Tempat Untuk Kembali

Tempat Untuk Kembali
Tempat Untuk Kembali *21


__ADS_3

"Serius loe mau cerita dengan Mami tentang semua kejadian yang terjadi selama ini?" tanya Vina saat mereka berdua sudah di dalam kamar.


"Ya, gue akan ceritakan semuanya kepada Mami, tanpa satupun gue tutup tutupi. Bagaimanapun Mami sudah gue anggap sebagai orang tua gue sendiri" jawab Anggie yang memang sudah menganggap keluarga Vina sebagai keluarganya sendiri.


"Lagian ya Vin. Nggak pun gue cerita ke Mami, pasti Mami sudah mendengar desas desus di luar sana."


"Jadi daripada Mami salah sangka, jadi mending gue aja sekalian yang cerita ke Mami apa yang terjadi sebenarnya" ujar Anggie yang sangat paham bagaimana mode ibu ibu kalau sudah berkumpul.


"Oke gue terserah loe aja. Sekarang lebih baik loe kerjain dulu disertasi loe itu. Nanti setelah siap loe bisa cerita panjang lebar ke Mami. Masalah pulang gue yang anter" ucap Vina.


Anggie dan Vina mulai mengerjakan disertasi milik Anggie. Mereka berjibaku dengan berbagai buku sebagai bahan bacaan dan sebagai sumber. Sekali sekali mereka terlihat berdiskusi hebat tentang suatu permasalahan. Itulah asiknya Anggie dan Vina, mereka berdua saling mengisi kekurangan.


Tepat pukul lima sore semua perbaikan disertasi Anggie sydah diselesaikan dengan baik. Anggie dan Vina berjalan keluar mencari Mami yang dengan setianya menunggu di ruang keluarga.


"Wah Mami beneran nunggu di sini dari tadi Mi?" ujar Vina saat melihat Mami yang masih dengan setia duduk di sofa ruang keluarga tersebut.


"Ya, tapi sudah Mami katakan. Mami sangat penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya" jawab Mami yang sudah menaruh majalah yang dibacanya ke atas meja.


"Jadi gimana ceritanya Anggie?" tanya Mami penasaran dengan cerita yang terjadi di dalam keluarga sahabat anaknya itu.


"Jadi begini Mami" ujar Anggie memulai cerita tentang apa yang terjadi di dalam keluarganya saat itu. Cerita yang sebenarnya tidak ingin diungkapkan atau dikatakan dan diingat oleh Anggie lagi tetapi dia terpaksa harus mengatakannya, supaya Mami bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan tidak hanya menurut orang luar saja.


Anggie menceritakan semuanya kepada Mami. Tidak satupun ditutup tutupi oleh Anggie. Sampai sampai bagaimana Mama memutuskan untuk keluar dari mansion besar itu. Semuanya diceritakan Anggie.


"Kenapa Tuan itu sebegitu teganya sama Mama dan kamu Anggie?" ujar Mami tidak habis pikir dengan pilihan yang diambil oleh Papi Anggie.


"Selama ini Mami memiliki pemikiran dan pandangan sangat bagus untuk dirinya. Tidak sedikitpun Mami berpandangan jelek terhadap dia" lanjut Mami mengutarakan kekecewaannya terhadap apa yang sudah dilakukan oleh Papi Anggie kepada keluarganya itu.

__ADS_1


"Mami saja tidak menyangka apalagi kami Mami. Tapi mau bagaimana lagi Mami, semua sudah terjadi. Mama dan Aku hanya bisa melanjutkan hidup yang tersisa saja lagi. Kami nggak bisa berbuat apa apa" jawab Anggie sambil tersenyum ke arah Mami Vina.


"Kamu yang semangat ya Vi. Jaga Mama. Kalau ada apa apa yang terjadi dalam hidup kamu dan Mama, kamu datang saja ke kami. Kami ini adalah keluarga kamu juga" pesan Mami sambil memegang tangan Anggie dengan kasih sayang yang tulus.


"Betul apa yang dikatakan Mami tadi Anggi. Saat kamu ada masalah, ingatlah nak, kamu tidak hanya berdua dengan Mama kamu saja, ada kami di sini yang akan membantu kamu" Papi menambahkan dan memperkuat apa yang dikatakan oleh Mami sebentar ini.


"Kamu putri ke dua kami Anggie. Jadi, tolong jangan sungkan meminta tolong kepada kami" lanjut Mami yang sangat sangat senang suaminya mendukung apa yang dikatakan oleh Mami sebentar ini.


"Benerkan apa yang gue omongin ke elo selama ini. Elo nya aja yang nggak percaya sama gue. Gimanapun Papi dan Mami sangat sayang sama loe" kali ini Vina yang berkata.


Vina memang sudah sangat sering mengatakan kepada Anggie kalau kedua orang tuanya sangat menyayangi dirinya. Tetapi Anggie sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Vina. Anggie beranggapan kalau Vina berbohong kepada dirinya sehingga membuat Anggie sama sekali tidak yakin.


"Papi, Mami terimakasih udah anggap Anggie dan Mama merupakan bagian dari keluarga Papi dan Mami. Anggie sangat sangat bersyukur dan bahagia mendengar apa yang Papi dan Mami katakan sebentar ini." Anggie mengungkapkan kebahagiaan dirinya saat dirinya dianggap sebagai bagian dari keluarga Vina.


"Jadi, apapun masalah yang sedang kamu atau Mama kamu hadapi, kamu harus memberitahukan kepada Kami. Kami akan bantu kamu sekuat tenaga dan kemampuan kami" Papi kembali menegaskan kepada Anggie kalau keluarganya pasti akan membantu Anggie dan mamanya itu.


Anggie tersenyum mendengar semuanya. Dia sangat bahagia mendapatkan keluarga baru. Keluarga yang memang dari dulu sangat dekat sekali dengan Anggie dan keluarganya.


"Vina, kamu antar Anggie pulang ya" ujar Papi meminta Vina untuk mengantar Anggie pulang ke rumahnya.


"Gimana kalau kita ikut Pi? Sekalian nemani Vina pas pulang nanti" ujar Mami yang ntah kenapa tiba tiba sekali ingin pergi ke rumah Anggie.


"Wah boleh juga Mi. Sekalian kita jalan jalan malam. Udah lama banget kita nggak jalan jalan bertiga" ujar Papi yang langsung setuju dengan apa yang dikatakan oleh Mami.


"Bentar. Mami ambil puding dalam kulkas dulu. Mama Anggie paling suka dengan puding buatan Mami" ujar Mami yang sangat tau kesukaan dari sahabatnya itu.


"Mami masih ingat kesukaan Mama?" tanya Anggie kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Mami sebentar ini.

__ADS_1


Mami mengangguk. " Mami nggak akan pernah melupakan itu Anggie" jawab Mami sambil berjalan menuju dapur. Mami memasukkan puding yang dibuatnya ke dalam sebuah tempat.


Mereka berempat sudah berada di dalam mobil. Kali ini yang membawa mobil adalah Vina. Sedangkan Anggie duduk di sebelah kiri Vina. Anggie bertindak sebagai penunjuk arah.


Mami yang semula menikmati perjalanan menjadi sedikit cemas saat melihat mobil mengarah ke daerah pinggiran ibu kota. Tetapi Mami tidak mungkin bertanya dan menyuarakan kekagetannya. Mami tidak ingin Anggie menjadi tersinggung dengan apa yang akan ditanyakan oleh Mami. Akhirnya Mami memilih diam, Papi yang sebenarnya juga kaget, juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Mami. Papi juga memilih untuk diam dan tidak mungkin bertanya hal yang sensitif itu kepada Anggie.


"Kemana lagi Nggie?" tanya Vina yang sedikit cemas.


Vina baru kali ini diizinkan oleh Anggie untuk mengantarkannya ke rumah. Biasanya Vina hanya sampai jalan besar di depan sana yang sudah tertinggal cukup jauh di belakang mereka.


"Gang itu masuk Vin" kata Anggie memberitahukan gang terakhir yang harus dimasuki oleh Vina.


Vina memasukkan mobil ke dalam gang yang sangat kecil itu. Vina berusaha memapah mobilnya agar tidak bersenggolan dengan mobil di jalur sebelah.


"Berhenti di situ Vin" ujar Anggie menunjuk sebuah rumah yang masih menyala lampu terasnya itu.


Vina memberhentikan mobil yang dikendarainya. Vina memarkir mobil itu sangat rapat dengan pagar rumah sederhana milik Anggie.


Mama yang berada di dalam rumah, langsung berjalan keluar untuk membukakan pintu saat mendengar bunyi mobil yang berhenti tepat di depan rumahnya. Mama melihat sebuah mobil sudah terparkir rapi di depan rumahnya. Mama juga melihat tiga orang wanita dan satu pria turun dari dalam mobil.


Tok tok tok.


"Ma, ini Anggie" ujar Anggie memanggil mama.


Mama yang memang sudah berdiri di belakang pintu, langsung saja membuka pintu tersebut. Mama menatap tidak percaya ke arah dua orang yang sekarang berdiri di depannya itu.


"Kamu, kok bisa sampai sini?" ujar Mama kaget saat melihat Mami dan Papi. Sahabat terbaik Mama selama ini.

__ADS_1


"Mama, kenapa Papi dan Mami tidak di ajak masuk dulu" ujar Anggie yang bisa membaca kekagetan di wajah Mama.


Wajah yang tidak bisa menipu kalau yang punya wajah sedang dalam keadaan terkejut saat melihat dua orang yang di depannya berdiri sambil tersenyum ramah sekali. Senyuman seorang sahabat yang kembali bertemu dengan sahabat lamanya itu.


__ADS_2