
"Keluarga kami tidak ingin membuat orang menjadi berpandangan negatif Vano. Kami tidak ingin orang menganggap kami tidak perhatian kepada Anggie dan Namanya padahal kami sangat perhatian sekali kepada dirinya" kata Mami berusaha membuat Vano paham dan mengerti serta tidak salah sangka dengan keluarga mereka.
"Vano tau Mami. Tidak mungkin Papi membiarkan Anggie hidup di luar sana tanpa bantuan dari Papi" ujar Vano dengan lugunya.
"Makasi Vano. Kami cemas kalau kamu lebih percaya dengan Anggie dari pada dengan kami" lanjut Mami semakin membuat Vano berasa bersalah kepada keluarga Sanjaya.
Papi yang mendengar apa yang dikatakan oleh Mami hanya diam saja. Papi sama sekali tidak bisa berbuat apa apa. Sebagai seorang ayah kandung dia sangat kasihan dengan anak dan mantan istrinya itu. Sedangkan di sisi sebagai seorang suami dan ayah juga, dia tidak bisa membuat keluarganya bersedih. Papi benar benar ibarat makan buah simalakama, jadi mau tidak mau suka tidak suka Papi Sanjaya harus menerima apa yang diceritakan oleh Mami Sanjaya kepada Vano Wijaya.
"Papi, kenapa dokter lama sekali memeriksa Kayla?" tanya Mami Sanjaya sambil melihat ke arah pintu ruangan dokter yang belum juga terbuka.
"Sabar Mami. Serahkan saja kepada mereka" kata Vano menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Mami kepada Papi
"Tapi ini sudah lama banget Vano. sudah satu jam" kata Mami Sanjaya.
Vano melihat jam tangannya. Memang benar ternyata Kayla sudah diperiksa lebih kurang satu jam di dalam ruangan itu. Tetapi apalah daya Vano, Vano tidak bisa mendesak orang yang ada di dalam untuk cepat cepat menyelesaikan pemeriksaannya. Vano hanya bisa bersabar saja.
"sabar Mami. biarkan dokter memeriksa Kayla dengan teliti. Apa Mami mau nanti dokter hanya ala kadarnya saja memeriksa Kayla karena desakan kita yang harus cepat keluar hasilnya" ujar Papi Sanjaya yang sebenarnya juga cemas dengan keadaan Kayla anaknya itu. Tetapi kalau dirinya juga terlihat terlalu cemas maka siapa yang akan menenangkan istrinya itu
Pintu ruang pemeriksaan dibuka dari dalam. Dua orang dokter keluar dari dalam ruangan. Serta seorang suster. Mereka semua sudah di dalam ruang periksa selama satu jam. Satu jam yang terasa sangat lama oleh keluarga besar Sanjaya dan Vano saat menunggu Kayla diperiksa
"Keluarga pasien" panggil seorang suster yang juga berdiri di dekat dua dokter.
"Kami dokter" jawab Papi.
Papi, Mami dan Vano berjalan ke arah pintu ruang pemeriksaan.
"Bapak siapanya pasien?" tanya perawat saat melihat ada dua orang yang tidak dilihatnya saat pertama Kayla diantarkan ke rumah sakit oleh Vano.
__ADS_1
"Saya Papinya pasien sedangkan yang ini Mami nya pasien." kata Papi menjelaskan kepada perawat dan dokter.
"Oh maaf sebelumnya Tuan dan Nyonya" ujar perawat dengan nada menyesal karena sudah salah sangka terhadap Papi dan Mami.
"Tidak apa apa suster. Kami tau kok sopnya seperti apa" kata Papi dengan sangat bijaknya.
"Jadi bagaimana anak kami dokter?" tanya Papi kepada dua orang dokter yang berdiri di sana sejak tadi.
"Ke ruangan saya saja Bapak Ibuk" kata Dokter mengajak Papi, Mami dan Vano ke ruang kerjanya.
"Anak kami bagaimana dokter?" kali ini Mami yang bertanya kepada dokter.
"Sebentar lagi akan diantarkan oleh suster ke kamar inap. Jadi, bapak dan ibuk bisa menjenguk pasien di sana" kata dokter menjelaskan kepada Papi dan Mami tindakan yang akan dilakukan terhadap Kayla sekali lagi dari rumah sakit.
Papi dan Mami mengangguk. Mereka berdua sekarang sudah paham akan situasinya. Kayla akan di rawat di rumah sakit, sedangkan Papi dan Mami serta Vano harus mendengarkan diagnosis dokter terhadap penyakit Kayla.
Papi, Mami dan Vano mengikuti dua orang dokter yang sudah berjalan terlebih dahulu. Tetapi langkah mereka bertiga terhenti karena sesuatu.
Tuan dan Nyonya Sanjaya serta Vano berhenti mendadak saat mendengar Mami Wijaya yang berteriak cukup kencang.
"Maaf Mami dan Papi telat sayang. Urusan kami baru selesai" kata Mami saat mereka sudah bergabung dengan Vano dan Tuan serta Nyonya Sanjaya.
"Tidak apa apa Nyonya. Kami maklum kok" ujar Nyonya Sanjaya denga sikap ramah bak sosialita nya itu
"Terimakasih atas pengertiannya Nyonya" jawab Nyonya Wijaya sambil tersenyum ramah membalas senyum Nyonya Sanjaya.
Mereka semua kemudian berjalan bersama sama menuju ruangan dokter. Mereka mau mendengar apa yang sebenarnya terjadi terhadap Kayla. Mereka tidak mau menduga duga sakit yang diderita oleh Kayla.
__ADS_1
"Selama ini Kayla nggak pernah sakit kan ya Nyonya?" tanya Nyonya Wijaya.
"Sama sekali tidak pernah Nyonya. Makanya kami sangat kaget tadi, saat Vano menghubungi kami dan mengabarkan kalau Kayla pingsan serta di bawa ke sini" jawab Nyonya Sanjaya dengan nada tenang.
"Kok bisa mendadak gini ya?" ujar Nyonya Wijaya dengan nada pelan. Nyonya Wijaya tidak ingin Nyonya Sanjaya menjadi tidak enak hati kepada keluarga Wijaya.
"Mami, mami yang namanya penyakit itu datangnya nggak ngasih kabar" kata Papi Wijaya dari belakang.
"Yang namanya hari sial itu tidak ada di kalender Mami" lanjut Papi lagi
"Bener Papi. Mami setuju dengan yang Papi katakan. Tetapi kok bisa sekalinya sakit langsung ke UGD" ujar Mami Wijaya yang lupa kalau disitu ada keluarga Kayla
"Ya bisa jadi selama ini Kayla tidak memperdulikan sakitnya. Nah sekarang puncaknya" ujar Papi lagi.
Papi memberikan kode kepada Mami untuk tidak melanjutkan obrolan yang tidak penting itu. Papi tidak mau keluarga Sanjaya menganggap keluarga Wijaya tidak sopan karena membicarakan orang yang sakit di depan mereka. Apalagi ini Kayla calon menantu keluarga Wijaya.
Mereka berlima sudah sampai di depan pintu ruang praktek dokter. Vano mengetuk pintu itu. Seorang suster membukakan pintu dari dalam.
"Silahkan masuk Tuan, Nyonya. Dokter sudah menunggu di dalam" ujar perawat mempersilahkan keluarga Wijaya dan Sanjaya untuk masuk ke dalam ruangan.
Dua orang dokter sudah duduk di sofa. Mereka sengaja duduk di sofa karena sudah bisa membayangkan kalau keluarga pasien itu akan ramai. Ternyata memang benar keluarga pasien berjumlah lima orang.
"Silahkan duduk Tuan, Nyonya" ujar dokter.
Mereka berlima kemudian duduk di sofa yang kosong. Mereka akan mendengarkan apa yang dikatakan oleh dokter kepada keluarga besar itu.
"Jadi bagaimana dengan kondisi anak saya dokter?" tanya Papi Sanjaya.
__ADS_1
"Begini Tuan dan Nyonya. Kami berdua sebelumnya meminta maaf kepada Tuan dan Nyonya" ujar dokter dengan nada tenang.
Tuan dan Nyonya Sanjaya saling memandang satu dengan yang lainnya. Feeling mereka mengatakan kalau anak mereka dalam kondisi yang tidak sehat sehat saja. Mereka sangat yakin kalau kondisi Kayla sedang dalam masa yang gawat.