Tempat Untuk Kembali

Tempat Untuk Kembali
Tempat Untuk Kembali *16


__ADS_3

Seorang pria tampan sedang duduk di kursi kerjanya. Dia terlihat sedang sibuk membaca dokumen dokumen perusahaan yang memang sudah harus diperiksa nya dan harus siap hari itu juga. Dokumen dokumen kerjasama antara perusahaan yang dipimpin Vano dengan perusahaan mitra.


Dret dret dret dret, ponsel milik Vano bergetar hebat di atas meja. Itu adalah panggilan kesekian kalinya yang sama sekali tidak diperdulikan oleh Vano. Vano masih tetap dengan kesibukannya. Bagi Vano saat sekarang ini, dokumen dokumen itu lebih penting di atas apapun, sehingga dia sama sekali tidak memperdulika setiap pesan chat atau panggilan yang masuk ke dalam ponsel miliknya itu. Sudah tidak terhitung berapa chat yang masuk dan juga telpon yang diabaikan oleh Vano.


Tetapi, penelpon yang menghubungi Vano sama sekali tidak jera walaupun Vano tidak mengangkat panggilan tersebut, si penelpon masih terus berusaha menghubungi Vano.


"Huft orang ini bener bener lah" ujar Vano yang sudah kesal karena si penelpon tidak juga berhenti menghubunginya.


Vano melihat sebuah nama yang sudah sangat familiar dikenalnya.


"Kayla Kayla apalagi coba. Kenapa dia harus menghubungi gue terus" kata Vano dengan kesal saat tau siapa yang menghubunginya saat itu.


"Biarin ajalah"


Kayla yang melihat panggilannya tetap tidak diangkat oleh Vano kembali menghubungi kekasihnya itu. Tetapi hasilnya tetap sama. Vano tetap tidak mengangkat panggilan telpon dari Kayla.


"Ada apa ini?"


"Kenapa Vano tidak mengangkat telpon dari aku?"


"Perasaan aku tidak ada berbuat salah sama dia?" ujar Kayla saat mendapati panggilan telponnya sama sekali tidak diangkat oleh Vano.


"Coba lagi ajalah mana tau yang kali ini diangkat Vano"


Kayla kembali menghubungi Vano dengan harapan Vano mengangkat panggilan telpon dari dirinya. Ternyata harapan tinggal harapan, Vano sama sekali tidak mengangkat panggilan telpon dari Kayla.


"Ini anak bener bener menguji kesabaran gue. Kemana lagi dia"


Kayla benar benar emosi dibuat oleh Vano. Kayla tidak menyangka kalau Vano bisa tidak menerima panggilan telpon dari dirinya. Padahal selama ini Vano sama sekali tidak pernah mengabaikan panggilan telpon dari Kayla, malahan Vano yang lebih sering menghubungi Kayla. Sedangkan di seberang sana, orang yang berkali kali dihubungi oleh Kayla sedang asik melakukan pekerjaannya.

__ADS_1


........................................................


"Mama, anggie jalan dulu ya. Kalau anggie telat pulang seperti semalam, Mama makan dulu aja ya, jangan tunggu Anggie" kata Anggie sewaktu berpamitan kepada Mama.


"Kamu lembur lagi Nak?" tanya Mama saat mendengar apa yang dikatakan oleh Anggie kepada dirinya.


"Bukannya lembur Ma. Tapi Anggie harus menyelesaikan tesis Anggie. Jadi, berkemungkinan Anggie akan telat pulang karena mengerjakan tesis itu terlebih dahulu" Anggie menjelaskan kepada Mama apa penyebab dia akan telat pulang dari pada biasanya.


"Oh oke. Mama kira kamu telat pulang karena berusaha lembur lagi Nak"


"Sama sekali nggak Mama. Mama tenang saja ya. Nanti Anggie akan minta tolong teman Anggie untuk nganterin pulang. Jadi, Mama jangan cemas kalau Anggie akan pulang sendirian"


Anggie memang selalu berusaha membuat mamanya merasa nyaman selagi dia berada di luar rumah. Mama masih menganggap Anggie seperti anak kecil yang masih butuh perlindungan ekstra dari orang tuanya. Tetapi, hal ini dilakukan oleh Mama bukan karena tidak ada penyebabnya Mama sangat takut kalau mantan musuh Papi dan juga bisa jadi orang suruhan dari istri baru Papi akan membahayakan nyawa Anggie di luar sana. Suatu kecemasan yang menurut Anggie sangat tidak beralasan.


.........................................................


"Jadi, nanti sore apa jadi bikin tugas akhir loe di rumah gue?" tanya Vian saat melihat Anggie yang baru saja duduk di kursinya.


"Oke sip. Nanti gue akan bantu loe menyelesaikan tugas akhir loe" kata Vian yang memberikan semangat dan akan selalu memberikan bantuan kepada Anggie sahabat terbaiknya.


"Makasih ya, loe emang sahabat terbaik gue."


"Lah kan emang gue satu satunya sahabat loe sekarang"


"Bener juga ya"


"Haha haha haha" Kedua sahabat itu tertawa ngakak saat menyadari apa yang telah mereka katakan.


Brak. Sebuah tangan memukul kuat meja tempat duduk Anggie. Vian yang sedang menatap ke arah Anggie menjadi terkejut saat terdengar bunyi meja yang dipukul dengan sangat kuat.

__ADS_1


"Loe kenapa emosi?" tanya Vian kepada wanita tersebut.


"Kenapa loe nyindir gue" balas wanita itu dengan sangat sengitnya.


"Lah, siapa yang nyindir elo. Gue dan Anggie nggak merasa nyindir elo" lanjut Vian dengan gaya khasnya kalau sudah marah.


"Apa yang nggak. Kenapa loe tiba tiba ngomong ke Anggie kalau sahabat Anggie hanya tinggal loe satu satunya"


"Lah kan memang gue satu satunya yang tinggal" jawab Vian tidak kalah sengitnya.


Sedangkan Anggie hanya menjadi penonton di tengah tengah keributan dua wanita tersebut. Wanita satu adalah sahabat terbaiknya, sedangkan wanita yang satunya lagi adalah mantan sahabatnya.


"Kan kenyataannya hanya gue satu satunya teman Anggie yang nggak pergi lari saat Anggie tertimpa musibah. Sedangkan elo nona manis cantik dan perfect langsung lari terbirit-birit saat sahabat loe terkena masalah" kata Vian melemparkan bola api panas ke wajah wanita tersebut.


Wanita itu terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Vian. Dia sama sekali tidak bisa memberikan jawaban apapun atas tuduhan yang diberikan oleh Vian kepada dirinya.


"Benerkan apa yang gue katakan? Loe dan kawan loe yang itu meninggalkan Anggie saat Anggie butuh sahabat. Jadi tolong jangan munafik" lanjut Vian semakin tidak bisa mengontrol dirinya lagi.


Vian sudah benar benar emosi sekarang. Dia sudah tidak memikirkan lagi kata kata apa yang akan keluar dari dalam mulutnya sendiri. Vian main hajar saja. Dia tidak peduli apakah wanita itu akan semakin tersinggung atau akan semakin marah dengan dirinya.


"Vian sudah. Biarkan saja. Gue nggak masalah" kata Anggie yang nggak mau keributan ini semakin menjadi jadi kalau tidak ditahan oleh Anggie.


"Tapi" Vian masih ingin melanjutkan.


"Sudah" kata Anggie dengan sangat tegas dan tidak ingin dibantah lagi.


Vian kemudian diam.


"Starla silahkan kembali ke kursi kamu. Tolong mulai hari ini jangan ada lagi keributan. Kami tidak menyindir siapapun. Kalau kamu merasa tersindir, maaf, kami tidak bermaksud" kata Anggie kepada mantan sahabatnya itu.

__ADS_1


Selesai Anggie mengatakan hal itu kepada Starla, dosen pun masuk ke dalam ruang kelas. Semua mahasiswa yang masih mengobrol langsung terdiam. Mereka tidak ada lagi yang melanjutkan obrolan. Semua langsung melihat ke arah depan. Termasuk Anggie, Vian dan Starla.


Anggie tidak ingin keributan mereka akan membuat dirinya menjadi gagal dalam mata kuliah tersebut. Ini adalah mata kuliah terakhir Anggie. Setelah ini selesai, maka Anggie bisa meninggalkan bangku perkuliahan magister nya.


__ADS_2