Tempat Untuk Kembali

Tempat Untuk Kembali
tempat untuk kembali *13


__ADS_3

Jadi gimana ceritanya dengan makhluk astral itu?" ujar Vian yang dari tadi sudah terlalu sabar menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Anggie kepada dirinya.


Anggie menggeleng saat mendengar apa yang ditanyakan oleh Vian kepada dirinya. Vian benar benar penasaran dengan cerita antara Anggie dengan Vano. Lelaki yang sebenarnya dicintai oleh Anggie tetapi sekarang menjadi calon suami adik tirinya.


"Sejujurnya gue masih mencintai dan mengharapkan dia jadi pendamping gue" kata Anggie sambil melihat ke atas.


Air mata sudah mulai menganak sungai. Dia sebenarnya tidak sanggup mengatakan hal ini kepada siapapun. Anggie sebenarnya ingin menyimpan cerita ini sendiri saja. Tetapi Vian adalah sahabatnya. Anggie harus menceritakan kepada Vian.


Vian melihat kalau Anggie sama sekali tidak bisa melanjutkan ceritanya. Vian yang sangat mengerti bagaimana Anggie berusaha untuk memaklumi sahabatnya itu. Rasa ingin taunya harus di redamnya supaya tidak menjadi sebuah pergolakan batin bagi Anggie.


"Oke, nggak usah lanjutkan gue mengerti. Gue harap apa yang menjadi pilihan loe saat ini tidak akan membuat loe menyesal di kemudian hari"


Vian bersikap bijak menghadapi kondisi Anggie yang tidak sanggup menceritakan apa yang terjadi dalam dirinya saat ini. Pergolakan batin Anggie benar benar terlihat sangat jelas oleh Vian.


" Yup, gue harap apa yang menjadi pilihan gue tidak akan membuat gue menyesal"


"Mari makan" kali ini Vian menetralisir keadaan yang sangat canggung antara dirinya dan juga Anggie. Keadaan yang menjadi diam setelah pertanyaan yang diajukan oleh Vian kepada Anggie.


"Gue juga udah lapar" jawab Anggie sambil mengusap perutnya yang sudah berbunyi cukup ribut tersebut.


Mereka berdua melanjutkan makan siang yang sempat tertunda karena pembahasan beberapa hal yang menjadi topik utama mereka janji temu di kantin kampus tersebut.


"Kamu ada kuliah lagi?" tanya Vian.


"Nggak. Gue mau lanjut kerja" jawab Anggie.


"Gue antar. Gue juga kosong"


"Boong loe. Loe ada kuliahkan, tapi karena yang masuk orang itu, makanya loe ngomong loe nggak ada kuliah"


"Bokis loe ke gue"


Anggie menoyor kening Vian karena sudah berusaha berbohong kepada dia.


"Tau aja loe. Udah ayuk jalan"


Vian sangat tidak ingin bertemu muka dengan laki laki yang telah menghancurkan kehidupannya itu dan juga membuat malu keluarganya. Makanya setiap perkuliahan di lakukan oleh asisten yang satu itu, maka Vian tidak akan pernah masuk ke dalam ruang kelas, Vian lebih memilih untuk tidak hadir dan membuat surat keterangan sakit.


"Kalau loe nggak lulus gimana?" tanya Anggie sambil mereka berdua berjalan menuju mobil Vian yang di parkir di parkiran khusus dosen dan asisten dosen.


"Nggak lulus ya sudah" jawab Vian dengan santai.

__ADS_1


"Gilak loe, mata kuliah loe tinggl itu doang Vian. Masak loe nggak lulus hanya gara gara itu doang"


"Gue nggak habis pikir sama loe Vi"


Anggie menggeleng geleng kan kepalanya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Vian sebentar ini.


"Loe tenang aja Nggie, gue pastikan kalau gue akan lulus. Jadi kita wisuda bareng" kata Vian meyakinka Anggie.


"Awas loe, kalau kita nggak yudisium bareng, gue berhenti berteman dengan elo"


Anggie memberikan ancaman sekaligus penyemangat kepada Vian.


"Loe ngancem gue?" tanya Vian sambil melihat wajah sahabatnya itu.


"Ya, gue ngancem elo" jawab Anggie dengan sangat yakin mengatakan hal itu kepada Vian.


"Oh oke. Kita akan yudisium bersama"


Vian membuka kunci pintu mobilnya. Anggie dan Vian masuk ke dalam mobil. Vian akan mengantarkan Anggie ke tempat kerja berikutnya.


"Loe nggak capek kerja kayak gini?" ujar Vian sambil tetap menatap lurus ke jalanan yang sedang dilaluinya.


"Nggak, sama sekali nggak. Gue nggak capek. Gue menikmati semua yang gue lakukan" jawab Anggie.


Mobil yang dikemudikan oleh Vian, berhenti di parkiran supermarket tempat Anggie bekerja.


"Loe mau belanja juga?" ujar Anggie saat melihat Vian mematikan mobilnya.


"Ya, ada beberapa aitem yang harus gue beli" jawab Vian.


Mereka berdua turun dari dalam mobil. Saat itulah sebuah mobil sport keluaran terbaru berhenti dengan sembarangan di parkiran swalayan. Mobil itu hampir saja menyerempet Vian


"Manusia nggak ada etika" ujar Vian mengumpat.


"Gue tungguin loe. Awas aja" lanjut Vian yang kesal dengan apa yang hampir terjadi kepada dirinya dan Anggie.


Vian berdiri menunggu pengemudi mobil sport mewah itu turun dari dalam mobilnya.


"Loe masuk duluan Nggie. Gue ada perlu sebentar" kata Vian yang nggak mau Anggie terlibat dalam permasalahannya itu.


"Jangan macem macem loe"

__ADS_1


"Aman"


Anggie pergi meninggalkan Vian. Dia sebenarnya ingin mencegah Vian untuk melakukan hal bodoh itu, tetapi Anggie juga tau bagaimana Vian. Vian tidak akan bisa dilarang untuk melakukan hal apapun.


.....................


Vian melihat Anggie sedang menyusun stok barang barang yang sudah menipis di rak rak pajang swalayan besar tersebut.


"Kenapa loe lari Nggie?" ujar Vian saat dirinya sudah berada tepat di sebelah Anggie.


Anggi tersenyum membalas pertanyaan dari Vian


"Malahan senyum lagi" Vian protes melihat reaksi yang diberikan oleh Anggie atas pertanyaannya tadi.


"Nona Vian yang cantik dan berotak encer, kalau gue nengok lu ribut sama tu walang keket, bisa bisa gue di pecat dari kerjaan gue. Mau loe gue jadi pengangguran?"


Anggie menjelaskan apa maksud dari senyumannya tadi kepada Vian sambil tetap menyusun barang barang yang mau di panjangnya di rak rak pajang.


"Bener juga. Otak gue nggak sampe sana" kata Vian yang menyadari apa dampak dari perbuatannya tadi kepada wanita yang ribut dengannya di lapangan parkir.


"Loe mau belanja kan tadi? Sana loe lanjut belanja. Gue mau kerja, bukan mau ngerumpi sama loe" kata Anggie sambil sedikit menggeser Vian dari tempat berdirinya.


"Ye berani ya loe ngusir pelanggan?"


"Beranikah masak nggak. Pelanggan kayak elo apa lagi" jawab Anggie dengan nada dibuat sedikit ketus.


"Gue aduin ke manager baru tau loe" Vian sedikit mengancam Anggie.


"Silahkan. Nanti kalau gue di pecat, gue akan minta uang jajan ke elo" balas Anggie saat mendengar ancaman yang diberikan oleh Vian kepada dirinya.


"Wah keren. Loe bisa pindah ke perusahaan bokap gue" kata Vian yang mendadak mendapat pencerahan tidak sengaja dari Anggie.


"Ogah gue kerja di perusahaan. Loe kan tau apa keinginan gue" kata Anggie.


"Ya, gue tau, loe mau jadi dosen. Tenang tenang, gue nggak akan merusak rencana loe" kata Vian yang paham dengan apa yang diinginkan oleh Anggie selama ini atas cita citanya.


Vian melanjutkan acara belanja belanja yang sebenarnya menjadi kedok Vian untuk bisa melihat bagaimana Anggie bekerja. Sedangkan Anggie melanjutkan pekerjaannya untuk kembali menyusun barang barang yang harus di panjangnya pagi ini.


"Gue pulang dulu. Loe hati hati kerja" kata Vian saat dirinya sudah selesai belanja.


"Oke" jawab Anggie sambil tersenyum sekilas kepada sahabat terbaiknya itu.

__ADS_1


Vian lah sahabat satu satunya yang dimiliki oleh Anggie saat ini. Semua teman teman yang mengaku sebagai sahabat Anggur sudah lama pergi semenjak Anggie tidak lagi tinggal di mansion keluarganya itu.


__ADS_2