
Anggie dan Mama serta Vina menjalani hari hari mereka dengan penuh kebahagiaan. Setahun sudah berlalu semenjak hari wisuda Anggie. Mama sudah kembali ceria, mama yang dulunya masih mengingat cerita dan kisah masa lalunya, sekarang Mama sudah benar benar melupakan hal itu. Mama tidak ambil pusing dengan semua laporan yang masuk kepada dirinya.
"Sayang, jam berapa kamu pulang hari ini?" tanya Mama saat mereka sedang sarapan berdua di meja makan.
"Sore Ma. Aku ada ngajar sampe jam lima. Kenapa?" tanya Anggie yang penasaran dengan sikap mamanya hari ini. Tidak biasanya mama menanyakan jam berapa dirinya pulang. Padahal mama sudah tau jam berapa Anggie biasanya pulang setiap harinya.
"Mama rencananya hari ini mau keluar sayang. Mama mau ke pasar" kata mama menjelaskan kepada Anggie dirinya akan kemana hari ini.
"Ke pasar? Ngapain Mama?" tanya Anggie yang semakin heran dengan Mama yang tumben tumben nya pengen ke pasar.
"Mama mau beli cumi sama udang sayang. Makanya Mama pengen ke pasar untuk membeli cumi dan udang segar" kata mama menjelaskan kepada Anggie.
Anggie menatap ke arah Mama. Mama menatap memohon kepada Anggie. Anggie akhirnya memutuskan untuk mengalah kepada keinginan Mama.
Anggie membuka dompetnya. "Ini Ma, mama beli buah juga sekalian ya. Tapi harus hati hati" kata Anggie yang tidak ingin mamanya mengalami kesulitan apapun saat keluar dari rumah mereka.
"Nggak usah tambah uangnya Nak, Mama masih ada uang yang kamu kasih kemaren" jawab Mama menolak uang yang baru diberikan oleh Anggie kepada dirinya.
"Tidak apa apa Mama. Nanti uang yang mama bawa kurang. Ambil aja" kata Anggie tetap memaksa Mama untuk mengambil uang yang diberikan oleh dirinya kepada Mama sebentar ini.
"Tapi, apa kamu masih ada uang Nak?" tanya Mama yang segan dan sangat berat hati untuk mengambil uang yang diberikan oleh Anggie kepada dirinya.
"Anggie siap terima bonus mama. Jadi uang aman" jawab Anggie yang memang baru saja menerima bonus dari hasil novelnya yang dikontrak oleh salah satu aplikasi ternama.
"Serius? Kamu nggak bohong kan sama mama?" tanya Mama yang sedikit ragu kalau Anggie membohongi dirinya.
"Nggak Ma. Anggie nggak bohong. Anggie serius. Uang novel Anggie keluar jadi bisa mama bawa ke pasar" kata Anggie meyakinkan Mama.
"Baiklah, uangnya mama terima. Makasi banyak ya nak." kata Mama sambil mengusap sedikit air mata yang menganak sungai di sudut mata Mama.
"Sama sama mama" jawab Anggie sambil memeluk Mama.
"Anggie berangkat kampus dulu ya Ma. Mama hati hati ke pasar" ujar Anggie meminta kepada Mama untuk selalu berhati hati saat keluar rumah.
__ADS_1
Anggie bersiap siap untuk ke Universitas melaksanakan kegiatan rutinnya setiap hari yaitu mengajar. Sedangkan Mama nanti setelah beberes rumah akan pergi ke pasar membeli lauk yang sudah sejak lama ingin dimasak Mama untuk menu makan mereka supaya bervariasi.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Dret dret dret dret, Anggie yang sedang memeriksa tugas para mahasiswanya dibuat kaget oleh getaran ponselnya yang cukup kuat di atas meja. Anggie meraih ponselnya itu. Dia melihat nomor baru yang menghubunginya kali ini.
"Siapa yang nelpon ini? Kenapa pakai nomor baru? Sepertinya telpon rumah" kata Anggie sambil melihat nomor yang menghubungi dirinya.
Anggie kemudian menerima panggilan telpon itu. Dia sangat penasaran karena sudah yang kedua kali nomor yang sama menghubunginya. Panggilan pertama tidak bisa diangkat karena Anggie yang sibuk menebak siapa yang menghubunginya.
"Hallo, dengan Nona Anggie Sukma anak dari ibu Ratna?" kata suara seorang wanita dari ujung telpon
"Ya. Saya Anggie Sukma. Ibu Ratna adalah Mama saya. Kalau saya boleh tau ini dari mana ya?" tanya Anggie kembali kepada orang yang menghubunginya itu.
"Begini Ibu, kami dari rumah sakit Harapan Kita" ujar seseorang yang menelpon itu mengatakan mereka dari mana.
"Rumah sakit? Mama?" tanya Anggie yang kaget saat mendengar kata rumah sakit dan orang yang menelpon pun menanyakan kalau ibu Ratna adalah Mamanya.
"Ada apa dengan Mama saya dokter?" tanya Anggie yang sudah bisa menghubungkan antara telpon dari rumah sakit dan orang rumah sakit yang memastikan kalau Ibu Ratna adalah naa Mama Anggie.
"Baik Bu, saya akan usahakan secepatnya sampai ke rumah sakit. Tolong kalau ada apa apa dengan ibu sayang, tolong berikan pelayanan yang terbaik" kata Anggie lagi yang sudah tidak tau harus berbuat apa.
Anggie memutuskan panggilan telponnya dengan orang dari rumah sakit. Dia menatap lama ponsel miliknya. Anggie benar benar panik dan tidak tau harus melakukan apa. Dia benar benar kacau sekarang.
"Tarik nafas Anggie kemudian lepaskan" ujar Anggie memberikan semangat kepada dirinya sendiri.
Anggie melakukan hal itu berulang kali sampai rasa panik tidak lagi ada di dalam pikirannya saat ini.
"Tenang Anggie, tenang. Jangan panik" ujar Anggie sekali lagi.
Tiba tiba Anggie teringat dengan sahabat baiknya. Serta seseorang yang bisa dianggapnya sebagai saudara walaupun mereka tidak ada pertalian darah sama sekali.
"Seandainya kamu ada di sini Vina, aku nggak akan sepanik ini" kata Anggie yang mengingat sahabatnya yang juga sedang melakukan perjalanan bisnis ke beberapa negara.
__ADS_1
Anggie memesan taksi online. Dia menunggu kedatangan taksi itu tepat di depan gerbang kampus. Anggie antara cemas dan juga takut akan terjadi sesuatu dengan Mama.
"Ma kalau terjadi sesuatu dengan Mama, Anggie sangat menyesal kenapa Anggie mengizinkan Mama dan bahkan memberi Mama tambahan uang untuk pergi ke pasar" kata Anggie dengan nada lirih.
Sebua mobil berhenti di depan Anggie. Anggie melihat plat nomor mobil itu. Ternyata mobil itu adalah taksi online yang dipesan oleh dirinya tadi.
"Dengan Nona Anggie?" tanya sopir taksi online dengan sangat ramah dan meyakinkan dirinya kalau yang sedang menunggu itu memang Anggie yang memesan taksi online.
"Ya, saya Anggie" jawab Anggie.
Anggie kemudian masuk ke dalam mobil. Dia berusaha duduk dengan sangat tenang di dalam mobil itu, walaupun hatinya sedang berkecamuk dengan sangat hebatnya.
"Ke rumah sakit Harapan Kita Pak" ujar Anggie memberitahukan kepada sopir taksi online kemana tujuan mereka.
"Siap Nona. Berarti sesuai aplikasi" jawab sopir taksi online.
Sopir taksi online melajukan mobilnya dalam kecepatan terbatas. Jalanan ibu kota sedang tidak bersahabat dengan Anggie. Macet dimana mana, sehingga membuat sopir taksi tidak bisa melaju dengan kecepatan maksimal.
Anggie mulai gelisah di kursinya berkali kali dirinya melihat ke jam tangan yang melingkar indah di tangan kirinya.
'Ayolah Pak. Ibu sayang butuh saya sekarang' ujar Anggie yang pikirannya sudah kemana mana.
Sopir taksi melihat kegelisahan Anggie yang duduk di kursi bagian belakang.
"Maaf Nona ada apa? Kenapa sangat gelisah?" tanya sopir taksi online kepada Anggie.
"Ibu saya sedang di rumah sakit Pak. Makanya saya sangat gelisah sekarang. Saya ingin cepat sampai di rumah sakit" jawab Anggie menjelaskan kenapa dirinya sangat gelisah sekarang.
"Serahkan sama saya Nona. Saya akan pastikan kita cepat sampai. Kenapa Nona tidak ngomong dari tadi" ujar sopir taksi online.
"Saya takut kalau Bapak marah" jawab Anggie lagi
Sopir taksi tau kenapa Anggie menjawab seperti itu. Memang ada beberapa sopir taksi online yang tidak mau menambah kecepatan mobilnya saat ada keadaan darurat seperti sekarang ini. Sopir taksi online kemudian menambah laju kecepata mobilnya. Beberapa kali dia menyalip mobil lain dengan cara yang sangat ekstrim sekali. Sehingga membuat beberapa mobil lain membunyikan klakson mereka dengan kencang tanda protes dengan apa yang dilakukan oleh sopir taksi yang membawa Anggie.
__ADS_1
"Pak. Nanti bapak dimarahi sama mereka" ujar Anggie dengan cemas.
"Biarkan saja Nona. Tidak masalah. Sekarang uang terpenting Nona cepat bertemu dengan ibu Nona" jawab sopir taksi