan dengan permasalahan saat ini, atau lebih tepatnya tentang dua orang wanita yang dibawa oleh suaminya ke mansion saat dia baru pulang dari perusahaan.


Anggie memeluk mamanya dengan sangat kuat. Dia tidak tega untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi ke Mamanya itu, ke orang tua yang telah melahirkannya dan memberikannya kasih sayang yang tulus sampai dia sebesar ini.

__ADS_1


'Papi benar benar jahat. Papi sudah sangat tega menyakiti hati Mama. Kurang baik apa Mama jadi istri dan ibu selama ini'


'Papi benar benar keterlaluan' ujar Anggie dengan berapi api di dalam hatinya


Sebuah kebencian terbentuk dalam hati Anggie saat memikirkan apa yang akan terjadi dengan Mama. Kalau untuk dirinya sendiri Anggie sama sekali tidak memikirkannya, tetapi ini berhubungan erat dengan Mamanya, makanya membuat Anggie seperti sekarang ini. Anggie bener bener tidak tahu lagi harus berbuat apa. Kali ini adalah situasi terberat yang harus dihadapi oleh Anggie. Anggie tidak bisa membayangkan kalau kejadian ini ada benarnya atau kenyataan. Selama ini anggie berharap kalau permasalahan ini tidak muncul atau tidak diketahui oleh Mama, ternyata semua itu salah. Papi telah membawa kedua wanita itu kehadapan Mama


Mama melepaskan pelukan Anggie. Mama menatap ke wajah cantik putrinya yang sekarang sudah berlinang air mata. Mama mengusap air mata Anggie.


"Jangan menangis sayang. Apapun yang terjadi kita harus kuat" ujar Mama menenangkan Anggie.


"Tapi apa Mama kuat saat Anggie menceritakan apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Anggie yang ragu Mama akan bisa mendengar dan menerima semua apa yang diceritakan oleh Anggie kepada mamanya itu.


"Apapun itu Anggie. Baik buruk maupun tidak, Mama akan sangat menerima dengan lapang dada apa yang akan kamu beritahukan kepada MamaMama" ujar Mama sambil memberikan senyuman yang paling manis yang mama pastikan senyumannya itu bisa membuat Anggie menjadi lebih tenang lagi.


"Mama janji" jawab Mama sambil tersenyum.


"Katakan sayang" ujar Mama.


Mama sekarang tidak memperdulikan lagi tentang Papi, wanita yang bernama Rina dan juga wanita yang bernama Kayla. Bagi Mama sekarang yang paling penting dan yang paling akan didengarnya adalah Anggie, putri tunggalnya yang akan selalu ada dimana Mama berada dan akan selalu berada di pihak Mama.


"Katakan sayang" ujar Mama sekali lagi meminta Anggie untuk mengatakan apa yang telah diketahui oleh Anggie tetapi tidak diketahui oleh dirinya.


Anggie mengambil amplop yang ditaruh nya di atas meja tadi. Anggie tidak ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting tetapi tidak ada buktinya. Anggie tidak mau melakukan hal itu.

__ADS_1


"Mama baca ini saja ya. Semuanya ada di sini" ujar Anggie mengatakan dan meminta Mama untuk membaca isi dari amplop coklat yang dibawanya dari luar.


Mama mengambil amplop coklat yang diberikan oleh Anggie kepada dirinya. Mama memandang amplop yang ada di tangannya itu. Mama masih ragu untuk membukanya. Tapi saat Mama melihat ke arah Anggie, Anggie mengangguk memberikan kekuatan kepada Mama untuk membuka amplop coklat tersebut. Mama membuka amplop coklat yang diberikan oleh Anggie tadi.


Mama menatap kembali menatap ke arah Anggie untuk meminta Anggie memastikan kalau mama memang harus melihat isi dari amplop coklat itu.


"Keluarkan saja isi nya Ma" ujar Anggie meminta mama untuk membuka amplop coklat tersebut.


Mama mengeluarkan isi dari amplop tersebut. Betapa kagetnya mama saat isi yang pertama di lihatnya adalah sebuah fhoto pernikahan.


Mama melihat dengan pasti orang yang berada di fhoto itu. Mama melihat ke arah Papi setelah mama melihat fhoto pernikahan itu. Setelah itu beralih ke wajah wanita yang dibawa Papi. Mama berkali kali menatap wajah ke dua orang tersebut, untuk memastikan bahwasanya memang orang berdua itu yang berada di dalam fhoto yang dipegang oleh Mama sekarang ini.


"Bisa jelaskan?" tanya Mama kepada Papi.


"Ma untuk apalagi Ma" ujar Anggie yang tidak ingin hati mamanya semakin hancur saat mendengar penjelasan dari Papi.


Papi masih terdiam. Papi sama sekali tidak menyangka kalau semuanya akan terbuka oleh Anggie.


Papi menatap ke arah Anggie, ke arah anak perempuan yang selalu membuat Papi bangga selama ini. Tetapi sekarang saat Papi melihat ke arah Anggie, maka Anggie dengan seketika membuang wajahnya. Anggie sama sekali tidak ingin dilihat oleh Papi.


"Tuan Sanjaya tolong jawab pertanyaan saya" ujar Mama yang sudah sangat emosi.


"Kalau Anda laki laki maka hendaknya saat anda berani berbuat, maka saya harapkan anda juga berani untuk bertanggung jawab." kata Mama sambil menatap ke arah Papi dengan tatapan sangat tajam.

__ADS_1


"Jangan lari dari tanggung jawab. Saya hanya bertanya saja, tidak ada yang lain"


__ADS_2