
Kamu, kok bisa sampai sini?" ujar Mama kaget saat melihat Mami dan Papi. Sahabat terbaik Mama selama ini berada di rumahnya. Rumah sederhana yang sekarang dimilikinya itu.
"Mama, kenapa Papi dan Mami tidak di ajak masuk dulu" ujar Anggie yang bisa membaca kekagetan di wajah Mama.
"Setelah itu baru kita lanjutkan perbincangannya" lanjut Anggie sambil tersenyum berusaha menetralkan kembali wajah Mama yang sedang dalam keadaan tidak baik baik saja.
Wajah yang tidak bisa menipu kalau yang punya wajah sedang dalam keadaan terkejut saat melihat dua orang yang di depannya berdiri sambil tersenyum ramah sekali. Senyuman seorang sahabat yang kembali bertemu dengan sahabat lamanya itu.
"Maaf sampai lupa. Silahkan masuk. Maaf rumahnya kecil" ucap Mama yang nggak tau bagaimana cara meminta kedua orang yang sangat sangat baik terhadap dirinya itu untuk masuk ke dalam rumah kecil yang sekarang ditempatinya.
Mereka semua masuk ke dalam rumah sederhana yang sekarang ditempati oleh mantan nyonya nomor satu di dunia bisnis negara indomesia. Mami dan Papi memandang rumah sederhana itu. Mereka tidak menyangka kalau Anggie dan Nyonya Sanjaya akan pindah ke rumah sederhana tersebut.
Mama bisa membaca kekagetan dari wajah kedua sahabatnya itu. Mama tau kalau kehidupan mereka berdua sudah berubah drastis dan pastinya membuat siapa saja tidak menyangka kalau hal ini bisa terjadi.
Mereka semua melanjutkan obrolan yang sempat terpending di mansion keluarga Vian. Apalagi sekarang ada Mama yang membantu Anggie untuk menceritakan semua permasalahan yang terjadi di dalam keluarga sanjaya. Tepat pukul sebelas malam, Vian dan keluarganya pamit kepada Anggie dan Mama. Mereka kemudian meninggalkan rumah sederhana itu.
"Ma" panggil Anggie saat melihat Mama berjalan masuk ke dalam kamar dengan langkah gontai.
Mama berhenti dan berbalik untuk melihat ke Anggie.
"Maafkan Anggie" ujar Anggie dengan pelan.
Anggie merasa bersalah sekali karena membawa sahabat lama mama ke dalam rumah mereka. Menurut Anggie mama tidak siap untuk bertemu dengan orang orang yang dilingkaran mama terdahulu.
Mama yang mendengar Anggie mengatakan maaf hanya bisa tersenyum saja. Mama tidak memberikan reaksi apapun. Setelah tersenyum mama memilih untuk langsung masuk ke dalam kamarnya. Mama tidak mau membahas masalah itu dengan Anggie. Mama tidak tau apa yang dirasakannya sekarang ini, sehingga mama menjadi tidak tau apa yang harus dikatakannya ke Anggie.
__ADS_1
Anggie menatap nanar ke arah Mama. Mama tidak memberikan jawaban apapun kepada Anggie. Anggie tidak menyangka hal itu akan terjadi kepada dirinya. Anggie berjalan ke depan pintu kamar mama.
"Maafkan Anggie ma" ujar Anggie dengan nada pelan sambil mengusap pintu kamar mama.
Air mata yang sudah dari tadi di tahan oleh Anggie, akhirnya turun juga. Anggie benar benar bersedih sekarang ini. Dia sangat menyesali dirinya sekarang, dia tidak ada maksud apa apa, dia murni hanya terjebak dalam lingkaran kepedulian Mami Vian terhadap mamanya sendiri. Tetapi ujungnya seperti sekarang ini. Anggie benar benar tidak tau harus berbuat apa lagi.
Anggie melihat lama ke arah pintu kamar Mama. Anggie berharap pintu itu terbuka dan melihat mamanya berdiri di sana. Anggie menunggu sangat lama sekali, Anggie masih berharap mama membuka pintu kamar itu. Ternyata harapan hanya tinggal harapan saja, Mama sama sekali tidak membuka pintu kamarnya untuk Anggie.
Anggie yang bersedih dan sangat hancur, berjalan menuju kamarnya. Dia langsung membaringkan tubuhnya yang sudah lelah itu ke atas kasur. Anggie berharap dia bisa langsung tertidur, tetapi harapan hanya tinggal harapan. Mata dan pikiran serta perasaan Anggie tidak sejalan. Anggie tidak bisa terlelap. Dia hanya menggeser, dan terlihat sangat gelisah di atas ranjang kecilnya itu. Pikiran Anggie hanya satu yaitu ke Mama. Orang tua yang sangat dicintainya itu. Anggie sudah membuat mama kecewa dengan apa yang dilakukannya tadi.
"Maafkan Anggie ma" ujar Anggie sambil berusaha untuk tertidur.
Pagi harinya Anggie terbangun dengan badan yang benar benar letih. Anggie berjalan keluar kama, kesibukan yang biasanya sudah dilakukan oleh mama terlihat sama sekali tidak ada. Anggie menatap ke pintu kamar mama. Pintu kamar itu masih seperti tadi malam, tertutup rapat. Hati Anggie yang semula sudah sedikit tenang, kembali menjadi sedih saat mendapati kenyataan mama yang masih marah kepada dirinya. Anggie benar benar sudah membuat mama menjadi sangat kecewa.
Anggie berharap mama menjawab panggilannya. Urusan mama mau keluar dari kamar itu adalah urusan kesekian, bagi Anggie mama sudah menjawab panggilannya saja, Anggie sudah sangat bahagia sekali. Tetapi kenyataannya tidak sama sekali. Mama sama sekali tidak menjawab panggilannya.
Anggie cukup lama berdiri di depan pintu kamar itu. Anggie melihat jam dinding, jarum jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Anggie harus menyiapkan sarapan dan langsung berangkat ke kampus. Anggie ada janji dengan dosen pembimbingnya jam delapan pagi.
Anggie memulai semua pekerjaannya. Dia hatinya yang sedang bersedih harus sedikit di hibur nya dengan mengerjakan pekerjaan rumah. Dia tidak mau hanya karena bersedih maka semua pekerjaan tidak dilakukannya. Dia tidak mau hal itu sampai terjadi.
Tepat pukul tujuh, semua sudah selesai. Anggie juga sudah makan sepitong roti. Anggie tidak ada nafsu untuk makan sarapan yang sudah dibuat oleh dirinya. Anggie kembali melihat ke pintu kamar mama. Pintu itu masih tertutup rapat.
"Ma, Anggie ke kampus dulu. Sarapan sudah siap. Doakan Anggie supaya Anggie bisa daftar ujian akhir hari ini" ujar Anggie dengan nada suara yang sudah bergetar. Anggie benar benar sedang bersedih hati.
Anggie berjalan meninggalkan rumah sederhananya itu. Anggie akan pergi ke kampus berjalan kaki. Uang di sakunya sudah tidak cukup untuk naik angkutan umum. Saat itulah sebuah mobil sedan keluaran terbaru berhenti di sampingnya.
__ADS_1
Anggie berhenti, dia tidak mau terjadi apa apa dengan dirinya karena sopir mobil yang ugal ugalan itu. Kaca mobil diturunkan oleh orang yang ada di dalam mobil mewah itu.
"Hay, wanita sok kuat. Apa masih sanggup melanjutkan hidup?" ujar Kayla dari dalam mobilnya.
"Sayang jangan seperti itu. Kasihan kakak tiri mu. Bagaimana kalau dia kita antarkan saja ke kampusnya? Kasian jalan kaki. Mana panas lagi" kali ini nyonya besar sanjaya yang berbicara kepada Anggie.
Anggie hanya mendengar saja apa yang dikatakan oleh dua orang wanita yang sudah menghancurkan keluarganya itu. Anggie kemudian melanjutkan perjalanannya. Ia tidak mau terlambat sampai di kampus karena harus meladeni dua orang wanita yang tidak penting itu.
Kayla yang melihat Anggie tidak memberikan reaksi dan tanggapan yang diinginkan oleh dirinya. Menjadi sangat kesal sekali. Apalagi Anggie berjalan pergi meninggalkan mereka berdua. Kayla mengiringi Anggie dengan mobilnya.
"Hay, wanita tak tau diri. Ngapain juga kuliah, kamu nggak akan jadi pemimpin perusahaan Sanjaya. Jadi nggak usah capek capek kuliah" lanjut Kayla dengan sengaja menjatuhkan mental dan harga diri dari seorang Anggie.
"Lagian kalau kamu mendaftar ke perusahan perusahaan lain, maka aku akan dengan sengaja menghambatnya. Aku nggak akan biarkan kamu bisa hidup senang" lanjut Kayla lagi meneruskan semua yang mau dikatakannya kepada Anggie.
Anggie hanya diam saja. Dia sedang tidak memiliki nafsu untuk melawan Kayla. Kayla yang melihat Anggie masih tidak bereaksi semakin semangat untuk mengata ngatai Anggie. Menurut Kayla diamnya Anggie adalah sebuah reaksi dari sebuah ketakutan.
"Kamu sudah dengar sendirikan, kami tidak akan membiarkan kamu dengan Mama tercinta kamu yang bego itu untuk bisa hidup nyaman. Kami akan terus rusak kehidupan kalian berdua" kali ini yang berbicara adalah Nyonya besar Sanjaya.
Anggie masih saja diam. Dia menganggap kedua makhluk itu adalah teman sekaligus radio rusaknya untuk menemani dirinya ke kampus.
Saa sampai di gerbang kampus. Anggie melihat ke arah mereka berdua.
"Makasi radio rusak, sudah menemani aku sampai depan kampus" ujar Anggie sambil tersenyum kepada Nyonya dan Nona Sanjaya.
Nyonya Sanjaya dan Kayla menatap tidak percaya ke arah Anggie yang sekarang sudah hilang di telan taman kampus. Mereka tidak percaya Anggie akan mengatakan mereka berdua sebagai radio rusak. Apalagi Anggie juga mengatakan mereka berdua sudah menemani Anggie sampai ke kampusnya.
__ADS_1