Tempat Untuk Kembali

Tempat Untuk Kembali
tempat untuk kembali *8


__ADS_3

"Sudah sayang, masak kamu mau ngomong dengan gembel" ujar Nyonya Rina menghentikan Kayla untuk tidak lagi berbicara dengan Anggie.


Anggie tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Rina kepada dirinya.


"Oh Nyonya pelakor, saya juga enggan berbicara dengan anak kamu ini" jawab Anggie.


"Apalagi anak kamu adalah anak di luar nikah. Oh alerginya diri saya Nyonya besar" kata Anggie berkata dengan nada mengejek. Anggie sengaja melakukan hal itu karena dia ingin membuat Rina dan Kayla menjadi emosi.


"kamu" ujar Nyonya Rina sambil mengangkat tangannya hendak menampar Anggie.


Anggie menahan tangan Nyonya Rina.


"apa?" ujar Anggie menantang Nyonya Rina dengan keras kepalanya.


"jangan anda kira anda bisa menyentuh saya Nyonya. Oh tidak, itu hanya ada di dalam mimpi Anda" ujar Anggie selanjutnya dengan nada marah dan geram.


Papi melihat Anggie menahan tangan Rina.


"Anggie lepaskan" teriak Papi saat melihat kejadian tersebut.


Anggie melihat ke arah Papi tanpa melepaskan pegangan tangannya dari tangan Nyonya Rina.


"Anggie lepas" teriak Papi sekali lagi.


Nyonya Rina menatap mengejek ke arah Anggie. Tuan Sanjaya lebih memilih membela dirinya daripada membela anak kandungnya itu.


"Anggie lepaskan Nak. Kita tidak selevel dengan mereka. Kita manusia memiliki adab dan juga memiliki ilmu. Kamu tidak sebanding dengan mereka sayang" ujar Mama meminta Anggie untuk melepaskan tangan Nyonya Rina.

__ADS_1


Anggie melepaskan dengan keras tangan Nyonya Rina. Papi melihat semua kejadian itu. Mama juga sama, tapi Mama tahu apa penyebab Anggie bisa menjadi seperti sekarang ini.


"Kamu sudah melawan sama orang tua Anggie? Sejak kapan Papi mengajarkan hal seperti itu" ujar Papi di hadapan Anggie.


Papi masih merasa kalau omongannya masih akan di dengar oleh Anggie. Padahal kalau Papi bisa membaca sikap Anggie, maka Papi akan tahu kalau dirinya sudah tidak dianggap ada lagi oleh Anggie


"Semenjak Anda bukan siapa siapa lagi Tuan" jawab Anggie dengan menantang wajah Papi yang selama ini sangat dipuja puja oleh Anggie tetapi karena kesalahan yang telah dibuat oleh Papi membuat Anggie menjadi sangat murka dan marah dengan semuanya.


"Anggie sudah nak, mari kita keluar dari sini" ujar Mama mengajak Anggie untuk pergi dari mansion keluarga Sanjaya.


Mama memilih keluar karena tidak ingin dimadu dan juga tidak ingin satu rumah dengan orang yang telah membuat dirinya menjadi sakit seperti sekarang ini.


"Nyonya, kami juga akan keluar. Kami akan kembali ke kampung kami Nyonya" ujar pelayan yang selama ini setia dengan Mama.


"Tapi, kalau kalian pulang kampung, kalian mau kerja apa?" ujar Mama yang khawatir dengan keadaan pelayan keluarga mereka kalau mereka ikut ikutan untuk tidak berada lagi di mansion besar itu.


"Kami sudah memiliki ladang di kampung Nyonya besar. Kami akan bekerja di sana saja" ujar Bibik menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Mama kepada mereka.


"Ayuk sayang kita pergi" ujar Mama.


Anggie menggandeng tangan Mama. Mereka berdua berjalan keluar dari mansion besar tersebut. Papi haya bisa melihat kepergian dari istri dan juga anak pertamanya itu. Papi tidak bisa lagi melarang mereka karena Mama sudah membuat keputusan yang sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.


Mama dan Anggie menunggu taksi online untuk mengantarkan mereka ke sebuah rumah sederhana milik salah satu pelayan. Rencana mama mereka akan menginap di sana untuk malam ini sebelum besok mereka akan mencari kontrakan sederhana yang sesuai dengan kemampuan keuangan Mama dan Anggie yang tersisa tidak seberapa.


"Sayang, semenjak kapan kamu mengetahui perselingkuhan yang dilakukan oleh Papi?" tanya Mama saat mereka sudah berada di dalam kamar rumah milik salah seorang pelayan tersebut.


"Baru satu bulan Mama. Aku juga tidak menyangka kalau dia akan mengatakan kepada Mama dengan cara seperti ini. Aku kira dia akan mengatakannya dengan cara yang lain" jawab Anggie sambil menatap jauh menembus langit ke tujuh.

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa tahu dan curiga?" lanjut Mama bertanya sambil melihat ke arah putri cantiknya itu.


Anggie berusaha mengingat cerita yang sebenarnya sangat menyakitkan bagi Anggie. Tetapi karena mamanya meminta dirinya untuk menceritakan hal itu, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, Anggie harus menceritakan kepada Mama.


"Jadi waktu itu Anggie pulang dari kampus di ajak sama kawan kawan untuk pergi jalan jalan ke mall. Nah, kebetulan hari itu Anggie tidak ada kerja, makanya Anggie mau ikut" ujar Anggie menceritakan kepada Mama awal mula dirinya bisa tahu kalau Papi telah memiliki keluarga lain selain mereka berdua.


"Saat keliling di tempat pakaian lah Anggie melihat dia berjalan dengan dua orang wanita. Wanita yang di mansion tadi" ujar Anggie.


"Apa kamu saat itu sempat marah dengan Papi?" lanjut Mama bertanya kemungkinan terburuk yang dilakukan oleh Anggie kepada Papi di mall tersebut.


"Sama sekali tidak Mami. Anggie sama sekali tidak menyapa dirinya. Anggie diam saja" jawab Anggie.


"Semenjak itulah Anggie mencari tahu siapa dua wanita itu. Akhirnya sampailah Anggie kepada bukti bukti yang Anggie peroleh tadi."


"Bukti bukti yang membuat pria itu tidak bisa menyangkalnya lagi. Dalam amplop coklat itu ada bukti dokumen pernikahan diri mereka, dokumen kelahiran anak mereka, sampai dengan foto pernikahan mereka dan fhoto saat mereka di rumah mereka yang sederhana" ujar Anggie memberitahukan kepada Mama bukti apa saja yang berhasil dikumpulkan oleh dirinya.


"Gimana cara kamu mendapatkannya sayang?" ujar Mama yang semakin penasaran dengan cara Anggie mendapatkan semua bukti bukti yang dikatakan oleh dirinya tadi.


"Anggie masuk ke ruangan kerja pria itu saat dirinya tidak berada di perusahaan" jawab Anggie dengan santai.


"Apa dia tidak curiga dan tidak melihat cctv?" tanya Mama yang heran kenapa suaminya tidak menaruh curiga dengan keadaan ruangan kerjanya.


"Sama sekali tidak Mama. Dia sama sekali tidak curiga sepertinya, karena sudah sebulan lamanya Anggie mengambil itu dari dalam ruang kerjanya" lanjut Anggie menjawab pertanyaan dari Mama.


"Wow. Kamu hebat juga sayang, kamu bisa mencari dokumen tanpa dicurigai oleh orang lain" ujar Mama memuji kecerdikan dari Anggie.


"Sepandai pandainya maling pasti akan ketahuan juga Mama. Mama harus yakin akan hal itu" kata Anggie dengan santainya.

__ADS_1


"Yup semoga maling itu tidak dimaling lagi oleh orang lain" kata Mama sambil menahan senyumnya.


"Yap semoga tidak Mama. Karena kalau dia di maling lagi, aku rasa wanita itu tidak akan sanggup Mama" ujar Anggie sambil tersenyum.


__ADS_2