
'Loe ada kegiatan siang ini?' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Vina kepada Anggie.
'Nggak kosong. Kenapa?' balas Anggie sambil bertanya apa tujuan Vina bertanya kegiatannya hari ini.
'Makan siang di luar ya' balas Vina lagi.
'Emang loe udah di sini lagi?' tanya Anggie yang sebenarnya sangat rindu dengan sahabat baiknya itu.
'Lah, bu dosen pinter. Kalau aku udah ajak makan siang bersama berarti aku udah di sini dong.' balas Vina membalas pesan chat dari Anggie sambil tertawa saat mengetik pesannya sendiri.
'Kirain mau makan siang secara virtual' balas Anggie lagi.
"Gue kok goblok banget ya. Bisa bisanya nanyak seperti itu ke Vina. Aneh ding ne otak" kata Anggie berujar sendirian.
'Gue tunggu di one day coffe' ujar Vina menyebutkan kafe yang akan menjadi tujuan makan siang mereka hari ini.
'Loe nggak jemput gue?' balas Anggie
'Gue dari bandara coy. Lebih dekat langsung ke kafe' balas Vina.
'Oh kirain dari perusahaan' balas Anggie lagi.
'Oke gue langsung otw ke cafe' balas Anggie selanjutnya
Anggie merapikan meja kerjanya. Dia mematikan laptop serta menyimpan semua peralatan tulisnya ke dalam laci meja kerja. Hari ini pembelajaran Anggie hanya sampai sebelum jam makan siang. Sebenarnya dia ada janji temu dengan mahasiswa bimbingannya, tetapi karena Anggie sudah ada janji dengan Vina, maka Anggie menyampaikan kepada mahasiswanya itu untuk menemuinya besok pagi saja.
Anggie memesan taksi online dia akan menuju cafe tempat dirinya akan bertemu dengan sahabat baiknya itu. Sudah satu minggu mereka tidak bertemu karena Vina yang harus melakukan perjalanan bisnis menggantikan ayahnya.
Anggie menikmati perjalanan menuju cafe tersebut. Dia melihat ke arah luar kaca. Dia melihat begitu banyak kesibukan kesibukan yang dilakukan oleh orang orang di luar sana.
"Terimakasih ya Tuhan, aku sudah dikeluarkan dari masa masa seperti orang itu. Batu jugalah orang itu keluar dari masa masa yang seperti itu juga" kata Anggie berdoa dengan suara lirih.
"Amiin Non. Nona baik sekali mendoakan wanita muda tadi" ujar sopir taksi online saat mendengar berapa baiknya Anggie sudah mendoakan wanita muda yang dilihatnya tadi sedang sibuk bekerja.
"Mendoakan sesama makhluk itu adalah baik untuk kita dan untuk mereka Pak. Apalagi kalau kita pernah merasakan di posisi mereka, jadi kita tau apa yang sedang mereka rasakan" kata Anggie menjawab perkataan dari supir taksi online itu.
"Bener Nona, saya sangat setuju dengan apa yang Nona katakan." jawab sopir taksi.
Tak terasa karena obrolan yang terjadi antara Anggie dengan sopir taksi online membuat perjalanan itu terasa sangat singkat sekali. Anggie membayar tagihan secara tunai sehingga dia melebihkan sedikit untuk Bapak sopir.
"Anggie" panggil Vina saat melihat sahabatnya itu masuk ke dalam cafe.
"Hay"
Anggie melambaikan tangannya. Dia berjalan cepat menuju Vina. Mereka berdua kemudian berpelukan dengan sangat erat, melepaskan rindu yang sudah lama tidak bertemu.
"Loe makin cantik aja. Udah pinter banget loe dandan." kata Vina memuji penampilan Anggie yang sekarang benar benar wow dan sangat cantik.
"Haha haha haha biasa aja kali. Mana bisa penampilan gue mengalahkan wakil direktur seperti loe" jawab Anggie.
"Hem mulai" komentar Vina.
__ADS_1
"Haha haha haha haha" kedua sahabat itu kemudian tertawa berbarengan. Mereka berdua memang sudah sangat lama tidak bertemu satu dengan yang lainnya.
Seorang pelayan datang membawa menu makanan untuk mereka berdua. Anggie dan Vina memilih makanan apa yang akan mereka nikmati untuk hari ini. Setelah selesai pelayan itu pergi meninggalkan Anggie dan Vina.
"Jadi apa aja kegiatan loe seminggu di luar? Apa loe nggak ada waktu untuk membelikan gue hadiah?" ujar Anggie sambil tersenyum saat mendengar sendiri apa yang dikatakannya kepada Vina.
"Oh jangan salah, pekerjaan gue sangat banyak di sana. Tapi gue masih sempat membelikan loe hadiah kok. Tenang saja" jawab Vina sambil mengambil tas tangannya yang di tarok di kursi sebelahnya.
Vina menaruh hadiah untuk Anggie di atas meja. Anggie tersenyum melihat hadiah yang dibelikan oleh Vina untuk dirinya. Hadiah yang sangat sangat berarti sekali untuk Anggie.
"Loe tau aja kesukaan gue" ujar Anggie saat melihat hadiah yang ada di depan matanya saat ini.
"Tentulah iya, bagaimana gue nggak akan tau hadiah yang paling pas untuk sahabat gue" ujar Vina yang memang sudah terbiasa membelikan Anggie hadiah semacam itu saat dia melakukan perjalanan bisnisnya ke luar negeri.
"Boleh gue buka?" ujar Anggie yang sudah tidak sabaran lagi mau melihat dan menciun wangi hadiah yang sudah diterimanya.
"Silahkan" jawab Vina membolehkan Anggie membuka hadiah yang dibelikan nya itu.
Anggie membuka hadiah miliknya dua parfum ukuran sedang terpampang did epan wajahnya saat ini. Anggie tersenyum melihat kedua benda itu.
"Coba wanginya dulu. Loe suka apa nggak. Nanti loe nggak suka lagi" perintah Vina.
"Gue tidak akan meragukan wangi parfum keluaran merk ternama ini" jawab Anggie yang sudah sangat yakin kalau parfum di depannya saat ini wanginya akan sangat luar biasa harum.
Sambil menunggu pesanan mereka yang sedikit telat, Anggie dan Vina kemudian melanjutkan obrolan seputar pekerjaan mereka berdua selama beberapa hari itu. Obrolan yang sangat panjang terjadi karena mereka sudah seminggu tidak bertemu.
Serombongan Nona nona muda masuk ke dalam cafe ternama dan memang selalu menjadi tempat nongkrong para anak muda ibu kota.
"Yah dia lagi" ujar Vina yang mendengus kesal setelah melihat siapa yang masuk ke dalam cafe.
"Tu, orang tercantik dan terkaya di dunia masuk ke cafe. Pasti mau bikin keributan lagi"
"Loe siap siap aja bentar lagi pasti akan disindir dia" kata Vina menyebutkan clue orang yang masuk ke dalam cafe tersebut.
"Oh gue tau siapa orangnya. Biarin ajalah gue nggak peduli dia mau ngomong apa. Capek gue kalau harus melayani orang seperti dia. Seperti yang paling bener aja terus" jawab Anggie yang memang sudah malas bertemu dengan saudara tirinya yang pasti akan terus mencari ribut dengan dia setiap kali bertemu.
"Kay tu" kata sahabat Kayla saat melihat Anggie dan Vina duduk di meja yang berada di tepi balkon.
"Okeh" jawab Kayla lagi.
Kayla berjalan menuju kasir. Dia sudah menyusun sebuah rencana yang matang di otaknya itu. Dia akan langsung mengeksekusi rencana tersebut. Dia sangat yakin kalau rencananya itu pasti akan berhasil.
"Maaf Nona ada yang bisa saya bantu?" ujar kasir saat melihat Kayla yang sudah berdiri di depan meja kerjanya itu.
"Panggilkan manager anda. Saya butuh dia" jawab Kayla dengan sikap arogan nya.
"Maaf Nona, ada masalah apa ya, sehingga Nona minta bertemu dengan manager kami" tanya balik kasir cafe kepada Kayla.
"Sudah jangan banyak cerita. Saya hanya akan mengatakan hal yang saya perlukan kepada manager kamu saja" ujar Kayla yang tetap memaksa untuk bertemu dengan manager cafe.
Seorang pria yang berpenampilan berbeda dengan yang lainnya berjalan menuju kasir saat ada keributan keributan yang terdengar dari sana.
__ADS_1
Anggie dan Vina yang juga mendengar keributan itu, memalingkan wajah mereka berdua ke arah sumber keributan.
"Yah masih dia juga. Tapi sekarang kenapa berbeda ya targetnya, bukan loe lagi" kata Vina sambil melihat ke arah Kayla yang sedang ribut ribut itu.
"Sepertinya dia memiliki ide lain untuk ribut dengan kita berdua" jawab Anggie yang sangat yakin kalau Kayla pasti akan ribut dengan dirinya.
"Ya sepertinya" jawab Vina.
Anggie dan Vina kembali menikmati makan siang mereka. Selagi nenek lampir itu belum mengarahkan tembakan tembakannya kepada Anggie dan Vina, maka Anggie dan Vina memutuskan untuk menikmati makan siang mereka terlebih dahulu.
"Maaf Nona, ada masalah apa?" tanya manager kepada Kayla yang terlihat sedang marah marah dan emosi itu.
"Saya mau duduk di bangku yang itu. Kenapa di isi dua orang wanita tersebut" ujar Kayla menunjuk kursi dimaa Anggie dan Vina duduk sekarang.
"Benerkan yang gue katakan. Dia cari gaya baru" ujar Anggie saat dirinya mendengar dan melihat ke arah mana tujuan dari perkataan Kayla.
"Ya bener. Mari kita lihat apa endingnya. Dia pakai kekuatan apa, kita juga akan melakukan hal yang sama dengan dia" kata Vina mengomentari apa yang dikatakan oleh Anggie sebentar ini.
Anggie dan Vina yang kebetulan sudah selesai makan siang, melihat ke arah Kayla da manager.
"Maaf Nona, saya tidak bisa memindahkan orang yang sudah duduk di mejanya untuk pindah ke meja lain." kata manager menolak keinginan dari Kayla.
"Anda berani menolak keinginan saya? Apa anda sudah berpikir panjang?" tanya Kayla balik.
Kayla tidak mau keinginannya di tolak oleh siapapun. Dia akan mengusahakan berbagai cara supaya semua keinginannya terkabul.
"Saya tidak mau tau saya mau duduk di situ. Anda tidak tau siapa saya?" kata Kayla yang sudah mulai tidak terkendali emosinya.
"Maaf Nona. Kalau Nona sudah memesan meja itu, maka kami bersedia Nona untuk mengosongkan meja tersebut. Tapi Nona sama sekali tidak melakukan reservasi" kata manager menjelaskan kepada Kayla prosedur yang ada di cafe itu.
"Saya tidak butuh prosedur Anda. Saya hanya mau duduk di situ dengan sahabat sahabat saya" kata Kayla lagi masih dengan keras kepalanya.
"Maaf Nona, kalau Anda masih tidak bisa atau tidak mau duduk di tempat lain, maka dengan terpaksa kami harus meminta Anda untuk mencari cafe lain saja" Manager cafe sudah habis kesabarannya melihat tingkah congkak Kayla yang tidak mau diberi masukan apapun.
"Berani Anda mengusir saya? Anda tidak tau siapa saya?" kata Kayla mengancam manager.
"Saya tidak perlu tau Anda siapa. Kalau anda tidak suka dengan cafe saya silahkan pergi" kaya manager selanjutnya.
"Anda" tunjuk Kayla yang semakin emosi
Vina sudah tidak bisa melihat apa yang dilakukan oleh Kayla kepada manager tersebut. Vina berdiri dari duduknya. Anggie ikut ikutan berdiri dari posisi duduknya saat melihat Vina yang sudah lebih dahulu berdiri.
"Sayang,kami sudah siap, silahkan saja kalau Nona kaya ini mau duduk di sini" kata Vina dengan gaya khasnya.
"Kamu udah siap makannya sayang?" tanya manager cafe.
"Udah sayang. Aku pulang dulu. Nanti malam ke sini lagi nemenin kamu kerja" kata Vina sambil tersenyum dan mengecup pipi manager cafe itu.
Anggie yang melihat apa yang dilakukan oleh Vina langsung terkejut. Dia tidak pernah melihat Vina melakukan hal itu sebelumnya.
"Sabar. Kapan kapan akan gue jelasin" jawab Vina.
__ADS_1
"Nggak pake kapan kapan, sekarang" jawab Anggie.
"nanti ya. Sekarang pulang dulu baru ngobrol lagi" kata Vina yang nggak mau bercerita sekarang.