
Seminggu berlalu semenjak kejadian Anggie sedikit menjawab perkataan dari Mama. Selama itu pula mereka berdua hanya berbicara sekedarnya saja. Saat ada yang dirasa perlu oleh Mama, maka Mama akan berbicara dengan Anggie, begitu juga sebaliknya. Percakapan yang hangat seperti dulu sudah tidak ada lagi di antara Mama dan Anggie.
Sebenarnya Mama dan Anggie sama sama bersedih akan hal yang terjadi sekarang ini. Tetapi ntah kenapa di antara mereka berdua tidak ada yang terlebih dahulu meminta maaf. Anggie sebenarnya ingin meminta maaf, tetapi ntah kenapa hati dan pikirannya seakan akan enggan untuk melakukan hal itu.
"Ma, besok Anggie wisuda. Anggie harap Mama bisa menghadiri wisuda Anggie" ujar Anggie memberitahukan kepada Mama tentang agenda wisudanya yang akan dilakukan besok.
"Jam berapa?" tanya Mama.
"Jam sembilan Ma" jawab Anggie.
Anggie memberikan kepada Mama sebuah undangan untuk orang tua wisudawan. Mama menerima undangan itu, tetapi sama sekali tidak berminat untuk membacanya sekarang. Anggie yang melihat hal menyedihkan itu hanya mampu mengusap dadanya saja, Anggie berusaha mati matian menahan air matanya supaya tidak jatuh. Dia tidak mau terlihat lemah dan merasakan sakit di hadapan Mama. Sebisa mungkin Anggie akan menahan rasa sakit itu
"Anggie jalan dulu Ma" kata Anggie yang memilih untuk cepat keluar dari rumah. Hatinya hancur melihat sikap Mama sekarang ini. Mama yang merupakan satu satunya pegangan Anggie dalam menjalankan kehidupannya, sudah sangat berubah sikapnya kepasa Anggie.
"Ma, seandainya Mama tau betapa hancur Anggie sekarang" kata Anggie sambil mengusap air matanya yang jatuh saat dirinya baru saja meninggalkan meja makan.
"Anggi hanya punya Mama saja sekarang. Tapi ntah kenapa Mama menjadi seperti ini kepada Anggie" lanjut Anggie masih meratapi nasibnya.
Anggie berjalan menuju gang depan rumahnya. Dia sekarang sedang berjuang melawan semua rasa kecewanya itu. Anggie tau dia pasti akan berdosa kalau kecewa kepada orang tuanya itu. Tapi apa mau di kata, Anggie tetap tidak bisa menetralisir perasaannya.
Tin tin tin, bunyi klason mobil yang mengagetkan Anggie yang sedang termenung menunggu angkot di tepi jalan. Anggie melihat ke mobil yang berhenti tepat di depan dirinya.
"Eh Tuan Wijaya" ujar Anggie yang kaget saat melihat siapa yang berada di dalam mobil.
"Mau kemana Anggie?" tanya Tuan Wijaya yang kali ini tidak membawa sopir menuju perusahaan.
"Mau ke kampus" jawab Anggie dengan sangat sopan.
Anggie masih menghargai Tuan Wijaya sebagai sahabat Ayahnya. Anggie tidak ingin bersikap kurang ajar kepada Tuan Wijaya. Walaupun dia pernah di sakiti oleh Nyonya Wijaya.
"Masuk Anggie. Papi antar ke kampus" kata Tuan Wijaya yang masih memanggil dirinya dengan sebutan kata Papi.
"Nggak usah aja Tuan. Saya naik angkot saja" jawab Anggie menolak dengan sopan ajakan dari Tuan Wijaya.
"Tidak apa apa Anggie. Kamu jangan sungkan sama Papi, Nak" kata Tuan Wijaya masih berusaha membujuk Anggie untuk menuruti tawaran yang diberikan oleh dirinya.
Anggie melihat ke sekelilingnya. Dia sudah menjadi bahan tontonan orang orang yang lewat. Pilihannya cukup berat, Anggi masuk ke dalam mobil, maka dia akan menjadi bahan gunjingan, tidak masuk maka akan tetap jadi bahan gunjingan juga.
"Anggie mohon Tuan. Tuan jalan saja lagi Anggie tidak akan menerima bantuan dari Tuan" jawab Anggie
__ADS_1
Tuan Wijaya tau apa yang di cemaskan oleh Anggie. Keputusannya untuk berhenti dan akan mengeluarkan Anggie ke kampus menjadi sebuah malapetaka.
"Maafkan Papi, Nak" ujar Tuan Wijaya dengan nada sedih.
Tuan Wijaya kemudian mengemudikan mobilnya meninggalkan Anggie yang masih setia menunggu angkot yang akan membawa dirinya ke kampus.
"Papi, terimakasih masih baik sama Anggie, tapi Anggie nggak mau keluarga Papi menjadi berantakan gara gara Anggie" kata Anggie sambil melihat ke arah mobil Tuan Wijaya yang sudah berlalu.
Sebuah angkot dengan tujuan kampus Anggie berhenti tepat di depan Anggie. Anggie langsung duduk di bagian depan. Menurut Anggie bagian depan adalah posisi paling aman dan paling nyaman saat naik angkot. Dia tidak perlu berdesak desakan dengan orang orang saat duduk.
Anggie menikmati perjalanan menuju kampus, terkadang Anggie mengobrol dengan sopir angkot. Hal itu membuat Anggie jadi terkenal di kalangan sopir sopir angkot tujuan kampus ke rumahnya. Anggie terkenal sangat ramah sekali dengan siapapun.
"Wah saya sudah sampai. Makasi Bang. Semangat kerja Bang" ujar Anggie kepada sopir angkot. Anggie memberikan uang ongkosnya.
"Hari ini gratis Non. Jadi, nggak usah bayar" jawab sopir angkot menolak uang yang diberikan oleh Anggie.
"Ulang tahun Bang? Selamat berkurang umur untuk di dunia ya" kata Anggie dengan ramah kepada sopir angkot.
"Makasih juga udah gratisin ongkos" lanjut Anggie dengan ramah.
"Sekali sekali Nona. Selamat kuliah" jawab sopir angkot.
"Woi" panggil Vina saat melihat Anggie yang baru datang untuk gladi bersih kegiatan wisuda yang akan dilakukan besok.
"Loe ngagetin gue aja. Gue kira siapa yang manggil dengan woi doang" jawab Anggie yang protes dengan cara Vina memanggil dirinya.
"Haha haha haha, mau bagaimana lagi. Loe keasikan ngobrol sama sopir angkot" jawab Vina memberikan alasan kenapa dirinya manggil woi kepada Anggie.
"Alasan be, padahal memang niat manggil gue dengan kata woi. Pake banyak alasan pula loe lagi" jawab Anggie sambil memukul pundak Vina.
"Haha haha haha. Jangan marah marah Buk Dosen. Nanti cepat tua" kata Vina lagi sambil tersenyum.
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam auditorium tempat akan dilaksanakan wisuda program magister di Universitas terkenal di negara Indomesia. Para calon wisudawan sudah berkumpul di dalam auditorium, mereka tinggal menunggu protokol memanggil dan mengarahkan kegiatan untuk melakukan gladi bersih acara wisuda.
Anggi dan Vina mengikuti kegiatan gladi bersih wisuda itu dengan serius. Mereka berdua ternyata duduk berdekatan. Anggie berada tepat di depan Vina.
"Selamat ya, loe menjadi wisudawan terbaik pertama tahun ini. Gue bangga banget jadi sahabat elo" ujar Vina memberikan selamat kepada Anggie saat dia melihat Anggie duduk di urutan pertama.
"Haha haha haha. Gue aja kaget. Tapi makasih ya atas ucapan loe, dan terimakasih juga atas semua pertolongan dari loe. Tanpa loe, gue nggak akan bisa seperti ini." kata Anggie yang tidak menyangka kalau dia menjadi wisudawan terbaik tahun ini.
__ADS_1
"Itu namanya reski yang tidak akan tertukar. Lagian semua itu juga hasil dari hasil usaha kamu sendiri. Hasil tidak akan pernah mengkhianati proses" jawab Vina sambil tersenyum.
"Tapi gue tetap harus mengucapkan terimakasih ke elo. Karena semua bantuan dari loe buat gue bisa menyelesaikan target dari diri gue sendiri" kata Anggie mengulang perkataannya.
"Udahlah males gue pake makasi makasi kayak gitu. Gue sahabat loe. Jadi, udah semestinya gue nolong loe" lanjut Vina menolak ucapan terimakasih dari Anggie.
Anggie sangat bahagia, dia memiliki sahabat baik seperti Vina. Sahabat yang selalu membantu dirinya saat dia mengalami kesusahan seperti sekarang ini.
Akhirnya setelah sekian jam acara gladi bersih wisuda sarjana magister itu selesai juga. Anggi dan Vina kemudian keluar dari dalam ruangan tempat wisuda akan dilaksanakan.
"Aku beneran lelah. Makan siang dulu yok" kata Vina mengajak Anggie untuk makan siang.
"Kantin kampus aja ya" ujar Anggie yang setuju untuk makan siang di kantin kampus.
"Oke" jawab Vina.
Vina tau kalau keuangan Anggie sedang tidak stabil, makanya dia mengajak untuk makan di kantin kampus saja.
"Jadi, Mama hadirkan saat wisuda loe?" tanya Vina saat mereka berdua sudah berada di kantin kampus.
Anggie tidak menceritakan keributan dan kesalahpahaman antara dirinya dengan Mama kepada Vina. Anggie merahasiakan semuanya.
"Ikutlah, masak Mama nggak akan menghadiri wisuda gue." jawab Anggie penuh keyakinan.
Anggie sangat yakin Mamanya akan menghadiri wisudanya besok. Mama tidak akan mungkin mengecewakan Anggie terlalu dalam. Anggie sangat yakin akan hal itu.
"Loe sama siapa?" Anggie balik bertanya kepada Vina.
"Sendirian" jawab Vina dengan wajah sedih
"Why?" Anggie penasaran kenapa Vina menjawab sendirian
"Papi dan Mami ke luar negeri. Mereka ada kerjaan di sana. Tapi kata mereka lagi, mereka akan mengusahakan untuk pulang. Tapi aku tidak yakin akan hal itu" jawab Vina.
Vina merubah nada suara dan juga rait wajahnya. Dia tidak mau terlihat murung di depan Anggie saat ini. Vina ingin terlihat tegar dan tidak sedih karena Papi dan Mami tidak bisa datang.
Mereka kemudian melanjutkan makan siang sekaligus makan sore. Setelah selesai makan, Anggie dan Vina berpisah. Anggie ada kelas mengajar sesi sore. Sedangkan Vina akan langsung pulang ke rumahnya.
Anggie sudah diterima untuk menjadi dosen tetap di kampus tempat dia kuliah selama ini. Jadi, mulai dari sekarang dia tidak lagi menjadi asisten dosen, tapi sudah menjadi dosen tetap. Anggie sangat bersyukur akan hal itu. Suatu pencapaian yang sangat sangat disyukurinya saat ini. Anggie berharap saat Mama mendengar kalau dia sudah menjadi dosen tetap akan membuat Mama menjadi bangga atas pencapaiannya itu.
__ADS_1