Tempat Untuk Kembali

Tempat Untuk Kembali
Tempat Untuk Kembali *52


__ADS_3

Tiba tiba saat Anggie, Vina dan Angga sedang menikmati makan siang mereka sambil diselingi dengan obrolan obrolan ringan melihat dokter Kevin dan tiga orang suster laki laki berlari ke arah mereka bertiga. Anggie, Vina dan Angga langsung menghentikan suapan mereka saat mendengar langkah kaki berlari dengan cepat tersebut.


"Ada apa?" tanya Angga kepada Kevin


Tetapi Kevin sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Angga. Kevin dan ketiga suster yang sudah memakai pakaian steril langsung masuk ke dalam ruangan tempat Mama di rawat.


"Mama" kata Anggie dengan sangat pelan.


Vina langsung menopang badan Anggie yang sudah lemah tersebut


"Sayang, Anggie" ujar Vina berteriak ke Angga yang berdiri di depan kaca melihat apa yang sedang dilakukan oleh Kevin di dalam sana.


Angga berlari ke arah posisi Anggie dan Vina. Angga membantu Vina menopang badan Anggie.


"Kamu duduk dulu ya" ujar Vina kepada sahabatnya itu.


"Mama" ujar Anggie yang sangat ingin melihat keadaan Mamanya.


Vina melihat ke arah Angga. Angga mengangguk, mereka berdua tidak akan bisa membuat Anggie untuk tidak melihat ke arah Mamanya itu. Apalagi sekarang Anggie tau kalau dokter Kevin sedang memberikan tindakan kepada Mama di dalam ruangan yang dingin itu.


"Oke kita ke tempat Mama" ujar Vina yang akhirnya menuruti keinginan dari Anggie.


Anggie dibantu oleh Vina dan Angga untuk menuju kaca besar. Dari balik kaca besar itulah Anggie bisa melihat keadaan mama di dalam sana


"Mama kenapa Vin?" tanya Anggie saat melihat Mama dikerubungi oleh suster dan dokter Kevin.


"Kita belum tau Anggie. Kita hanya bisa menunggu dokter Kevin selesai memeriksa Mama barulah kita bisa tau Mama kenapa kenapanya." ujar Vina menjawab pertanyaan dari Anggie.


Dokter Kevin dan ketiga suster yang di dalam memeriksa keadaan Mama secara intens mereka di dalam lebih kurang selama setengah jam. Anggie, Vina dan Angga menunggu di luar dengan perasaan dan pikiran yang tidak menentu.


Dokter Kevin kemudian keluar dari dalam ruangan dengan raut wajah yang sangat kusut. Anggie, Vina dan Angga yang melihat bagaimana wajah dokter Kevin saat keluar dari dalam ruangan memiliki pemikiran bahwasanya kondisi Mama sedang dalam keadaan yang tidak baik baik saja.


"Kevin, bagaimana dengan Mama?" kata Angga bertanya sambil melihat ke arah Anggie yang masih lemah tersebut.


"Apa kita bisa berbicara sambil duduk di sana?" tanya Kevin sambil melihat ke arah kursi yang mereka gunakan untuk duduk saat makan siang tadi.


"Oke" jawab Angga mewakili Anggie

__ADS_1


Angga kembali membantu Vian memapah Anggie, supaya Anggie bisa untuk duduk di kursi tempat mereka sedang menikmati makan siang tadi.


"Jadi bagaimana dengan Mama, dokter?" tanya Anggie yang sudah kembali formal lagi.


"Hasil labor terakhir akan keluar sebentar lagi. Tapi satu yang pasti kita harus melakukan operasi kalau hasilnya tidak dalam keadaan baik" kata dokter Kevin memberikan gambaran yang harus di dengar oleh Anggie.


"Operasi?" tanya Anggie sambil berlinang air mata.


"Ya operasi. Kita akan lihat hasilnya nanti" ujar dokter Kevin.


"Biayanya?" tanya Anggie dengan suara pelan. Anggi memang memiliki tabungan, tapi tidaklah banyak. Sehingga untuk operasi Anggie merasa uangnya itu tidaklah cukup.


"Sangatlah mahal" jawab Kevin.


Anggie memegang kepalanya. Dia tidak tau harus mencari kemana uang untuk biaya operasi Mama.


"Anggie, loe jangan cemas ada gue" ujar Vina sambil mengusap pundak Anggie.


"Vin, itu uang tidak sedikit Vin. Gue tau berapa yang harus di keluarkan" ujar Anggie


"Gue nggak mau, gue tau loe banyak duit. Tapi, gue nggak mau kalau loe harus membiayai biaya rumah sakit Mama" kata Anggie selanjutnya kepada Vina.


"Kalau kamu tidak mau menerima secara cuma cuma, kamu bisa membayarnya secara nyicil ke aku" ujar Vina memberikan saran kepada Anggie.


Dalam pikiran Vina sekarang adalah bagaimana Mama bisa cepat mendapatkan tindakan operasi sehingga Mama bisa cepat membaik kondisinya kembali.


"Vina sudah gue katakan biayanya tidak sedikit" teriak Anggie marah kepada Vina


"Loe mau Mama semakin parah? Kalau memang itu keinginan loe terserah. Gue ngasih duit gue supaya Mama cepat sembuh. Tapi kalau keinginan anak kandung dari mama itu sendiri masih ingin melihat mamanya tersiksa, ya terserah" ujar Vina yang terpancing emosinya.


"Dia mama gue. Bukan mama loe" balas Anggie.


Anggie sudah di luar kesadarannya sekarang. Kebutuhan operasi mama membuat dirinya tidak bisa mengontrol emosinya sendiri.


Angga memegang tangan Vina. Angga tidak ingin Vina terpancing kemarahan Anggie.


"Sayang sabar ya. Dia sedang panik" ujar angga berbisik di telinga Vina kekasihnya itu.

__ADS_1


Vina kemudian beristighfar, dia tidak mungkin terbawa paniknya Anggie. Bisa bisa nanti semua menjadi kacau. Dia harus tenang, kasihan Anggie kalau dia juga terbawa emosinya sendiri.


Seorang suster datang menemui Kevin. Dia membawa sebuah dokumen hasil pemeriksaan Mama Anggie.


"Dokter hasil pemeriksaan pasien sudah keluar" ujar suster memberikan map yang berisi laporan medis dari Mama Anggie.


"Terimakasih" ujar dokter Kevin


Dokter Kevin membaca hasil pemeriksaan Mama Anggie. Dia menatap tidak percaya kepada hasil pemeriksaan itu.


"Anggie" panggil dokter Kevin.


"Kita tidak punya waktu lagi. Mama harus segera di operasi" ujar dokter Kevin memberikan berita yang benar benar seperti kilat yang menyambar Anggie.


Anggie terdiam. Dia berada di tepi jurang yang luar biasa dalamnya. Dia tidak tau binatang apa saja yang ada dj bawah sana.


"Anggie" panggil dokter Kevin.


Anggie tergagap. Dia tidak tau apa yang harus dilakukan oleh dirinya saat ini.


"Operasi atau tidak sama sekali" ujar dokter Kevin memberikan pilihan kepada Anggie.


"Operasi saja Kevin" bukan Anggie yang menjawab tapi Vina.


"Saya yang akan bayar semuanya" ujar Vina lagi.


Anggie menatap ke arah Vina.


"Kamu terserah. Aku tidak peduli. Aku lebih peduli dengan kondisi Mama" ujar Vina kepada Anggie.


"Siapkan semua berkasnya Kevin. Saya akan tanda tangan" ujar Vina meminta berkas berkas tindakan untuk Mama yang harus di tandatangani nya.


"Aku yang akan tanda tangan" ujar Anggie yang tidak rela kesehatan Mama ditandatangani oleh orang lain, sekalipun itu Vina sahabatnya yang juga sudah dia anggap seperti anak sendiri oleh Mama.


"Baiklah akan gue ambilkan berkasnya dulu" ujar Kevin.


Kevin pergi mengambilkan dokumen dokumen yang harus ditandatangani oleh Anggie. Sedangkan Anggie dan Vina terlihat sedang tidak dalam kondisi yang baik baik saja.

__ADS_1


Anggie sebenarnya ingin menyapa Vina dan meminta maaf kepada Vina. tetapi saat melihat bagaimana raut wajah sahabatnya itu, membuat Anggie mengurungkan niatnya. dia akan menunggu Vina tidak marah lagi kepada dirinya.


__ADS_2