
"Dokter dokter" teriak Vano sambil menggendong Kayla.
Vano berlari masuk ke dalam ruangan UGD rumah sakit ternama yang ada di ibu kota Indomesia. Vano tidak memperdulikan orang orang yang melihatnya dengan wajah keheranan. Vano tetap saja berlari.
"Dokter tolong dokter" Vano kembali berteriak.
Beberapa orang perawat mendorong brangkar rumah sakit. Mereka mengambil Kayla dari gendongan Bryan dan membaringkan Kayla di atas Brangkar rumah sakit. Mereka mendorong Kayla masuk ke dalam ruang pemeriksaan UGD, beberapa orang dokter jaga sudah berada di dalam ruangan.
"Maaf Tuan, anda tidak diizinkan untuk masuk ke dalam ruangan pemeriksaan" ujar seorang perawat memberhentikan Vano tepat di depan pintu masuk ruangan.
"Tapi saya calon suaminya" ujar Vano yang tidak ingin berpisah dengan Kayla.
"Tetap tidak bisa tuan." ujar Perawat.
Vano tetap bersikeras untuk bisa masuk ke dalam ruangan UGD. Vano tidak ingin menunggu di depan ruangan saja. Dia ingin melihat langsung pemeriksaan terhadap calon istrinya itu.
"Tuan, kalau tuan seperti ini juga. Masih memaksakan kehendak Tuan kepada kami. Maaf kalau kami tidak bisa memeriksa Nona" kata dokter yang sekarang sudah berada di sebelah perawat. Dokter mengatakan dengan tegas larangan tersebut, serta mengatakan langsung kepada Bryan konsekuensinya.
Vano yang mendengar ancaman dari dokter terpaksa mengalah. Dia kemudian mundur dan memilih duduk di kursi tamu. Dokter dan perawat langsng menutup pintu ruangan saat melihat Vano sudah duduk dengan tenang.
Vano mengambil ponsel miliknya. Dia menghubungi keluarganya dan juga keluarga Kayla. Vano meminta mereka datang ke rumah sakit sekarang juga. Vano tidak mungkin menangani hal seperti ini sendirian saja. Dia butuh dukungan keluarga besarnya. Apalagi nanti kalau vonis dokter mengerikan, maka Vano tidak bisa memutuskan yang terbaik untuk Kayla menurut dirinya saja. Walaupun Kayla adalah calon istrinya, tetapi kedua orang tua Kayla masih hidup, mereka paling berhak menentukan nasib Kayla ke depannya.
"Vano mana Kayla?" tanya Mami Kayla.
Orang tua Kayla yang pertama datang ke rumah sakit. Mereka langsung menuju rumah sakit saat mendapatkan kabar dari Vano kalau Kayla sedang di UGD sebuah rumah sakit.
"Masih di dalam ruangan pemeriksaan Mami" jawab Vano.
Mami melihat melalui jendela ruang pemeriksaan. Dia hanya bisa melihat para dokter dan perawat mengelilingi Kayla yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.
__ADS_1
"Apa yang terjadi Vano?" tanya Papi Kayla.
Papi kemudian duduk di sebelah Vano. Papi memejamkan matanya, mata yang sudah sangat lelah sekali dalam menjalankan kehidupan.
"Pertamanya gara gara ini Papi" ujar Vano sambil memberikan ponselnya kepada Papi.
"Kayla minta beli ponsel seperti ini?" tanya Papi yang salah mengambil kesimpulan.
"Nggak Papi. Kayla nggak mintak apa apa. Cuma hanya gara gara nonton video yang ada di ponsel aku itu" jawab Vano menjelaskan kepada Papi apa yang membuat Kayla menjadi sakit seperti ini.
"Apa Kayla melihat video kamu dengan wanita lain?" tanya Papi selanjutnya.
Vano menatap ke arah Papi dengan tatapan tajam. Vano seakan mimpi mendengar apa yang dikatakan oleh Papi sebentar ini. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Papi akan mengatakan hal yang tida mungkin akan dilakukan oleh Vano.
"Maaf Papi. Jangan samakan aku dengan pria lain di luar sana" jawab Vano.
Nada suara Vano jelas jelas sangat tersinggung dengan apa yang dituduhkan oleh Papi kepada dirinya.
Papi yang mendengar sedikit tersinggung dengan ucapan calon menantunya itu. Tetapi apa yang dikatakan oleh Vano ada benarnya juga. Tetapi karena Papi sudah tidak ingin tersinggung lagi, makanya Papi menghentikan obrolannya dengan Vano tentang masalah wanita tambahan.
"Jadi video apa yang ada di dalam ponsel kamu, yang sampai membuat Kayla menjadi sakit seperti sekarang?" tanya Papi yang ingat dengan penyebab Kayla bisa sampai sakit.
"Apa Papi yakin untuk melihatnya?" tanya Vano lagi.
Papi mengangguk. "Apapun itu. Demi Kayla, Papi harus kuat" jawab Papi Sanjaya dengan sangat sangat pasti untuk ucapannya.
Vano memutar video yang tadi dilihat oleh Kayla. Setelah itu Vano memberikan kepada Tuan Sanjaya.
"Silahkan tengok dan tonton sendiri Papi" ujar Vano.
__ADS_1
Papi melihat video yang diputar di ponsel Vano. Wajah Papi sontak berubah memerah saat melihat video itu. Papi tidak bisa menyembunyikan keterkejutan nya karena menonton video itu.
Vano melihat perubahan dari raut wajah Papi. Papi benar benar kaget saat melihat video itu
"Apa tidak ada yang terdengar suara nya Vano?" tanya papi yang penasaran apa yang dikatakan orang orang yang ada di dalam video tersebut.
"Untuk apa sama Papi suaranya?" tanya bali Vano.
"Kalau Papi mendengar suara orang yang ada di dalam video itu, mana tau Papi kenal" jawab Papi Sanjaya.
"Emang kalau kenal Papi mau apain?" tanya balik Vano. Vano terlihat menahan emosinya saat bertanya hal itu kepada Papi. Vano seperti tidak percaya Papi akan melakukan sesuatu terhadap Anggie.
"Paling tidak Papi akan mengatakan kepada orang yang ada di dalam mobil untuk menghargai Anggie" ujar Papi sambil menunduk.
"Emang Papi masih peduli dengan Anggie?" tanya Vano sambil melihat ke arah calon mertuanya itu.
Saat itulah Mami yang sudah mendengar percakapan antara Vano dengan suaminya itu, memilih untuk duduk di sebelah Papi.
"Vano, maaf ya nak. Papi itu masih suka memikirkan Anggie. Tetapi Anggie sendiri yang tidak mau berubah. Anggie tetap tidak bisa menerima Kayla sebagai adiknya" ujar Mami berusaha memutar balikkan fakta yang ada.
Mami tidak mau Papi mengatakan yang sebenarnya kepada Vano. Bisa bisa nanti semua rencana yang sudah di susun Mami dengan Kayla akan menjadi gagal karena video yang dilihat oleh Papi sebentar ini.
'Itu video ntah siapa pula yang menyebarkan di sosial media. Aku sama Kayla harus berhati hati lagi ini kalau bertemu sama anak s*alan itu' ujar Mami dalam pikirannya sendiri.
"Udahlah Mami, aku tidak mempermasalahkan itu kok. Sekarang fokus aku hanya ke Kayla saja lagi. Aku tidak ingin Kayla kenapa kenapa" ujar Vano yang sudah menganggap pembicaraan tentang Anggie berakhir.
"Keluarga kami tidak ingin membuat orang menjadi berpandangan negatif Vano. Kami tidak ingin orang menganggap kami tidak perhatian kepada Anggie padahal kami sangat perhatian sekali kepada dirinya" kata Mami berusaha membuat Vano paham dan mengerti serta tidak salah sangka dengan keluarga mereka.
"Vano tau Mami. Tidak mungkin Papi membiarkan Anggie hidup di luar sana tanpa bantuan dari Papi" ujar Vano dengan lugunya.
__ADS_1
"Makasi Vano. Kami cemas kalau kamu lebih percaya dengan Anggie dari pada dengan kami" lanjut Mami semakin membuat Vano berasa bersalah kepada keluarga Sanjaya.