
"Bapak dan Ibuk tamu undangan yang terhormat. Wisudawan Anggie juga merupakan dosen termuda di Fakultas Ekonomi. Dosen muda yang baru bergabung semester ini dengan Fakultas Ekonomi. Dosen muda yang langsung menjadi idola para mahasiswa." ujar mc memberitahukan kepada semua orang kalau Anggie sudah langsung di terima menjadi dosen muda di fakultas ekonomi.
Mama menatap bahagia kepada putri tunggalnya itu. Keinginan dan cita citanya menjadi dosen pada akhirnya terkabul juga.
'Sayang walaupun kamu berjuang kuliah dengan biaya dicari sendiri, tapi kamu bisa membuktikan kalau kamu bisa. Mama bangga sama kamu sayang' kata Mama dengan manatap haru ke arah Anggie yang berada di atas podium kehormatan.
Anggie yang baru saja hampir turun dari atas panggung menghentikan langkah kakinya ketika mendengar namanya kembali di panggil oleh mc.
"Anggie, kami mohon untuk memberikan kata sambutan untuk kami semua. Sehingga rekan rekan yang belum menyelesaikan tesis mereka memiliki keinginan untuk menyelesaikan tesis mereka secepatnya" kata mc meminta Anggie untuk menyampaikan kata sambutan sebagai wisudawan terbaik tahun pelajaran ini.
Anggie yang tanpa persiapan apapun terlihat sedikit ragu untuk memberikan kata sambutan pada acara itu. Tapi itu hanya sesaat Anggie sudah bisa mengendalikan dirinya. Dia sudah memetakan di kepalanya, apa yang akan dia sampaikan saat memberikan kata sambutan nantinya.
"Selamat pagi Bapak dan Ibu undangan yang saya hormati. Sebelumnya izinkan saya Anggie untuk mengucapkan terimakasih kepada semua unsur akademisi yang sudah membantu Anggie menyelesaikan perkuliahan magister Anggie dalam waktu lebih cepat dari pada yang seharusnya. Tanpa bantuan dari Bapak dan Ibuk semua, tidak akan mungkin ada Anggie yang berdiri di sini sekarang ini" kata Anggie memulai kata sambutannya. Anggie melirik satu persatu orang orang yang ada di panggung bagian depan
"Anggie juga mengucapkan terimakasih kepada kedua dosen pembimbing dan penasehat akademik yang selalu menyokong Anggie. Selalu memberikan Anggie semangat untuk menyelesaikan tugas Anggie sebagai mahasiswi. Terimakasih banyak Anggie ucapkan kepada Bapak dan Ibuk. Bimbingan yang Bapak dan Ibuk berikan kepada Anggie tidak akan bisa Anggie balas dengan apapun. Anggie hanya bisa mendoakan Bapak dan Ibuk selalu bahagia dan akan selalu semakin sukses ke depannya" kata Anggie selanjutnya.
__ADS_1
Anggie kemudian terdiam. Anggie merasakan emosi dalam dirinya kembali bergejolak. Air mata sudah mulai menganak sungai di mata indahnya. Anggie benar benar sedang bergelut di dalam pikirannya dengan emosinya.
"Selanjutnya Anggie mau mengucapkan terimakasih kepada seseorang yang selalu membantu Anggie selama ini. Seseorang yang selalu ada dalam kehidupan Anggie. Seseorang yang selalu membantu Anggie. Seseorang yang selalu menemani Anggie. Seseorang yang selalu ada untuk Anggie dalam suka dan duka." kata Anggie sambil melirik ke sahabat baiknya itu.
"Vina makasi sahabat terbaikku. Makasih sudah menemani kehidupanku selama ini. Jasamu tak kan pernah aku lupakan sampai kapanpun. Teruslah menjadi sahabat terbaik dalam hidupku" lanjut Anggie. Anggie akhirnya menyebutkan nama sahabat terbaiknya itu.
Vina menghapus air matanya. Dia tidak menyangka kalau namanya akan disebut oleh Anggie dalam kata sambutan. Vina tau kalau dirinya penting bagi Anggie, tetapi tidak terbayangkan sepenting itu. Ternyata apa yang dilakukannya untuk Anggie dianggap sangat penting bagi Anggie dalam kehidupannya.
"Terimakasih Anggie ucapkan juga untuk seluruh rekan rekan kuliah magister Anggie yang sudah membantu Anggie dalam menyelesaikan kuliah Anggie. Pesan Anggie kepada semua rekan rekan yang belum menyelesaikan perkuliahan, yakinlah tidak ada hasil yang akan mengkhianati proses." kata Anggie memberikan semangat kepada rekan rekan mahasiswanya untuk menyelesaikan tesis mereka secepat yang mereka bisa.
"Terakhir sekali, Anggie ingin mengucapkan terimakasih kepada orang tua Anggie satu satunya. Orang tua yang sudah mengajarkan Anggie untuk tetap bertahan dalam kehidupan yang keras, orang tua yang sudah memberikan Anggie kasih sayang yang tidak bisa lagi diungkapkan seperti apa itu." kata Anggie.
Anggie kemudian terdiam. Emosinya sudah mulai tidak terkendali lagi, air mata mulai akan keluar. Anggie berusaha menahan air matanya supaya tidak turun dengan deras. Dia berusaha untuk tidak menangis di hadapan orang ramai.
"Ma ijazah ini, medali ini, ilmu ini, pekerjaan ini, semuanya Anggie persembahkan untuk Mama. Ma, walaupun kita hanya tinggal berdua saja lagi, yakinlah Ma, kita akan bisa melalui semuanya. Kita akan tunjukkan kepada mereka mereka di luar sana anak Ratna Amelia akan tetap bisa hidup tanpa ada nama belakang yang menyertai namanya" kata Anggie.
__ADS_1
Anggie mengatakan hal itu sambil melirik sekilas ke wajah Daddynya. Wajah Tuan Sanjaya berubah merah. Dia sangat malu karena disindir oleh Anggie tepat di depan orang ramai. Anggie memukul telak dirinya, anak yang selama ini tidak diperhatikan nya ternyata berhasil membuat bangga seorang ibu yang mendidik anaknya sendirian.
"Satu lagi, terimakasih dengan orang orang di luar sana yang sudah membuat Anggie menjadi sangat kuat." lanjut Anggie menambahkan luka yang perih di hati Tuan Sanjaya. Luka yang dibuat sendiri oleh Tuan Sanjaya dan harus di rawat nya sendiri pula.
"Maaf, hanya itu yang bisa Anggie katakan. Terimakasih atas waktu dan kesempatan yang sudah diberikan kepada Anggie. Akhir kata Anggie mengucapkan selamat dan sukses untuk kita semua" kata Anggi sambil menatap jauh ke depan.
Anggie mencari wajah Mama tercintanya. Anggie sangat bahagia sekali sekarang. Dunianya benar benar terpusat kepada Mama, orang tua satu satunya yang dimilikinya. Orang tua yang menjadi pusat kehidupannya saat ini.
Mama berjalan keluar dari tempat duduknya. Mama menyongsong Anggie anaknya yang sudah memberikan dia kebahagiaan yang sangat luar biasa saat ini.
"Sayang makasih banyak sayang. Kamu memberikan Mama kebahagiaan yang sangat luar biasa. Mama sangat bangga dengan kamu sayang" kata Mama sambil memeluk Anggie dengan sangat erat.
"jujur mama sangat bangga dengan kamu sayang. Bangga sekali" lanjut Mama.
"Anggie juga sangat bangga punya Mama. Anggie berterimakasih sekali kepada Tuhan karena sudah memberikan Mama kepada Anggie" jawab Anggie.
__ADS_1
Anak dan Mama itu berpelukan sambil menangis. Semua orang yang ada di dalam aula tempat wisuda sarjana magister itu menatap haru ke arah mereka berdua. Malahan ada dari mereka yang emnetaskan air matanya saat melihat Anggie dan Mama yang berpelukan sangat erat tersebut.
Kasih sayang seorang ibu yang tidak bisa diganti dengan apapun. Kasih sayang seorang ibu yang selalu menjadi kebahagiaan nomor satu bagi seorang anak.