Tempat Untuk Kembali

Tempat Untuk Kembali
Tempat Untuk Kembali *20


__ADS_3

"Anggie, loe jadi langsung ke rumah gue?" tanya Vian kepada sahabatnya itu


Anggie dan Vian memang sudah membuat kesepakatan untuk menyelesaikan tugas akhir Anggie di rumah Vian. Sudah dua hari mereka berdua membuat kesepakatan untuk melakukan hal itu.


"Jadi, tapi ke perpustakaan bentar ya. Ada buku yang harus gue pinjam dulu di sana" ujar Anggie menjawab pertanyaan dari Vian. Anggie menjawab sambil menyusun buku buku perkuliahannya ke dalam tas ransel.


"Siap?" tanya Vian yang sudah menunggu dari tadi.


"Sudah. Ayok jalan, perpus dulu baru ke rumah elo" jawab Anggie.


Anggie dan Vian berjalan bersisian menuju perpustakaan. Dua wanita cantik yang menjadi kembang kampus itu berjalan dengan santai tanpa memperdulikan orang orang yang menatap ke arah mereka berdua. Tatapan yang kadang kadang membuat Anggie menjadi sangat tidak nyaman. Tatapan yang mereka berikan seperti tatapan yang mau membuat malu Anggie dengan strata sosialnya yang sudah berubah. Tetapi itu hanya menurut Anggie saja, padahal sebenarnya tidak mereka menatap Anggie karena mereka bangga dengan Anggie yang tetap bisa menyelesaikan perkuliahannya walaupun tidak lagi menjadi anak orang kaya. Perjuangan yang sangat berat yang harus dilakukan oleh Anggie.


"Mereka masih menatap gue dengan tatapan yang sama. Gue jadi males" ujar Anggie sambil menendang sebuah kerikil yang menghalangi jalannya.


"Biarkan saja. Anggap aja mereka nggak ada. Lagian belum tentu juga mereka memandang loe karena kejadian itu. Bisa jadi mereka memandang loe karena bangga dengan loe sekarang" kata Vian yang tidak ingin Anggie terus saja berburuk sangka terhadap teman teman di kampusnya.


"Semoga aja bener" jawab Anggie dengan melongos.


'Suatu hal yang nggak mungkin' lanjut Anggie dalam hati dan pikirannya. Anggie tetap membiarkan dirinya dengan anggapannya sendiri. Dia tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Vian. Anggie hanya belajar dari keadaan yang sudah terjadi, sehingga apa yang dikatakan oleh Vian, Anggie sama sekali tidak peduli dan tidak memikirkannya.


"Loe mau cari buku apa?" tanya Vian saat mereka sudah melakukan cek in untuk masuk dalam perpustakaan pusat.


"Biasalah apa lagi" jawab Anggie.


Anggie melangkahkan kakinya menuju tempat rak rak buku yang diinginkannya. Dia mengambil beberapa buku yang memang sudah ada di dalam list yang sudah dibuatnya semalam. Dalam waktu tiga puluh menit, Anggie sudah mendapatkan semua buku yang diinginkan oleh dirinya.


"Oke Vian gue udah siap"


"Jadi langsung ke rumah gue? " tanya Vian.


Vian sangat berharap Anggie menjawab iya. Dia beneran sudah sangat lapar sekali. Tadi Vian sempat mengajak Anggie untuk makan siang terlebih dahulu, tetapi jawaban yang diberikan oleh Anggie sangatlah tidak diharapkan oleh Vian. Jawaban yang membuat Vian sangat kaget sekali. Vian tidak menyangka dan tidak pernah membayangkan kalau Anggie akan mengalami hal sesulit itu.


"Yup. Kita langsung saja ke rumah loe" jawab Anggie.


"Tapi sampe rumah loe kita langsung akan siang ya. Gue laper" ujar Anggie dengan rasa malu yang harus ditahannya.

__ADS_1


Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia tidak pernah menahan lapar selama hidupnya. Kali ini adalah kali perdana dia menahan rasa laparnya di kampus. Tapi apapun itu Anggie tetap harus terus berjuang, dia tidak boleh kalah dengan ekonomi jelek yang sedang menimpa kehidupan dirinya dan mama saat ini.


"Oke. Gue juga udah lapar. Kita akan makan apa yang ada di rumah aja ya" Vian setuju dengan apa yang dikatakan oleh Anggie kepada dirinya.


"Sip. Loe tenang aja, gue udah biasa makan makanan apa yang ada, nggak milih milih" jawab Anggie.


Mereka berdua kemudian naik motor Vian menuju rumah Vian.


"Vi, enak juga ya naik motor kayak gini."


"Emang loe udah pernah naik motor?" tanya Vian.


"Emang loe udah pernah nyoba naik motor?"


"Jangan salah loe, gue pulang dari swalayan kalau nggak ada angkot lagi ya naik ojek" jawab Anggie dengan santai.


Vian yang mendengar Anggie pulang malam dari swalayan pakai ojek langsung terdiam mendengarnya.


"Kenapa diam loe?" tanya Anggie penasaran.


"Gimana gue nggak akan langsung diam. Elo tengah malam naik ojek. Kalau terjadi sesuatu sama elo gimana?" ujar Vian yang sangat cemas kalau sesuatu terjadi kepada Anggie saat Anggie naik ojek pulang ke rumahnya.


"Jadi nggak bakalan juga mereka berbuat kurang ajar sama gue" lanjut Anggie.


"Sukur sukur kalau memang kayak gitu. Tapi loe tetap harus hati hati ya. Gue nggak mau loe kenapa kenapa" kata Vian yang memang sudah menganggap Anggie seperti saudara kandungnya sendiri.


"Siap komandan. Gue akan pastikan kalau gue akan menjaga diri gue dengan sangat baik" ujar Anggie berjanji kepada sahabatnya itu untuk menjaga bisa menjaga dirinya sendiri.


Tak terasa mereka berdua sudah sampai di rumah Vian. Rumah Vian berada di perumahan elit. Dia sebenarnya biasa membawa mobil ke kampus, tetapi tadi karena bangunnya telat, membuat Vian harus membawa motor ke kampus menghindari macet yang sering terjadi di jam jam sibuk seperti itu.


"Pak ini kuncinya. Makasih ya" ujar Vian kepada satpam rumahnya itu.


"Sama sama Non" jawab Satpam.


"Oh ya Pak, apa mami tau aku ke kampus naik motor?" ujar Vian yang takut kalau Maminya tau dia pergi ke kampus naik motor akan membuat Mami emosi dan stress berat. Mami pasti akan uring uringan sampai Vian pulang.

__ADS_1


"Siap tidak Nona. Saya bisa memastikan kalau Mami tidak tau sama sekali kalau Nona berangkat ke kampus naik motor saya" jawab satpam.


"Makasi Pak. Kalau gitu saya masuk dulu ya" Vian pamit kepada satpam rumahnya. Vian dan keluarganya terkenal sangat baik kepada orang orang yang membantu mereka di rumah, bagi Vian dan keluarganya tidk ada perbedaan antara pelayan denga tuan rumah.


Vian dan Anggie kemudian berjalan masuk ke dalam rumah Vian.


"Jadi itu motor milik satpam?" tanya Anggie tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Vian.


"Yupi, semenjak kapan di sini ada motor lagi. Sejak kejadian abang gue meninggal gara gara balap liar, sejak itu Papi dan Mami memutuskan untuk menjual semua motor" jawab Vian lagi.


"Iya juga ya. Kenapa gue dari tadi nggak kepikiran ke sana" jawab Anggie sambil garuk garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Pikiran loe dari tadi ke tukang ojek aja. Makanya loe nggak bisa mikir kemana mana lagi" goda Vian sambil tersenyum kecil ke arah Anggie.


Vian membuka pintu rumah, ternyata Mama sudah duduk di sana sedang membaca majalah.


"Hay Ma"


"Hay Tante" sapa Anggie.


"Anggie, kamu udah lama banget nggak ke sini sayang. Kenapa kamu nggak ke sini ke sini lagi" ujar Mami berteriak histeris saat melihat kedatangan Anggie ke rumah mereka.


"Maafkan Anggie Mami, tapi Anggie nggak datang ke sini bukan karena apa apa, tetapi Anggie memang sedang sibuk aja Mami" Anggie memberikan alasan yang dirasa oleh dirinya sangat masuk akal kepada Mami Vian.


"Kamu duduk sini dulu. Kita harus cerita cerita. Mami udah kangen banget sama kamu" ujar Mami mengajak Anggie untuk duduk di sofa ruang keluarga.


"Mami, Anggie itu ke sini mau menyelesaikan tugas akhirnya, bukan mau cerita cerita sama Mami"


"Bentar aja Vi" ujar Mami berharap untuk bisa mengobrol ringan dengan Anggie.


"Mami nanti ya, selesai Anggie ngerjain tugas akhir Anggie, nanti kita akan cerita cerita."


"Serius?" tanya Mami dengan sangat berharap kepada Anggie.


"Serius" jawab Anggie.

__ADS_1


"Oke"


Mami akhirnya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Anggie. Anggie kemudian masuk ke dalam kamar Vian. Mereka akan mengerjakan tugas akhir Anggie, setelah itu barulah mereka akan mengobrol dengan Mami.


__ADS_2