Tempat Untuk Kembali

Tempat Untuk Kembali
Tempat Untuk Kembali *34


__ADS_3

Pagi harinya Anggie sudah bangun dari istirahat malamnya yang hanya sebentar itu, tetapi Anggie sama sekali tidak pernah mengeluh karena hal sepele tersebut. Anggie selalu melakukan semuanya dengan rasa ikhlas.


"Keluarin jemuran kain, siap itu mandi, bersiap siap untuk berangkat wisuda" kata Anggie yang sudah menyusun agenda kegiatannya hari ini.


Anggie selalu menyusun agenda kegiatan yang akan dilakukannya setiap hari. Bagi Anggie, saat dia sudah menyusun semua agenda kegiatannya, dia bisa melakukan semuanya tanpa pusing mana yang akan dilakukan terlebih dahulu, semuanya sudah tersusun dengan sangat rapi.


Saat Anggie membuka pintu kamarnya, mama sedang memasak di dapur. Mama sedang membuat sarapan untuk mereka makan nanti selesai Anggie bersiap siap.


"Sudah bangun sayang?" tanya mama kepada Anggie.


"Sudah Ma. Mama sedang ngapain?" Anggie berusaha terlihat dalam keadaan biasa biasa saja saat mama sudah kembali memanggil dirinya dengan kata sayang. Panggilan yang selalu di pakai mama dulunya


"Ini sedang buat sarapan untuk kamu sayang. Sana mandi dulu. Jemuran sudah Mama keluarkan." kata Mama saat melihat Anggie yang sibuk mencari sesuatu.


"Udah mama jemur?" tanya Anggie kaget mendengar perkataan mama.


"Iya sayang. Sudah mama jemur" jawab Mama sekali lagi memberitahukan kepada Anggie kalau jemuran sudah dikeluarkan Mama.


"Jadi, anggir tinggal mandi aja lagi?" tanya Anggie meyakinkan sekali lagi kalau memang dia tinggal mandi tidak perlu menjemur pakaian.


"Iya sayang, kamu tinggal mandi terus bersiap siap" jawab Mama.


Anggie kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Ketegangan antara dirinya dan mama sudah tidak ada lagi. Mama sudah bersikap normal kembali kepada Anggie. Tidak ada lagi aksi diam diaman atau saat Anggie di dapur mama ke ruang tamu, atau sebaliknya juga. Intinya tidak ada lagi mama yang main petak umpet dengan Anggie.


Mama yang juga telah selesai masak sarapan, menaruh semuanya di atas meja makan. Mama tinggal menunggu Anggie yang selesai bersiap siap.


"Jadi jam berapa wisudanya sayang?" tanya Mama saat mereka berdua telah selesai sarapan nasi goreng bakso yang dibuat Mama.


"Jam sembilan Ma. Mama datang ya" kata Anggie dengan nada berharap mama mau datang ke acara wisudanya itu.


"Iya sayang. Mama pasti akan datang" jawab mama dengan penuh keyakinan kalau Mama pasti akan datang ke acara wisuda Anggie

__ADS_1


"Makasi Mama. Anggie sangat senang mendengarnya" kata Anggie sambil memeluk mamanya itu.


Mama memutuskan untuk menghadiri wisuda Anggie, karena sekarang mama sudah sangat sadar kalau yang dimilikinya di dunia ini sekarang hanyalah Anggie saja tidak ada yang lainnya. Sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, apapun keadaannya mama tidak akan perduli lagi, bagi mama sekarang adalah kebahagiaan Anggie nomor satu.


"Kamu pakai baju ini aja sayang saat wisuda nanti?" Tanya mama saat melihat pakaian yang biasa Anggie pakai saat dirinya ke kampus untuk kuliah.


"Nggak lah Ma. Anggi akan tukar baju. Anggie mau sedikit makeup dulu nanti di kampus. Lagian kalau Anggie pakai baju yang mau Anggie pakai saat wisuda, ribet nanti naik angkotnya" kata Anggie menjelaskan kepada mama kenapa dirinya masih memakai pakaian biasa saja


"Oh bener juga kamu" jawab mama yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Anggie kepada dirinya


"Mama nanti pakai apa pergi?" tanya Anggie yang ingat kalau mama sangat jarang keluar rumah sekarang


"Kamu tenang aja. Mama bisa kok ke kampus sendirian" jawab Mama.


"Mama yakin? Kalau nggak gini aja. Nanti saat mama sudah mau keluar rumah. Mama chat aku aja. Nanti Anggie pesan kan taksi online dari kampus. Biar mama nggak lama nunggu angkot. Gimana?" Anggie memberikan solusi dan alternatif yang lebih memudahkan mama untuk menuju kampus.


"Mama setuju. Nanti saat mama udah selesai siap siap kamu pesan kan taksi online saja" jawab mama yang setuju dengan tawaran yang diberikan Anggie. Solusi yang diberikan oleh Anggie salah solusi yang sangat baik. Mengingat mama yang sudah jarang dan bisa dikatakan tidak pernah naik angkot.


Anggie menunggu angkot di depan gang rumahnya seperti biasa.


"Siapa yang nelpon ya?" ujar Anggie saat merasakan ponsel miliknya bergetar di dalam saku celana Anggie.


"Vina?" kata Anggie saat melihat nama pemanggil yang tampil di layar ponsel miliknya itu.


"Hallo Vin. Ada apa? Masih ada dua jam lagi Vina. Lagian gue sekarang juga sedang nunggu angkot" cerocos Anggie seperti air kran yang keluar tanpa ada hambatan sama sekali.


"Wow, gila loe ye. Ngomong main nyerocos aja kayak petasan lebaran. Gue sekarang jalan arah ke rumah elo. Jadi loe tunggu gue aja di tempat yang teduh. Nggak usah naik angkot" ujar Vina menjelaskan kenapa dirinya menghubungi Anggie sepagi ini.


"Oh baiklah bestie yang paling bestie. Gue akan tunggu loe di halte saja. Di situ satu satunya tempat yang teduh" jawab Anggie lagi.


Vina memutuskan panggilan telponnya dengan Anggie. Dia mengemudikan mobilnya dalam kecepatan lumayan tinggi, hal ini dilakukan oleh Vina supaya dia tidak perlu memakan waktu yang sangat lama untuk sampai ke rumah Anggie.

__ADS_1


Tin tin. Anggie yang sudah tau mobil siapa itu langsung masuk ke dalam mobil yang memang selalu setia menjemput dirinya dan terkadang mengantar dirinya pulang ke rumah. Beberapa orang pasti bertanya tanya siapa yang ada di dalam mobil, tetapi Anggie sama sekali tidak ambil pusing dengan praduga tetangganya itu. Bagi Anggie, hidupnya adalah hidupnya, dia tidak akan peduli dengan omongan orang lain akan hidupnya itu.


Akhirnya setelah menunggu selama satu jam, Anggie dan Vina selesai juga bermakeup. Make up sederhana yang membuat merek berdua semakin cantik.


"Wow anggir, loe cantik sekali" kata Vina memuji sahabatnya yang semakin cantik itu


"Loe juga semakin cantik" kata Anggie juga memuji Vina.


"Kalian berdua sama sama cantik" kata seseorang dari belakang mereka.


"Makasi" jawab Anggie dan Vina kompak.


Mereka berdua kemudian menukar pakaian mereka dengan pakaian wisuda. Anggie kali ini memakai kebaya broken wait dilengkapi dengan batik yang sudah dijahit Anggie. Anggie tampil sangat anggun. Tidak terlihat lagi Anggie yang tampil santai seperti biasanya.


Begitu juga dengan Vina. Vina kali ini memilih kebaya warna sage dan dibawahnya memakai batik yang sudah dijahit. Tampilan Vina tidak kalah anggunnya dari Anggie


"Kalian berdua bintang wisuda kali ini" ujar penata rias yang tadi memake over wajah Anggie dan Vina.


"Alah bisa aja. Banyak kali yang lebih cantik dari kami" ujar Anggie yang tidak mau dirinya dan Vina terlalu di sanjung sanjung.


"Seriusan. Berapa banyak yang dari tadi gue make over. Nggak ada yang secantik kalian" lanjut penata rias meyakinkan Anggie dan Vina.


"Untung kalian yang terakhir. Kalau yang pertama atau di tengah tengah, bisa bisa gue nggak percaya diri merias yang lain" kata penata rias.


"Mau ya fhoto dengan gue. Nanti akan gue cetak besar besar dan gue tarok di depan salon gue ini" kata penata rias meminta persetujuan Anggie dan Vina untuk di foto.


"Sip" jawab Anggie.


Vina hanya menurut saja apa yang dikatakan oleh Anggie. Mereka kemudian mengambil beberapa shot foto. Anggie dan Vina tersenyum bahagia.


Akhirnya setelah beberapa kali pengambilan gambar, Anggie dan Vina sudah bisa menuju kampus. Lebih membahagiakan lagi, mereka berdua hanya bayar satu orang untuk mereka berdua. Hal hasil, Vina yang bayar Anggie yang gratis.

__ADS_1


Kedua gadis cantik itu, kemudian berangkat ke kampus tempat mereka akan di wisuda sebagai magister ilmu bisnis dan ekonomi. Sebua pencapaian yang sangat berarti bagi Anggie dan Vina dalam kehidupan mereka.


__ADS_2