
Papi yang sudah selesai bersiap siap untuk berangkat ke perusahaan tidak melihat keberadaan istrinya di dalam kamar. Setelah mencari istrinya kemana mana di dalam kamar besar itu, papi kemudian memutuskan untuk berjalan keluar dari kamar menuju ruang makan.
"Palingan Mami di ruang makan" ujar Papi menebak dimana keberadaan istrinya itu sekarang
Pelayan yang melihat Tuan besar sudah semakin dekat dengan ruang makan, langsung saja membukakan pintu ruang makan. Papi masuk ke dalam ruang makan yang sangat luas itu. Di atas meja sudah terhidang menu sarapan yang sangat lengkap mulai dari roti sampai dengan nasi goreng dan tidak lupa ayam goreng yang wajib selalu ada di jam makan apapun.
"Silahkan duduk Tuan besar" ujar salah satu pelayan yang pagi ini mendapatkan tugas untuk melayani Tuan besar saat sarapan.
"Nyonya sama Tuan Muda kemana?" tanya Tuan besar Wijaya saat tidak melihat istri dan juga anak bungsunya itu. Tebakan dirinya ternyata salah besar. Istri dan anaknya tidak ada di ruang makan.
Kedua pelayan saling memandang satu dengan yang lainnya. Mereka berdua tidak tau harus memberikan jawaban apa kepada Tuan besar atas pertanyaan yang diajukan nya.
Tuan Wijaya melihat kedua pelayannya itu sedang ragu mau menjawab apa. Mereka berdua seperti tidak tahu kemana kedua orang yang ditanyanya itu berada.
"Kenapa diam saja? Apa kalian berdua tidak mendengar apa yang saya tanyakan?" ujar Tuan Wijaya saat melihat kedua pelayannya tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh dirinya.
"Maaf Tuan besar" jawab pelayan dengan nada takut yang sangat sangat tidak bisa mereka sembunyikan.
"Panggil kepala pelayan. Suruh dia ke sini cepat" ujar Papi mulai murka dengan suasana pagi yang tidak sehat itu.
Seorang pelayan berjalan cepat keluar dari dalam ruang makan. Pelayan menuju tempat kepala pelayan sedang berada saat ini
"Tuan, maafkan kami. Tuan dipanggil tuan besar ke ruang makan" ujar pelayan memberitahukan tujuan kedatangannya mencari kepala pelayan itu.
"Ada apa? Apa kalian salah menaruh alat makan?" tanya kepala pelayan dengan cemas. Tidak biasanya tuan besar memanggil dirinya saat sedang sarapan seperti sekarang ini
__ADS_1
"Tidak masalah itu Tuan." jawab pelayan sambil menundukkan kepalanya dalam dalam.
"Terus, masalah apa lagi?" tanya kepala pelayan.
"Tuan besar menanyakan keberadaan dari nyonya besar dan tuan muda" ujar pelayan memberitahukan penyebab kepala pelayan di panggil ke ruang makan.
Kepala pelayan menggeleng geleng kan kepalanya. Dia juga tidak tau harus menjawab apa kepada tuan besar itu.
"Nyonya nyonya, kenapa kamu menempatkan kami di posisi yang sangat sulit" ujar kepala pelayan menyesali sikap dari nyonya besar Wijaya yang selalu bersikap semaunya saja dari dulu.
Kepala pelayan beserta dengan pelayan yang datang menjemputnya tadi berjalan kembali menuju ruang makan. Mereka akan menemui tuan besar yang sudah menunggu di ruang makan.
"Permisi tuan besar. Tuan besar mencari saya?" kata kepala pelayan dengan ramah
"Ya. Kamu tau kemana perginya nyonya besar dan tuan muda?" tanya Tuan besar kepada kepala pelayan tanpa ada basa basi terlebih dahulu.
"Apa kamu tidak bertanya kemana nyonya besar pergi tadi pagi?" tanya Tuan besar kembali kepada kepala pelayan
"Sudah Tuan beser. Tetapi nyonya besar tidak menjawab pertanyaan dari saya. Maafkan saya tuan besar" kata kepala pelayan sambil menundukkan kepalanya sambil meminta maaf kepada Tuan besar.
"Tidak apa apa" kata tuan besar.
"Tolong ambilkan sarapan saya" kata papi meminta kepala pelayan menyiapkan sarapan untuk dirinya.
Kepala pelayan melayani Tuan besar untuk sarapan pagi ini. Papi menikmati sarapan pagi nya kali ini dalam kehampaan. Istri dan anaknya sama sekali tidak ada di mansion besar itu. Sehingga sarapan yang biasanya di selingi dengan percakapan kali ini tidak sama sekali. Papi hanya makan sendiri di ruang makan.
__ADS_1
Papi yang menikmati sarapannya sendirian memilih untuk secepatnya menyelesaikan sarapannya itu. Papi kemudian berdiri dari posisinya. Dia akan langsung menuju perusahaan. Papi akan menenggelamkan dirinya ke dalam urusan pekerjaan yang masih menjadi tanggung jawab papi.
"Saya berangkat kerja dulu. Nanti kalau nyonya besar pulang, tolong katakan kalau saya sudah berangkat ke perusahaan" kata Papi meninggalkan pesan kepada kepala pelayan.
"Baik Tuan besar, nanti kalau nyonya besar sudah pulang akan saya sampaikan pesan dari tuan besar." jawab kepala pelayan.
...........................
"Mama" panggil anggie kepada mama yang sedang masak di dapur.
"Apa?" ujar Mama tanpa melihat ke arah Anggie.
"Mama masih marah sama Anggie gara gara keluarga Vina datang ke rumah kita?" akhirnya Anggie berani bertanya kepada Mama setelah dua hari mereka tidak saling berbicara.
Anggie akan pulang ke rumah saat sudah larut malam. Mama yang biasanya menunggu Anggie pulang kerja di ruang tamu, memilih menunggu Anggie di dalam kamar saja. Walaupun mama dalam posisi marah dan emosi kepada anaknya, tetapi Anggie adalah satu satunya keluarga yang dimiliki oleh mama sekarang. Tambah lagi kasih sayang seorang ibu tidak akan pernah putus sama sekali apapun permasalahan yang terjadi antara ibu dan anak itu.
"Mama tidak marah sama kamu. Tapi mama marah sama kehidupan kita sekarang" jawab Mama.
Jawaban mama terkesan tidak bersyukur dengan apa yang mereka miliki sekarang ini. Anggie yang mendengar langsung tidak percaya kalau yang berkata seperti itu adalah mamanya. Mama yang selama ini selalu berkata kita harus bersyukur atas apa yang kita miliki sekarang ini. Tapi ternyata kali ini mama tidak bersyukur atas apa yang dimilikinya sekarang.
"Mama, apa mama tidak bersyukur dengan keadaan kita sekarang yang seperti ini?" tanya Anggie dengan nada sedih.
"Kalau Mama tidak bersyukur berarti mama tidak menghargai atau apalah namanya itu hasil kerja keras Anggie selama ini Ma" lanjut Anggie dengan nada kecewa berbicara kepada Mama.
Mama terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Anggie. Sebenarnya mama tidak kecewa sama sekali dengan kehidupan mereka saat ini, tetapi yang membuat mama bersedih adalah, orang dari masa lalu mereka masih baik sama mereka. Mama tidak ingin mereka membantu dengan cuma cuma. Tetapi mama tidak bisa mengatakan hal itu kepada Anggie. Tapi ternyata alasan yang diberikan oleh Mama kepada Anggie membuat Anggie menjadi salah paham.
__ADS_1
"Maafkan Anggie, Ma. Anggie belum bisa membuat Mama bangga dengan apa yang telah Anggie lakukan di luar sana" kata Anggie.
Anggie kemudian memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Kekecewaan sedang menyelimuti hati dan pikirannya. Selama ini Anggie mengira kalau mama merasa bangga memiliki dia. Ternyata tidak sama sekali, mama malu mereka menjadi seperti ini sekarang